Bila kita membenci seseorang itu wajar, namun bencilah dengan sewajarnya. Karena kadang kala benci bisa berubah menjadi cinta.
Di sebuah ruangan.... Seorang wanita tengah di tarik paksa oleh seorang pria yang sangat ia benci, begitu pun dengan si pria yang sangat membenci si wanita.
"Tidak ada orang yang tidak menyukai aku!" tegas seorang pria bertubuh tegap yang bernama Aran Rianda, pada seorang wanita yang kini sedang berada di bawah kungkungannya.
Wanita yang bernama Velisya Khumairah itu tidak pernah mengenal kata takut hingga ia sama sekali tidak merasa gentar dengan pria yang kini tengah mengungkungnya, "Aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah...!" tegas Velisya Khumairah.
"Kau......" pria tersebut menarik paksa si wanita hingga tanpa sadar wanita itu ikut menarik si pria, dan keduanya terjatuh di sofa dengan Velisya yang berada di bawah tubuh kekar Aran.
Tanpa bisa di tolak lagi, seorang pria paruh baya menyaksikan itu semua.
"KALIAN HARUS MENIKAH.....!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Kini Veli sudah di bawa pulang ke rumah, Aran masih diam saja karena merasa malu atas kehebohan yang sudah ia buat barusan. Veli mengerti dengan Aran yang hanya diam saja, ia duduk mendekati Aran yang duduk di sofa.
"Mas kenapa?"
Aran menatap Veli yang duduk di sampingnya, ia menggeleng, "Mas minta maaf ya, buat yang tadi."
Veli naik keatas pangkuan Aran, ibu hamil itu tanpaknya sangat nyama bila di dekat sang suami. Bahkan ia tidak ingin menjauh sedikit saja dari Aran, "Kenapa harus minta maaf Mas," Veli menggenggam tangan Aran dengan erat, "Justru Veli yang ucapin makasih sama Mas, karena Veli beruntung banget bisa di cintai sebesar ini oleh Mas. Makasih ya Mas udah mencintai Veli dengan begitu besar, Veli nggak nyangka banget bisa seberuntung ini," tutur Veli dengan menatap Aran.
Aran tersenyum, ia mengecup tangan Veli, "Semuanya cuman buat kamu, Mas cuman takut kamu kenapa-kenapa...... Mas cuman mau kamu dan anak kita sehat dan selamat," Aran merapikan rambut Veli, ia hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya itu saja dan rasanya itu bukanlah hal yang salah.
Veli tersenyum, ia terharu dengan kata-kata Aran yang membuat hati nya terasa hangat dan juga begitu nyaman. Pria yang ia benci dulunya itu kini sangat berbeda, Aran sangat mencintai dirinya bahkan tidak ada yang lain selain dirinya. Banyak wanita di luar sana yang ingin di cintai seperti dirinya, namun tidak semua wanita seberuntung itu dan ia pun menyadarinya hingga puji syukur terus ia panjatkan pada Allah sang pencipta alam semesta, sekaligus pemilik seluruh dunia dan isinya.
"Mas sayang sama kamu," Aran memeluk Veli yang masih duduk di pangkuannya, sementara Veli menyematkan tangannya dengan tangan Aran.
"Veli juga sayang sama Mas," kata Veli.
"Sayangnya gimana?" tanya Veli.
"Maunya gimana?" Aran malah menyembunyikan wajahnya di tengkuk Veli, sambil balik bertanya.
"Gimana aja boleh," jawab Veli asal.
"Boleh gimana?" Aran malah bermain-main dengan pertanyaannya.
"Ish....." Veli kesal pada Aran yang malah mengajaknya main-tebak-tebakkan.
"Ahahhahaha......" Aran menarik gemas pipi istri tercintanya, Veli dengan tubuh gemuk, perut membuncit, belum lagi rambutnya yang dicepol asal membuat sang istri seperti mainan yang sangat menggemaskan.
"Sakit Mas," merengek, ia sangat tidak suka dengan Aran yang yang selalu saja sangat suka menarik pipinya padahal itu sangat sakit.
"Abis gemes, kamu makan apa? Kenapa bisa gemuk banget?" seloroh Aran.
"Makan kecebong!" jawab Veli asal bercampur kesal.
Aran mengangkat sebelah alisnya, karena Veli yang biasanya hanya diam dan malu-malu kini sudah mulai berbicara semaunya, "Pupuk unggul ya, kecebong bisa bikin kamu segemuk ini," Aran tertawa tanpa bisa di tahan lagi.
"Mas....apasih, ngomong suka banget asal," Veli mencubit tangan Aran, "Mulutnya suka banget bicara asal," Veli menarik bibir Aran.
"Asal?" tanya Aran, "Asal bahagia....." lanjutnya lagi.
"Ahahahhaha......." keduanya tertawa karena mengingat pembicaraan mereka yang tidak jelas arah dan tujuan, pembahasan yang cukup aneh namun terasa membahagiakan asalkan dengan orang yang sangat berarti bagi kita.
"Mas nggak ngantor?" Veli tau suaminya itu sangat jarang sekali pergi bekerja, dan ia sebenarnya mengijinkan Aran bila bekerja karena di rumahnya ada Ratih dan Sinta pun sudah sering datang ke sana. Karena Veli hanya tinggal menunggu harinya saja, begitupun dengan Laras yang sering kali menginap di sana. Apalagi ini adalah cucu pertamanya.
"Nggak, Mas takut ninggalin kamu," Aran juga ingin ke kantor, tapi percuma saja karena sampai di kantor pun ia tidak tenang yang ada ia selalu menghubungi sang istri hampir setiap lima menit sekali. Dan akhirnya sama saja, ia tidak bisa bekerja dengan baik. Jadi Aran pikir lebih baik di rumah, bersama Veli.
"Di rumah ada Mama Sinta, ada Mami, ada Mama Laras, jadi Veli nggak sendiri Mas," Veli mengingatkan jika ada wanita-wanita yang siaga menjaganya di sana, dan Aran tidak perlu khawatir akan dirinya.
Aran menggeleng, pertanda ia benar-benar tidak ingin meninggalkan istri tercintanya itu, "Mas di rumah aja, sama kamu. Nanti setelah kamu lahiran baru Mas kerja lagi."
"Kalau gitu gimana kalau Veli ikut," tawar Veli.
"Nggak, nanti kamu kecapean....kaki kamu juga bengkak banget," Aran melihat kaki Veli, bahkan kaki itu sudah tiga kali lebih bengkak dari bentuk kaki Veli yang dulu. Aran menitihkan air mata tanpa sadar.
"Mas kenapa?" Veli bingung dengan Aran, padahal mereka tidak bertengkar atau pun Veli berkata kasar. Namun mengapa Aran masih terus menangis tanpa sebab.
"Mas cuman terharu aja, karena sebentar lagi Mas udah jadi Ayah," terang Aran sambil tersenyum, sementara Veli mengusap air mata Aran.
"Doa in Veli ya Mas, semoga persalinannya lancar dan anak kita juga sehat," Veli tersenyum penuh haru dan harap.
"Pasti sayang," Aran mengecup kening Veli, "Doa Mas selalu buat kamu, dan nggak ada yang lain selain kamu...... keselamatan kamu adalah hal yang paling utama," tutur Aran.
"Senyum dong, kitakan udah mau jadi orang tua," tangan Veli menarik bibir Aran ke masing-masing sudutnya, Veli tersenyum begitu juga dengan Aran.
"Senyum lah masak enggak, aduh istri ku yang gemuk ini tambah bawal," Aran semakin menarik pipi Veli.
"Mas sakit."
"Kamu makin tembem."
"Veli jelek ya Mas?" wajah Veli kusut saat Aran mengatakan nya gemuk.
"Kamu memang gemuk, tapi Mas suka. Karena ini bikin Mas gemes, sekalian kita tidur nggak usah pakek kasur."
"Kenapa?" tanya Veli menatap Aran.
"Kan ada kamu yang jadi kasur nya," seloroh Aran.
"Ish.....lucunya," mulut Veli komat kamit, karena tidak terima dengan perkataan Aran, dan ia pun bangun dari 0angkuan Aran.
"Etsss ...." Aran tidak membiarkan Veli bangun dari pangkuannya, hingga ia kembali menarik Veli lagi dan memeluknya agar sang istri tidak bangun, "Mau kemana? Di sini aja!"
"Veli kesel, Mas bisanya menghina!"
"Siapa yang menghina kamu Khumairah sayang......Mas cuman bangga aja karena sekarang kamu gemuk banget, itu tandanya ku itu bahagia......dan menikmati hidup dengan Mas," Aran berusaha merayu Veli, sebab istrinya itu terlihat sedang ngambek dengan mood yang tidak baik.
"Nggak ah.....Nggak mempan...." Veli tetap mencoba bangun, karena rayuan Aran tidak lantas membuat mood nya kembali membaik.
"Jadi yang mempan itu gimana?"
"Ajakin belanja.....kalau nggak ya nggak papa."
"Kenapa jadinya belanja?" tanya Aran bingung.
"Kalau mau bikin Veli senyum dan nggak marah....ayo belanja, kalau nggak ya udah."
"Yaudah."
"Yaudah...." Veli bangun dari pangkuan Aran karena kesal.
"Yaudah yuk."
"Beneran Mas?" Veli tersenyum dan matanya berbinar.
"Iya."
CUP.
Veli langsung mengecup Aran, karena terlalu bahagia dan Aran juga mendadak bahagia padahal hanya kecupan kecil namun terasa manis sekali.
smangat thor
love u daddy Bilmar🥰🥰