"Kau siapa?" Charlotte tak menemukan jejak ingatan siapa laki-laki yang berdiri didepannya dengan hanya handuk dan rambut basah di kamar hotel itu.
"Kau tak tahu aku siapa? Kau tidur di ranjangku..." Bahkan bajunya sudah berganti dengan baju kebesaran dari pria itu.
Sial! Bahkan namanya pun tak bisa diingatnya. Nasib sial apa yang menimpanya sekarang.
Dari kecil dia tak pernah percaya cinta, tak percaya pangeran berkuda putih, Charlotte Blaine adalah pengacara perceraian paling dicari di London, melihat begitu banyak perceraian dalam hidupnya dan tidak mempercayai cinta, tapi sekarang dia jatuh ke pelukan pria asing karena minum di Monaco.
Apapun yang terjadi semalam tetap tinggal di Monaco. Begitu batinnya.
Benarkah kisahnya begitu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32. I Can"t Josh!
"Charlotte? ... Kau menangis?"
"Tidak..." Tentu saja menjawab dengan suara tercekik adalah kebohongan yang sia-sia. Dengan cepat dia membalik tubuhku. Dan aku sudah banjir air mata.
"Ada apa?!"
"Kenapa kau kembali malam ini?"
"Apa?"
"Aku harusnya bisa tidur sebentar..." Aku duduk dan menutup wajahku, membenamkan kepalaku diantara kakiku dan terisak.
"Sebenarnya ada apa?! Susan atau Ibuku menemuimu lagi? Bukankah kita sepakat menghindari mereka?"
"Bukan itu..." aku mengangkat wajahku dan menatapnya.
"Ya Tuhan Charlotte.... Apa yang membuatmu menangis begini..." Josh menarikku dalam pelukannya. Dan menghapus air mataku.
"Josh, kau dan aku mustahil kita bisa bersama...." aku mengumam dalam pelukannya.
"Kenapa kau berkata seperti itu!?" Josh memegang pundakku dengan tegang, sementara aku terus terisak. "Katakan Charlotte!"
"Ayahku ... ayahku adalah ... Ben Olsen Menard...pamanmu." Josh diam, tampaknya dia perlu waktu mencerna kata-kataku. Dan aku hanya menatapnya dengan pandangan tak berdaya.
"Apa? Paman Ben ayahmu?! ....Kau bercanda! Kau bilang kau tidak tahu nama ayahmu! Siapa yang mengatakannya padamu?!" Josh melepas pegangannya.
"Ayahmu yang mengatakannya. Dia tahu semuanya, dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan selain merasa tak berdaya..."
"Ini tidak mungkin ...."
"Kita tak mungkin bersama Josh. Kita masih sepupu. Dan aku tak bisa membawa Menard yang lain ke depan Ibuku, aku akan melukainya... " Aku membenamkan wajahku ke dadanya, terus terisak dan membiarkan diriku menangis untuk melepaskan semua bebanku.
Sesaat aku merasa aku masih memilikinya dan disaat yang lain aku tahu aku tak bisa melepaskannya. Rasanya sakit, seperti terhimpit dalam mimpi buruk yang berulang-ulang.
Josh diam tapi dia memelukku erat. Dia sama tak berdayanya seperti aku, sudah takdir kami dipisahkan seperti ini. Tak ada jalan lain selain kami harus berpisah dan sama-sama saling melupakan.
"Charlotte, hei... jangan menangis, mungkin kita bisa mencoba meminta izin Ibumu. Kita saling mencintai... Masa lalu hanyalah masa lalu. Mungkin Ibumu sudah memaafkannya." Aku menggeleng.
"Josh... Kau tak tahu apa yang kami hadapi setelah kami ditinggalkan, ... kau tahu aku pernah memungut makanan sisa karena kelaparan! Kau tidak pernah mengerti betapa gelapnya kehidupanku, kenapa aku membenci pria dan tidak pernah mempercayai kata cinta bertahun-tahun selama hidupku ... Aku tak pernah memaafkan ayahku dan keluarga yang telah membuang kami kejalanan, dan Ibuku bahkan tak pernah menyebutkan nama Ayahku satu kalipun didepanku. Dan aku tidak mungkin melewati garis itu Josh... tidak mungkin..." Aku mengelengkan kepalaku dengan lemah. Tidak ada jalan lain bagi kami.
"Kita belum mencoba...." Aku langsung memotongnya dengan frustasi.
"Tak mengertikah kau Josh, aku tak bisa melihat Ibuku terluka lagi dengan mengingat nama Menard. Tidak bisa! Tidak mungkin!" Suara ku meninggi dengan cepat. Tapi aku sama sekali belum selesai.
" Dan kau tahu aku masih berpikir dulu ayahku meninggalkanku karena mungkin dia tertekan, terpuruk atau alasan yang mungkin bisa kupahami keadaannya. Tapi ternyata karena karena Ibuku tidak sekelas dengan Menard dan kau tahu... Menard yang kaya raya bahkan membiarkan kami kelaparan, apa kau kira aku bisa memaafkan itu. Walaupun ayahmu bilang dia berniat mencari kami, untuk apa?! Bahkan belasan tahun aku hidup dia tidak memperdulikan aku bahkan telah menjalani banyak hal yang bisa dibayangkannya. Tak bisakah dia berbelas kasihan padaku untuk membeli roti, apa kau bisa bayangkan betapa aku membenci itu!" Aku meneriakkan kemarahanku, tentang semua hal yang kupikir adalah kekecewaan terbesarku selama ini, dan rasanya mungkin Ibuku melindungiku dengan tidak menceritakan apapun padaku.
"Honey..." Josh tertegun melihat ledakan kemarahanku.
"Maafkan aku Josh, aku tak bisa menerima ini. Maafkan aku .... Kumohon."
"Honey, I'm only Josh. The one who love you, this just me, a friend who you trusts and feel secure with, don't you forget that."** Kata-katanya menarikku kembali ke pusaranrasa sedih. Hanya marah dan sedih yang berganti selama dua hari ini. Rasanya seperti masuk ke dunia gelap yang tak berujung.
"Aku tahu.... aku benci semuanya ... aku lelah, untuk satu detik aku berharap semuanya hanya mimpi... mimpi buruk ...Besok aku akan bangun dan semuanya menjadi baik kembali." Josh bergerak memelukku, aku membiarkannya. Tangisku hanya menyisakan isakan dan aku menjadi lelah. Rasanya aku hanya ingin sejenak tidur dan melupakan semuanya.
"Dengarkan aku sweetheart, kau akan baik-baik saja. Besok saat kau bangun keadaan akan membaik. Aku tak perduli apapun yang terjadi, kau akan selalu memiliki aku ... apapun yang terjadi besok, aku akan tetap jadi sahabat terbaikmu. Aku akan tetap menjagamu, kau akan baik-baik saja. Kau tetap memiliki aku apapun yang terjadi. Lupakan semuanya ... tidurlah. Kau akan baik-baik saja." Dia membiarkanku berbaring. Saat dia perlahan membelai rambutku, menyeka sisa air mataku, aku begitu lelah.
"Josh, maafkan aku ... "
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, tidurlah Charlotte, besok semuanya akan baik kembali." Aku memejamkan mataku. Dan merasakan tangannya merapikan rambutku. Dan dengan cepat aku tertidur karena kelelahan.
************$$$$***********
Honey, I'm only Josh. The one who love you, this just me, a friend who you trusts and feel secure with, don't you forget that.
"**Sayang, aku cuma Josh. Orang yang mencintaimu, ini cuma aku, seorang teman yang kau percaya dan tempatmu merasa aman. Apa kau lupa itu
KEREN
setuju pakai banget...
klo indo ?? Whatever