NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

## 

Malam di pinggiran Jakarta tak pernah benar-benar sunyi, namun bagi Bella, sunyi adalah kemewahan yang sudah lama hilang. Suara derap sepatu hak tingginya yang menghantam aspal basah terdengar seperti detak jantung yang berpacu melawan maut. Napasnya tersengal, perih menyayat paru-paru.

Gaun merah ketat yang ia kenakan—yang lebih mirip sejumput kain tipis yang dipaksakan menutupi tubuh—terasa mencekik. Riasan wajahnya luntur oleh keringat dan rintik hujan yang mulai turun, menyisakan coretan hitam maskara di bawah matanya. Di belakangnya, lampu senter menyalak-nyalak kasar, diikuti teriakan maskulin yang penuh ancaman.

"Jangan kasih lolos! Bos Barja minta "boneka" nya kembali, kalau dia sampai hilang!" , kekhh..!!" teriak sebuah suara parau, sambil memberikan ancaman anak buahnya lewat gerakkan tangannya yang di gesekkan kelehernya seperti mau menggorok . "..Cepat temukan dia, kalau kalian ingin selamat..!!" Lanjutnya.

".. itu dia, Japra..!!" Kata salah satu anak buah Barja yang melihat pergerakkan larinya Bella

Bella terus berlari. Di persimpangan jalan, sebuah papan nama besar bercahaya temaram menjadi satu-satunya harapan: MASJID AGUNG AL-IKHLAS. Halaman masjid itu tampak penuh sesak. Mobil-mobil terparkir hingga ke bahu jalan. Sayup-sayup, suara bariton seorang pria menggema melalui pengeras suara, memberikan tausiah yang menyejukkan—sangat kontras dengan neraka yang sedang dikejar Bella.

"Sial, mau masuk ke sana lagi dia!"gerutu Japra

Bella melompati pagar rendah, menyelinap di antara deretan mobil mewah yang terparkir. Ia merunduk, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Bau parfum murahnya bercampur dengan aroma tanah basah. Ia mencoba membuka satu pintu mobil, terkunci. Mobil kedua, terkunci.

"Mana perempuan itu?!" suara para anak buah Barja terdengar semakin dekat. Tiga orang pria berjaket kulit hitam dengan tato di leher mulai menyisir area parkir belakang yang agak gelap.

Bella panik. Ia melihat sebuah SUV hitam besar di baris paling pojok. Dengan tangan gemetar, ia menarik tuas pintu belakang. Klik. Pintu itu tidak terkunci. Rupanya, si empunya mobil mungkin dia lupa tidak memeriksa pintu mobilnya Tanpa pikir panjang, Bella menyelinap masuk, merebahkan dirinya di lantai kursi tengah, lalu perlahan menutup pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Tepat, di belakang mobil japra seperti kehilangan jejak, "sia, kemana larinya itu l*nte ...!! Japra geram dia coba menelusuri kaca mobil yang dinaiki bella, dia menelusuri seluruh kaca mobil namun memang gelap, japra mencoba membuka pintu mobil satu persatu karena dia yakin Bella hilang disana, ketika dia hendak membuka pintu belakang dan "klik" ternyata memang tidak terkunci. Bella panik, dia merunduk lebih dalam dalam ketakutan.

"Maling.. maling..!!" Seorang jamaah melihat japra, dia panik.

.."Bu..bu..bukan.. bukan.. saya bukan maling..!!" Japra terkejut ketakutan.

"Tolong .. ada maling..!" Jemaah itu terus berteriak, namun dia tidak berani mendekat mungkin karena dia sendirian takut malingnya bawa senjata tajam.

Para jama'ah yang duduk di teras masjid karena gak kebagian masuk masjid berhamburan mengikuti suara tadi.

"Maling.. katanya ada maling... di parkiran.. cepat..!!" Kata salah seorang dari jama'ah mengajak jama'ah lain untuk mengejar.

Di luar, ketegangan memuncak.

"Hei! Kalian mau ngapain di situ?!" seorang pria paruh baya mengenakan baju koko dan sarung berteriak sambil mengacungkan senter ke arah anak buah Barja. Di parkiran sebelah timur yang agak jauh dari japra karena areanya cukup luas.

"Bukan urusanmu, Pak Tua! Kami cari orang!" gertak salah satu preman itu.

Namun, teriakannya justru memancing jamaah lain yang baru saja keluar dari area masjid. "Maling ya? Itu! Mereka pegang senter mencurigakan di dekat mobil-mobil!"

"Bukan maling, kami—"

"Woi, maling mobil! Tangkap!" teriak massa yang mulai tersulut emosi.

Melihat jumlah jamaah yang semakin banyak dan beringas, para algojo Barja itu gentar. Mereka tahu, hukum massa di tempat seperti ini jauh lebih mengerikan daripada kemarahan bos mereka.

"Cabut! Cabut sekarang!"

Mereka lari terbirit-birit berpencar, "cepat lari... kabur..!!" Japra beri intruksi dengan lambaian tangan mengajak kabur diluar gerbang, meninggalkan para jamaah yang mengejar dan penuh makin. Salah satu anak buah barja yang membawa mobil langsung menyambut mereka bertiga untuk kabur. Sementara Bella, yang meringkuk di bawah bayangan kursi, memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya luruh. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, ia merasa bisa bernapas.

Keheningan perlahan kembali. Hanya ada suara gesekan dedaunan dan sisa-sisa percakapan jamaah di kejauhan. Kelelahan yang luar biasa, rasa takut yang menguras energi, serta kehangatan di dalam kabin mobil yang kedap suara itu perlahan-lahan menghipnotisnya. Bella tak kuasa menahan kantuk. Di tengah sisa isak tangisnya, ia jatuh terlelap, meringkuk seperti janin di lantai mobil yang beralaskan karpet beludru.

Satu jam kemudian, pintu pengemudi terbuka.

Seorang pria muda tampan berwajah indo-arab dengan garis wajah tegas namun tenang masuk ke dalam mobil. Ia menghela napas panjang, menyeka butiran keringat di keningnya dengan sapu tangan putih. Jubah putih yang ia kenakan tampak rapi tanpa cela. Ia adalah Muhammad El Fatih Bashir, atau yang lebih dikenal sebagai Ustadz Fatih.

Fatih meletakkan Al-Qur’an kecilnya di dashboard. Pikirannya masih tertuju pada materi tausiah tadi—tentang pengampunan dan pintu taubat yang selalu terbuka. Ia sama sekali tidak menoleh ke kursi belakang. Di matanya, mobil itu kosong. Suasana kabin yang gelap dan posisi Bella yang meringkuk di bawah level kursi membuatnya tak terlihat. Dengan keadaan yang cukup melelahkan dan aroma parfum gaharu khas membuat Fatih tidak menyadari ada seseorang yang meringkuk dalam kesedihan diselimuti luka dunianya yang kejam.

Fatih menyalakan mesin. Suara mesin yang halus mulai menderu. Ia memutar sedikit volume radio yang memutar murrotal Al-Qur'an dengan suara sangat lirih, lalu perlahan menjalankan mobilnya keluar dari halaman masjid.

Perjalanan menuju rumahnya di pinggiran Jakarta Selatan memakan waktu empat puluh menit. Sepanjang jalan, Fatih hanya fokus pada aspal di depannya, sesekali berzikir pelan. Ia tidak menyadari ada napas lain yang berhembus di dalam ruang yang sama dengannya. Napas yang sangat lelah dengan tubuh yang rapuh yang entah bagaimana masa depannya.

Setibanya di sebuah rumah besar dengan arsitektur klasik dan gerbang kayu tinggi, seorang penjaga segera membukakan pintu. Fatih memarkirkan mobilnya di garasi samping.

"Assalamualaikum," ucap Fatih lembut saat memasuki pintu samping rumah yang langsung menuju ruang tengah.

"Waalaikumussalam. Sudah pulang, Fatih?" Seorang pria tua dengan sorban melingkar di leher menyambutnya. Beliau adalah Kiai Ahmad Bashir, ayah Fatih. Wajahnya teduh, khas seseorang yang menghabiskan seluruh hidupnya dengan kitab suci.

"Sampun, Abi. Agak ramai tadi di Al-Ikhlas," jawab Fatih sambil menyalami tangan ayahnya dengan takzim.

"Alhamdulillah. Istirahatlah, Nak. Kamu kelihatan capek sekali. Biar mobil besok saja diurusnya," ujar Kiai Ahmad Bashir sambil menepuk bahu putranya.

"Nggih, Abi. Fatih masuk kamar dulu." Jawab Fatih

Fatih melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Ia sangat lelah hingga tidak sempat lagi mengecek jok belakang mobilnya untuk mengambil tas kecil yang tertinggal. Pikirannya hanya satu: sajadah dan tidur.

Malam itu, rumah keluarga Kiai Bashir tertidur dalam damai, tanpa tahu bahwa ada sebuah "bom waktu" yang tersembunyi di dalam garasi mereka.

Fajar menyingsing dengan warna kemerahan yang cantik. Udara pagi itu segar, membawa aroma melati dari taman samping.

Zahra, adik bungsu Fatih yang masih duduk di bangku Madrasah Aliyyah, tampak terburu-buru. Ia mengenakan seragam putih abu-abunya dengan jilbab instan yang sedikit miring.

"Aduh lupa, sekaranh pelajaran kitab safinnah, aku lupa naro dimana lagi..!!"gumamnya panik. Ia ingat kakaknya pasti punya kitab safinnah.

"Kak, minjem kitab safinnah.. punya aku lupa naro.. !!" Rengek zahra.

"iiiihhh... dasar pelupa, masih muda udah pikun..!" Jawab Fatih gemas, sambil menggoyang-goyangkan kepala zahra dengan kedua tangannya."Tuh didalam belakang mobil, awas nanti taro lagi..!!" Lanjut Fatih.

"Iya, bawel..!" Jawab zahra dengan memajukkan kedua bibirnya lucu.

Zahra berlari kecil menuju garasi. Ia membawa kunci cadangan mobil Fatih yang memang tergantung di dapur. Dengan riang, ia memencet tombol unlock.

Beep-beep.

Zahra membuka pintu penumpang belakang, berharap menemukan kitab Safinnahnya di sana. Namun, gerakannya terhenti seketika. Matanya membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.

Di sana, di lantai mobil yang sempit, tergeletak seorang wanita. Rambutnya pirang jagung yang berantakan, wajahnya penuh sisa riasan yang kotor, dan yang paling mengejutkan adalah pakaiannya—sepotong gaun mini berbahan kulit sintetis mengkilap yang memperlihatkan banyak bagian kulit, sangat tidak pantas dilihat di lingkungan pesantren keluarga mereka.

Zahra terkesiap, mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak pilar garasi.

"Astaghfirullahaladzim..." bisiknya gemetar, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya tidak percaya.

Keheningan pagi itu pecah saat Zahra tak mampu lagi membendung ketakutannya. Ia berlari masuk ke dalam rumah dengan suara melengking yang mampu membangunkan seluruh penghuni rumah, bahkan tetangga sebelah.

"Abaaang...!!" teriaknya histeris.

Fatih yang baru saja selesai berzikir di kamarnya tersentak. Kiai Bashir dan Umi Salma langsung berlari menuju ruang tengah.

"Abi... Umii.... !! Keluar! Cepat!"

Fatih berlari menuruni tangga, "Zahra, ada apa? Kenapa teriak-teriak?"

Zahra menunjuk ke arah garasi dengan tangan yang gemetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Itu... di mobil Abang... ada... ada perempuan!"

"Perempuan siapa?" Fatih mengernyit heran.

"Enggak tahu! Pakaiannya... pakaiannya kayak orang nggak bener, Bang! Cepat lihat!" Zahra panik

Fatih, Kiai Bashir, dan Umi Salma bergegas menuju garasi. Saat pintu mobil yang masih terbuka itu terlihat, langkah kaki Kiai Bashir terhenti. Beliau beristighfar berkali-kali.

Fatih mematung di depan pintu mobil. Matanya menatap sosok Bella yang mulai menggeliat karena terusik suara gaduh. Bella perlahan membuka matanya yang sembap, menatap satu per satu wajah asing di depannya dengan tatapan linglung dan ketakutan.

"Ini siapa, Fatih?!" tanya Kiai Bashir dengan nada suara yang belum pernah didengar Fatih sebelumnya—tegas, menuntut, dan penuh kekecewaan.

Fatih hanya bisa diam membeku. Dunia di sekitarnya seolah runtuh. Ia menatap perempuan di dalam mobilnya, lalu menatap wajah ayahnya yang memerah.

"Ini siapa...???"ulang Zahra dengan suara parau yang menuntut jawaban yang tak dimiliki oleh siapa pun di sana.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!