"Aku tidak ada hubungan apapun dengan dia!. Dia menginginkan hubungan kita hancur sayang, tolong percaya sama aku" ucap Anne mencoba menjelaskan semua pada Jovi.
Dalam hubungan tidak ada kepercayaan di antara mereka berdua. Setiap ada masalah, maka Anne lah yang selalu jadi sasaran dalam percintaan mereka berdua.
Setiap penyesalan itu datang di akhir. Sebuah pernikahan yang terjadi antara Anne dan Brian, mereka tidak saling mencintai. Brian membenci wanita karena wanita itu pembawa sial dalam hidupnya.
Menikah dengan wanita yang tidak di cintai adalah hal yang terburuk dalam hidup Brian.
Membenci wanita tapi menginginkan wanita malam setiap saat.
Apakah suatu saat nanti, hati Anne akan memaafkan semua kesalahan Brian? dan ternyata Brian adalah seorang mafia yang sengaja di sembunyikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesyufa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celaka
Menyantap bakso dengan sangat lezat tanpa di sadari Vino dengan berkas yang di suruh oleh Kin, akhirnya membuka ponsel melihat ada puluhan panggilan yang masuk di dalam ponsel Vino. Mencoba untuk menelepon kembali, Kin langsung berteriak memanggil Vino dengan suara keras.
"Vinoooooooo!!!!" panggil dengan suara teriakan sampai seluruh ruangan menggema.
"Maaf Tuan, saya lalai" ujar Vino.
"Kamu dimana ha!, apa kamu lupa dengan berkas itu. Gara kamu saya sampai malu di depan mereka semua, kenapa kamu bisa lalai" ucap Kin semakin menggema di dalam ruangan sampai mereka karyawan merasa takut.
"Maaf Tuan, nanti saya jelaskan semua. Saya akan kesana tuan".
"Saya tunggu, sekarang JUGA!!!" menutup telepon.
"Aduh, gawat ini. Bagaimana ini?. Hanni, tolong saya, tolong kali ini saja".
"Minta tolong apa pak?" tanya Hanni.
"Tolong bantu saya, bos saya marah besar dan dia pasti akan memecat saya karena berkas ini. Tolong saya Hanni, tolong" meminta bantuan pada Hanni agar Kin tidak memecatnya.
"Nanti kamu tolong saya kalau sudah sampai disana".
"Tolong bagaimana pak, aku tidak tahu pak!".
"Nanti di mobil saya bilang. Ayo kita pergi ke kantor, atasan saya pasti sedang marah sekarang".
Selesai makan bakso Vino membayar bakso tersebut, mengajak Hanni juga ikut bersamanya ke perusahaan. Dalam perjalanan Vino memikirkan melihat penampilan Hanni seperti orang desa, maka pastinya orang-orang karyawan memandang rendah.
"Hanni, apa tidak ada pakaian lain selain yang kamu pakai ini?".
"Semua pakaian aku sama seperti ini pak, tidak ada pakaian semacam lain" jelas Hanni.
"Kalau di kantor merendah kamu bagaimana, apa kamu tidak bermasalah!".
"Tidak akan, aku biasa saja pak. Apa ini masih jauh, ac mobil bapak dingin sekali" ucap Hanni yang sudah kedinginan dengan sejuknya ac.
"Oh maafkan aku, kamu jadi kedinginan" langsung mematikan ac.
"Terima kasih pak" ujar Hanni duduk dengan tenang.
Sembari perjalanan menuju ke perusahaan, Vino menyalakan musik agar suasana tidak canggung ataupun tidak tegang.
Ruangan pasien
Suasana hening masih sama seperti awal, Danial masih diam dan tidak berbicara apapun. Aleysia sedang menyuapi makanan pada Anne yang masih lemah, sedangkan Brian masih bingung harus menjelaskan apa pada Danial ayah mertuanya.
"Kenapa Anne mengatakan hal yang jujur pada papa, ini bisa-bisa menjadi rumit atau bisa saja Anne menggugat cerai padaku nanti. Aku harus melakukan sesuatu, bagaimana..." ucap Brian melihat Danial keluar dari ruangan pasien.
"Papa, aku ingin membicarakan sesuatu. Aku.." ujar Brian berbata-bata.
"Kita perlu bicara Brian, papa ingin tahu apa maksud kamu lakukan semua ini" ajak Brian mengontrol bersama di tempat lain.
"Baik pah, aku paham".
Mereka berdua keluar dari rumah sakit untuk mencari tempat obrolan, sangat kebetulan sekali di samping rumah sakit ada warung yang bisa duduk mengajak ngobrol bersama. Perasaan Brian mulai risih sebab apa tujuan mengajak bicara dua mata, seolah hubungan ini sudah berakhir (itulah yang di pikir Brain).
"Kita disini saja, ini tempat yang aman untuk membicarakan masalah kamu. Sebaiknya kamu jujur sama papa, apa maksud kamu menikahi anak papa!" ucap Danial pada Brian.
"Maaf pah, aku tidak menjelaskan semua ini. Malam itu aku bisa menjelaskan, ada seorang yang ingin membunuh aku pah bahkan dia menjebak aku sampai tubuh mengalami ransa-ngan" ujar Brian menjelaskan semua masalah yang terjadi malam itu.
"Pada malam itu ada seorang wanita menolong aku, sampai kamu berdua di dalam kamar. Akhirnya aku tidak tahan dengan racun itu pah, aku melakukan hubungan yang seharusnya tidak aku lakukan pah".
"Lalu kamu tahu wanita itu siapa?".
"Dia Sania, gadis yang menyukai aku sejak kecil. Tapi aku menyukai Anne pah bukan Sania, dia terus mengganggu hubungan kami sampai mengancam Anne".
"Apa papa bisa memercayai kamu Brian?. Rasanya papa ragu dengan penjelasan kamu Brian, ya sudahlah papa tidak ikut campur urusan rumah tangga kalian".
"Pah, maaf Brian sudah membuat hidup Anne begitu. Maafkan aku pah" ujar Brian.
"Sudah papa maafkan, tapi ada hal yang membuat papa emosi saat ini".
"Apa pah?" tanya Brian yang penasaran.
"Kin, kamu kenal dia bukan. Setelah kejadian waktu yang lalu, Kin cucu Aleta berani mencari data Anne. Mereka terus memaksa aku agar bisa berjumpa dengan Anne, aku tidak bisa membiarkan mereka bertemu dengan Anne".
Ada permasalahan apa papa dengan keluarga Kin, aku penasaran sekali. Apa aku harus menyuruh Oden untuk mencaei data tentang masa lalu kehidupan papa, kenapa aku tidak tahu ya.
"Brian!, kamu melamun apa?" tiba-tiba Brian bengong dengan ucapan Danial.
"Tidak ada pah, kita kembali saja dulu. Mereka sudah menunggu kita".
"Nanti papa akan cerita semua tentang masa lalu papa".
"Iya pah".
Kembali ke rumah sakit karena sudah selesai dengan permasalahan tersebut, Brian menjadi lega tidak jadi di usir dari kehidupan Anne. Disisi lain Anne tidak menerima pengakuan maaf Brian, dirinya tidak mau kembali pada Brian karena hatinya masih sakit.
Ponsel Brian berdering, telepon dari Clarinta.
"Papa duluan saja, aku angkat telepon dulu" kata Brian sembari mengamati ponsel di dalam saku.
"Ada apa lagi kamu menelepon kamu Clarinta, kamu beluk puas dengan penderitaan yang aku berikan. Beruntung aku tidak mengganggu dunia karir kamu Clarinta, kalau bisa kamu di blacklist dari semua negara ini" ancaman Brian pada Clarinta.
"Kamu tenang saja, aku ingin memberitahu sesuatu. Apa kita boleh bertemu sebentar, ada barang yang harus aku berikan untuk kamu" ucap Clarinta seberang sana.
"Barang apa?" tanya Brian.
"Ada sesuatu yang akan membuat kamu terkejut, kita akan bertemu di tempat kenangan yang terindah di masa lalu dulu".
"Sudah jangan basa-basi, kirim saja alamatnya. Aku sudah lupa tempat menjijikkan itu, asal kamu tahu kalau kamu itu adalah wanita murahan" kata Brian dengan menantang.
Aku tidak takut dengan ancaman kamu Brian, kita lihat saja nanti siapa yang akan hilamg dari bumi ini. Aku atau kamu. batin Clarinta
"Okay... terserah kamu saja mau bicara apa, aku tidak keberatan sama sekali. Sekarang aku sedang menunggu kamu Brian penguasa, cepatlah datang kemari dan aku tidak mau berlama-lama menunggu manusia seperti kamu" ujar Clarinta.
"Baik. Aku kesana sekarang, jangan lupa kirim lokasinya!".
"Iya, aku tidak lupa".
Hidup kalian akan berakhir hari ini juga, aku mengutus semua anak buah untuk bergerak lebih dulu. Clarinta-Vanka, aku tahu kalian kerja sama..Namun aku hanya diam saja melihat kalian sejauh mana rencana kalian menghancurkan aku. dalam hati
**
Mobil Vino sudah sampai di perkarangan perusahaan, Hanni turun dari mobil dengan hati-hati. Banyak orang di sekitar kantor melihat Hanni berpenampilan tidak seperti perempuan, mereka berdua masuk tanpa memikirkan perkataan orang lain.
"Ayo Hanni, kamu bisa berdrama bukan!".
"Bisa pak".
"Kita masuk sekarang, bulu aku sudah merinding ini".
"Hahaha.... bapak lucu sekali" terkekeh Hanni sembari meninjau lengan Vino.
"Aw tinjuan kamu sakit sekali, tangan kamu terbuat dari apa Hanni!" geram Vino akibat pukulan Hanni lebih dari seorang pria.
"Maafkan saya pak".
Mereka masuk ke ruang Kin, ternyata Kin sudah menunggu di dalam dengan wajah yang masam. Vino melihat wajah Kin seperti melihat serigala yang sedang kelaparan, Hanni masih di luar karena belum saatnya memulai drama mereka.
"Dari mana saja kamu Vino, kamu tahu berkas itu sangat penting bagi perusahaan ini. Jangan sampai aku emosi Vino atas perbuatan kamu, cepat jawab!! dari mana kamu?".
"Tuan mau mendengarkan penjelasan saya dulu atau mendengarkan ocehan tuan yanh tidak tahu arah kemana" kata Vino yang membuat Kin semakin emosi.
"KAMUUUU!!!" ucap Kin yang ingin memukul Vino.
Tiba-tiba...
"Jangan tuan, jangan sakitin bapak ini. Kasian tuan" datang Hanni dari luar membantu Vino dari pukulan Kin.
"Siapa wanita yang kamu bawakan, apa dia calon istri kamu Vino?" tanya Kin.
Calon istri?. Ternyata bapak ini sudah menikah, aku terlambat masuk ke dalam hidupnya. Sayang sekali...
"Hanni, cepat jelaskan pada tuan Kin" menyuruh Hanni maju depan.
"Hmmm... jadi begini tuan, tadi aku melihat bapak Vino di ancam oleh beberapa preman. Sebenarnya bapak Vink sudah berusaha menelepon tuan, tapi sama sekali tidak mengangkat telepon dari bapak Vino" jelasnya Hanni.
"Preman, dari mana preman tersebut. Kenapa mereka menyerang kamu, apa kamu ada masalah dengan mereka?" tanya Kin.
"Tidak tahu Tuan, aku saja tidak ada kenal dengan mereka apalagi punya masalah!" jawab Vino.
"Terus wanita ini siapa?".
"Namanya Hanni tuan, dia wanita yang sudah menolong aku tuan. Untung saja ada dia, kalau tidak aku akan mati tuan".
"Kamu bisa menghajar semua preman itu, bagaimana caranya. Sepertinya kamu bukan gadis biasa, ada yang aneh dengan kamu!" ucap Kin memeriksa penampilan Hanni.
"Aneh apa tuan, saya tidak mengerti".
"Tuan. Apa yang tuan lakukan, jangan mendekat tuan" ujar Hanni mencoba mundur dari hadapan Kin.
Perlahan sedikit demi sedikit Hanni mundur ke belakang, melihat Kin semakin mendekati Hanni, akhirnya Hanni kesandung dan Kin menyambut tubuh Hannia dengan cepat, tatapan mata mereka berdua membuat Kin diam seketika.
Bersambung
nanti d lanjutin 🤭