NovelToon NovelToon
Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Supernatural / Contest / Cinta Beda Dunia / Dunia Lain / Mengubah Takdir / Barat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Pangeran Buluk

Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.

Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.

Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wisesa

Tepat ketika hari beranjak pagi, Kokok ayam berbunyi bersahutan. Burung - burung berkicau riang saling kejar mengejar menyambut hari dengan gembira.

Di lapangan pelatihan para murid terlihat Gayatri memainkan jurus - jurus ilmu pedang Perguruan Belibis Putih. Putri tunggal Wardana itu tampak bergerak lincah membabat dan menusuk. Gerakannya gesit menimbulkan kesiur angin sampai - sampai debu di sekitarnya beterbangan.

Sementara itu di tepi lapangan terlihat Argadana dan Wardana tengah mengamati permainan pedang Gayatri yang lemah gemulai bagainorang menari itu.

"Bagaimana, Argadana?" tanya Wardana

"Em. . .? Apanya yang bagaimana, paman?" Argadana bertanya balik.

"Uhukkk. . ."

Wardana terbatuk - batuk menyadari kalimat pertanyaannya salah. Dia lalu meralatnya

"Mmm...maksudku, bagaimana permainan pedang perguruan kami?"

"Ahh. . . Jurus berpedang Perguruan Belibis Putih terlihat sangat luar biasa. Kembangan dari tiap - tiap jurus saya lihat sangat beragam dan gerakannya cepat" ucap Argadana takjub.

"Kalau begitu apa boleh orang tua ini meminta bantuanmu, Argadana?" Wardana bertanya pelan setengah berbisik.

"Memangnya bantuan apa yang paman inginkan dari saya? Saya hanyalah pemuda gunung yang tidak ada kelebihan apapun" kata Argadana merendah.

"Ahh. . . Jangan terlalu merendah, Argadana. Aku yakin kau meskipun tampak seperti pemuda biasa, tapi melihat kemampuanmu kemarin aku yakin kau pasti berilmu tinggi. Jadi aku ingin meminta bantuanmu untuk memberikan sedikit arahanmu pada putriku, Gayatri" kata Wardana berterus terang.

Argadana yang tidak punya alasan untuk menolak akhirnya menuruti juga permintaan Wardana.

Hanya saja Argadana tidak mengajarkan satu jurus pun, melainkan hanya memberikan saran untuk menyempurnakan jurus - jurus yang memang telah dimiliki Gayatri.

"Lapor, Ketua. Rombongan Ki Wisesa telah tiba dan sedang menunggu di depan gerbang"

Seorang murid datang dan melaporkan kedatangan orang bernama Wisesa. Argadana dan Gayatri seketika itu juga menghentikan latihan mereka dan menghampiri Wardana.

"Ayo, kita sambut mereka di depan" kata Wardana yang dijawab anggukan Argadana dan Gayatri.

***

Di depan gapura Perguruan Belibis Putih tampak serombongan orang dalam sebuah kereta. Di belakang kereta itu ada seorang kusir yang sebuah kereta berisi kain pesanan Wardana.

"Ahh. . . Silakan, Tuan Wisesa. Maafkan keterlambatan sambutan kami" kata seorang yang baru saja tiba bersama dua orang muda lainnya dari dalam gerbang perguruan itu yang tidak lain adalah Wardana bersama Argadana dan Gayatri.

"Ahh. . . Tuan Wardana tidak usah sungkan. Disambut langsung oleh seorang Ketua Perguruan Belibis Putih juga merupakan sebuah kehormatan bagi kami" kata pria yang baru saja keluar dari kereta kudanya.

Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun. Berpakaian hijau pupus, tampak seperti pakaian yang sangat mewah dengan banyak riasan - riasan di tiap sisinya. Dia adalah pengusaha sukses yang terkenal. Namanya Ki Wisesa, putra angkat Sepasang Pendekar Naga.

"Heheh. . . Tuan bisa saja, mari kita bicara di dalam saja" kata Wardana mempersilakan tamunya.

Di dalam ruang pribadi Wardana tampak duduk Wardana, Gayatri, Argadana dan Wisesa bersama pembantunya.

"Perkenalkan, tuan. Ini adalah putri tunggal saya, namanya Gayatri" kata Wardana memulai percakapan. Gayatri lalu menjura hormat yang dibalas juga oleh Wisesa

"Dan pemuda ini adalah penolong perguruan kami, namanya Argadana"

Wisesa mengerutkan keningnya melihat Argadana yang dikatakan penolong Perguruan Belibis Putih sehingga dia sedikit terlambat membalas hormat Argadana.

"Ah. . . Iya, Tuan Wardana. Di dalam perjalanan kami kemari saya mendapat kabar tentang penyerangan yang dilakukan Perguruan Tengkorak Darah. Jadi saya turut bersedih atas kejadian yang menimpa para murid perguruan tuan"

"Ahh. . . Itu semua sudah berlalu, Tuan Wisesa. Lagi pula perguruan kami juga toh masih bisa berdiri hingga saat ini. Dan ini adalah berkat pemuda penolong kami ini"

Wisesa menatap Argadana dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

"Rambut warna emas, tampan dan ada rajah berbentuk pedang merah di tengah - tengah dahi. Ciri - cirinya mirip dengan pendekar yang belakangan ini sangat sangat dibicarakan orang - orang. Tapi lembah neraka yang kutahu selama ini hanya ditinggali oleh ayah dan ibu. Apa mungkin anak muda ini murid mereka? Wisesa membatin sendiri.

"Anak muda, melihat ciri - cirimu apakah kau adalah pendekar yang belakangan ini sedang santar dibicarakan orang - orang dunia persilatan?"

Pertanyaan Wisesa pada Argadana tentu membuat terkejut Wardana dan Gayatri. Keduanya bisa menebak lanjutan dari kalimat Wisesa itu.

"Ksatria Lembah Neraka?" tanya Wardana dan Gayatri bersamaan seolah memang sudah diatur demikian.

Wisesa yang tampak heran hanya menjawab dengan anggukan.

"Orang ini, mereka tampaknya sama sekali tidak mengenal siapa sebenarnya penolong mereka kecuali namanya saja" batin Wisesa.

"Ahh. . . Saya tidak tahu kalau orang - orang dunia persilatan memanggil saya begitu. Hanya saja, saya memang berasal dari Lembah Neraka" kata Argadana.

Wardana hampir terjungkal dari tempat duduknya mendengar nama tempat asal Argadana.

Lembah Neraka adalah tempat berbahaya yang dipenuhi binatang buas dan beracun. Sehingga banyak orang - orang mengatakan bahwa lebah itu adalah lembah sarangnya segala jenis bala'.

"Bagaimana caranya bertahan hidup di dalam sarangnya segala jenis bala' itu? Padahal menurut kabar yang kutahu hanya Sepasang Pendekar Naga yang mampu tinggal di sana karena kekuatan mereka. Jangan - jangan pemuda ini. . ." batin Wardana.

Lain batin Wardana, lain lagi dengan Gayatri.

"Pantas saja kakang Argadana sangat kuat. Ternyata dia tinggal di tempat bahaya itu. Tapi bukankah tempat itu adalah tempat tinggal Sepasang oendekar legendaris itu"

"Benarkah? Setahuku hanya ada dua orang yang tinggal di sana, yaitu kedua orang tua angkatku yang berjuluk Sepasang Pendekar Naga" tanya Wisesa membuyarkan lamunan ayah dan anak itu

"Apa???"

Lagi - lagi Wardana dan Gayatri hampir jantungan karena terkejut. Mereka selama ini hanya tahu kalau Wisesa hanyalah seorang pedagang yang sukses, bukan anak asuh seorang pendekar ternam seperti Sepasang Pendekar Naga.

"Haiisss. . . Kalian ini. Walaupun aku adalah putra angkat mereka, aku sama sekali tidak berbakat dalam ilmu silat, aku lebih suka berbisnis. Dan kesuksesanku ini juga berkat mereka yang memberiku modal untuk berusaha memulai dari awal." kata Wisesa seolah mengetahui isi hati Wardana dan putrinya.

"Jadi bagaimana, Argadana. Apa kau mengenal mereka?"

Wisesa menoleh ke arah Argadana.

Argadana tidak cepat menjawab, melainkan menyerahkan kain lusuh yang diberikan padanya oleh sebelum meninggalkan Lembah Neraka dulu oleh kedua gurunya. Mata Wisesa terbelalak melihat kain lusuh itu. Matanya berkaca - kaca, teringatlah dia sewaktu masa kecilnya dulu dirawat dan dibesarkan oleh Sepasang Pendekar Naga itu di Lembah Neraka. Dengan demikian yakinlah dia bahwa Ksatria Lembah Neraka yang didengungkan dunia persilatan memanglah anak didik kedua orang tua asuhnya dulu.

"Ehhh. . .??? Jadi, kau adalah murid ayah dan ibuku?"

"Benar, paman. Sepasang Pendekar Naga adalah kedua guru saya. Dan saya menempuh perjalanan kemari juga atas saran dari guru untuk meminta tolong pada paman"

"Jadi wajar saja kalau dia begitu kuat, bahkan kuperkirakan kemarin dia tampak tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya. Ternyata memang murid mereka, naga memang selalu melahirkan anak naga" kata Wardamembatin

"Hmm. . .? Lalu di mana wanita pasangan meditasi gandamu?"

Wisesa tahu betul bahwa kedua orang tua angkatnya tidak mungkin mengangkat murid tunggal karena sifat ilmu mereka berpasangan. Hasilnya tidak akan maksimal jika hanya satu murid saja.

Semua tentang ilmu silat milik Sepasang Pendekar Naga itu telah pernah dijelaskan oleh Anung Pramana kepada putra angkatnya itu dulu sewaktu dia diajari ilmu silat. Sehingga ia tahu betul, murid mereka berdua tidak mungkin terlepas dari meditasi ganda.

"Ahh. . . Adik Ningrum memutuskan untuk kembali pada orang tuanya di Sampang Daru yang sudah sepuluh tahun lebih tidak bertemu. Kami hanya membuat janji akan bertemu pada perayaan hari ulang tahunnya"

Perasaan Gayatri bagai diiris - iris mendengar Argadana yang menyebut nama Ningrum dengan sangat hati - hati.

"Tampaknya gadis bernama Ningrum itulah yang dimaksud sedang menunggunya"

"Emm. . .??? Ningrum dari Sampang Daru? Itu seperti nama putri Raja Kurawa yang menghilang sepuluh tahun yang lalu dari Perguruan Anggrek Ungu" kata Wisesa dengan dahi berkerut.

"Hmm. . . Adik Ningrum tidak mungkin seorang putri, paman. Lagi pula mana ada putri raja yang mau jauh - jauh dari keraton? Apalagi mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan seperti ilmu Kanuragan dan kedigdayaan" Argadana berpendapat.

"Benar juga, hal itu sangat tidak mungkin"

Mereka mengobrol cukup lama sampai jamuan makan siang untuk mereka telah siap, mereka kemudian melakukan santap siang bersama - sama. Gayatri selalu saja mencuri pandang terhadap Argadana, di hati gadis itu semakin kagum pada pemuda berambut emas yang telah mencuri sekeping hatinya itu.

"Dia tidak memamerkan identitasnya sebagai murid pendekar nomor Wahid itu. Jika tuan Wisesa tidak mengenalnya maka tidak akan ada yang tahu kalau dia adalah pendekar terkenal dan merupakan murid tokoh legendaris itu" kata Gayatri dalam hati.

Hari itu Wisesa menginap atas desakan Wardana, juga karena hari sudah malam ketika transaksi mereka selesai.

Keesokan harinya Wisesa berangkat pulang dengan ditemani oleh Wardana sekeluarga. Argadana ikut dengan Wisesa untuk membicarakan perihal pertolongan yang ingin dimintanya dari Wisesa.

1
Audrey Maritza Kanedy
Luar biasa
Ihwan Udin
menyebut natuhanku Alloh emang udah ada Islam
Amelia putri
sampah
Amelia putri
bertele tele
Amelia putri
naif gk di bunuh aja
Hariadi Siregar
lanjut
Mbak Shity
lanjut terus🥰
Mbak Shity
mantap🤩
Mbak Shity
bagus ceritanya🥰
Musa Torpas
cerita bagus enak di baca
Bayu Putra
Mantap lanjutkan suhu
Herry Susanto
bagus ceritanya.
Mawan Iwan
akhir cerita 😆😆
Lil Badri
sangat bagus
Pajero Asia
Keren
Ristalia Noer
mantul banget pengen denger kelanjutan nya lagi
Bang Roy
lanjutkan sampai selesai thor..
Bang Roy
punya wanta cantik selalu diganggu
Bang Roy
makin mantap nih cerita..
Bang Roy
bagus nih cerita kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!