NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

033

033

Kejam

"Dia sudah untung karena aku sekolahkan."

.....

Suasana malam begitu tenang, bulan dan bintang begitu riang menyapa siapa saja yang sedang melihatnya. Namun langit malam yang cerah tak mendukung kesedihan yang Aleta alami.

Malam ini Aleta ingin sekali menemani Aksa yang sedang dirawat, namun Ayahnya tak mengijinkan. Sedangkan Mamanya begitu mendukung sang Ayah. Andai Ibunya masih ada pasti dia akan membela Aleta.

Tangis sesegukan terdengar di kamar yang telah menggelap padahal baru pukul delapan malam.

"Hiks ..."

Suara cegukan milik Aleta terdengar nyaring di ruang yang sepi itu. Tangannya terus saja menekan ponselnya, berusaha menghubungi Aksa yang telah sadar sebelum dirinya pulang tadi.

Tok tok tok

Ketukan pintu terdengar membuat Aleta mengalihkan tatapannya menuju pintu.

Krek

Suara pintu berdecit menandakan ada yang membukanya dan menampilkan sosok wanita cantik seusai Ayahnya.

"Aleta," suara lembut menyapa Aleta yang justru menatap si pemilik suara dengan sengit.

"Aleta mau sendiri," perkataan sinis keluar dari bibirnya. Dia benar-benar benci terhadap wanita di depannya ini. Katanya hanya mendiang ibunya yang ada di hati sang Ayah. Nyatanya? Bohong! Ayah menikah lagi, berbuat sesuka hati! Ayahnya membencinya. Ayahnya lebih sayang wanita itu daripada dia.

"Aleta, Mama hanya-"

"Aku rasa Mama bukan anak kecil yang harus diberi tahu dua kali."

Telak. Wanita itu memilih bungkam dan menatap Aleta dalam sendu.

"Baiklah. Selamat malam."

Setelah mengucapkan itu Mama Aleta memilih menutup pintu dan pergi. Vela sadar, Aleta belum bisa menerimanya bahkan mungkin tak akan pernah menerimanya.

.....

"Bagaimana?" tanya Herman saat Vela, sang istri memasuki ruang kerjanya.

Wanita yang diajak berbicara oleh Herman menunduk dalam. Tak ada sepatah katapun yang keluar untuk sekadar menyapa.

Herman berdecak sebal. Tangannya yang sedari tadi sibuk mengotak-atik laptop telah berhenti. Wajah pria itu memerah dan mengertat. "Sudah kuduga. Keras kepala,"

Vela menunduk dalam sambil berjalan mendekati Herman. "Dia hanya peduli pada temannya," kata Vela yang telah duduk di sebelah Herman.

Pria itu tersenyum mengejek, wajahnya yang angkuh terlihat mengerikan dengan rahang mengertat keras.

"Dia tidak boleh keluyuran malam. Bar-bar."

Vela tersenyum kecil berusaha menenangkan pria yang telah 3 tahun menikah dengannya.

"Dia anak yang baik dan berpretasi, Mas. Dia sudah terkekang aturan kamu selama ini, jadi biarkan dia bebas."

Bukannya tenang, Herman justru semakin mengeram marah. Bisa-bisanya Vela berkata seperti itu. Siapa juga yang mengurung Aleta? Dia hanya ingin mendidik anak perempuannya itu menjadi anak penurut, cerdas, dan tidak membuatnya malu. Soal emosi yang muncul setiap anak itu bertingkah, itu karena wajah Aleta yang begitu mirip dengan mendiang ibunya. Hal itu membuat dia selalu geram ketika menatap anaknya.

"Dia sudah untung karena aku sekolahkan," ucapan dingin dari Herman mengakhiri perdebatan mereka. Pria itu memilih membereskan laptop dan beberapa dokumennya lalu memilih keluar ruangan meninggalkan Vela yang hanya mampu memandang sendu.

"Ya, dia sudah untung," gumam Vela begitu sedih memikirkan Aleta.

Sebenci apapun Aleta padanya, Vela tak akan marah dan membenci balik. Dia sadar bahwa Aleta masih mencintai mending ibunya, tak akan ada yang bisa menggantikan.

.......

Gavin dan Aksa sedang berbincang serius di ruang rawat 4 x 5 kelas 1. Kedua pria itu sedikit berdebat membuat ruangan yang sepi menjadi cukup gaduh. Anggota The Charmer lainnya tidak ada yang mau datang karena menganggap Aksa penghianat dan juga munafik.

"Gila lo, Sa. Bisa-bisanya lo ketahuan sama si bos!" ucap Gavin begitu heboh membuat Aksa yang belum sadar sepenuhnya karena baru bangun tidur menguap lebar.

"Gue juga gak tau kalau Elvan bakalan ke rumah Aleta."

Gavin mengusap wajahnya kasar. "Terus siapa yang salah?"

Aksa menggelengkan kepala polos. "Bukan gue."

"Terus siapa? Elvan?"

Tak menjawab pertanyaan Gavin, Aksa justru menatap laki-laki ikut di depannya lekat.

Tatapan Aksa membuat Gavin ikut terdiam sejenak kemudian menjerit.

"Huaa!" teriak Gavin membuat Aksa kaget dan menatap cowok di depannya tajam.

"Alay banget. Kenapa si?"

Gavin menunjuk wajah Aksa berkali-kali sampai telunjuknya menyentuh dahi Aksa.

"Lo natap gue, lo suka sama gue?" tanya Gavin menggebu.

Aksa menatap Gavin dengan kernyitan di dahinya. "Gue masih normal, *****!" jawab Aksa ngegas dengan memukul tangan Gavin keras.

"Terus kenapa? Terpesona?" Gavin mengangguk-angguk sambil berpotensi sok keren, "Sadar gue kalau gue ganteng."

Aksa mendengus malas menatap Gavin. Orang ganteng dari mana coba Gavin itu?

"Muka lo bonyok juga, kenapa?"

Bukannya menjawab Gavin justru melongo lebar, "Kok malah tanya itu?"

"Jawab, kenapa lo?" tanya Aksa tajam menatap Gavin. Aksa tidak pernah suka dengan wajah Gavin yang bonyok seperti sekarang. Wajah Gavin itu terlalu putih, kalau terkena senggol dikit pasti bekasnya akan sangat terlihat.

Gavin menyengir sambil mengangkat jari telunjuk dan berkata, "Ribut dikit sama si bos."

Aksa menatap sahabat terbaiknya -walaupun sedikit menyebalkan dan lola- dengan pandangan begitu sendu.

"Lo bela gue?" tanya Aksa yang diangguki mantap oleh Gavin.

Aksa membuang muka, rahangnya mengeras menunjukan emosinya. "Harusnya gak usah. Gue emang pantes dibenci."

Gavin menggeleng keras, mulutnya membuka menutup gugup. "Gak, gak, lo gak pantes di benci, Sa. Lo baik, lo peduli, lo- mereka cuma salah paham. Mereka gak pernah tanya gimana dan kenapa lo kaya begini."

"Gue bener-bener munafik. Gue suka Aleta, tapi gue gak jujur sama mereka. Gue kenal Aleta, tapi pura-pura asing sama Aleta. Gue munafik, pembohong."

"Sa!" sentak Gavin begitu kasar, dengan penuh emosi Gavin membalikkan tubuh Aksa agar menghadapnya.

"Lo itu gak kaya gitu! Percaya gue!" jerit Gavin tak bisa lagi mengontrol emosinya. Tangannya mengguncang Aksa tanpa belas kasihan. Bahkan mungkin melupakan fakta bahwa tubuh Aksa sedang remuk redam.

"Sakit, woi! VIN, SIALAN, BADAN GUE ANCUR INI!"

Seketika guncangan Gavin berhenti. Wajahnya terlihat syok berat dengan mata melotot dan kedua telapak tangan langsung menutup mulut.

Brak

Suara badan Aksa terjatuh ke ranjang terdengar kencang diikuti ringisan milik cowok itu.

"Ya ampun, sorry, Sa. Gue lupa!" pekik Gavin tertahan masih dengan wajah terkejut namun tanpa dosa.

Aksa menatap sinis laki-laki berwajah imut di sampingnya. Untung sahabat terbaik, coba bukan, abis deh.

"Sakit?" tanya Gavin, kali ini tangannya menekan badan Aksa dengan lembut.

"Sakit lah, beg*!"

"Kok kasar sih, gue kan cuma nanya."

Baiklah, habis sudah kesabaran Aksa menghadapi Gavin.

"Panggil dokter, lo pulang."

Gavin melotot kembali, mulutnya menganga tanpa ia tutupi. Aksa menyuruhnya pulang? Tidak bersyukur sekali cowok ini, dia sudah merelakan jam istirahatnya hanya untuk menjenguk bocah tengil ini!

"Bukannya jahat ya, Vin. Tapi, kalau lo di sini kelamaan, mati gue," ucap Aksa membuat Gavin menyengir lebar.

"Sorry dong, gue kan refleks."

Aksa mendengus sebal, "Refleks sih refleks ya, tapi gak bikin tulang gue patah semua."

"Bawel! Gue panggil dokter deh," kata Gavin berbalik menuju pintu.

"Eh!" pekik Gavin kemudian sebelum tangannya memegang hendel pintu, badannya berbalik menatap Aksa kembali. "gue sekalian pamit pulang, ada tanding."

Aksa yang mendengar mengangguk pelan. Ya, setidaknya Gavin dan Aleta peduli padanya. Tak apalah Elvan dan yang lain membencinya, yang penting Aleta bersamanya. Iya, selalu bersamanya.

...........

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!