Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sembilan ~
Langkah kaki Bagas terasa berat seperti terseret beban jangkar saat ia berjalan menuju dapur barak yang terletak di ujung koridor utara. Bau asap kayu bakar, sisa minyak goreng yang menghitam, serta aroma tajam rempah-rempah yang telah terserap ke dalam dinding kayu tua selama puluhan tahun menyambutnya. Di balik pintu kayu yang mulai rapuh itu, Bagas bisa mendengar denting logam yang beradu tangan ahli. Ia mengatur napasnya berkali-kali, berusaha menetralkan degup jantungnya yang seolah sedang memalu dinding dadanya dengan ritme yang tidak beraturan. Tangannya yang masih gemetar hebat akibat sisa latihan fisik brutal pagi tadi bergerak perlahan, menyentuh gagang pintu besi yang terasa dingin dan kasar di kulit telapak tangannya.
Bagas tahu, satu langkah salah saja di sini bisa membuat reputasinya sebagai tentara yang disiplin dan tak terlihat akan hancur berkeping-keping. Namun, begitu ia mendorong pintu itu hingga terbuka sedikit, napasnya seolah terhenti tepat di kerongkongan.
Di sana, di balik meja persiapan kayu yang permukaannya sudah terkikis oleh ribuan irisan pisau, Kepala Koki sedang berdiri tegak dengan punggung membelakanginya. Pria paruh baya itu adalah sosok yang paling ditakuti di seluruh barak, bukan karena pangkatnya, melainkan karena bekas luka bakar permanen di sepanjang lengan bawahnya yang menjadi bukti dedikasi sekaligus kekejamannya terhadap standar kebersihan.
"Siapa di sana?" suara berat itu menggelegar, memantul di dinding dapur yang sunyi, membuat Bagas nyaris melompat keluar dari kulitnya sendiri.
Bagas tersentak hebat, hampir saja ia tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur di depan pintu. "E-eh Komandan Koki! Saya... saya hanya..." Ia terbata-bata, lidahnya terasa kelu seperti tertelan batu. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran deras dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang tegang. Berpikirlah, Bagas! Apa alasan yang paling logis bagi seorang tentara yang tiba-tiba muncul di dapur saat jadwal istirahat siang? Jangan sampai kau terlihat mencurigakan!
"Saya berniat memasak makan siang sendiri, Komandan." lanjutnya dengan suara yang lebih stabil namun masih gemetar. "Jujur saja, saya merasa sangat rindu dengan masakan kampung halaman saya. Rasanya sudah berbulan-bulan saya tidak merasakan masakan yang benar-benar terasa seperti masakan rumah. Saya tidak bisa lagi menahan hasrat untuk meracik sesuatu yang familiar bagi lidah saya."
Bagas merutuk dalam hati. Kampung halaman? Kau bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kau punya rumah yang layak disebut tempat pulang! Ia ingin sekali memukul kepalanya sendiri ke dinding dapur. Namun, respons dari sang Kepala Koki sungguh di luar dugaan. Pria tua itu terdiam sejenak, tatapannya menyusuri Bagas dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sangat dalam dan sulit diartikan, sebelum akhirnya ia mengeluarkan tawa kecil.
"Oh, jadi begitu? Masakan rumah memang tidak ada duanya Nak. Saya pun sering merindukan dapur ibu saya di desa. Silakan, gunakan apa yang ada di sini. Dapur ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki dedikasi pada makanan. Tapi ingat, jangan berantakan, dan pastikan tidak ada satu butir pun nasi yang terbuang. Mengerti?"
"Terima kasih banyak Komandan! Saya berjanji akan menjaga kebersihan dapur ini lebih dari apapun!" ucap Bagas dengan nada yang terlalu antusias, berusaha menutupi kegugupannya yang masih tersisa.
Tanpa membuang waktu, Bagas langsung beraksi. Ia memilih menu Butter Rice dengan ayam goreng mentega. Aroma mentega yang mulai meleleh di atas wajan panas saat ia menumis bawang putih cincang dan potongan ayam benar-benar membangkitkan selera yang sudah lama terkubur di bawah rasa lelah yang ekstrem. Ia bekerja dengan sangat telaten, seolah sedang melakukan operasi medis yang membutuhkan presisi tinggi. Setiap gerakan tangannya diatur agar efisien, meminimalisir penggunaan tenaga, namun tetap menghasilkan aroma yang maksimal. Ia mengaduk nasi dengan teknik yang tepat agar mentega menyatu sempurna dengan setiap butiran beras, menciptakan kilau keemasan yang menggoda.
Namun, di tengah kesibukan itu, ia teringat misi baik hati dari sistem yang selalu memantau setiap langkahnya. Bahan sourdough tidak mungkin ada di sini batinnya gelisah. Ia pun berbisik pelan pada sistem melalui kesadarannya "Sistem, bagaimana caranya aku mendapatkan tepung dan ragi khusus untuk sourdough? Jangan bilang aku harus mencurinya dari lemari penyimpanan koki. Itu gila dan aku bisa dihukum mati jika ketahuan!"
[Tuan Rumah bisa mengambil bahan dari ruang penyimpanan Sistem kapan saja. Namun, pastikan tidak ada seorang pun yang melihat. Kerahasiaan adalah kunci dari kredibilitas Anda sebagai Tuan Rumah.]
Bagas berpura-pura mengeluh tentang peralatan masak di kamarnya yang tertinggal. Ia berlari kecil ke kamar, mengambil tas besar yang sudah ia siapkan, tas yang sebenarnya kosong, namun ia gunakan untuk menyelundupkan bahan-bahan dari sistem. Saat ia kembali ke dapur, ia membawa tas besar itu dengan tangan gemetar. Ia mencari sudut yang paling gelap di balik bayang-bayang meja dapur, lalu dengan gerakan cepat dan mata yang terus waspada, ia memindahkan bahan-bahan dari sistem ke atas meja kerja.
Proses menguleni adonan sourdough ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Adonan itu terasa sangat liat, berat, dan melawan setiap gerakan tangannya seolah-olah adonan itu punya nyawa untuk menyiksanya.
"Sistem." gerutu Bagas sambil menguleni adonan dengan tenaga penuh. Otot lengannya yang sudah lelah akibat latihan fisik pagi tadi kini mulai bergetar hebat. "Adonan ini rasanya seperti semen beton! Kau bilang ini membantu, tapi lenganku bisa patah sebelum rotinya Jadi! Apa kau memang sengaja menyiksaku dengan resep ini? Apakah ini bagian dari rencana besarmu untuk menghancurkan tubuhku secara perlahan?"
[Sabar Tuan Rumah. Ini adalah latihan fisik sekaligus peningkatan keterampilan motorik. Jika Anda berhasil menguleni adonan ini dengan sempurna hingga mencapai tahap windowpane, Anda akan mendapatkan bonus kebugaran yang signifikan. Rasakan sensasi otot yang bekerja Tuan Rumah. Jangan hanya mengeluh, nikmati proses transformasi adonan ini menjadi mahakarya.]
Bagas mengomel tanpa henti di tengah gerakannya yang ritmik. "Kebugaran? Yang ada aku malah kena encok! Aku sudah lari halang rintang sepanjang pagi, dan sekarang aku harus bergulat dengan adonan roti ini? Kau benar-benar sistem rentenir yang kejam! Kenapa penciptamu tidak memberikan fungsi automatik saja pada sistem ini, sehingga aku tidak perlu menderita seperti ini?"
Sistem tetap dingin, tidak terpengaruh oleh makian Bagas. Setelah adonan selesai diuleni, ia menutupnya dengan kain bersih dan menaruhnya di bawah meja dapur yang gelap agar suhunya terjaga dengan baik selama proses fermentasi. Sambil menunggu adonan mengembang, ia duduk di samping Kepala Koki, menyantap Butter Rice hasil karyanya dengan lahap. Ternyata, masakan yang ia buat sendiri memang terasa luar biasa. Mereka makan dengan tenang, sebuah momen langka di tengah kesibukan barak yang gila.
Beberapa menit kemudian, saat Bagas sedang duduk beristirahat karena rasa lelah yang menghujam, suara notifikasi itu muncul kembali di kepalanya.
Ting!
[Evaluasi Misi Siang: Butter Rice dan Ayam Goreng Mentega. Nilai: Memuaskan. Hadiah: 50 Poin.]
[Total Saldo Anda: 95 Poin.]
Bagas menghela napas panjang, menatap kain yang menutupi adonan di bawah meja dapur. Proses fermentasi masih panjang, dan dia tahu malam nanti akan menjadi malam yang sangat sibuk. Dengan 95 poin yang ada, ia masih jauh dari target untuk membeli obat kuat dosis penuh. Ia menatap ke arah Kepala Koki yang sedang menyeduh teh, lalu menatap adonan di bawah meja yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, mengembang sedikit demi sedikit dalam kegelapan. Bagas merasa seperti seorang pesulap yang sedang melakukan trik paling berbahaya dalam hidupnya. Setiap detik yang lewat adalah taruhan bagi nyawa poin-poinnya, dan dia tidak bisa membiarkan adonan ini gagal, tidak sekarang, tidak setelah ia mengorbankan sisa tenaga terakhir dari lengannya yang sudah nyaris mati rasa. Aku harus bisa batinnya, memantapkan hati di tengah keheningan dapur barak yang kembali menyepi.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘