ig : tri.ani.5249
Hidup ini berjalan sering kali tak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, Allah lah yang paling tahu tentang kita dan akhir cerita kita. Aisyah Ratna, seorang agdis belia yang memimpikan bisa menikah dengan seorang pria yang sholeh yang akn membimbingnya, tapi sebuah takdir malah mempertemukan dengan pria arrogant yang jauh dari mengenal agama.
Hatinya begitu hancur saat seseorang yang bernama Kevin Alexander tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan meminangnya. Apakah hidupnya akan bahagia setelah menjadi istri seorang Kevin Alexsander? Bisakah ia melupakan cintanya pada seorang pria anak ustad bernama Fahmi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan terakhir
Setelah tenang Aisyah segera berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang ya, Bi!"
"Sya ....., jangan seperti itu, tenangkan dirimu dulu di sini, nanti pulang!"
"Nggak, Bi. Aku harus pulang!"
"Biar aku antar ya?"
Kali ini Aisyah setuju, Bianka mengantarnya dengan motor matic nya.
Kali ini Aisyah benar-benar merasakan rasanya memilih di pilihan yang paling buruk, ia benar-benar merasa hancur saat ini. Sebelumnya ia pikir pria itu hanya tidak mengenal Allah, tapi ternyata dia bahkan lebih buruk dari itu.
***
Sesampai di rumah ia segera mengurung diri di dalam kamar.
Semenjak di rumah Bianka, ia terus mengabaikan ponselnya yang terus saja berdering. Ia malas membuka pesan dari siapapun, termasuk dari gus Fahmi.
Senjak kepulangan gus Fahmi entah sudah
berapa banyak pesan yang telah gus Fahmi kirimkan untuknya, ia hanya
mengintipnya saja tanpa berani membaca.
Hari ini ia mulai mengakhifkan kembali ponselnya, ia melihat begitu banyak panggilan
dan dan juga chat dari gus fahmi.
//assalamualaikum, Sya! Ini salam ku yang kesekian kalinya Sya, apa yang harus saya lakukan agar kamu mau membalas pesanku, Sya. Kita harus bicara//
Kali ini Aisyah hanya membacanya, ia tidak tahu harus membalas apa, ia ingin sekali
mengadu dan mengatakan jika ia tidak mau menikah dengan Alex.
//Sya …, aku sudah tahu apa yang terjadi denganmu, kenapa kamu menerima khitbah dari pria lain tanpa menungguku?//
//apa karena khitbah itu hingga kamu mengabaikan ku? ku mohon angkat telponku, aku ingin bicara padamu, semuanya belum terlambat, Sya//
Deg
Walaupun ia tahu jika gus Fahmi pasti sudah mengetahui kabar pernikahannya dari Kyai
Hamid, tapi tetap saja hal itu membuatnya terluka.
Ponselnya kembali berdering, itu adalah telpon dari gus fahmi. Ia harus siap berbicara
dengan gus fahmi apapun yang terjadi.
“Assalamu’alaikum, Sya!” sapa gus Fahmi, mendengarkan suara gus Fahmi membuat Aisyah tak mampu lagi membendung air matanya. Merasa tak mendapat sahutan dari Aisyah, gus Fahmi pun melanjutkan ucapannya.
"Sya …, dengarkan aku! Semuanya belum terlambat, kamu masih bisa mengubahnya! Niatku untuk menghalalkan mu belum berkurang sama sekali, Sya! Walaupun abi dan umi sudah mengatakan semuanya, aku tahu kamu melakukannya bukan karena keinginanmu
sendiri!”
Lagi-lagi Aisyah semakin terisak mendengar penuturan dari gus Fahmi, ia ingin sekali
berteriak dan mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan gus fahmi saja, tapi
bayangan senyum Nino berhasil membuatnya tak lagi mampu mengelak dengan
pernikahan itu.
“Maafkan Aisyah, gus! Aisyah tidak bisa meneruskan rencana kita. Lusa Aisyah akan
menikah dengan orang lain, jadi Aisyah mohon gus Fahmi bisa merelakan Aisyah!” ucap
Aisyah walaupun dengan bibir gemetar, ia sebenarnya tidak mau mengatakannya
tapi ia harus mengatakannya agar pria berwajah teduh itu tidak terus mengharapkannya.
“Sya, aku sudah meletakkan namamu disetiap doaku, Sya! Aku mencintaimu karena Allah
dan aku ingin kamu memutuskan semua ini juga karena Allah juga Sya, bukan karena
hal lainnya. Aku sangat mencintaimu, Sya!”
“Gus Fahmi jangan terus mengatakan itu, jangan membuatku semakin berat karena ucapan gus Fahmi, assalamualaikum!”
Aisyah segera mematikan telponnya tanpa berani mendengarkan ucapan gus Fahmi lagi, ia terlalu takut jika terus mendengar suara gus Fahmi akan membuat pendiriannya
goyah.
***
Besok Aisyah sudah harus menikah dengan pria asing dan arrogant yang bernama Alex,
hari-hari penuh deritanya mungkin akan segera di mulai, mungkin setelah ini ia tidak lagi bisa menikmati pemandangan kampungnya.
“Bu, Ais jalan-jalan cari angin dulu ya!” pamit Aisyah, ia tidak begitu suka di rumah terus.
"Jangan lama, bu Widya akan ke sini untuk menjemputmu sore ini!"
"Insyaallah, bu!"
Tanpa memberi salam seperti biasanya, ia berjalan begitu saja meninggalkan ibunya.
Setelah mendapat ijin dari ibunya, ia segera keluar dari rumah. Di tengah perjalanan
tiba-tiba ponselnya berdering,
Bianka memanggil.
‘Assalamu’alaikum,
Sya!”
“Waalaikum salam, bi. Ada apa?”
“Besok rencananya acaranya jam berapa?”
“jam delapan pagi, Bi! Jangan telat ya, aku nggak punya teman di sama, ibu nemenin
Nino di rumah sakit soalnya, nanti malam ibu dan Nino sudah harus berangkat ke
rumah sakit!” Aisyah terus saja berjalan sambil menjawab telpon dari Bianka
hingga ia berhenti di taman belakang perumahan.
“Iya Sya, tentu aku akan datang, di gedung yang kamu katakan kemarin kan acaranya?’
“Iya!”
“Ya sudah, Sya! Aku akan mencari baju, aku tutup dulu telponnya ya!”
“Iya, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!’
Setelah menutup telpon dari Bianka, Aisyah pun memilih melanjutkan langkahnya menuju ke sebuah bangku taman yang kosong. Banyak akan kecil sedang bermain di sama.
“Assalamualaikum, Sya!”
“Waalaikum salam!”
Aisyah terpaku melihat pria yang berdiri di sampingnya, wajah teduh yang sedang
berusaha keras ia lupakan tapi juga begitu ia rindukan sekarang ada di
sampingnya.
Aisyah segera berdiri hendak meninggalkan gus Fahmi, tapi gus fahmi segera
menghadangnya agar tidak pergi darinya.
“jangan menghindari ku lagi, Sya! Aku tidak mungkin menarik tanganmu untuk menahan mu tetap berada di sini, kita harus bicara sekarang!”
Aisyah pun terdiam, ia hanya bisa menunduk tanpa berani menatap pria di depannya itu.
Ia tidak mau dengan bertemu pria itu membuat hatinya kembali gundah.
“Gus, biarkan aku pergi dari sini!”
“Tidak, Sya. Kita harus bicara!”
“Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi!”
“Ada, dan aku tidak mau sampai kesempatan itu hilang, Sya. Berilah aku alasan!”
“Alasan apa lagi, aku sudah memberimu alasan, aku memilih pria lain untuk menjadi
imamku!”
“Tapi mata kamu mengatakan hal lain, Sya! Ada aku di sana!”
Deg
Memang benar. Masih tetap sama di dalam
hatinya sampai detik ini, tempat itu belum di gantikan oleh siapapun, bukan juga
oleh pria arrogant itu.
“Berhentilah untuk menentang hatimu, Sya. Walaupun kita tidak pernah bersama selama ini, tapi nama kita selalu bertemu dalam doa, hati kita di dekatkan oleh Allah,
jangan memangkas sebuah hubungan yang sudah menjadi dekat, batalkan semua
rencana gila mu itu, aku mohon!
Sadarlah Sya, dengan kamu memutuskan menikah dengan pria itu dengan tujuan yang berbeda, berarti kamu tidak percaya dengan cinta yang Allah berikan padamu dan hanya luka yang akan kamu dapatkan. Bisakah kau menyembuhkan luka yang semakin
melebar itu setelah ini? kau telah melukaiku, dan juga dirimu sendiri! Hentikan
semua kegilaan ini sebelum benar-benar terlambat!”
Aisyah meneteskan air matanya mendengarkan penuturan dari gus Fahmi, memang benar ia
akan terluka sepanjang waktu dengan hidup dengan orang yang sama sekali tidak ia
cintai.
Seakan alam pun sedang ikut merasakan apa yang mereka rasakan, awan yang sedari tadi menggantung di langit kini turun menjadi rintikan hujan yang semakin lama semakin lebat.
Di saat semua orang bingung untuk mencari tempat untuk berteduh, Aisyah dan gus Fahmi masih tetap berdiri di tempatnya dengan air mata Aisyah yang bercampur bersama air hujan.
“Sya, aku benar-benar tidak rela kamu melupakan cinta ini, jika urusannya dengan Nino, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantunya. Tapi tidak bisa secepat pria
itu. Tolong bertahanlah bersamaku, kita berjuang bersama!”
Aisyah menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, “Tidak
gus, aku memang mencintaiku, tapi mungkin Allah bukan menakdirkan kita untuk
bersama, jadi berhentilah di sini saja, sudah cukup!”
Aisyah pun benar-benar berlalu, tapi gus fahmi kembali menahannya.
“Tunggu, Sya!” Aisyah sudah membelakangi gus Fahmi dengan jarak satu meter di depannya.
“Sya, dengarkan aku, mulai saat ini aku harus berusaha mengikhlaskan mu, besok aku tidak bisa menarik tanganmu untuk menahan mu tetap bersamaku, jika memang saat ini yang terakhir, berjanjilah padaku setelah ini kau akan bahagia dengan pilihanmu!”
Aisyah hanya bisa berusaha keras menahan tubuhnya agar tidak terlalu keras menangis.
“Dan aku akan benar-benar melepas mu!”
Kali ini air mata Aisyah semakin deras saja, begitu sakit mendengarkan kata itu. Entah
begitu sakit walaupun ia juga menginginkan gus Fahmi bisa melepaskannya.
“Terimakasih karena telah mengisi kekosongan hari-hariku, terimakasih karena namamu telah
membuat hatiku bergetar setiap kali menyebutnya, Aisyah! pergilah …, aku tidak
akan menahannya lagi, insyaallah aku akan berusaha untuk ikhlas!”
“Terimakasih, insyaallah Aisyah akan bahagia!
Assalamualaikum, gus!” berat rasanya kaki itu meninggalkan gus fahmi. Ia meninggalkan
tempat itu dengan kaki yang terasa begitu berat. Gus fahmi tetap di tempatnya
dengan air mata yang menitik di sudut matanya.
Tahukah kamu bagiamana perasaanku
saat ini, gus Fahmi? Aku ingin sekali kembali berlari dan memeluk tubuhmu dan
mengatakan jika bisa bawa aku pergi dari semua masalah ini …., aku ingin hidup
bersamamu tanpa ada orang lain ….
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Siapin hatinya buat besok ya, kalau-kalau ada bawang lagi besok
Happy Reading 🥰🥰😘😘