Kehidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.
Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.
Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emak Gemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DD - 32
Zidan menatap teduh ke arah Adistya, baru saja dia berniat akan pulang tapi ternyata tunangannya itu sudah datang dan segera menghampirinya dengan raut wajah bersalah.
"Zidan, maafkan aku. Sungguh ini diluar kendali, karena terlalu asik bermain dengan Camel, aku sampai melupakan rencana kita," ucap Adistya terlihat sangat bersalah. Sedangkan Darren dia hanya bisa diam melihat wanita yang dicintainya menggenggam erat tangan lelaki lain.
"Iya, nggak masalah. Kebahagian Camel yang lebih penting, masalah dinner kan bisa kapanpun," balas Zidan terus membelai lembut pipi Adistya.
"Tapi aku nggak enak sama kamu, Zidan," kata Adistya.
"Aku nggak apa-apa, Tya. Sudahlah, hari juga semakin larut. Kamu cepat masuk, besok pagi mungkin mama akan menjemputmu." Zidan terlihat masih meyakinkan Adistya jika dia benar-benar tak apa-apa.
"Kamu orang baik, Zidan. Dari dulu selalu membantuku dan mengerti aku, terima kasih." Adistya meraih pergelangan tangan Zidan dan menciumnya.
"Aku lakukan semua agar kamu bahagia, Tya. Andai saja waktu itu kamu bilang tentang masalahmu, mungkin saja dari dulu akan ku bawa kamu pergi dari penderitaan," ucap Zidan.
Adistya tak bisa berkata apapun, dia melihat ketulusan di mata Zidan dan ini semua membuatnya takut kalau suatu hari Zidan tersakiti karena dia belum bisa mencintainya.
"Kamu hati-hati dijalan." Adistya sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Itu pasti."
Dengan berat hati, Zidan meninggalkan Adistya. Meski hatinya masih terusik karena Darren belum pulang, tapi Zidan berusaha untuk menyembunyikan semua agar Adistya tak merasa dibatasi.
Sedangkan Adistya, setelah kepergian Zidan dia langsung masuk ke dalam kamar. Namun, betapa terkejutnya Adistya saat melihat Darren tengah duduk di atas ranjangnya sambil menatap lusuh ke arahnya.
"Kenapa kamu disini?" tanya Adistya takut.
"Aku hanya ingin berdua denganmu sekali saja sebelum kita benar-benar berpisah," kata Darren terlihat sangat aneh bagi Adistya.
"Nggak bisa, kita sudah selesai dan seharusnya —"
Adistya benar-benar terkejut ketika Darren berdiri dan merengkuh tubuhnya sangat posesif. "Lepas!" serunya berusaha menahan nada bicaranya agar orang rumah tak mengetahui hal ini.
"Aku mencintaimu, Tya. Sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu nggak percaya akan hal ini?" Darren terlihat sangat frustasi.
"Cinta nggak harus memiliki, Darren!" seru Adistya.
"Tapi aku ingin memilikimu," balas Darren langsung mendapat gelengan kuat dari Adistya.
Tak lama setelah itu, Darren langsung membungkam Adistya dengan ciumann menuntut. Sekuat tenaga Adistya melepaskan diri, tapi sayang tubuhnya seakan-akan merespon Darren sehingga mereka berdua hanyut dalam kesempurnaan dunia.
Mereka benar-benar kehilangan arah, sehingga tanpa sadar mereka berdua melakukan hal yang tak seharusnya terjadi. "Kamu masih mencintaiku, Tya."
Seketika Adistya tersadar dari kehanyutan itu. Dengan cepat Adistya mendorong tubuh Darren dan melayangkan sebuah tamparan keras, di pipi Darren.
"Plak!"
Darren hanya tersenyum mendapatkan perlakuan itu. Dia tak perduli Adistya mau membunuhnya atau bagaimana, tapi yang pasti dia sudah tau kalau kekasihnya ini masih mencintainya.
"Mulutmu berkata tidak, tapi tubuhmu sangat jujur Adistya. Meski kita hanya melakukan pemanasan saja, tapi responmu membuktikan jika dihatimu hanya ada aku," ejek Darren sangat membuat Adistya marah.
"Itu bukan urusanmu, sekarang keluar dari kamarku!" teriak Adistya mulai berkaca-kaca. Sungguh dia merasa berdosa sekali sudah melakukan hal hina bersama Darren, meski tak sampai melakukannya tapi bagi siapapun itu sangat fatal.
"Jangan jadikan Zidan sebagai pelampiasan, Tya. Dia orang baik, jangan karena kemarahanmu padaku, dia menjadi korban," kata Darren semakin membuat Adistya menangis.
Adistya terus menutup telinganya dan tak mau mendengar apapun perkataan Darren, dia tak terima akan tuduhan itu. Dia nggak bermaksud menjadikan Zidan pelampiasan, atau sebaliknya. Tapi, semua Adistya lakukan demi ketenangan dua keluarga.
"Stop! Cepat keluar dari kamarku, KELUAR!" bentak Adistya.
Karena Darren tak kunjung pergi, akhirnya Adistya mendorong kuat lelaki di depannya ini sampai keluar dari kamarnya. Setelah berhasil, Adistya langsung menangis sejadi-jadinya di kamar.
Dia bingung sekarang, ucapan Darren membuat hatinya bimbang dan membenarkan semua perkataan itu. Adistya merasa jahat sekali, karena membiarkan Zidan masuk di saat hatinya sendiri belum bisa melupakan Darren.
"Aku harus bagaimana?" lirihnya semakin kacau.
Otak Adistya terlalu buntu malam ini, sehingga dia hanya bisa diam duduk termenung di lantai sambil memikirkan keadaannya yang semakin kesini semakin rumit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya CINTA BERSELIMUT LUKA Author NAZWA TALITA jangan lupa ya 😍😍