Bagaimana rasanya ditinggal untuk selamanya oleh kedua orang tua, dan mempunyai ibu tiri yang yang gila harta, menjual anak tirinya kepada lelaki kaya demi uang, inilah yang dirasakan Lusiana gadis malang yang dijual ibu tirinya demi dirinya sendiri, dan harus menikah dengan pria yang membelinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 32 Lusiana didekati Oleh Lelaki Hidung Belang
Saat Lusiana hendak membantu Tama berdiri, tiba-tiba saja ada laki-laki hidung belang yang mendekatinya.
"Hai cantik, baru pertama kali ya kesini?" tanya pria itu sambil melihat penampilan Lusiana dengan memakai celana dan baju panjang.
"Maaf mas, saya kesini mau menjemput suami saya" ucap Lusiana yang terus membantu Tama untuk bangun.
"Ngapain sih jemput dia, dia aja udah nggak sadar diri gitu, yuk senang-senang sama aku aja ya" rayu pria hidung belang itu yang berusaha mendekati Lusiana.
"Mas tolong dong, jangan ganggu saya" Lusiana merasa risih didekati pria itu
"Jangan galak gitu dong cantik, suami kamu datang kesini buat senang-senang kan, masa kamu kesini cuma buat jemput dia aja, ayok tinggalin dia aja" ucap pria itu yang berusaha merangkuh Lusiana.
Lusiana yang merasa sangat cemas berusaha memberontak untuk menjauh dari pria itu, namun rangkuhan pria itu semakin kuat, Lusiana tak tau harus berbuat apa tak mungkin Tama bisa menolongnya dia aja masih tertidur pulas oleh pengaruh alkohol.
"Hiks..hiks" tangis Lusiana sambil berusaha untuk terus melepaskan diri. Namun tak ada rasa iba dari laki-laki itu, dengan perlawanan dari Lusiana, laki-laki itu berusaha untuk membawa Lusiana kekamar, Lusiana merasa pasrah tak tau apa lagi yang harus dilakukan untuk lepas dari laki-laki itu, minta tolong pun tak ada yang mau menolongnya. Saat sampai dikamar laki-laki itu langsung menghempaskan tubuh Lusiana keatas ranjang.
"Hiks..hiks, tolong lepaskan aku dari sini, aku mohon" tangis Lusiana yang terus-terusan memohon supaya laki-laki itu mau melepaskannya.
"Jangan nangis dong cantik, percuma saja kamu menangis, sekeras apapun kamu menangis disini tak akan ada yang menolong mu" laki-laki itu menghapus air mata Lusiana yang langsung ditepis oleh Lusiana.
"Wah, wah kamu berani melawan hah!" ucap laki-laki itu dengan nada tinggi
"Jangan, aku mohon, hiks..hiks" laki-laki itu mencoba untuk melepaskan baju Lusiana
Diluar, Tama sudah mulai sadar, dengan kepala yang masih sangat pusing Tama melihat kesemua penjuru arah untuk menemukan Lusiana karena dia teringat bahwa ia pergi bersama Lusiana. Tama berusaha untuk bangun, dia berjalan dengan sempoyongan untuk mencari keberadaan Lusiana, tiba-tiba Tama mendengar suara tangisan Lusiana dari dalam kamar yang tak jauh dari tempat berdirinya, tanpa menunggu lama Tama langsung mendobrak pintu kamar itu, benar ternyata Lusiana yang ada didalam.
"BRENGSEK! ! !, apa yang kau lakukan pada istri saya hah" Tama langsung menonjok pria itu.
"Tama.." Lusiana akhirnya merasa lega karena Tama datang untuk menolongnya, dengan segera Lusiana mendekati Tama dan berlindung dibelakang Tama.
Sedangkan laki-laki itu merasa takut akan tindakan Tama yang mungkin saja Tama akan bertindak semakin brutal karena masih dalam pengaruh alkohol dengan segera laki-laki itu keluar dari kamar, Tama yang sangat emosi berusaha untuk mengejar laki-laki itu, namun dihentikan oleh Lusiana.
"Udah, kamu nggak usah mengejar dia, aku takut" Tubuh Lusiana gemetaran sambil memeluk Tama.
"Kita pulang ya" ucap Tama yang merangkul Lusiana dan pergi meninggalkan bar itu.
Didalam mobil Lusiana masih gemetar mengingat kejadian barusan, jika saja Tama datang terlambat maka tak tau lagi apa yang terjadi, tak disadari tangis Lusiana semakin kencang.
"Hiks..hiks..hiks"
"Aku minta maaf ya karena aku, kamu sampai mengalami hal seperti ini" Tama menyesali perbuatannya.
"Aku mau pulang, aku nggak mau lama-lama berada ditempat ini" ucap Lusiana lirih
"Iya, kita pulang sekarang"
Tama langsung memacu mobilnya untuk meninggalkan tempat itu, sementara Lusiana masih tetap menangis, saat telah sampai rumah pun Lusiana tak menyadarinya.
"Kita sudah sampai" ucapan Tama mengagetkan Lusiana, dengan segera dia keluar dari mobil dan langsung masuk kekamar diikuti oleh Tama.
"Kamu ganti baju dulu ya, habis itu kamu istirahat" kata Tama yang langsung dituruti oleh Lusiana
"Aku takut" kata Lusiana mendekati Tama yang masih merasa parno akan kejadian barusan.
"Kamu udah dirumah, jadi nggak perlu takut, ada aku kok disini" kata Tama menenangkan Lusiana.
"Aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi jika kamu nggak datang tadi"
"Sekarang aku sudah ada di sampingmu kan, kamu nggak usah takut lagi ya"
"Aku masih belum bisa melupakan kejadian barusan"
"Aku minta maaf ya, nggak seharusnya aku mengajak mu kesana hanya demi kesenangan ku"
"Aku nggak mau lagi kamu pergi ketempat itu, aku mohon jangan kesana lagi ya"
"Kita nggak usah bahas ini lagi ya, kamu istirahat aja dulu, supaya fikiran lebih tenang"
"Nggak aku nggak mau, kamu harus janji dulu bahwa kamu nggak akan kesana lagi, apapun masalahnya kalau kamu pergi kesana tidak akan menyelesaikannya, malahan akan menambah masalah baru" kata Lusiana menjelaskan kepada Tama bahwa bar itu bukan tempat untuk menyelesaikan masalah.
"Iya, aku janji tidak akan kesana lagi"
"Kamu mau kemana lagi" Lusiana menghentikan langkah Tama yang hendak keluar kamar.
"Cuma keluar aja kok sebentar"
"Kemana?"
"Cuma mau nonton TV aja diruang tamu"
"Kenapa nggak disini aja, kan disini juga ada TV"
"Aku nggak mau mengganggu istirahat mu"
"Kamu masih marah padaku, perihal kejadian dikafe"
"Aku nggak mau membahas itu sekarang"
"Tapi kita harus membahasnya sekarang, aku nggak mau masalah ini akan berlarut-larut yang akan menggangu hubungan kita"
"Kamu istirahat dulu aja, besok kita bahas masalah ini"
"Nggak, kamu kesini dong mendekat" Lusiana meminta Tama untuk mendekatinya karena Tama sudah berada di pintu keluar kamar.
"Yaudah" akhirnya Tama berbalik arah dan mendekati Lusiana.
"Aku mau menjelaskan semuanya kepadamu, supaya nggak ada salah paham lagi"
"hmmmm" Tama sebenarnya malas untuk membahas masalah ini, tapi Lusiana ada benarnya juga, jika tidak membahasnya sekarang pastilah masalah ini akan merusak hubungannya dengan Lusiana.
"Aku kenal dengan Leo itu sejak kecil, aku kenal baik dengan kedua orangtuanya, kami sudah sahabatan sedari kecil, kami sekolah ditempat yang sama dan selalu dikelas yang sama sampai SMA, tapi semenjak kita lulus SMA, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, dan saat aku jalan di mall tadi, tanpa sengaja kita berpapasan aku senang bertemu dengannya karena aku bertemu dengan sahabatku dari kecil, kita lalu pergi kekafe untuk ngobrol-ngobrol karena telah lama kita tak pernah ngobrol" Lusiana memberikan penjelasan kepada Tama tentang hubungannya dengan Leo.
"Terus kenapa dia sampai memegang rambutmu begitu?"
"Itu memang sudah kebiasaannya dari dulu, sedari kecil dia memang suka memegang rambutku, tapi aku menepisnya karena sekarang aku rasa tindakannya itu sudah tidak pantas lagi, dan dia menyadari itu"
"Dia menyukaimu kan?"
"Iya, ternyata dia menyukai aku sedari dulu, dia menyatakan perasaannya kepadaku sekarang, karena dia tak mau memendam perasaan itu terlalu lama, dan dia tak berharap untuk aku membalasnya"
"Lalu untuk apa dia menyatakan perasaannya setelah kamu menikah denganku?"
"Supaya rasa itu nggak terus ada dalam hatinya, dia mengungkapkannya sekarang karena dia tak mau ada perasaan yang mengganjal didalam hatinya, aku kenal Leo dari kecil, dia bukan tipe orang yang mau merusak kebahagiaan orang lain, apalagi aku sahabatnya"
"Aku nggak tau apakah Leo benar-benar akan menganggap mu seperti sahabatnya seperti apa yang kamu omongin atau memang benar dia mengharapkan mu sebagai kekasihnya"
"Mungkin kamu nggak bisa mempercayainya sekarang, tapi aku yakin seiiring berjalannya waktu kamu akan mengetahui dan mempercayainya sendiri"
"Iya kita lihat aja nanti, semoga aja kata-kata kamu benar, yaudah kamu istirahat aja dulu"
"Kamu istirahat juga ya"
"Iya"
Bersambung 😍
dr cerita dia (adam) mulai awal sampek kerumah nurin ,dan kehamilan nurin ,sampek diusir gk direstui oleh bram,
padahal habis pulang dr rmh nurin langsung meninggal si adam
dan dlm semua dramanya sllu jadi protagonis dan mudah senyum
like episode tertinggal
salam dari IKYD