NovelToon NovelToon
Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Selamatkan Putri Kita, Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reinata Ramadani

"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."

Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.

Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.

Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.

"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putrimu Sakit, Mas

"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"

Sejenak dokter itu terdiam, seolah tengah merangkai kata-kata paling halus di dalam kepalanya. "Kami telah melakukan pemeriksaan awal pada pasien, termasuk tes CBC. Dari hasil tes tersebut, kami perlu melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan. Jadi, untuk saat ini kami belum bisa memastikan kondisi putri ibu."

Alina terdiam cukup lama. "Jadi, apa kemungkinan anak saya memiliki penyakit serius, Dok?" Desaknya, dengan suara bergetar penuh kekhawatiran.

"Kami belum bisa menyimpulkan apapun sebelum hasil pemeriksaan lanjutan keluar bu. Esok hari pukul delapan pagi, kami akan melakukan tindakan untuk putri ibu. Jadi, tolong persiapkan putri ibu dan selesaikan urusan administrasi terlebih dulu."

Dokter itupun pergi meninggalkan Alina dengan jutaan pertanyaan di dalam kepalanya.

Sebenarnya, apa yang terjadi.

Marsha masih baik-baik saja tadi pagi. Selama ini, gadis kecil itu pun tak pernah sakit parah, hanya demam dan flu sesekali.

Tapi, dari raut serius dokter itu, mengapa ia merasa ada yang tidak beres kali ini.

Huftt... .

Hela nafas terdengar berat. Sudahlah. Jangan memikirkan hal-hal yang belum pasti.

Mencoba mengusir segala asumsi buruk di kepalanya, Alina memilih melajukan kakinya ke ruang administrasi.

"Atas nama Marsha Callista Aurelia ya bu?" Tanya seorang petugas administrasi setelah menerima selembar kertas dari tangan Alina.

Alina mengangguk pelan. "Iya, mba. Berapa biaya yang harus saya bayar untuk pemeriksaan putri saya besok."

Petugas administrasi itu pun mengecek lebih dulu dalam komputernya sebelum akhirnya berseru. "Untuk tindakan biopsi sumsum tulang, total biaya yang di tanggung sebesar empat juta lima ratus ribu rupiah, ibu. Di mohon pembayarannya diselesaikan sebelum tindakan ya bu agar pemeriksaan bisa dilakukan sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan."

Mendengar hal itu, Alina seketika termangu.

Empat setengah juta?

Bahkan di dompetnya kini hanya tersisa uang dua ratus ribu. Pun tabungannya mungkin tidak sebesar itu.

"Tidak bisakah saya membayarnya setelah tindakan selesai, mba?" Nego Alina.

Petugas itu menggeleng. "Maaf bu, tidak bisa. Jika tidak bisa menyelesaikan administrasi, kami pun terpaksa tidak bisa melakukan tindakan untuk anak ibu. Jadi, mohon di selesaikan lebih dulu."

Alina menelan ludah yang terasa kesat.

Bagaimana ini. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam. Meminjam pun, pada siapa. Ia hanya dekat dengan ummi Hannah. Pun Ummi Hannah hanya seoramg janda dengan seorang putri yang harus ia hidupi.

Hingga dering ponsel itu membuyarkan lamunannya. Itu panggilan dari ummi Hannah.

"Lin, gimana kabar Marsha?" Seru ummi Hannah tak sabar. Tadi saat Maurin masih di periksa, Alina telah memberi kabar.

"Dokter masih belum tau, Teh. Katanya, harus ada tes lagi besok pagi."

"Ya gusti. Semoga Maurin baik-baik saja ya Lin. Maaf, ini teteh belum bisa menyusul kesana. Kamu tau sendiri. Dira ini masih demam. Tidak bisa di tinggal, Lin."

"Iya Teh, tidak apa-apa."

Alina terdiam cukup lama sebelum akhirnya berseru. "Teh, boleh Alina minta tolong sesuatu?" Ucapnya setengah ragu.

"Iya, kenapa Lin?"

"Marsha ada pemeriksaan besok, dan biayanya juga tidak murah teh, empat setengah juta. Jika ada, bisa ngga Alina pinjam Teteh dulu? Insyaallah Alina akan cicil waktu gajian."

"Ya Allah, itu teh pemeriksaan apa, kok mahal sekali Lin?"

"Aku juga tidak tau Teh, aku bingung ini gimana bayarnya."

"Uang segitu, teteh pun tidak ada Lin. Kamu tau sendiri akhir-akhir ini panen kita tidak seberapa."

Benar, pendapatan akhir-akhir ini memang tidak seberapa, hanya cukup untuk makan dan akan habis untuk uang jajan anak.

"Teteh ada kenal sama orang yang suka pinjamin uang Lin. Tapi jujur teteh tidak merekomendasikan ini karena bunganya tinggi sekali. Dan banyak orang yang terjebak hingga akhirnya kehilangan harta benda mereka. Tapi, jika memang tidak ada jalan lain, mungkin kamu bisa kasih tau teteh. Nanti teteh berusaha hubungi orangnya."

"Aku pikir-pikir dulu ya, Teh."

"Iya Lin. Maaf ya, teteh ngga bisa bantu." Seru ummi Hannah, merasa tidak enak.

"Iya Teh, tidak apa-apa. Ini aku matiin dulu ya Teh. Mau periksa Marsha apakah sudah bangun atau belum."

"Iya Lin."

Panggilan pun terputus.

Alina menyeret langkahnya menuju kamar sang putri dengan langkah berat. Pikirannya masih melayang, dari mana ia bisa dapatkan uang sebesar itu dalam waktu sehari.

Apakah ia harus menerima tawaran dari ummi Hannah untuk meminjam dari rentenir?

Tidak.

Pikiran itu langsung ia tepis. Bagaimana jika ia tidak dapat melunasinya? Gajinya yang tak seberapa itu jelas tidak akan cukup. Jadi ia tidak boleh memilih opsi ini. Risikonya terlalu besar.

Namun, jika bukan kepada rentenir itu, lalu kepada siapa lagi ia bisa meminta tolong? Ia hanyalah seorang yatim piatu yang tak memiliki kerabat satu pun. Seluruh gajinya pun akan habis pas-pasan hanya demi menyambung hidup.

"Ya Allah, mas Leon. Aku harus gimana mas. Putrimu sakit mas... ."

Andaikan laki-laki itu ada disini, pasti ia bisa merengkuhnya, menumpahkan tangis yang selama ini ia pendam dalam-dalam demi terlihat kuat di depan putri kecilnya.

Bohong jika ia mengatakan jika ia adalah wanita kuat, sedangkan ia sering menangis kala tengah malam, saat putri kecilnya terlelap. Meratapi takdir yang sungguh menyesakkan dada.

Sampai akhirnya, memori itu membawanya pada sebuah kartu yang ia simpan rapi di sudut lacinya. Kartu debit yang diberikan oleh mantan mertuanya. Uang "kompensasi" yang dipaksakan kepadanya agar ia bersedia menandatangani surat cerai dan pergi meninggalkan suaminya.

Haruskan ia menggunakannya setelah selama ini berusaha tak menggunakannya sepeserpun.

Egonya mulai berperang.

Di satu sisi ia tak ingin menggunakannya karena itu berarti telah menjual pernikahannya. Namun di sisi lain, kondisi Marsha lebih penting dari segalanya. Termasuk harga dirinya.

Baiklah. Mari gunakan uang itu dulu. Persetan jika ia di anggap wanita matre sekalipun, ia tidak perduli. Kondisi Marsha jauh lebih berharga dari apapun itu. Termasuk cemoohan-cemoohan tak penting itu.

💢💢💢💢💢💢💢

Hallo chingy

Happy reading guys

Saranghaja 💕💕💕

1
Nar Sih
sabar alina ,pssti ada keajaiban untuk marsha ,smoga leon trrbuka hati nya dan sgra menolong putri nya
Nia Rahmadini
kak boleh update nya double hehehe
Nar Sih
semoga dgn cerita dri umi hanah kmu bisa sadar akan slh mu leon ,dan sgra cri tau keadaan 4th lalu saat kmu tk sadar stlh kecelakaan itu
Sunarti Narti
Alhamdulillah akhirnya kebenaran segera terungkap, semoga kamu ga menyesal Leon
Nar Sih
semoga kali ini leon tebuka hti nya sadar akan kesalahan nya ,dan bnr,,bisa bantu marsha biar sembuh lgi ,dobel up lgi ya kak rei🙏🥰🥰
May Satibi Satibi
jangan lama" kak update nya ini novel favorit aku bulan ini
apiii
di tunggu up selanjutnya thor❤️
apiii
astagaa bacanya sambil tahan napas tegang bangt baca setiap kalimat ngena bngt🥹
apiii
parah banget jadi bapak🥹
apiii
thor singkat bangt🥲
Nia Rahmadini
kapan sih update lagi kak
apiii
akhirnya up lgi 🥲🥰
Nar Sih
dobel up yaa kakk 🙏👍
Nia Rahmadini
update lagi kak naangung cerita
apiii
makin penasarannn tapi harus nungguin part selanjutnya🥲
Nia Rahmadini
update kak lagi, cerita nya bagus banget.
Yuni Afiatun
suka setiap karya nya,,
tapi tunggu up nya harus bersabar
yulithong
hrs sabar menunggu ini🤔
Sun Rise
ok
Nar Sih
semoga kali ini sgra terungkap semua nya yg sbnr nya dan leon sadar dgn salah nya ,semagat ya alin juga semagatt untuk kak reinata moga up nya lancar💪💪🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!