NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

***

Siang itu, hawa terik pedesaan sedikit terobati oleh angin sepoi-sepoi yang berembus di area kantin Pondok Pesantren Al-Falah. Suasana kantin cukup ramai oleh para santriwati yang mengantre gorengan atau sekadar membeli minuman dingin selepas kelas madrasah yang menguras energi.

Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke kebun jeruk, Naya duduk bersama Sarah dan Aliyah. Di atas meja kayu panjang itu, tiga gelas es teh manis dengan butiran es yang mulai mencair menyajikan kesegaran tersendiri.

"Sumpah ya, Mbak Nay! Aku masih merinding kalau ingat kejadian di aula tadi," seru Sarah sembari mengaduk es tehnya dengan sedotan plastik. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman. "Muka Fida langsung berubah abu-abu! Kayak semen basah! Puas banget aku liatnya!"

Aliyah membenarkan letak kacamatanya yang melorot, lalu mengangguk setuju. "Iya, Mbak Naya. Ditambah lagi tadi Ustadzah Maryam langsung negur dia di depan umum. Biasanya kan Ustadzah Maryam selalu belain santri senior, tapi tadi bener-bener skakmat."

Naya terkekeh pelan, menyedot es teh manisnya hingga menyisakan bunyi berkerosok di dasar gelas. "Gue juga enggak nyangka suara gue bakal keluar se-klimis itu. Jujur ya, otak gue tadi malam tuh seliweran ke mana-mana. Tapi pas megang mushaf, kayak ada tombol otomatis yang kepencet di kepala gue."

"Itu namanya berkah, Mbak Nay. Berkah karena jenengan niatnya baik buat belajar," timpal Sarah tulus.

"Halah, berkah atau karena gue takut kuota HP gue disunat sama Gus Kaku aja," canda Naya, membuat Sarah dan Aliyah tertawa bersama. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di pesantren ini, Naya merasa benar-benar memiliki teman yang tulus. Rasa asing sebagai anak kota perlahan terkikis oleh kehangatan es teh dan tawa kedua sahabat barunya.

Namun, tawa itu tidak bertahan lama.

BRAAK!

Sebuah benturan keras menghantam pinggiran meja kayu mereka. Goncangan yang tiba-tiba itu membuat tiga gelas es teh di atas meja terguling seketika. Cairan cokelat manis berkabut es langsung meluber ke mana-mana, membasahi permukaan meja dan menetes deras mengenai ujung gamis abu-abu milik Naya. Salah satu gelas kaca bahkan menggelinding jatuh ke lantai ubin dan hancur berkeping-keping dengan suara mendenting yang memekakkan telinga.

PRANK!

Kantin yang tadinya bising mendadak senyap. Puluhan pasang mata langsung tertuju ke sudut meja Naya. Di sana, Fida berdiri dengan melipat tangan di dada, didampingi dua orang temannya, Mega dan lndah. Wajah Fida tidak lagi menunjukkan sisa kepasrahan seperti di aula tadi; matanya memancarkan kedengkian yang menyala-nyala.

"Ups. Senggolan dikit. Sorry, ya," ucap Fida dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia bahkan tersenyum meremehkan, menatap cairan es teh yang mengotori baju Naya.

Naya tersentak. Alih-alih langsung melompat dan menjambak jilbab Fida seperti tabiatnya di Jakarta dulu, Naya menarik napas dalam-dalam. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba mengingat wajah teduh Bu Nyai Halimah. Sabar, Nay. Lu bukan badut yang bisa dipancing emosinya dengan receh begini, batinnya menguatkan diri.

Naya berdiri perlahan, membersihkan sisa air di gamisnya dengan tisu seadanya. "Lu punya mata kan, Kak? Meja segede begini lu bilang enggak sengaja nyenggol? Minta maaf yang bener," ujar Naya, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Fida tertawa renyah, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu tahun ini. "Minta maaf? Sama lu? Santri baru yang masuk lewat jalur titipan dan sok pamer suara merdu di depan ustadzah? Jangan mimpi, Nayanika!"

"Fida! Kamu sengaja kan?! Aku liat sendiri kamu tadi sengaja nabrak ujung meja!" lerai Sarah yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.

"Heh, anak baru, diam ya! Enggak usah ikut campur urusan senior!" bentak Mega, teman Fida, sambil menunjuk wajah Sarah.

"Tapi kalian keterlaluan! Ini fasilitas kantin, gelasnya sampai pecah!" Aliyah ikut membela dengan suara yang agak bergetar karena takut.

Naya melangkah maju, memosisikan dirinya di depan Sarah dan Aliyah, menjadi tameng bagi kedua temannya. "Urusan lu sama gue, Kak. Enggak usah bawa-bawa teman gue. Sekarang gue tanya sekali lagi, lu mau minta maaf dan beresin pecahan gelas ini, atau—"

"Atau apa?!" Sebuah suara melengking dan tegas tiba-tiba memotong kalimat Naya dari arah pintu masuk kantin.

Sosok Ustadzah Maryam berjalan cepat membelah kerumunan santriwati yang menonton. Langkah kakinya terdengar berat dan berwibawa, namun tatapan matanya langsung tertuju tajam ke arah Naya, mengabaikan fakta bahwa baju Naya basah kuyup akibat ulah Fida.

Begitu melihat kedatangan Ustadzah Maryam, raut wajah Fida berubah drastis dalam sekejap mata. Senyum meremehkannya hilang, digantikan oleh wajah ketakutan yang dibuat-buat. Tubuhnya gemetar, dan ia langsung berlutut di dekat pecahan gelas, pura-pura menyembunyikan wajahnya yang mendadak terisak.

"Astagfirullah... Ustadzah! Tolong saya, Ustadzah!" tangis Fida pecah, air matanya mengalir dengan sangat dramatis. "Naya... Naya mau nyerang saya pakai pecahan gelas ini! Dia enggak terima karena saya enggak sengaja menyenggol mejanya tadi!"

Naya membelalakkan matanya. Gila, ini orang bakat masuk teater Jakarta, umpatnya dalam hati. "Heh! Siapa yang mau nyerang lu?! Lu yang nyenggol meja sampai pecah, kenapa jadi gue yang dituduh?!" protes Naya keras.

"Cukup, Nayanika!" bentak Ustadzah Maryam, suaranya menggelegar di dalam kantin. Beliau berdiri di antara Naya dan Fida, menatap Naya dengan pandangan penuh penghakiman. "Saya sudah mendengar semuanya! Kamu tidak usah membela diri dengan suara keras begitu! Di mana adab kamu sebagai santri baru kepada senior?!"

"Ustadzah, tapi Fida yang bohong! Fida yang sengaja—" Sarah mencoba memotong, namun pandangan tajam Ustadzah Maryam langsung membungkamnya.

"Sarah, Aliyah, kalau kalian terus membela teman kalian yang tidak tahu aturan ini, saya akan pastikan nilai kedisiplinan kalian semester ini merah!" ancam Ustadzah Maryam tanpa ampun.

Mendengar ancaman itu, Naya menatap Ustadzah Maryam dengan tatapan tidak percaya. Detik itu juga, Naya menyadari sesuatu yang menjijikkan. Tatapan mata Ustadzah Maryam dan lirikan penuh kemenangan dari balik air mata palsu Fida menjelaskan segalanya. Ah, mereka berdua satu kubu. Mereka sengaja mau jatuhin gue setelah kejadian di aula tadi, pikir Naya. Kecewa dan amarah bercampur aduk di dadanya, namun otaknya bergerak cepat. Jika ia melawan sekarang dengan cara kasarnya, Sarah dan Aliyah akan ikut menanggung akibatnya. Kontrak ponselnya dengan Gus Zayyan pun pasti hangus.

Naya mengembuskan napas panjang. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam manik mata Ustadzah Maryam tanpa rasa takut, namun dengan nada suara yang terkendali.

"Oke. Enggak usah bawa-bawa Sarah dan Aliyah, Ustadzah. Mereka enggak salah apa-apa," kata Naya dengan nada tenang yang justru membuat Ustadzah Maryam sedikit terkejut. "Kalau Ustadzah menganggap saya yang salah tanpa mau dengar penjelasan dari saksi mata yang lain, silakan. Apa hukuman buat saya?"

Ustadzah Maryam mendengkus, merasa di atas angin. "Bagus kalau kamu sadar diri. Sebagai hukuman atas tindakan tidak beradab dan kegaduhan yang kamu buat, mulai sore ini kamu harus membersihkan seluruh area dapur umum sendirian! Dan besok subuh, sebelum para santri terjaga, kamu harus menjemur seluruh karpet masjid di halaman utama! Paham?!"

"Paham," jawab Naya pendek, tegas, dan dingin.

"Ustadzah, tapi itu terlalu berat untuk satu orang—" Aliyah mencoba memprotes lagi dengan mata berkaca-kaca, namun Naya langsung memegang pundak Aliyah, menggelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat agar Aliyah diam.

"Sekarang, bubar semua! Fida, ikut saya ke kantor untuk menenangkan diri," perintah Ustadzah Maryam. Fida berdiri sambil menyeka sisa air matanya, sempat memberikan senyuman mengejek yang sangat tipis ke arah Naya sebelum melangkah pergi mengekor di belakang Ustadzah Maryam.

Setelah kerumunan santriwati membubarkan diri dengan berbisik-bisik, Sarah dan Aliyah langsung mendekati Naya dengan wajah panik dan penuh rasa bersalah.

"Mbak Nay... maafin kita, kita enggak bisa bantu apa-apa tadi. Ustadzah Maryam keterlaluan banget, ini jelas-jelas fitnah!" tangis Sarah pecah, ia merasa gagal menjadi teman yang baik.

Naya tersenyum tipis, menepuk-nepuk bahu Sarah. "Santai, Sar. Gue sengaja mutus urusan tadi biar kalian enggak kena imbasnya. Lagian, kalau gue pakai cara Jakarta buat hajar si Fida tadi, yang ada gue malah diusir dari sini. Gue enggak mau ngecewain Umi."

"Nanti sore kami bantu bersihin dapur umum ya, Mbak? Kami enggak tega liat Mbak Naya sendirian," tawar Aliyah tulus.

Naya menggeleng tegas. "Enggak boleh. Nanti sore kalian berdua kan ada jadwal kelas madrasah tambahan sampai magrib. Jangan bolos cuma gara-gara gue. Entar kalau Ustadzah Maryam tahu, kalian bisa dihukum lebih parah. Biar gue selesaikan ini sendiri. Fisik gue kuat, tenang aja."

Sore harinya, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga kemerahan yang temaram. Di saat santri-santri lain sedang bersiap-siap menuju kelas atau mengaji, Naya berdiri sendirian di tengah dapur umum pondok pesantren yang sangat luas. Bau sisa bumbu masakan, tumpukan panci raksasa yang gosong di bagian bawahnya, serta lantai semen yang licin akibat minyak menjadi pemandangan yang harus ia hadapi.

Naya menggulung lengan gamisnya hingga sesiku, mengikat rambutnya asal-asalan, lalu mulai menyalakan keran air. Ia mengambil sabun colek dan sikat plastik besar.

SREK! SREK! SREK!

Suara sikat yang beradu dengan lantai semen menggema di ruangan yang sunyi itu. Naya menggosok lantai dengan sekuat tenaga, meluapkan seluruh emosinya ke setiap jengkal ubin.

"Dasar lampir tua... dasar nenek sihir... awas aja lu, Fida, kalau ini di Jakarta udah gue kempesin ban motor lu!" dumel Naya sambil mendengus kesal. Keringat mulai bercucuran dari dahi dan lehernya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di pipi.

Namun, ketika ia beralih ke tumpukan panci besar yang harus diangkat dan dicuci, tenaganya mulai terkuras. Tubuhnya yang terbiasa hidup manja di Jakarta, di mana segala urusan rumah tangga diselesaikan oleh barisan pelayan rumah, kini dipaksa melakukan pekerjaan kasar yang menguras fisik. Tangannya yang biasa mulus kini terasa perih karena gesekan sikat dan sabun colek yang tajam.

Naya terduduk di atas sebuah bangku kayu kecil di sudut dapur. Ia menatap telapak tangannya yang mulai memerah. Rasa lelah, kesal, dan rindu rumah mendadak menyerang pertahanannya yang kokoh.

Satu tetes air mata lolos dari sudut matanya, jatuh mengenai punggung tangannya. Naya terisak kecil. Ia teringat kamarnya yang nyaman di Jakarta, teringat papanya yang walaupun cuek tidak pernah membiarkannya menyentuh pekerjaan sekotor ini. Di sini, ia harus menahan fitnah, diperlakukan tidak adil, dan bekerja sampai badannya remuk.

"Mama..." bisik Naya lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang mendalam. "Naya capek... tempat ini jahat banget."

Ia menangis dalam diam selama beberapa menit di keheningan dapur yang mulai menggelap. Namun, bayangan senyuman tulus Bu Nyai Halimah dan ucapan Gus Zayyan semalam tentang tanggung jawab tiba-tiba melintas di benaknya. 'Tanggung jawab tidak mengenal kata capek, Nayanika.'

Naya menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung lengannya yang kering. Ia menarik napas panjang, menepuk kedua pipinya sendiri untuk mengembalikan kesadaran. "Enggak. Gue enggak boleh cengeng. Kalau gue menyerah sekarang dan nangis-nangis minta pulang, si Fida sama Ustadzah Maryam bakal ngerasa menang. Gue Nayanika, gue enggak bakal kalah sama trik murahan kayak gini!"

Dengan tekad yang kembali membara, Naya bangkit dari bangku kayu. Ia kembali meraih sikat dan menyalakan air, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dengan kepala tegak. Di balik dinding dapur yang mulai meremang, mental gadis kota itu sedang ditempa menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dari sebelumnya—menjadi sebutir permata yang mulai dikikis kotorannya oleh kerasnya keadaan.

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!