Ling Jin. Seorang pemuda yang diasuh oleh dua leluhur dewa semenjak masih bayi di dalam sebuah jurang dan diangkat menjadi cucu mereka.
Semua orang mengira dia tidak memiliki dantian sehingga membuatnya merasa tidak berguna. Namun dia memiliki tekad yang kuat serta semangat yang besar demi menggapai apa yang dia inginkan. Cerita kehidupannya berubah setelah segel dantiannya terbuka.
Dia berjalan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi dia adalah rajanya kegelapan dan di sisi lain dia juga menjadi cahaya.
Ling Jin mengarungi lautan darah demi mencapai puncak kekuatan kultivator. Bahkan jika langit menentangpun dia akan melawannya.
"Aku tidak tunduk pada takdir, takdirlah yang harus tunduk padaku."
"Aku tidak bergantung pada keberuntungan, karena akulah keberuntungan itu."
-Ling Jin.
Bagaimanakah kisahnya?
Ikuti perjalanannya dalam novel God Emperor (Ling Jin).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ling Jin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Mo Lianfeng
WUUUSSSHH.
Ling Jin muncul tak jauh di depan sebuah istana kerajaan yang sangat besar namun terlihat menyeramkan. Istana tersebut adalah istana kerajaan semua bangsa iblis.
Saat ini Ling Jin telah berada di dunia bawah untuk menemui raja dari para iblis tersebut, Mo Lianfeng. Dia tidak menggunakan jubah berkerudung lagi kali ini.
“Apakah paman Feng masih mengenali diriku yang sekarang?” Ling Jin tersenyum sambil memandangi istana itu untuk sesaat, lalu dia menghilang dari tempatnya.
Mo Lianfeng saat ini terlihat sedang bersantai ditemani oleh beberapa iblis wanita di sebuah taman di kerajaan bangsa iblis. Taman di kerajaan bangsa iblis berhiaskan tengkorak-tengkorak hewan buas serta siluman yang berserakan dimana-mana. Terdapat dua kolam di taman itu, kolam darah dan kolam berisi nanah yang berbau busuk.
WUUUSSSHH.
Ling Jin muncul tepat di hadapan Mo Lianfeng. Hal tersebut tentu saja membuat raja bangsa iblis itu serta para iblis wanita terkejut.
“Siapa kau!?” hardik Mo Lianfeng. Kini dia bersikap sangat waspada karena selain bangsa iblis, tidak akan ada yang dapat memasuki kerajaannya. Sebab kerajaan itu telah dilindungi kubah perisai raksasa yang dibuat langsung oleh Mo Jin leluhur dewa iblis.
Berbeda dengan reaksi raja mereka. Para iblis wanita yang menemani Mo Lianfeng terlihat meneteskan air liur dari mulut mereka. Hasrat mereka seakan-akan dapat meledak kapan saja saat melihat sosok pemuda yang sangat tampan dan gagah dengan matanya yang berwarna emas.
“Prajurit! Kepung penyusup ini!” Mo Lianfeng berteriak memberi perintah kepada para prajuritnya yang sedang berjaga di sekitaran taman.
Mendengar teriakan Mo Lianfeng, para prajurit bangsa iblis serta beberapa jendral segera mendatangi taman kerajaan dan langsung mengepung serta menodongkan senjata mereka kepada pemuda tampan tersebut.
Ling Jin tersenyum canggung dengan keadaan ini. Dia tidak menyangka jika bangsa iblis akan menyambutnya dengan sangat meriah. Hal ini menunjukkan jika mereka benar-benar tidak mengenali Ling Jin yang sekarang.
“Apa kabar paman Feng?” Ling Jin berkata sambil menebarkan senyumnya yang membius para iblis wanita. Tampak para iblis wanita itu mengeluarkan darah berwarna hitam dari hidung mereka melihat senyuman Ling Jin. Seolah-olah mereka sedang berada di nirwana.
Mo Lianfeng tersentak kaget mendengar ucapan pemuda tampan di hadapannya itu.
“Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa masuk ke dalam istanaku!?” tanya Mo Lianfeng lagi tanpa menurunkan kewaspadaannya.
Ling tersenyum sambil menghampiri Mo Lianfeng secara perlahan. Namun segera dihadang oleh jendral-jendral serta para prajurit yang berada di taman kerajaan.
“Hah. Sepertinya paman benar-benar telah melupakanku. Terpaksa aku harus menunjukkan benda ini.” Ling Jin berkata sambil menghela nafasnya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah token berwarna hitam pekat kemudian menunjukkannya kepada mereka semua yang ada di taman.
Melihat token itu, ekspresi wajah mereka semua berubah menjadi sangat jelek. Lalu secara serentak mereka menjatuhkan diri dan bersujud dengan kedua tangan menjulur lurus ke depan di hadapan Ling Jin.
“Hormat kepada tuan muda kerajaan bangsa iblis,” ucap Mo Lianfeng dengan suara yang lantang.
“Hormat kepada tuan muda kerajaan bangsa iblis.” Para bawahan Mo Lianfeng mengikuti perkataan raja mereka dengan serempak.
“Haiss. Sudahlah paman. Jangan terlalu sungkan. Biar bagaimanapun paman Feng lah raja di sini.” Ling Jin meraih bahu Mo Lianfeng dan membantunya untuk berdiri.
“”Tapi tuan muda. Keberadaan tuan muda di sini setara dengan leluhur dewa iblis Mo Jin yang berarti kedudukan tuan muda lebih tinggi dari kedudukan pelayan ini,” jelas Mo Lianfeng sambil membungkukkan badan.
“Apa yang diucapkan raja memang benar tuan muda. Sudah sepantasnya kami tunduk dan melayani tuan muda dengan nyawa kami,” imbuh Mo Fang salah seorang jendral utama bangsa iblis.
Akhirnya Ling Jin hanya bisa pasrah menerimanya untuk sementara. Dia memang tidak gila kedudukan, jabatan, maupun pujian. Yang dia inginkan hanya terus tumbuh menjadi seorang kultivator yang kuat.
“Paman Feng. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan paman,” ucap Ling Jin.
“Kalau begitu, lebih baik kita bicarakan hal tersebut di dalam ruangan saya tuan muda. Mari saya antarkan.” Mo Lianfeng berkata sambil mempersilahkan Ling Jin untuk mengikutinya. Kemudian beranjak menuju ke ruangannya diikuti oleh Ling Jin.
Sesampainya di ruangan Mo Lianfeng, mereka duduk berhadapan. Mo Lianfeng mengajak Ling Jin untuk membicarakannya di ruangan pribadi karena dia merasa apa yang ingin dibicarakan dengan Ling Jin kepadanya adalah suatu hal yang rahasia. Terlebih untuk menghormati Ling Jin sebagai tuan muda kerajaan bangsa iblis.
“Paman. Beberapa waktu belakangan, aku dan temanku telah ditargetkan oleh sekte Pedang Langit sebagai buronan. Bahkan mereka membuat sayembara bagi siapa saja yang bisa menangkap kami baik itu dalam keadaan hidup atau mati, akan diberi imbalan sepuluh juta koin emas dan beberapa sumber daya tingkat tinggi,” kata Ling Jin.
Mendengar hal itu, ekspresi Mo Lianfeng langsung berubah mengerikan. Aura pendekar dewa bumi tahap keempat merembes dari tubuhnya. Ling Jin yang secara tidak sengaja terkena aura tersebut langsung terjatuh dari tempat duduknya dalam posisi berlutut.
“Uugh. Pa-paman Feng, be-bersabarlah.” Ling Jin bersuara dengan terbata-bata karena terkena tekanan aura dari Mo Lianfeng. Meskipun dia memiliki dantian alam, Shenghuo Quan serta tanda suci lotus emas, namun kekuatan seorang pendekar dewa bumi tahap kedelapan masihlah terlalu jauh dari jangkauannya.
Mendengar perkataan Ling Jin, Mo Lianfeng segera tersadar akan kesalahannya. Kemudian dia segera menarik auranya kembali dan bergegas membantu Ling Jin untuk kembali ke tempat duduknya.
Setelah Ling Jin kembali ke duduk di tempatnya, segera saja Mo Lianfeng bersujud kepada Ling Jin.
“Tu-tuan muda. Ma-maafkan saya. Saya benar-benar lepas kendali karena tidak terima jika ada ya-yang mengganggu tuan muda,” ucap Mo Lianfeng.
Ling Jin menghela nafasnya lalu membantu Mo Lianfeng untuk berdiri.
“Sudahlah paman. Aku mengerti. Sudah kubilang tidak usah bersujud seperti itu lagi. Aku tidak suka itu, aku hanyalah anak kecil paman,” kata Ling Jin.
“Begini saja. Jika kakek tidak ada, paman dan semuanya yang ada di sini bahkan para prajurit tidak perlu bersujud jika aku datang. Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan perlakuan kalian ini,” imbuhnya.
Mo Lianfeng tercengang mendengar perkataan tuan mudanya itu. Dia merasa sangat terharu. Seumur hidupnya, belum ada bangsa selain bangsa iblis yang memperlakukan mereka sedemikian baiknya.
“Tuan. Apa tuan tidak bercanda dengan perkataan tuan?” Mo Lianfeng bertanya kepada Ling Jin.
“Emm. Aku benar-benar serius. Jika paman masih keberatan, anggap saja itu adalah perintah pertamaku kepada kalian,” jawab Ling Jin.
“Ba-baik tuan. Saya akan menuruti apapun perintah tuan muda.” Mo Lianfeng berkata dengan sedikit tergagap. Dalam hati dia akan benar-benar setia kepada Ling Jin dan akan melayaninya dengan nyawanya.
Ling Jin kemudian kembali berkata, “ Baiklah, akan aku teruskan perkataanku tadi.”
“Silahkan tuan muda,” jawab Mo Lianfeng.
Lalu Ling Jin kembali berbicara, ”Aku dan temanku menduga jika ada sosok yang berada di belakang mereka. Saat temanku melakukan penyelidikan, dia bisa melihat jika semua murid-murid sekte itu telah tertanam suatu energi jahat.”
“Apa!?” Mo Lianfeng terkejut mendengar hal itu. Dia tampak berpikir sejenak kemudian berkata, “Tuan Muda, ada dua kemungkinan siapa sosok yang berada di belakang mereka dan bisa menanamkan energi jahat ke dalam tubuh mereka.”
“Siapa paman? Apa paman Feng mengetahuinya?” tanya Ling Jin.
“Saya belum bisa memastikannya tuan muda. Yang jelas untuk kemungkinan yang pertama adalah sosok dari bangsa kami sendiri, lalu yang kedua adalah sosok dari bangsa siluman,” jelas Mo Lianfeng.
“Hmm. Ternyata ini lebih rumit dari perkiraanku,” gumam Ling Jin.
Kemudian Mo Lianfeng kembali berkata, “Tuan muda, beberapa bulan yang lalu salah satu jendral utama kami pergi ke dunia tengah dan belum kembali. Namun saya benar-benar belum bisa memastikan apakah dia yang berada di belakang sekte Pedang Langit itu atau bukan.”
Ling Jin menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Mo Lianfeng.
“Aku mengerti. Paman Feng, semua prajurit paman berada di tingkat apa saja?” tanya Ling Jin.
“Para prajurit bangsa iblis paling rendah berada di tingkat pendekar langit tahap awal, para komandan berada di tingkat pendekar pertapa tahap pertama sampai ketiga. Sedangkan sepuluh jendral berada di tingkat pendekar pertapa tahap kedelapan dan sembilan,” jelas Mo Lianfeng.
Ling Jin terhenyak mendengar penjelasan dari Mo Lianfeng.
“Benar-benar sebuah pasukan yang sangat kuat,” gumamnya dalam hati. Dia benar-benar tidak menyangka jika bangsa iblis sangatlah kuat.
“Paman. Aku butuh pasukan, tapi tidak sekarang,” kata Ling Jin kemudian.
“Ah. Jika tuan muda membutuhkan pasukan, tuan muda hanya tinggal memberikan perintah, prajurit bangsa iblis sejatinya adalah milik leluhur dewa iblis. Jadi bisa dikatakan milik tuan muda juga,” jawab Mo Lianfeng.
Ling Jin tersenyum mendengar perkataan Mo Lianfeng.
“Terima kasih paman Feng,” ucap Ling Jin.
“Tuan muda tidak perlu sungkan. Sudah seharusnya kami melayani tuan muda,” jawab Mo Lianfeng.
Ling Jin menganggukkan kepala kemudian berkata, “Paman, aku hanya butuh seratus prajurit iblis yang berada ditingkat pendekar langit tahap menengah ditambah satu jendral iblis saja. Tolong paman pilihkan mereka. Jika waktunya tiba, aku akan menghubungi paman Feng.”
Mo Lianfeng membungkukkan badannya. “Baik tuan muda. Akan segera saya pilihkan prajurit terbaik untuk tuan muda.”
“Sekali lagi terima kasih paman,” ucap Ling Jin.
“Sama-sama tuan muda,” jawab Mo Lianfeng.
“Oya paman. Aku ada satu permintaan lagi sebelum aku kembali,” imbuh Ling Jin.
“Sebutkan saja tuan muda. Perintah tuan muda adalah nyawa kami,” jawab Mo Lianfeng.
“Tolong paman Feng sampaikan kepada seluruh bangsa iblis jika kakek tidak ada di sini, mereka dilarang untuk bersujud kepadaku," kata Ling Jin sambil tersenyum.
“Tuan muda, tapi i-ini??” Mo Lianfeng masih tidak percaya jika Ling Jin benar-benar tidak mau diperlakukan seperti itu.
“Paman Feng, ini adalah perintah,” kata Ling Jin singkat.
“Ba-baik. Baiklah tuan muda. Akan segera saya sampaikan perintah dari tuan muda,” jawab Mo Lianfeng tergagap.
Sebenarnya Ling Jin melakukan hal ini bukan hanya karena dia tidak suka untuk diperlakukan seperti itu. Namun, dia sudah tahu dari kakeknya bahwa meskipun mereka adalah bangsa iblis serta wujud mereka mengerikan, tapi mereka tidak pernah mengusik kehidupan manusia di dunia tengah.
Mo Jin memang tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh bangsanya di dunia tengah, namun tidak untuk suatu kejahatan. Karena dia telah mendapatkan tugas dari yang agung untuk membantu menjaga keseimbangan di tiga dunia bersama Shen Ling.
Akan tetapi bangsa manusia di dunia tengahlah yang mengecap mereka sebagai makhluk yang jahat serta mengucilkannya. Jadi bangsa iblis menyingkirkan diri mereka sendiri agar tidak terjadi peperangan.
Itulah alasan kenapa Ling Jin bersikap begitu baik kepada mereka sebagai balasan rasa terima kasih karena bisa menahan diri serta telah membantu kakeknya melaksanakan tugas dari yang agung.
“Paman. Aku rasa urusanku di sini sudah selesai. Aku akan kembali untuk berlatih dan meningkatkan kekuatanku,” kata Ling Jin.
“Tidak bisakah tuan muda tinggal sejenak di sini? Apa tuan muda tidak nyaman berada di istana kerajaan?” tanya Mo Lianfeng.
Ling Jin tersenyum mendengarnya.
“Bukan seperti itu paman Feng. Aku sangat senang berada di sini. Kalian baik kepadaku. Tapi waktuku tidak banyak lagi. Takutnya aku tidak sempat,” jelas Ling Jin.
Mo Lianfeng menganggukkan kepala pertanda paham apa maksud dari tuan mudanya itu.
“Jika memang seperti itu, saya mengerti tuan muda. Semoga tuan muda segera bisa meningkatkan kekuatan,” kata Mo Lianfeng.
“Terima kasih paman Feng. Baiklah kalau begitu aku pamit sekarang,” ucap Ling Jin.
Mo Lianfeng membungkukkan badannya dan berkata, “Jaga diri tuan muda baik-baik.”
Ling Jin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu menghilang dari ruangan Mo Lianfeng.
Mo Lianfeng menatap tempat menghilangnya Ling Jin.
“Leluhur. Terima kasih banyak karena telah menghadirkan tuan muda ke dalam istana ini. Hamba bersumpah tidak akan ada yang bisa mengganggunya selama masih ada hamba di sini,” gumam Mo Lianfeng kemudian beranjak keluar dari ruangannya.
kok ini blm sich kapan jd kuatnya