Berawal dari tidak sengaja! hingga timbullah rasa cinta!
Takdir siapa yang tahu, setelah 3 tahun pernikahan ia baru mengetahui bahwa bukan dirinyalah istri dari Rico Bagaskara, lelaki yang berusia 6 tahun lebih tua darinya ternyata telah mengkhianatinya dengan menikah secara diam-diam dengan wanita idaman lainnya.
hati Arini begitu rapuh, namun Tuhan selalu merencanakan yang terbaik untuk dirinya, di tengah kehancuran hatinya hadir sosok Seto Pramana, pria muda tampan dan di gilai para wanita itu diam- diam menaruh perhatian padanya.
berawal dari tidak sengaja, hingga timbullah rasa cinta.
"istrimu Adalah Pilihanku." gumam Seto dengan keinginan yang kuat !
akankah rumah tangga Arini berakhir?
akankah, penyesalan itu menghampiri Rico?
ikuti kisah selengkapnya.
warning.!!! 📢📢📢
cerita ini hanyalah fiktif, tidak bermaksud menyinggung pihak manapun di dalamnya mungkin ada beberapa cerita 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
berikan aku saran kritik yang membangun, bukan menyudutkan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadira indeer ꧁️βӀօօժʂ꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAP. 33.
*sebelum lanjut baca yok tak kenal maka tak sayang kalau sudah kenal beri aku uang parkir berupa like komen rate dan vote ya gengs 🥳 syukur ² di kasih tips koin hehe..
happy reading 😘*
Biarkan kali ini Arini egois. Dirinya telah lelah menerima perlakuan Rico selama ini saat Seto menawarinya kebahagiaan tidak pikir dua kali wanita itu segera menyetujui walaupun hatinya masih belum sepenuhnya menerima Seto, suatu saat pasti akan berjalan dengan semestinya.
Seto membawa Arini dalam pelukannya. Dia mengecup kening Arini. Seto sudah sangat mencintai Arini, ia tergila-gila pada istri orang.
"Tidak peduli apapun, sebentar lagi Rin..aku yang akan menggantikan Rico di hatimu." ucap Seto dalam batin.
"Biarkan aku egois untuk kali ini, bermain gila di belakang suami." batin Arini.
Kedua sejoli itu larut dalam pikiran masing-masing, Seto sang Casanova itu telah berubah total semenjak terpikat kepada Arini ternyata momen bahagia mereka saat ini di saksikan oleh Bimo dari kejauhan, lelaki bertubuh sedikit gemuk itu hanya bisa tersenyum turut bahagia karena misinya berjalan mulus.
"Em..mas..bisa nggak jangan peluk aku dulu, takut ada yang melihat." Kata Arini canggung.
Seto tersenyum, " ini kan private room Rin.., lagian aku refleks karena terlalu senang kau mau menerimaku."
Arini hanya bisa memaksakan senyumannya, "mas aku pulang ya? Kasian Alana kalau lama aku tinggal."
Seto mengangguk, "biar aku antar pulang, yok!" Seto pun bangkit dari duduknya, tangannya terulur mengajak Arini untuk bangkit dari tempatnya.
Setelah menempuh perjalanan ± dua puluh menit, mobil sport yang mereka tumpangi Seto telah sampai di kediaman Arini.
Arini turun dari mobil setelah Seto membukakan pintunya. "Aku langsung pamit ya Rin..?" pertanyaan Seto lalu di setujui Arini.
Bukannya tidak mau mampir Seto sedikit sibuk sebenarnya, namun demi Arini ia rela menunda pekerjaan yang kini telah di handle Bimo. Arini juga tidak enak jika mempersilahkan Seto masuk kedalam karena saat ini Arini menyadari Rico berada di rumahnya, terlihat dari mobilnya yang terparkir di garasi.
Sebenarnya Seto tahu, suami Arini sedang di rumah ingin rasanya Seto membuat kerusuhan pada Rico namun karena jadwal pekerjaannya menumpuk mengharuskan dirinya untuk fokus dulu pada pekerjaan.
Tangan Arini melambai ketika mobil Seto keluar dari pekarangan rumahnya.
Arini memutar kunci dan menarik gagang pintu, dia menghela nafas saat mendapati Rico tak di ruang tamu, wanita itu meyakini kalau suaminya sedang berada di lantai atas. Arini melangkahkan kakinya menuju kamar, jantungnya berdegup kencang seperti inikah rasanya orang berselingkuh? sungguh ini perasaan yang pertama kali di rasakan Arini.
Sesampainya di kamar, Rico ternyata sudah terlelap di samping Alana, Arini segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia memakai baju tidur dan membangunkan Rico.
Rico yang baru saja bangun mencoba mengucek matanya agar penglihatannya tidak kabur, Rico memperhatikan Arini wajah istrinya terlihat tegang. Arini mendelik sejujurnya wanita itu tidak pandai berbohong buktinya sekarang jantungnya semakin tak karuan.
"Darimana kamu…Jam segini baru pulang?!" tanya Rico.
"Ke toko bunga." jelas Arini.
Rico mencerna kata-kata Arini. untuk apa istrinya itu ke toko bunga " sampai kau meninggalkan Alana?"
Arini hanya terdiam tak menyahuti pertanyaan Rico, tubuhnya merangkak naik ke atas ranjang menyelinap masuk kedalam selimut memejamkan matanya seolah ia enggan menanggapi lelaki itu.
"Kau berani mengabaikan ku?" Rico tak menyerah dirinya masih menunggu jawaban dari istri pertamanya itu.
Arini memejamkan matanya, mengabaikan Rico dirinya begitu muak dengan suaminya itu. "Aku mau tidur. Jangan memaksaku untuk menjawab semua pertanyaan darimu !"
Rico hanya menggeleng, Arini benar-benar telah berubah.
Di lain tempat.
Setelah melakukan perjalanan kembali dari mengantar Arini tadi. tepat Lima belas menit kemudian Seto telah sampai di kafe miliknya lelaki yang baru saja menjadi kekasih Arini itu ada janji dengan seseorang.
Seto telah menyiapkan tempat untuk pertemuannya dengan Dio, sahabat masa kecilnya dulu sekaligus partner bisnisnya. beberapa saat setelah kopi yang ia minta tadi datang , Dio pun datang. Ia menyapa Seto dan langsung mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping sahabatnya tersebut. Ia langsung memanggil pelayan dan memesan kopi yang sama dengan Seto.
"Sepertinya raut wajahmu sedang berduka haha." ledek Dio dengan menepuk bahu Seto.
"Iya..tentu saja aku berduka karena bertemu denganmu haha," saut Seto.
"Oh..ya, kemarin kau mengatakan ingin mengembangkan bisnismu di bidang kuliner, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Seto sembari menyeruput kopi di dalam cangkirnya.
"Aku? Itulah yang menjadi problematikanya. Apa kau tahu Se? hanya kaulah temanku yang sukses di banding yang lain, padahal dulu waktu sekolah kau yang paling bodoh haha tapi sekarang kau yang paling tajir dan pandai mencari peluang bisnis."
"Langsung saja ke intinya. Kau mau apa dariku? Katanlah akan ku bantu sebisaku" Kata Seto.
"Serius kau mau membantuku?" tanya Dio melebarkan matanya.
"Ya iyalah kau pikir siapa yang akan mengasihanimu selain aku? hahaha katakanlah Di." ucap Seto mendorong bahu Dio seraya meninggikan tertawanya. Tak lama kemudian seorang pelayan
menghampiri meja mereka berdua dan menyuguhkan Sebuah kopi yang Dio pesan.
"lalu kapan kau akan memulai bisnis kuliner yang kau mau?" tanya Seto lagi dengan menajamkan kedua alisnya.
"Pertanyaan itu harusnya untukmu, kapan kita akan memulai kerjasama ini, sebagai penanam modal kaulah yang berhak menentukan. Kau ini sungguh bodoh sekali kemarin aku selalu mengajakmu bertemu tapi kau selalu menolaknya." saut Dio.
"Iyalah kemarin sibuk ngejar istri orang," gumam Seto dalam hati.
"Kemarin-kemarin sepertinya kau terlalu sibuk, aku menyadari itu kau kan seorang CEO bisnismu dimana-mana. Makannya aku tidak mendesakmu untuk segera melakukan kerja sama ini." ucap Dio dengan menyeruput kopinya yang terlihat masih berasap.
"Tentu saja. Kau harusnya merasa beruntung sekarang karena aku meluangkan waktu untukmu haha." ucap Seto menyombongkan diri yang di ikuti gelak tawanya.
"Dio.. sepertinya aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, aku ada janji kita bisa bertemu lain kali untuk menyepakati kontrak kerja." pamit Seto hendak beranjak pergi.
"Seto..kau ini kebiasaan, aku baru saja sampai kau sudah main pergi saja, sebentar saja temani aku sampai aku menghabiskan kopiku," seru Dio, Seto pun membatalkan niatnya untuk pergi, ia menemani Dio sebentar sampai lelaki itu menghabiskan minumannya.
Di rumah.
Rico tak berhenti mondar-mandir di dalam kamarnya, setelah tidak mendapatkan Jawaban istrinya itu Rico memutuskan untuk menginap di rumah Arini dan seperti biasa tidur di dalam kamarnya. Ia begitu tidak tenang entah mengapa sikap acuh Arini yang sekarang membuatnya kelimpungan.
"Arini..apa kau masih marah kepadaku?" gumamnya dengan mengusap kasar wajahnya.
Karena Rico tidak pulang ke rumahnya Clara begitu kesal sedari tadi ia menghubungi nomor suaminya itu tapi nihil sama sekali tidak ada jawaban.
Rico hanya membiarkan ponselnya berdering sedari tadi, dirinya masih begitu sibuk memikirkan Arini yang telah berubah sikap.
Bersambung....