4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Tenggelam
Naomi tidak tidur nyenyak malam itu.
Setelah video call dengan Darren berakhir, ia tetap duduk di sisi ranjang sambil memegang ponsel. Pesan terakhir Darren masih terbuka.
Darren: Aku pulang besok pagi. Kunci pintu. Jangan keluar tanpa Arman.
Naomi membalas dengan foto pintu terkunci dan emoji wajah datar. Darren mengirim emoji hati, lalu satu pesan lagi.
Darren: Aku serius.
Naomi hampir tersenyum, tetapi bayangan Ethan di tangga membuat senyumnya hilang.
Rumah Besar terlalu tenang. Di luar jendela, taman tampak seperti lukisan gelap. Lampu taman memantul di permukaan danau buatan di kejauhan, membuat airnya terlihat halus, hampir cantik. Naomi memalingkan wajah. Ia tidak suka menatap air terlalu lama.
Pukul sebelas lewat, seseorang mengetuk pintu.
Naomi langsung berdiri tanpa membuka.
"Siapa?"
"Saya Lila, Nyonya. Dari kamar Nyonya Natalia."
Suara itu terdengar gugup. Naomi mengenal Lila, pelayan muda yang pagi tadi membantu Natalia membawa bantal ke taman.
"Ada apa?"
"Nyonya Natalia perutnya sakit. Dia minta Nyonya Naomi datang sebentar. Tuan Ethan sedang menerima telepon di ruang kerja."
Naomi meraih ponsel. "Aku akan telepon Natalia."
"Ponselnya sedang di-charge, Nyonya. Tolong cepat. Dia tidak mau membangunkan Tante Helena."
Naomi tidak langsung percaya. Ia menekan nomor Natalia. Tidak tersambung. Ia menekan nomor Darren, lalu berhenti. Di Singapura, Darren pasti sedang dalam rapat tengah malam. Tapi aturan mereka jelas: kalau takut, bilang.
Ia mengirim pesan cepat.
Naomi: Lila bilang Natalia sakit. Aku keluar dengan Arman. Akan video call kalau sinyal cukup.
Lalu ia menekan tombol panggil ke Arman.
Pengawal itu muncul kurang dari satu menit kemudian. Wajahnya siaga.
"Saya ikut, Nyonya."
"Kita ke kamar Natalia. Kalau ada yang aneh, kita kembali."
"Baik."
Lila berjalan di depan dengan langkah terburu-buru. Namun alih-alih menuju sayap tempat kamar Natalia, ia berbelok ke koridor samping yang mengarah ke taman.
Naomi berhenti. "Kamar Natalia bukan lewat sana."
Lila menoleh, wajahnya pucat. "Nyonya Natalia tadi ingin jalan sebentar. Katanya sesak. Dia di gazebo belakang."
Arman mengangkat tangan, memberi isyarat agar Lila berhenti. "Saya cek dulu."
Saat itu, suara alarm pendek berbunyi dari arah sayap barat. Bukan alarm besar, hanya dering keamanan yang biasa menandakan pintu servis terbuka.
Radio Arman langsung berdesis.
"Arman, pintu barat terbuka. Kamera mati."
Arman menatap Naomi, lalu pintu menuju taman.
Naomi berkata cepat, "Kita kembali."
Namun Lila tiba-tiba menangis. "Nyonya, tolong. Nyonya Natalia memegang perutnya. Saya takut bayinya kenapa-kenapa."
Naomi menggenggam ponsel lebih erat. Ia tidak akan berjalan sendirian. "Arman, panggil pengawal lain dan dokter. Kita jalan bersama, hanya sampai gazebo. Kalau Natalia tidak ada, kita kembali."
Arman mengangguk, menghubungi rekannya sambil berjalan di depan mereka. Dua pelayan lain muncul dari ujung koridor, panik karena alarm pintu barat. Suasana yang semula sunyi berubah kacau.
Mereka keluar melalui pintu kaca menuju taman belakang.
Udara malam lembap dan berbau tanah basah. Jalan setapak batu diterangi lampu taman yang redup. Di kejauhan, danau buatan menghitam seperti cermin tanpa dasar. Naomi menjaga jarak dekat dengan Arman, sementara Lila berjalan di samping, terus memanggil nama Natalia dengan suara bergetar.
Gazebo belakang kosong.
Tidak ada Natalia.
"Kita kembali," kata Naomi.
Tepat saat ia berbalik, lampu taman padam.
Gelap turun mendadak.
Arman berteriak, "Nyonya, merunduk!"
Seseorang menabraknya dari samping. Naomi mendengar suara benturan, napas tertahan, lalu tubuh Arman jatuh ke rumput. Lila menjerit dan berlari entah ke mana.
Naomi menekan tombol samping ponselnya berkali-kali.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sebuah tangan dari belakang membekap mulutnya.
Naomi menggigit sekuat mungkin. Orang itu mengumpat pelan, lalu kain kasar menekan lehernya. Bukan untuk membunuh seketika, tetapi cukup membuat napasnya terputus.
Ponsel Naomi jatuh ke rumput.
Ia menendang ke belakang, tumitnya mengenai tulang kering seseorang. Cengkeraman itu goyah. Naomi mencoba berteriak, tetapi suara yang keluar hanya serak patah.
Di antara gelap dan lampu taman yang mulai berkedip, ia melihat bayangan lain berdiri jauh di dekat balkon samping lantai dua.
Kemeja putih.
Sapu tangan abu-abu.
Ethan.
Ia tidak mendekat. Tidak berlari. Tidak berteriak memanggil bantuan. Ia hanya berdiri di sana, wajahnya tenang, seolah sedang memastikan sebuah percobaan berjalan sesuai rencana.
Darah Naomi menjadi dingin.
Orang di belakangnya mendorong.
Tubuh Naomi melewati batas batu di tepi danau.
Air menghantamnya seperti dinding dingin.
Seketika dunia hilang.
Naomi tidak bisa berenang.
Panik naik lebih cepat daripada air yang masuk ke hidungnya. Tangannya menggapai kosong, kakinya menendang tanpa arah. Kain cardigan menyerap air dan menarik tubuhnya ke bawah. Dalam gelap, permukaan dan dasar danau tidak bisa dibedakan.
Jembatan empat tahun lalu datang kembali, bukan sebagai ingatan, melainkan sebagai tubuh. Dingin yang sama. Air yang sama masuk ke telinga. Ketakutan yang sama menekan dada.
Tidak.
Naomi menggigit bibir sampai terasa asin.
Tidak kali ini.
Ia bukan gadis yang berdiri sendirian di jembatan itu lagi. Ia punya Darren yang sedang terbangun di Singapura karena sinyal darurat. Ia punya Tiffany yang akan memaki langit kalau Naomi menyerah. Ia punya Natalia yang menunggu sketsa hijau muda untuk putrinya.
Ia harus hidup.
Tangannya menyentuh sesuatu yang licin. Akar tanaman air. Ia mencengkeram, tetapi akar itu putus. Tubuhnya naik sedikit, lalu tenggelam lagi. Naomi menahan napas, memaksa kakinya menendang ke arah yang ia kira permukaan. Matanya perih. Tenggorokannya terbakar.
Kalung di lehernya tertarik oleh air, liontin kecil itu menghantam tulang dadanya. Hal Baik Akan Datang. Tulisan itu tidak terlihat, tetapi Naomi merasakannya menekan kulit, seperti tangan ayahnya yang dulu menepuk kepala setiap kali ia takut.
Jangan berhenti.
Ia menggerakkan tangan lebih lebar, bukan berenang, hanya memukul air agar tubuhnya tidak terus turun. Cardigan yang berat akhirnya terlepas dari satu bahu. Naomi menarik napas begitu wajahnya menembus permukaan, tetapi air kembali masuk sebelum ia sempat berteriak.
Ia tersedak dan tenggelam lagi.
Di atas, suara samar terdengar.
"Hei! Ada orang jatuh!"
Suara perempuan muda.
Naomi memukul air sekuat mungkin. Tangannya akhirnya menyentuh pinggiran batu, tetapi permukaannya berlumut. Jemarinya tergelincir. Kuku-kukunya sakit saat menggaruk batu.
"Bertahan!" suara itu mendekat. "Jangan lepas!"
Seseorang meluncur ke air dari sisi lain dengan bunyi keras. Tidak lama kemudian, tangan kuat meraih lengan Naomi dari belakang.
"Pegang aku! Cepat!"
Naomi tidak tahu siapa itu. Ia hanya mencengkeram apa pun yang bisa dicengkeram. Perempuan itu mengumpat keras, menendang air, lalu menyeret Naomi ke arah tangga batu kecil yang tersembunyi di tepi danau.
"Jangan cekik gue!" perempuan itu memekik ketika Naomi nyaris menarik lehernya. "Pegang jaket, bukan rambut!"
Naomi memaksa jemarinya pindah ke jaket kulit yang basah. Tubuhnya masih panik, tetapi suara galak perempuan itu memberinya sesuatu untuk diikuti. Satu tarikan. Satu tendangan. Satu napas yang separuh air.
Tangga batu terasa seperti penyelamat yang kasar. Lutut Naomi menghantam pinggirannya. Sakit itu justru membuatnya sadar ia masih hidup.
Beberapa detik kemudian, tubuh Naomi terhempas ke rerumputan.
Ia batuk hebat. Air keluar dari mulut dan hidungnya. Dadanya sakit seperti ditusuk. Ia gemetar begitu keras sampai giginya beradu.
Perempuan itu mendorong tubuh Naomi miring, lalu menepuk punggungnya dengan panik yang disamarkan menjadi omelan.
"Keluarin airnya. Ayo. Jangan tidur. Kalau lo pingsan, gue sumpah gue teriak sampai semua orang bangun."
Naomi kembali batuk. Setiap tarikan napas terasa seperti menggesek kaca, tetapi udara masuk. Sedikit. Cukup.
Perempuan yang menyelamatkannya ikut naik, basah kuyup, rambut pendeknya menempel di pipi. Ia memakai jaket kulit di atas gaun hitam pendek, sepatu boots, dan makeup mata yang terlalu tebal untuk seseorang yang katanya tinggal di rumah keluarga konservatif.
"Astaga," perempuan itu terengah. "Lo siapa? Kenapa berenang malam-malam kalau jelas-jelas nggak bisa?"
Naomi mencoba bicara, tetapi yang keluar hanya batuk.
Perempuan itu menoleh ke arah jalan setapak, panik. "Gue harusnya keluar diam-diam ke party, bukan jadi tim SAR keluarga."
Giselle Wijaya.
Naomi mengenali namanya dari bagan Darren.
"Giselle," bisik Naomi serak.
Giselle membeku. "Lo tahu nama gue?"
Arman terdengar mengerang dari arah jalan setapak. Giselle menoleh, wajahnya langsung berubah.
"Itu pengawal lo? Dia masih hidup?"
Naomi memaksa diri mengangguk. "Panggil... bantuan. Tapi jangan... jangan teriak nama Ethan."
"Ethan?" Giselle menatapnya, bingung.
Naomi mencengkeram pergelangan tangan Giselle dengan sisa tenaga. "Jangan dulu."
Mungkin karena wajah Naomi terlalu pucat, mungkin karena Giselle memang tidak sebodoh penampilannya, perempuan itu akhirnya mengangguk. Ia mengambil ponselnya dari saku jaket yang basah, mengumpat ketika layar berkedip, lalu menekan nomor darurat internal estate.
"Ada orang jatuh ke danau belakang. Bawa dokter. Sekarang."
Naomi tidak menjawab. Matanya mencari balkon lantai dua.
Ethan masih di sana.
Dari kejauhan, di bawah lampu yang kembali menyala setengah, ia menatap Naomi yang basah dan gemetar di tepi danau. Wajahnya tidak panik. Tidak kecewa. Hanya tenang.
Lalu ia mengangkat sapu tangan abu-abunya, mengusap ujung jari, dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Naomi mencengkeram rumput basah.
Paru-parunya masih terasa terbakar, tetapi pikirannya tiba-tiba sangat jernih.
Yang mendorongnya mungkin tangan orang lain.
Namun orang yang menginginkan ia tenggelam malam ini adalah Ethan Wijaya.