Aurel Luvenia, takdirnya begitu konyol mendapati kekasihnya sedang bercumbu dengan sahabat dekatnya. Ternyata kecerdasannya selama ini masih bisa di bodohi oleh kedua makhluk yang sangat ia percayai.
Karena sangat prustasi dan lelah, Aurel meminum Bir dan membuatnya mabuk. Hingga terbangun di sebuah hotel. Tentunya, ia sangat menyesali perbuatan bodohnya, lalu meninggalkan Sang pria.
Aurel, pergi meninggalkan negaranya dan terbang ke Inggris karena ia merasa sangat tidak sanggup untuk berada di negara yang penuh dengan kenangan buruk.
Hingga kenyataan konyol lainnya muncul, ia hamil. Mengandung anak pria yang sama sekali tidak ia kenali. Merawat, menjaga dan melindungi kedua bocah kembar itu, hingga tumbuhlah mereka menjadi anak yang sangat aktif, cerdas dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Karena kedua anaknya terus bertanya tentang Ayah kadung mereka.
Akhirnya Aurel memutuskan untuk kembali.
Bagaimana dengan Arga? Apakah bisa menerima mereka? atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ☆Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Mauren And Shania
"Oh, jadi kalian semua sekongkol nipu Aku," rajuk Aurel, menatap enggan Arga, Ferrell dan Ferlin.
"Hehe, jika tidak seperti ini. Mami pasti enggak mau ketemu Papi."
"Kau tau, Aku panik sekali. Mencari kalian, kalian malah menipuku," lanjut Aurel, membuat Arga tersenyum kecil.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan agar kau memaafkan kami?" tanya Arga dengan senyuman menggoda, membuat pipi Aurel memerah melihat senyuman itu.
Kenapa dia tambah tampan saja,' batin Aurel.
"Kau terpesona, sayang?"
"Si-siapa sayangmu, dan siapa juga yang ter-terpesona," elak Aurel.
"Haha, muka Mami kaya kepiting rebus, merah," ledek Ferlin, membuat Aurel semakin malu.
"Haih, kalo suka kenapa masih harus gengsi sih Mam?" gumam Ferrell heran.
Malam itu, mereka tertawa bersama. Kebahagian yang selama ini dicari Ferrell dan Ferlin, sebuah keluarga yang hangat bersama kedua orang tua yang lengkap sudah terpenuhi. Arga yang selalu kesepian sejak kecil, sekarang sudah bahagia dengan hadirnya Aurel, Ferrell dan Ferlin. Aurel yang hancur, kini telah bahagia. Namun, tampan mereka sadar seseorang disana sangat menginginkan mereka hancur lagi, bahkan berkeping-keping.
Aurel berusaha belajar memasak, dengan alasan ia akan segera memiliki keluarga, yang artinya tugas menyiapkan makanan adalah tugasnya. Walau selama ini ia selalu mengandalkan Ferrell, tetapi ia tidak ingin terus anaknya yang mengurus dirinya, biarlah kini dirinya lagi yang berjuang menjadi seorang Ibu yang baik untuk anak-anaknya dan membahagiakan keluarga kecilnya.
Grep!
Aurel menoleh, tangan Arga memeluknya dari belakang, dan kepalanya di leher Aurel. Aurel menggeliat geli, di bagian perut juga lehernya. Arga semakin gencar menggoda Aurel, baginya Aurel yang marah adalah imut.
"Arga! lepaskan! kau mau tendang!" teriak Aurel, sambil menahan geli.
"Kau sangat manis, baby," bisik Arga, membuat Aurel dag-dig-dug bahkan pipinya sudah bak kepiting rebut.
"Mmm ... da-dasar gombal!" pekik Aurel, langsung berlari setelah mematikan kompor.
Arga tersenyum melihat kepergian Aurel, ia tahu pasti Aurel sedang malu saat ini. Walau hanya sebentar mengenal Aurel, Arga seperti sudah sangat memahami Aurel. Aurel yang tidak akan mengungkapkan isi hatinya pada orang lain, orang yang gengsi tinggi dan keras kepala, namun hatinya sangat baik dan mulia.
"Entah kenapa, Aku memiliki firasat yang tidak enak, semoga tidak terjadi sesuatu seperti kemarin lagi," gumam Arga khawatir.
...****************...
Disisi lain.
Mauren dan Shania Mamanya, merencanakan sesuatu yang sangat besar, tanpa sepengetahuan Bryen, Papa Mauren. Mereka menginginkan Aurel pergi, dengan ikhlas tanpa paksaan itulah rencana mereka.
"Ma, kita harus buat jal*ng itu pergi, dengan sendirinya tanpa paksaan. Karena, dari yang Mauren lihat Arga sangat marah pada Tasya dan Sandy yang mau membunuh Aurel," jelas Mauren.
"Kamu benar sayang. Kita harus bermain trik yang licik, agar Si jalan* itu pergi. Kita tidak boleh ambil risiko dengan ingin membunuhnya, dari perkataanmu Mama tau bahwa saat ini Arga sangat mencintai jal*ng itu," jelas Shania, dengan senyum licik.
"Baiklah, ini rencana kita ...."
"Kita setuju semua sudah di sepakati."
Skip.
Kantor Arga.
"Hay Arga," panggil Mauren manja, tapi tidak membuat Arga menoleh padanya.
"Apa yang kau lakukan disini, silakan pergi!" ujar Arga dingin.
Cih, aku tidak akan pergi sebelum rencanaku berhasil."
"Arga ... Arga, jangan mengusirku. Aku tau kau sangat menyukai diriku," ujar Mauren, dengan pedenya.
"Cih, tidak tertarik."
Mauren sangat kesal, lalu mendekati dirinya pada Arga. Menarik kursi dan duduk disebelah Arga, membuat Arga risih dan membentak Mauren agar segera pergi dari kantornya.
"Apa yang kau lakukan. Kau tidak melihat, Aku sangat sibuk!" bentak Arga, naik pitam.
"Arga Aku hanya ingin melihatmu, tidak menganggu dirimu. Pelit sekali," rengek Mauren.
Arga yang sudah sangat kesal menarik tangan Mauren agar segera keluar namun, naasnya kaki Mauren menyandung kaki Arga, hingga Arga terjatuh dengan posisi di atas Mauren. Tapi, tidak lupa Arga mencoba menahan tubuhnya dengan tangannya, walau sedikit lagi ia menindih tubuh Mauren.
"Kau ---."
"Ar-Arga?" gumam Aurelz terkejut melihat itu.
Mauren tersenyum senang.
"Au-Aurel, i---ini tidak seperti yang kau lihat," ujar Arga, mencoba untuk menjelaskan dan segera bangkit dari posisinya.
Apa ini? kenapa Arga berada dengan Mauren yang merupakan mantannya? apa Arga menghianati aku?' batin Aurel, ia langsung mengeleng mencoba untuk tidak berpikir negatif.
"Eh, hey ini tidak seperti yang kau lihat. Arga hanya tidak sengaja menyentuh kakiku," ujar Mauren, dengan tersenyum canggung.
"Diam!" bentak Arga.
"Arga, kenapa kau membentakku," rajuk Mauren.
Sebenarnya siapa? Siapa yang harus aku percaya. Mataku atau penjelasan mereka?' batin Aurel bertanya.
"Su-sudahlah tidak apa. Ini bukan masalah besar kok," ujar Aurel, mencoba untuk tenang.
"Wah, kau baik sekali. Terima kasih," ujar Mauren, lalu mendekati Aurel dan memeluknya.
"Bisakah kau menjadi temanku?" tanya Mauren, dengan tersenyum manis.
"Hah?" kaget Aurel dan Arga.
"Te-teman?"
"Iya teman? mau kan?" desak Mauren.
"Ba-baiklah." Karena tidak tahu harus menjawab apa, Aurel hanya mengiyakan saja permintaan Mauren. Apa lagi mereka jarang bertemu tidak akan terlalu canggung untuknya, karena masalah tadi membuatnya sedikit curiga.
"Wah terima kasih Aurel!"
"Baiklah, aku pergi dulu ya. Ada urusan, lanjutkan saja obrolan kalian."
Setelah kepergian Mauren, hanya ada keheningan. Aurel bingung harus mengatakan apa pada Arga, walau ia telah bilang mempercayai ucapan Mauren tetapi jauh didalam lubuk hatinya ia sedikit menaruh curiga.
"Hey, kau benaran ingin berteman dengannya?" tanya Arga, ia takut Aurel akan terpengaruh jika berteman dengan Mauren.
"Emangnya kenapa? kau sangat takut aku mengetahui hubunganmu dengannya jika aku berteman dengannya," cerocos Aurel marah.
Best juga cerita ini
tp kalau boleh nk tahu tentang anak dia. lagi lagi yg laki tu. dia sampai ada trauma and nk tahu dia jadi mafia ke atau apa saja