Ini adalah lanjutan dari kisah cinta Yudhatama Dewantara dan Yasmin Kusuma Putri di novel Cinta Yudha
Aryana Maira Yudhatama anak ketiga dari kembar bersaudara dari pasangan Yudhatama Dewantara dan Yasmin Kusuma Putri. Aryana terlahir dengan kelainan Jantung bawaan, maka dari itu kedua orang tuanya sangat protektif dengan Aryana. Aryana tumbuh menjadi gadis yang ceria meski ia mempunyai kelainan Jantung. Aryana menyukai kakak kelasnya bernama Ghavin Herlambang tetapi ia hanya memedamnya, ia tahu atas kekurangannya sebagai gadis yang tak sempurna.
Apakah Aryana akan memperjuangkan cintanya pada Ghavin atau menyerah dan memilih hati yang lain?
Penasaran, ikuti terus ceritanya
Budayakan Like, Vote dan Coment yang sopan karena menulis itu juga perjuangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andrea82, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 33
Selesai shalat ashar di mushala perusahaan. Fahmi mengantar Aryana pulang ke rumah. Sampai di rumah begitu turun dati mobil sebuah tatapan tajam mengarah pada Fahmi dan Aryana.
"Assalamualaikum," ucap Fahmi dan Aryana bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Yudha datar. Ya orang yang menatap tajam Fahmi dan Aryana adalah Yudha.
"Aryana masuk ke dalam!" perintah Yudha.
"Iya, Yah. Om Ana masuk dulu ya," ucap Aryana pamit pada Fahmi yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.
"Aku mau bicara denganmu," ucap Yudha dengan nada tegas.
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Fahmi.
"Duduklah!" pinta Yudha
"Yasmin sudah menceritakan semuanya padaku, termasuk niatanmu melamar Aryana ketika nanti dia lulus SMA, namun sebagai serorang ayah aku masih tak rela, apalagi kau tahu Aryana mempunyai kelainan jantung sedari lahir membuat kami menjaganya ekstra ketat, agar dia tetap sehat dan bertahan hidup berada di sisi kami dan juga Aryana adalah satu-satunya putri kami. Ketika nanti dia memilih pasangan hidup dengan suaminya kelak yang notabene adalah orang lain, apakah suaminya kelak, keluarga suaminnya akan menerima keadaan Aryana dengan ikhlas dan lapang dada, bukan karena Aryana cucu dari keluarga Dewantara yang kelak juga akan mewarisi kekayaan kami, menjadi pemikiran kami selama ini," ujar Yudha, meski terlihat tenang saat megatakan semua itu tapi jauh di lubuk hatinya sebagai seorang ayah, hatinya sedih bukan kepalang.
Fahmi menghirup udara dalam-dalam, ia tahu betapa ketakutan yang Yudha rasakan untuk melepas putri tercintanya, namun ia juga harus bisa memperjuangkan cintanya pada Aryana, cukup dia dulu menyerah pada Yasmin, kini tak ingin mengalah lagi, ia tak ingin menyerah lagi. Fahmi tak ingin penantiannya selama tujuh belas tahun sia-sia.
"Aku tahu perasaannmu tapi aku mohon percayalah padaku, akan aku berikan hidupku padaku pada Aryana," ucap Fahmi berusaha meyakinkan calon ayah mertuanya.
"Tapi ibumu kurang menyukai putriku," ucap Yudha.
Deg
Jantung Fahmi rasanya berhenti berdetak, kenapa Yudha bisa tahu semua itu.
"Kamu jangan asal bicara!, darimana kau tau hal itu?" tanya Fahmi
"Kau lupa siapa aku, selain aku putra dari Dimas Aji Dewantara aku juga seorang prajurit pasukan elite, membobol pertahanan musuh dengan metode apa saja aku bisa apalagi hanya mengetahui ibumu yang mata hatinya tertup oleh gemerlap dunia dan penampilan fisik itu aku tak bisa. Sungguh Aryanaku bagaikan berlian dibandingkan semua batu kerikil pilihan orang tuamu itu," ucap Yudha sinis.
Yudha sudah menyelidiki bagaimana tanggapan orang tua Fahmi pada putrinya, dan fakta mengejutkan bahwa nyonya Pratama kurang menyukai putrinya karena kelainan jantung yang di derita Aryan.
"Ya, mamiku memang kurang menyukai Aryana, tapi aku akan memberikan mamiku pengertian," ucap Fahmi.
"Apa kau tahu dokter Fahmi Arya Pratama, semua anak-anakku tak terkecuali Aryana, mereka semua sangat memahami apa itu biruul walidaini (berbakti pada orang tua) Penghormatan tertinggi setelah Allah dan rosulnya adalah seorang ibu. Jadi kau bisa bayangkan jika sampai Aryana tahu mamimu tak menyukai dirinya, kau pasti tahu apa yang akan Aryana dan keluargaku lakukan," ucap Yudha.
"Apa kau tau ada yang bilang, bahwa jika kita ingin mengetahui perangai seorang gadis kita bisa melihat dan menilai bagaimana ibunya dan Aryana sebelas duabelas dengan Yasmin, maka jika Aryana tahu mamimu tak menyuakainya maka ia akan mundur, karena Aryana tidak ingin kamu menentang mamimu, dan menyakiti hati mamimu hanya karena dirinya, Aryana akan siap berkorban apapun demi orang-orang yang ia cintai. Jangan lupakan darah prajurit mengalir dalam dirinya," ucap Yudha lagi membuat Fahmi rasanya tak bisa berkutik, pria di depannya ini tak hanya seorang prajurit tempur pasukan elit yang punya banyak taktik yang handal dalam setiap pertempuran tetapi juga seorang keturunan pembisnis handal keluarga Dewantara yang pandai dalam taktik bisnisnya sehingga bisa membuat DW group dari nol.
"Yudha, aku tahu kau tak percaya padaku, tapi aku mohon ijinkan aku berjuang untuk putrimu, aku akan yakinkan mamiku untuk bisa menerima Aryana," ucap Fahmi memohon pada Yudha.
"Terserah padamu, yang penting jangan sampai keluargamu menyakiti putriku satu-satunya, terutama mamimu, jika sampai itu terjadi jangan harap ada kesempatan lagi!" ucap Yudha kemudian segera berlalu dari hadapan Fahmi masuk ke dalam rumahnya.
Fahmi mengacak rambutnya frustasi, kenapa ada saja halangan untuk bersatu dengan Aryana, dulu Yudha, sekarang maminya. Fahmi langsung menaiki mobilnya dan menuju apartemennya, kepalanya pusing, ia ingin istirahat sejenak. Fahmi menelpon Alan agar menghendel pekerjaannya di Singapura, Fahmi juga membertahu pihak rumah sakit ME bahwa kemungkinan seminggu ini ia tak bisa ke rumah sakit dan melakukan operasi, Fahmi tak ingin pikirannya yang kacau membahayakan nyawa pasiennya. Fahmi menelpon Evan untuk menyiapkan pesawat pribadinya untuk ke kota J besok menemui orang tuanya. Fahmi merasa semua harus segera di selesaikan secepatnya.
Dua minggu setelah pertemuannya dengan Om kecenya, Aryana tidak mendapat kabar apapun dari Fahmi. Pesan yang Aryana kirim juga tak dibalas, telpon juga tak diangkat, meskipun merasa aneh tak biasanya Omnya begni, Aryana berusaha berfikir positif, mungkin Om nya sedang sibuk karena Om Fahminya tak hanya seorang dokter tapi juga seorang pembisnis.
Hari ini hari Sabtu, sepulang sekolah Aryana berencana ingin pergi nonton bersama dua sahabatnya Franda dan Niken.
"Na, ntar jadi kan kita nonton?" tanya Franda.
"Ya iyalah jadi," jawab Aryana sambil menulis sesuatu di buku pelajarannya.
"Tapi ntar bener ya kamu yang traktir kita makan siangnya," tanya Niken.
"Iya, nanya mulu kaya nggak percaya sama gue aja," ucap Aryana membuat kedua sahabatnya tersenyum lebar.
Waktu pun terus berjalan, akhirnya bel pulang terdengar, para siswapun berhambur keluar kelas untuk bergegas pulang. Aryana, Niken dan Franda juga berjalan keluar kelas, Franda dan Niken tidak membawa motor karena mereka akan naik mobil Aryana. Pada saat mereka bertiga keluar gerbang tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti di depan Aryana dan dua sahabatnya. Seorang pria berpenampilan rapi mirip seorang bodyguard keluar dari mobil dan mengahampiri Aryana.
"Maaf apa benar, anda nona Aryana?" tanya pria tersebut.
"Iya saya Aryana, anda siapa ya? tanya Aryana.
"Nona tidak perlu tahu siapa saya, yang penting sekarang nona masuk mobil karena nyonya saya ingin bertemu dengan nona," jawab pria itu.
"Tapi saya tidak kenal dengan nyonyamu, kenapa saya harus bicara dan masuk mobil kalian?" tanya Aryana dengan mode waspada, Niken sudah memegang tangan Aryana dan membisikkan sesuatu.
"Na, jangan masuk, ntar kalau lu di culik giaman, mana tuh cowok serem gitu!" pinta Niken.
"Sudahlah nggak apa-apa kelihatannya mereka bukan penculik," ucap Aryana setengah berbisik pada Niken.
"Mari nona kami bukan orang jahat, nyonya kami hanya ingin berbicara sebentar dengan anda!" ajak pria itu.
Aryana lalu masuk ke dalam mobil mewah tersebut. namun sebelum Aryana masuk mobil tersebut Aryana membisikan sesuatu pada Niken dan memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah masuk mobil, Aryana melihat seorang wanita paruh baya yang masih cantik dan terlihat elegan, penampilannya hampir mirip oma Dewi, mama dari ayahnya.
"Selamat siang Nyonya, ada perlu apa Nyonya ingin bertemu dengan saya?" tanya Aryana sopan.
Nyonya tersebut memindai Aryana dari ujubg rambut sampai ujung kaki.
"Aku hanya ingin mengajakmu minum teh sebentar," jawab nyonya itu datara.
"Baiklah," ucap Aryana singkat.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan, Aryana lebih memilih diam karena dia malas banyak bicara dengan orang yang tidak dia kenal. Tak lama sampailah mereka ke sebuah restoran yang cukup mewah. Nyonya tersebut turun dari mobil dengan mengajak Aryana. Nyonya tersebut membawa Aryana ke sebuah privat room.
"Kau ingin pesan apa?" tanya nyonya tersebut.
"Air mineral saja," jawab Aryana, sebenarnya ia lapar tapi karena melihat gelagat tak baik dari wanita paruh baya itu, Aryana menahan rasa laparnya.
"To.the point saja Nyonya, siapa sebenarnya anda dan ada maksud apa anda menemui saya?" tanya Aryana sopan namun terdengar dingin.
"Oh tidak suka basa basi rupanya," ucap nyonya tersebut sinis.
"Iya, karena saya ada janji dengan teman-teman saya," jawab Aryana.
"Baiklah, kenalkan saya Miranda maminya Fahmi," ucap nyonya tersebut.
Deg
Aryana terkejut, dalam hatinya bertanya-tanya buat apa maminya om Fahmi menemuinya dengan cara seperti ini, mirip seperti seorang mafia saja.
"Oh maaf Tante saya tidak tahu kalau anda maminya Om Fahmi," ucap Aryana terkejut namun ia berusaha menyembunyikannya.
"Kalau boleh tahu, apa maksud Tante mengajak saya bertemu dengan cara seperti ini?" tanya Aryana.
"Tolong tinggalkan anak saya!" pinta nyonya Miranda.
Deg
__________________________________________
Eits jangan emosi dulu ya, cinta sejati itu penuh ujian dan tantangan, ikuti saja alurnya.
Please Like, Vote, Coment, Rate 5 star and Favorit.
Thank You
Bersambung...
semangat rutin up nya ka' sampai cerita Azka selesai..
💪💪💪🔥🔥🔥
pingin ada cerita ttg aleysa sendiri...