Richard memiliki segalanya harta, tahta dan wanita juga kemewahan hasil kerja kerasnya, tetapi semua tak lantas membuatnya tentram.
Wanita silih berganti di kehidupannya tapi semua hanya hiburan dan memuaskan hasratnya saja.
Sampai datang seorang Ameera Hidayati Marzuki anak seorang pemilik vila tetangga hotel Richard, Ameera menolak vila nya di jual untuk perluasan The Rich Hotel apalagi untuk di jadikan dan di bangun klab malam, atau night club.
Akan seperti apa kisah hijrah seorang Presdir Richard Isaak? akankah mereka jatuh cinta?
Ikuti kisahnya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enis Sudrajat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar akan kesalahan
"Benny, lo tahu apa itu 'mahram' yang di katakan Ameera tadi?"
"Maksud Bos?"
"Tadi Ameera mengatakan gue bukan mahramnya makanya dia nggak menyambut jabat tangan gue!"
"Haaaaaaaa ... cari di kamus Arab sana!"
"Gue tanya lo serius Benny! gue nggak tahu apa itu arti mahram!"
"Bos nggak percaya sih, kalau Bu Ameera itu punya daya tarik tersendiri bicaranya pintar sopan dan berkharisma, pembawaannya lembut dan anggun, satu lagi daya tarik yang paling nyata Dia begitu cantik seperti bidadari sampai Bos pun pengen tahu apa artinya mahram yang diucapkannya." Benny malah memuji Ameera bukan menjawab pertanyaan Richard.
"Gue nggak ngebahas yang lain Benny, gue cuma mau tahu apa itu mahram!"
"Jujur aku tanya apa Bos tertarik tidak sama Bu Ameera?"
"Lo ngeledek gue ya Ben? lo mau gue tampol apa?"
"Jujur aku tanya sekali lagi, sebagai teman bukan sebagai Bos dan bawahan, apa yang Bos rasakan setelah bertemu dan ngobrol dengan yang namanya Bu Ameera?"
"Secara kepintaran dan pembawaan gue tertarik gue senang bicara sama dia, dia bicara memberikan wawasan memberikan peluang dan juga memberikan harapan, secara fisik gue lebih penasaran mungkin bukan tertarik karena tertutupnya itu yang bikin gue penasaran, haaa ...."
"Kecantikannya?"
"Gue akui, Ameera cantik banget."
"Wah bahaya nih, bisa tabrakan dua kereta beda jalur! haaa ...."
"Apa lagi yang lo katakan Benny? mahram aja belum lo jawab, ini lagi beda jalur apaan maksud lo heh?"
"Kita jalur sesat dia jalur taat Bos. Pasti tabrakan nantinya."
"Kalau tabrakan sama Ameera apalagi di tempat tidur gue, pasti nggak nolak deh."
"Bos sudah kena virus Ameera binti Haji Marzuki, penawaran kerjasamanya langsung Bos sambut dengan baik apa maksudnya itu?"
"Gu-gue, nggak sanggup nolak Benny, bicaranya seperti magnet yang menarik perhatian gue, menarik keinginan gue, untuk ikut dalam ajakannya lebih jauh lagi, padahal untuk kerja sama dan gue diharuskan keluar modal bukan ajakan bersenang-senang di atas tempat tidur!"
"Aku mau belajar satu hal pada Bu Ameera Bos!"
"Belajar apa lo? pantesan gue tanya mahram nggak lo jawab, berarti lo sama aja kayak gue nggak ngerti apa-apa dan buta soal pelajaran agama."
"Haaa ... penasaran ya? mahram itu orang yang haram di nikahin, di sini contohnya Bu Ameera.
Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam."
"Seperti apa itu?"
"Jangan salah ya, kadang orang salah kaprah menggunakan istilah mahram ini dengan kata muhrim, sebenarnya kata muhrim memiliki arti yang lain dan tidak ada hubungannya kata muhrim dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa arab, kata muhrim artinya orang yang mengenakan Ihram (tahapan awal seseorang menunaikan haji/umrah) dalam ibadah haji atau umrah sebelum bertahallul. Sedangkan kata mahram (mahramun) artinya lawan jenis yang tidak boleh dinikahi (dalam permasalahan nikah) dan lawan jenis yang tidak dapat membatalkan wudhu ketika bersentuhan (dalam permasalahan bersuci). Dua orang yang punya hubungan mahram diperbolehkan menyentuh satu sama lain, baik bersalaman atau lainnya."
"Tapi gue nggak bisa mencerna jawaban lo yang panjang itu Benny."
"Intinya begini, Bos itu bukan seorang yang ada dalam pertalian darah Bu Ameera jadi nggak boleh bersentuhan. contohnya Bapaknya, Kakak laki-lakinya, adik laki-lakinya, paman dan Uak laki-lakinya, kakeknya dan lain-lainnya."
"Lo sudah seperti tukang ceramah saja Ben? lalu kapan lo belajar itu?"
"Sebenarnya aku pernah ngaji Bos, masa-masa kecil dulu sebagian ilmu yang aku terima masih ada yang bisa aku serap. Dan bisa aku terapkan, cuman kesini kesini aku salah jalan aku salah pekerjaan hingga aku terdampar tak berdaya dan bekerja di The Rich Hotel!"
"Apa lo bilang? lo ikut gue salah jalan? gue tampol bener-bener lo ya? sekalian aja bilang kalau gue Bos ancur!"
"Sorry Bos, aku bercanda, tapi seiring usia yang aku jalani aku semakin ingin menjadi orang benar, dan memilih ketenangan menjalani hidup."
"Berarti selama ini gue lo anggap nggak bener Benny?"
"Sekali lagi sorry Bos, secara aturan dan pergaulan tidak ada salahnya hidup bagaimanapun, hidup seperti apapun itu hak asasi manusia. Hak seseorang bebas menentukan jalan hidupnya, tetapi kalau dilihat dari kacamata agama bukan aku sok pintar aku juga masih perlu belajar, ada yang salah baik diri Bos terlebih diriku, ini kenyataannya diakui ataupun tidak."
"Gue semakin nggak mengerti Ben! apa salah gue?"
"Bos! berhentilah bermain perempuan, itu mutlak salah dalam aturan agama kita, tak akan kenyang dengan beribu wanita yang singgah di hati kita, dengan berganti-ganti pun takkan ada kata kenyang tetapi hiduplah dengan tenang dan tentram dengan satu wanita sebagai istrimu."
"Lo serius Ben?"
"Aku serius, selalu serius dalam ucapan dan pekerjaanku, aku ingin Bos pikirkan aja dulu, jangan dulu berubah kalau belum mampu! hanya itu."
"Kalau lo bukan teman gue sudah gue pecat lo Ben! tapi gue banyak hutang Budi sama lo, gue masih punya hati dan masih menganggap sahabat dan teman, jadi gue akan pikirkan apa yang diucapkan lo itu."
"Jujur setelah aku bertemu Bu Ameera, dia menyinggung gue terlalu dalam di satu obrolan aku waktu ke tempatnya, tapi ucapan dia memang menyadarkan aku dengan se-sadar sadarnya."
Richard diam, seperti itu yang dirinya rasakan juga saat ngobrol dengan Bu Ameera. Tersinggung tapi membuat kita sadar akan kesalahan.
*****
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like, vote dan beri hadiah ya! happy reading🙏❤️
Author Nazwa Talita:
Judul karya : DENDAM
Napen : nazwa talita
Setelah disiksa, dikhianati dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan hampir tak bernyawa, Gendis bertekad Mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu.
mampir di karya Enis Sudrajat lainnya di jamin meleleh juga😉
buat yg keren n panggilannya mommy Daddy or mami papi
tpi ya makasih juga klo udah part selanjutnya ,Tetap semnagat