Sun Chen merupakan Raja Para Dewa berhasil menciptakan sebuah jurus yang dapat mengendalikan tata surya.
Namun hal yang tidak diinginkan terjadi, semua tata surya menjadi kacau baik di dunia rendah, dunia atas, dunia dewa semuanya tidak beraturan.
Semua dunia dan planet yang ada di tata surya bertabrakan dan hancur berkeping keping akibat ulah Sun Chen.
Dibalik kejadian yang memusnahkan seluruh makhluk hidup di tata surya itu, untung saja Sun Chen diberikan kesempatan untuk terlahir kembali.
Namun Sun Chen merasa aneh karena dia terlahir kembali di dunia yang bernama Bumi yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Bagaimana kisah petualangan Sun Chen di tata surya baru itu? akankah Sun Chen dapat kembali mengibarkan sayapnya di puncak dunia?
Jangan lupa staytoon yah!
(Update setiap hari )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Badai Darah Sepuluh Ribu Pasukan
Sorot lampu dari ratusan kendaraan membelah kegelapan malam, mengubah pinggiran desa yang semula sunyi menjadi panggung benderang yang mencekam. Debu tanah beterbangan tinggi, berputar di bawah deru mesin sepuluh ribu petarung Aliansi Kota Yunan. Di barisan paling depan, Pemimpin Perguruan Melati berdiri bersama Tetua Feng Tuo, didampingi oleh Liu Gongsu dan Wang Tian yang memancarkan hawa membunuh tingkat tinggi. Beberapa kamera dari stasiun televisi lokal tampak terpasang di atas mobil siaran, merekam setiap detik pergerakan mereka untuk disiarkan secara langsung.
"Bocah bernama Sun Chen itu harus membayar setiap tetes darah murid intiku dengan kepalanya!" teriak Pemimpin Perguruan Melati dengan suara yang diperkuat oleh tenaga dalam, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah penduduk desa.
Di dalam halaman rumah keluarga Ling, kepanikan massal melanda ratusan warga desa. Para wanita memeluk anak-anak mereka sambil menangis, sementara para pria menggenggam alat pertanian dengan tangan gemetar. Skala kepungan ini terlalu besar, seolah-olah seluruh kekuatan kota telah dikerahkan hanya untuk menghancurkan satu titik kecil di peta bumi ini.
Sun Chen berdiri di depan gerbang kayu, memunggungi kerumunan warga desa. Jubah pernikahan tradisional berwarna merah yang ia kenakan berkibar pelan diterpa angin malam. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun gurat kecemasan. Bagi seorang mantan Raja Dewa yang pernah melihat seluruh tata surya hancur berkeping-keping, sepuluh ribu manusia biasa di hadapannya tidak lebih dari sekumpulan debu yang siap ditiup angin.
"Chen gege, jangan pergi sendirian. Biarkan Ying'er bertarung di sampingmu," ucap Ling Ying yang tiba-tiba berlari mendekat, tangan halusnya menggenggam erat ujung jubah Sun Chen.
Sun Chen berbalik sejenak, menatap mata istrinya yang kini telah membangkitkan fondasi kultivasi dasar. Senyum tipis, namun penuh kehangatan, terukir di wajah tampannya. "Tetaplah di sini bersama ibu dan ayah, Ying'er. Pakaian pernikahanmu terlalu indah untuk dikotori oleh darah semut-semut ini. Cukup tunggu suamimu kembali dalam waktu tiga menit."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Sun Chen melangkah keluar dari gerbang halaman. Setiap langkahnya lambat, namun memancarkan tekanan spiritual yang secara konstan menyebar ke segala arah. Menggunakan ilmu mata dewa, Sun Chen melihat aliran energi qi dari seluruh pemimpin aliansi di depannya. Melalui ilmu kalkulasi dewa, ia sudah menyusun skenario pembantaian yang paling efisien agar upacara pernikahannya tidak tertunda terlalu lama.
"Itu dia! Monster yang membunuh putraku!" teriak Liu Gongsu menunjuk ke arah Sun Chen dengan mata merah penuh dendam.
Wang Tian maju selangkah, melepaskan pedang besar dari punggungnya hingga menimbulkan dentuman berat di tanah. "Bocah ingusan, kamu memiliki keberanian besar untuk tidak melarikan diri. Hari ini, aku akan mencincangmu menjadi seribu keping untuk membalaskan dendam adikku, Wang Baisheng!"
Sun Chen berhenti sekitar dua puluh langkah di depan barisan terdepan aliansi. Ia menatap ke arah kamera siaran langsung televisi dengan pandangan meremehkan, lalu beralih kepada para pemimpin faksi. "Kalian membawa sepuluh ribu orang hanya untuk mengantarkan nyawa bersama? Sangat bagus. Kebetulan sekali fondasi tingkat 3 Alam Pemurnian Qi milikku membutuhkan sedikit hiburan."
"Sombong! Seluruh pasukan garis depan, serang dan hancurkan tubuhnya!" perintah Pemimpin Perguruan Melati dengan lambaian tangan yang tegas.
Dua ribu petarung ahli bela diri tingkat 1 dan 2 melesat maju secara serentak. Mereka membawa golok panjang, perisai baja, dan senjata tajam lainnya, menciptakan gelombang manusia yang tampak siap menelan sosok Sun Chen dalam sekejap.
Sun Chen tidak mundur satu sentimeter pun. Sifatnya yang kejam dan anti-naif membuatnya tahu bahwa berbelas kasih kepada kelompok ini hanya akan membawa masalah di masa depan. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, lalu merapatkan kelima jarinya membentuk segel cakar naga.
"Teknik Dewa Naga, Hujan Pedang Sembilan Langit," ucap Sun Chen dengan nada suara yang sangat rendah namun bergema di dalam gendang telinga semua orang.
Bomm!
Langit malam yang semula bersih tiba-tiba berguncang hebat. Energi qi murni berwarna merah darah keluar dari pori-pori tubuh Sun Chen, melesat ke atas awan dan memadat menjadi ribuan belati energi yang tajam. Dengan satu sentakan tangan Sun Chen ke bawah, ribuan belati qi tersebut meluncur deras bak hujan badai yang turun dari langit.
Swiszzh! Swiszzh! Swiszzh!
Pertunjukan pembantaian massal berskala besar dimulai tanpa bisa dicegah oleh siapa pun. Belati-belati energi murni tersebut menembus perisai baja, meremukkan tulang, dan memotong tubuh para petarung aliansi dengan presisi yang mengerikan. Jeritan histeris, raungan kesakitan, dan bunyi daging yang terbelah bersahut-sahutan memenuhi perimeter luar desa.
Hanya dalam waktu satu menit, dua ribu petarung garis depan telah roboh total, berubah menjadi tumpukan daging dan genangan darah pekat yang membanjiri tanah lapang. Saluran siaran langsung televisi mendadak hening, jutaan penonton di kota yang menyaksikan layar kaca mereka langsung membeku ketakutan melihat kebrutalan yang melampaui batas nalar manusia.
Wang Tian yang menyaksikan ribuan orang tewas dalam sekejap merasa seluruh bulu kuduknya berdiri. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya. "Sihir macam apa ini?! Dia bisa memanipulasi energi alam berskala besar tanpa menggunakan ritual?!"
Pemimpin Perguruan Melati juga merasakan lututnya sedikit lemas, namun gengsi dan kemarahannya menutupi akal sehatnya. "Jangan takut! Energi qi milikmu pasti sudah habis setelah mengeluarkan jurus sebesar itu! Tetua Feng Tuo, Wang Tian, mari kita maju bersama untuk menghabisinya!"
Tiga petarung terkuat di kota itu melesat maju secara bersamaan dari tiga arah yang berbeda, mengerahkan seluruh tenaga dalam tingkat ahli dan master yang mereka miliki untuk mengunci pergerakan Sun Chen.
Sun Chen hanya tersenyum sangat dingin melihat serangan terkoordinasi itu. Tubuhnya tiba-tiba bergeser dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Sebelum tebasan pedang Wang Tian menyentuh bayangannya, Sun Chen sudah berada tepat di belakang pria itu.
"Tebasanmu terlalu lambat untuk menggores pakaian pernikahanku," bisik Sun Chen tepat di telinga Wang Tian.
Wang Tian tersentak, mencoba membalikkan badannya, namun tangan kiri Sun Chen yang dilapisi energi qi tajam telah bergerak lebih cepat. Swiszzh!
Dengan satu ayunan jari, kepala Wang Tian terlepas dari lehernya dengan rapi, menyemburkan darah segar ke udara sebelum tubuh tanpa kepalanya tumbang ke tanah. Sun Chen bahkan tidak melihat mayat itu, tubuhnya kembali melesat mengejar Tetua Feng Tuo yang sedang mencoba mundur karena panik.
"Master Sun Chen, ampuni—" Belum sempat Feng Tuo menyelesaikan kalimatnya, telapak tangan Sun Chen sudah menghantam dadanya dengan telak.
Bugh!
Energi qi murni menghancurkan seluruh organ dalam dan tulang rusuk Feng Tuo hingga hancur berkeping-keping. Tubuh tetua itu terlempar sejauh tiga puluh meter, menabrak mobil siaran televisi hingga ringsek sebelum tewas seketika dengan mulut dipenuhi darah hitam.
Kini tersisa Pemimpin Perguruan Melati dan Liu Gongsu yang berdiri membeku di tengah sisa-sisa pasukan aliansi yang mulai mundur teratur karena ketakutan yang luar biasa. Sepuluh ribu orang yang mereka bawa sekarang hanya tersisa kurang dari setengahnya, dan semuanya telah kehilangan mental bertarung mereka.
Sun Chen berjalan perlahan, pedang aura merah di tangan kanannya mengeluarkan uap panas yang membakar tetesan darah di bilahnya. Sepasang matanya yang berkilat keemasan menatap langsung ke arah Pemimpin Perguruan Melati yang wajahnya sudah memucat seperti mayat.
"Siapa lagi yang ingin meratakan desaku menjadi abu?" tanya Sun Chen dengan nada suara yang sangat tenang, namun memberikan tekanan spiritual yang membuat ribuan orang yang tersisa langsung berlutut massal di atas tanah karena tidak sanggup menahan beban auranya.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah helikopter militer dengan lambang organisasi tersembunyi nasional tiba-tiba muncul dari balik awan, menyorotkan lampu tembak raksasa tepat ke arah posisi Sun Chen berdiri.