NovelToon NovelToon
Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda

Status: tamat
Genre:Anak Yatim Piatu / Tamat
Popularitas:12.5M
Nilai: 5
Nama Author: Senjahari_ID24

Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.

Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?

Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.

"Dua ratus juta!"

"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.

Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.

Ikuti kisahnya.

Jangan plagiat! Ingat Azab

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Jejak

Khalisa 33. Hilang Jejak

Sang surya merambat naik, sulurnya melambai menggelitik. Di bawah matahari yang berangsur terik, Khalisa menguatkan dirinya yang memang sedang tidak baik-baik saja untuk tetap tegar.

Berhasil kabur dari rumah sakit, ia memantapkan tujuannya hari ini yaitu mendatangi gerai laundry yang dulu sempat menerimanya bekerja. Hendak mengajukan kembali permohonan pekerjaan, berharap masih diberi kesempatan menjadi karyawan di sana dalam upayanya mengumpulkan uang agar bisa kembali memeluk sang anak. Kendati entah sampai kapan uang sebanyak lima ratus juta akan terkumpul, yang terpenting saat ini ia mendapat pekerjaan terlebih dahulu.

Demi menghemat koceknya yang hanya sepuluh ribu lagi, Khalisa naik angkutan umum dari rumah sakit satu kali saja yang seharusnya ditempuh dua kali. Sisanya ia berjalan kaki ke tempat yang dimaksud, menyisakan enam ribu rupiah yang kini mengisi saku.

“Lho, di mana tempat laundry yang dulu buka di sini? Kenapa sekarang jadi bengkel motor?”

Mendesah lelah, lagi-lagi Khalisa harus menenggak kecewa setelah semalam niatannya menemui Windy pun pupus. Ternyata, laundry yang menjadi satu-satunya harapan tersisa sudah tidak lagi beroperasi. Menurut informasi dari pekerja bengkel, gerai laundry tersebut gulung tikar sebulan lalu akibat terlilit hutang pada sebuah koperasi simpan pinjam yang memasang bunga pinjaman mencekik.

Menelan kehampaan akan harapan, Khalisa menyusuri trotoar tak tentu arah. Bersama Hati yang terus tertambat pada si pelita jiwa, menyeret kedua kakinya kembali ke kawasan di mana jeruji tak kasat mata berada, yang selama ini dianggapnya rumah setelah entah berapa lama berjalan kaki.

Ia baru tersadar ketika bisik-bisik cibiran yang sudah akrab menyapa telinga terdengar lagi.

“Pantas diceraikan juga, cuma bawa malu, modal muka cantik doang. Beda sama mantu Bu Wulan yang dikenalin tadi pagi, anak orang kaya, nona besar, malah tadi dijemput ke sini pakai mobilnya aja Mercedes.”

“Si Khalisa pasti balik lagi mau ngelamar jadi babu kayak yang diobrolin Bu Wulan. Ngenes ya, nasibnya. Diceraikan, jadi janda, enggak punya tempat pulang, terus berakhir jadi babu di rumah mantan suami. Enggak punya malu apa ya malah balik lagi?”

“Dia itu turunan wanita enggak beres, mana tahu yang namanya malu. Enggak ngaca, malah ngimpi pingin dianggap setara terhormatnya kayak kita-kita.”

Tak memedulikan bisik cekikikan berisi sindiran pedas untuknya, Khalisa mempercepat langkah mendekati rumah Wulan. Memelankan ayunan kaki kira-kira lima meter jauhnya dari pagar rumah, berharap melihat Afkar muncul sebentar saja.

“Afkar, sayangnya Bunda. Bunda kangen, Nak,” lirihnya serak penuh kerinduan. Menarik dan membuang napas tercekat, mengendalikan sebah dalam dada, dengan mata terus tertuju pada pagar dan pintu utama rumah.

Cukup lama Khalisa berdiri di tempatnya. Mengamati rumah Wulan yang sejak tadi tampak lengang juga sepi. Tidak seperti biasanya jikalau Wulan sedang berada di rumah, orang-orang yang mengetuk pintu pagar datang silih berganti hampir setiap satu jam sekali, mulai dari tukang kredit, koperasi pinjaman uang, sampai arisan perhiasan.

“Mungkinkah mereka sedang pergi? Terus, apa Afkar ditinggal sendirian di rumah?”

Terhenyak terjangan prasangka, Khalisa melintasi jarak tersisanya dengan pagar rumah Wulan. Teramat khawatir akan kemungkinan Afkar ditelantarkan, lantaran tahu betul bahwa semua orang di rumah itu tidak ada yang mengasihi putranya.

Bahkan kini terbersit hal nekat lain di benaknya yang mulai bisa diajak berpikir lagi setelah dilanda buntu sejak kemarin. Berniat membawa Afkar kabur saja, walaupun hal itu tidak lebih baik juga, membawa Afkar terlunta-lunta dalam pelarian tanpa modal mumpuni sama sekali bukan ide bagus. Berbeda jika Afkar diserahkan seutuhnya padanya secara sukarela, setidaknya Khalisa bisa berjuang untuk bertahan hidup dengan putranya dalam situasi tenang, bukan dikejar-kejar seperti buronan.

Dari jarak dekat, Khalisa bisa melihat rumah itu benar-benar sepi. Akan tetapi, pagarnya tidak dikunci. Bermaksud menerobos masuk ingin memeriksa kondisi anaknya yang pasti menangis saat terbangun tanpanya, niatan Khalisa terhenti saat si tetangga seberang rumah yang gemar memantau dari balik gorden keluar dari rumahnya.

“Bu Wulan sekeluarga, sudah pindah tadi pagi pas selesai sarapan ketupat sayur di warung Bu Marsih. Kami semua ditraktir sebagai ucapan perpisahan. Cuma barang-barangnya tidak dibawa, rumah ini nantinya mau dikontrakkan beserta isinya, sengaja pagarnya enggak dikunci biar gampang yang mau lihat-lihat. Soalnya Bu Wulan cerita, di rumah tujuannya perabotannya lebih mewah,” ujarnya tak ramah, sembari memindai meremehkan pada Khalisa.

“Pindah?” sambar Khalisa terkejut disertai lemas sekujur tubuh. “Se-semuanya? Semua orang?”

“Ya iyalah semua orang. Termasuk anak kamu, si Afkar itu,” ujarnya mendelik sinis.

“Pindah ke mana?” Khalisa panik bukan main, merasa kehilangan jejak keberadaan si buah hati.

“Ya mana kutahu. Yang pasti Bu Wulan bilang pindahnya ke rumah mewah menantu keduanya yang kaya raya itu, ke rumah madumu. Upss, lebih tepatnya mantan madumu.”

Bersambung.

1
Ida Setiarti
lope lope sekebon bunga 🥀🥀🥀🌹🌹🌹🌹🌹🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Nur Inayah
aku jadi kangen baca lagi kisah Brama dan Selena🤭🤭
Nur Inayah
aku udah baca ini entah yg keberapa kali, tetep aja candu dan gak pernah bosan, semua karya kak senja emang secandu itu🥰🥰
citra marwah
Aku udh baca yg kedua kali nya....tapi masih kurang huhuhuhu suka bgt dengan sikap dan sifat yudistira....senang juga dengan Khalisa yg skrg,kasihan dengan yg dlu...
citra marwah
hahahhahahahhaha pengen jdi khalisa yg sekarang bukan yg dulu😁
citra marwah
Cah gemblung gawe kaget ....syafa syafa
citra marwah
hahhahaha geli sendiri ya khal klo ingat itu pria nyuci cd😹
Hari Saktiawan
lope lope bang Yudis
Andy Mauliana
mengsedih
Andy Mauliana
Hanya ada nopel2 ya ges
Widiyani
kapan kak rilis cerita baru nya
narugendis
kenapa iklan mulu si sekarang /Grievance/
Widi Safitri
Luar biasa
Ira Suryadi
Luar Biasa
Ira Suryadi
Padahal udh baca Ulang Novel ini yg ke 2xny ,,pas part ini masih aja nyesek,,🥺
Tina Stiawan
Luar biasa
Shieay_Laa
mantap mami Rani....... aku padamu❤️🥰😘
Shieay_Laa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣bisa aja si Abah mah bikin orang bengek
Shieay_Laa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Shieay_Laa
asekkkkkkkk....hahahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!