Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Ardian dan pak Nugraha masuk rumah, untuk mandi. karena siap magrib mau ada pertemuan di rumah pak RT.
" Ada heboh kenapa lagi ya pi". tanya buk Rasti
" Ini mi. masyarakat yg komplek sebelah". kata pak Nugraha.
" Ada ada saja ya pi". ungkap buk Rasti
Ardian masuk kamarnya, rencana mau merebahkan dirinya sebentar, tapi ia mendengar Nindi berteriak dari dalam kamar mandi. " Ada apa sayang". Ardian melihat paha istrinya becak darah, dia panik. dan menggendong istrinya ke kasur.
" Mi, pi. tolong Nindi..... ".teriaknya dari atas.
Pak Nugraha dan istrinya, Bik Ina dan juga Angga naik ke atas.
semuanya panik lari tampa menghiraukan tangga yang mereka naik.
" Ada apa nak, tanya mami Rasti, melihat Nindi yang sudah terlihat lemas di atas kasur.
" Angga cepat siapkan mobil. bik ina siapkan pakaian yang akan di bawa ke rumah sakit, kita ke rumah sakit terdekat". perintah pak Nugraha.
mereka yang dapat tugas langsung melaksanakan. mami Rasti melihat kondisi menantunya, dia langsung minta Ardian mengambil kotak obat yang bisa di gunakan. dan Ardian pun tak kalah paniknya. badannya lemas sekali. dia mengambil kotak obat yang berada di lantai bawah.
Dia lompati tangga itu. kadang sampai 2 tangga sekaligus. saking panik dia lupa kalau kotak obat ada dalam lemari di bawah tangga.
" Bik dimana kotak obatnya," teriak Ardian dari bawah.
Mendengar Ardian yang mencari kotak obat, Angga langsung mengambilkan untuk bosnya.
" ini bang". Kata Angga. Ardian ingin Angga memanggilnya abang, sebab mereka beda umur satu tahun. dan juga untuk kekeluargaan.
" Ya. makasih Angga, mobilnya sudah siap".
" Sudah bang, sekarang tinggal berangkat. barang juga sudah di naikan". lanjut Angga.
"oh, saya berikan ini dulu". kata Ardian.
tak lama Ardian menggendong istrinya ke mobil. Semuanya ikut. Untung RS nya dekat.
Angga minta tolong petugas supaya siapkan ruang pasien darurat.
Ardian menggendong istrinya dengan hati hati.
setelah masuk ruangan dokter meminta menunggu di luar.
" Tolong selamatkan menantu saya, beri yang terbaik". Kata pak Nugraha dengan tegas.
" Baik pak, kami akan usahakan".
Dokter menangani pasiennya., sementara Ardian mondar-mandir di luar ruangan seperti setrika. Buk Rasti pun memeluk suaminya, dengan wajah yang kusam, bik Ina dan Angga hanya diam terpaku. Melihat majikannya.
Tak lama keluarlah perawat" suaminya pasien".
" Saya buk". kata Ardian cepat.
" Ayok ikut saya, pasien mau bicara".
Ardian langsung masuk ruangan darurat.
" Kak, temani aku. aku takut. kata Nindi terbata.
" Sayang kakak di sini, tenanglah". bujuk Ardian, dia menyembunyikan ke khawatirannya.
Sementara dokter memeriksa Nindi dengan baik. dia pun tersenyum.
" Untunglah pasien cepat dibawa dan bayinya dapat diselamatkan". kata dokter pada Ardian.
" Apa dok, bayi... Jadi istri saya hamil... " Tanya Ardian yang hatinya bercampur senang, heran. bingung.
" Iya Pak, istrinya anda hamil empat minggu, memasuki lima minggu, istri bapak harus banyak istirahat. jangan biarkan pasien kerja dulu yang berat berat". kata dokter menerangkan.
" Iya dok, terimakasih bantuannya". kata Ardian menyalami dokter dengan bahagianya.
" Sayang kakak keluar dulu sebentar, memberitahukan berita ini. " kata Ardian pada istrinya.
" iya kak cepat kembali". rajuk Nindi.
Ardian keluar dengan tergesa-gesa. tentu membuat orang berdiri mengejarnya.
" Kenapa nak, bagaimana dengan Nindi ". tanya maminya panik.
" Mi, pi, Nindi hamil, tapi kandungannya lemah, dia harus istirahat dulu disini beberapa hari, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan". . Kata Ardian semangat.
Buk Rasti bahagia senang, dia memeluk Ardian dengan erat" selamat ya nak, jaga istrimu dengan baik, puasa kau dulu, sampai kandungannya kuat". kata maminya menasehati.
" Puasa". tanya Ardian heran...
Maminya mencubit Ardian dengan kuat.
Dia membisikan ke telinga anaknya.
" Milikmu itu harus puasa, paham.... kata maminya sambil menjewer telinga anaknya yang polos. " Sana masuk, nanti Nindi sendirian". Kata papinya.
Ardian masuk kembali yang masih dengan pertanyaan di kepalanya. " Kok lama kak, aku takut di sini". kata Nindi.
" Maaf kakak, habis mami banyak tanya".
bujuk Ardian yang merasa bersalah.