Sebuah fenomenal bernama Cloud Eat tiba-tiba saja muncul dan melenyapkan sihir dari dunia, hal itu juga membuat Dewi Listard yang mengelola dunia tersebut ikut melemah, karena itu ia pun memutuskan untuk turun tangan mengatasinya dengan bantuan seorang laki-laki bernama Sten.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Pemuja Iblis
Aku menerobos hutan selagi menebas pohon-pohon yang menghalangiku hingga tiba di sebuah desa di belakangnya.
Tampak rumah-rumah roboh, dengan darah di sepanjang halamannya meski tidak ada mayat yang ditemukan.
Sepertinya aku telah terlambat... alasan kenapa tidak ditemukan siapapun disini karena semua penduduk telah ditumbalkan.
Jika benar dugaanku, mereka adalah dari kelompok pemuja iblis yang belakangan ini terdengar. Tujuan mereka adalah demi membangkitkan raja iblis kembali, ketika di dunia ini ada sihir raja iblis sangat sulit dihadapi jika dia muncul lagi ketika dunia seperti ini, aku tidak berpikir semua orang dapat mengatasinya.
Aku mencoba berjalan mengelilingi desa dan kutemukan seorang wanita terbaring ditanah.
"Kau baik-baik saja," dia tak sadarkan diri terlebih tangan kirinya tampak berubah keunguan seolah akan terus merambat kebagian tubuh lainnya dengan cepat.
Aku menggeretakkan gigiku lalu berkata.
"Maaf, aku akan memotong tanganmu."
Setelah itu, aku membungkus lukanya untuk menghentikan pendarahannya sebelum akhirnya menggendongnya kembali ke kantor pengamanan kota.
Ketika anak itu melihat siapa yang aku gendong, dia berlari menghampiriku.
"Mama, apa mamaku baik-baik saja?"
"Dia tidak apa-apa, aku akan membawanya ke rumah sakit, kau boleh ikut."
Frienta maupun Leonora mengangguk kecil.
Untunglah dokter yang memeriksa kesehatannya mengatakan dia baik-baik saja, jika aku tidak memotong tangannya dia mungkin tidak akan terselamatkan.
Wanita itu mulai siuman, ketika ia melihat anaknya dia langsung merangkulnya dalam tangis.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku dan anakku, aku berpikir aku tidak bisa bertemu dengan anakku lagi," perkataannya di penuhi kelegaan.
Aku hanya tersenyum kecil lalu balik bertanya.
"Apa kau ingat apa yang terjadi di desamu?"
"Yang kuingat, ada seorang wanita dan pria yang membawa pedang besar, keduanya tiba-tiba saja menyerang kami semua... aku dan anakku berhasil melarikan diri, aku memintanya untuk pergi duluan."
"Aku mengerti."
Aku mengeluarkan sekantong uang yang mana kuberikan padanya.
"Gunakan uang ini untuk tinggal di kota ini, jika kau memerlukan pekerjaan datanglah ke guild, orang bernama Alvidya akan memberikanmu pekerjaan disana."
"Terima kasih banyak."
Keduanya membungkuk kearahku saat aku meninggalkan ruangan tersebut.
Alvidya yang sedang bersandar di dinding tersenyum ke arahku.
"Padahal kau bisa mengatakannya langsung pada istrimu disini."
"Sejak kapan, aku tidak menyadarinya?" aku pura-pura terkejut.
"Berhentilah berbohong."
Alvidya merangkul lenganku.
"Aku tadinya mau ke kantormu, tanpa sengaja aku melihatmu pergi bersama mereka lalu kuputuskan mengikuti kalian dari belakang sampai kemari."
"Dasar penguntit."
"Aku bukan penguntit.."
"Penguntit."
"Aku bisa marah loh."
Aku hanya mendesah pelan.
Dalam perjalanan Alvidya menyerahkan satu kunci kepadaku.
"Ini?"
"Ada petualang yang berhasil menaklukkan dungeon, katanya dia menemukan kunci ini dibagian lantai paling akhir."
"Kunci untuk membuka gerbangnya, aku harus berterima kasih padanya."
Ketika aku bersemangat, Alvidya menggelengkan kepalanya.
"Kurasa jangan dulu, dia memang berhasil menaklukkan dungeonnya namun rekan-rekannya tidak bisa keluar bersamanya."
"Begitu."
Kunci ini disembunyikan di dungeon yang paling berbahaya, sedikit kemungkinan para petualang bisa mengambilnya dari sana.
Aku sebaiknya mulai menangani hal ini lebih serius lagi.
Alvidya melanjutkan.
"Ada satu dungeon yang sulit untuk dimasuki para petualang belakangan ini, kebanyakan dari mereka memutuskan untuk kembali tanpa ingin menantang dungeon kembali..."
"Ada kemungkinan kuncinya ada disana," atas pernyataanku Alvidya mengangguk kecil.
"Aku sebenarnya tidak ingin kau berada di tempat yang berbahaya, meski begitu aku tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahmu, sebaiknya jangan lakukan hal ceroboh... dengar."
"Aku akan berhati-hati," jawabku demikian.