Cinta Dan Misi Rahasia
Lanjutan Become An Agent.
Di sarankan membaca Become An Agent lebih dulu.
===
⚠️Tidak Update Harian⚠️
===
Misteri - Aksi - Fiksi Ilmiah - Roman
Chelsea Nathalie, seorang agen rahasia yang dengan segenap kelebihannya bisa terbang bebas seperti burung di angkasa, tanpa takut jatuh dan terluka, tanpa harus mendengar begitu banyak tuntutan gila.
Setidaknya, semua itu sampai seorang pria dengan seluruh pesonanya datang dan membuat hidup Chelsea berubah. Dirinya terjebak dalam cinta yang mengikat. Seorang Tuan Muda menggantikan sayapnya untuk terbang dan mulai membuat rantai yang tidak bisa ia lepas
Pada saat yang sama, Chelsea mulai menemukan jalan menuju masa kecilnya yang penuh rahasia. Segala teka-teki hidupnya yang selalu menjadi tanda tanya terjawab oleh sebuah fakta yang membuatnya putus asa setelah masuk ke dalam benteng teknologi milik keluarganya sendiri.
Namun, terlepas dari segala masalah dan rintangan yang dihadapinya, Chelsea tetap bisa merasakan kebahagiaan yang membuat tawa dan senyuman tak lekas hilang dari bibir indahnya.
Hanya saja, Tuhan ternyata sedang merencanakan sesuatu yang tidak pernah dia duga ... Bahkan dalam lamunan sekalipun.
Warning⚠️
•Ada banyak adegan kekerasan di beberapa Chapter!
•Harap tanggapi kisah ini dengan bijak!
•Hanya cerita fiksi dan tak bermaksud menyinggung pihak manapun!
•Dilarang menjiplak!
Note:
-Bukan novel terjemahan.
-Happy Reading-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Beautiful Day
Ziv memandangi pantulan dirinya di cermin yang ter tempel di dinding walk in closet kamar nya. Ia melangkah menuju laci yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Tangannya meraih kacamata bermerek Dolce & Gabbana dengan tipe DG2027B berwarna hitam. Ziv menyelipkan kacamata itu di kerah bajunya. Ia pergi menuju garasi mobil.
Mobil sedan Rolls-Royce Ghost EWB menjadi pilihannya untuk pergi entah kemana. Ziv masuk ke mobil setelah mengambil kunci.
Belum sempat ia menginjak gas, kaca mobil nya di ketuk dari luar, membuat Ziv mau tak mau harus menunda untuk melaju.
Ia membuka kaca hanya untuk melihat Jack yang berdiri sambil membungkuk hormat. Matanya menatap datar, namun Jack tahu bahwa ada setitik tanda tanya.
"Tuan Muda anda diminta berbicara oleh Tuan Maurice." Jack berkata sopan.
Ziv tak langsung menjawab, ia terlebih dulu melirik jam tangan yang menujukkan pukul 08:57.
"Katakan aku tak mau membahas pekerjaan untuk hari ini." Ziv berkata tanpa mau dibantah. Ia menginjak pedal gas.
Jack menghela nafas pelan. Tindakan Ziv yang semena-mena cenderung memiliki aturan sendiri sudah biasa baginya. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana menjadi sekretaris pribadi Ziv di Prancis.
\=\=\=
Chelsea sedang duduk di restoran untuk sarapan ketika sebuah mobil Rolls-Royce Ghost EWB berhenti tepat di depan tempatnya makan. Matanya melihat dengan jelas seorang pria yang keluar dari pintu kemudi.
Ziv. Pria yang selalu bisa membuatnya tak berdaya itu kini menatap kearahnya. Lalu berjalan pelan dengan penuh kesan kuasa.
Chelsea meraih gelas berisikan air putih di meja dan meneguknya. Ia diam saja saat Ziv duduk tepat di hadapannya.
"Cepat selesaikan makan mu Nathalie. Karena setelah itu kita memiliki jadwal." Ziv melirik ke arah sisa makanan yang ada di piring Chelsea.
Namun, Chelsea langsung berdiri. Ia jelas tahu bahwa Ziv tak suka menunggu.
"Kalau begitu ayo pergi."
"Kau ternyata tahu aku tak suka menunggu." dengan senyum tipis, Ziv meraih telapak tangan Chelsea lalu menggenggam nya.
Mereka keluar dari restoran itu dengan tangan yang saling bertaut. Chelsea tetap diam saat Ziv membukakan pintu mobil untuknya masuk.
Mobil melaju dengan hening. Tanpa ada percakapan ataupun obrolan. Namun, dalam hati masing-masing, mereka bergetar.
Ada rasa tergerak untuk memiliki dan saling melengkapi. Ada senyum tipis yang terpancar walau samar.
Kedua insan itu jelas bukan orang yang suka bicara. Mereka memiliki kesamaan sifat untuk saling mengerti.
Mobil mulai memasuki kawasan padat kota New York. Ternyata Ziv membawa Chelsea ke Central Park.
Taman umum di Manhattan dengan luas 3,41 km². Berbentuk lahan persegi panjang 4 km dan lebar 800 m. Destinasi yang dikunjungi hampir 25 juta orang per tahunnya.
Tak sulit bagi Ziv untuk menemukan tempat parkir. Ia turun dari mobil. Merangkul kekasih hatinya dengan lembut namun kuat.
Satu hal yang menarik perhatian Chelsea adalah, taman yang mana biasanya di kunjungi ratusan orang itu kini nampak lebih sepi dari biasanya.
Bahkan beberapa petugas keamanan dengan pakaian tempur seperti tentara khusus beberapa kali berseliweran. Diantaranya menyempatkan diri untuk sekedar membungkuk pada Ziv.
Ia menoleh pada Ziv dengan tatapan tanda tanya.
"Kau yang membuat taman ini sepi?" Chelsea bertanya penuh selidik.
"Aku bisa melakukan apapun Nathalie. Seharusnya kau tak perlu mempertanyakan itu." Ziv berkata dengan sombong.
Membuat Chelsea mendengus pelan. Ia lebih memilih untuk melihat sekitar. Dengan taman seluas ini, ia yakin membutuhkan waktu tak sebentar untuk melihat keseluruhan isi taman itu.
Seolah memahami pemikiran Chelsea, Ziv memberi tanda pada salah satu petugas berseragam biru muda yang sejak awal sudah berseliweran. Petugas yang mengenakan seragam dengan logo R di bagian punggung itu menghampiri Ziv.
Ziv terlibat pembicaraan singkat yang berkali-kali di angguki oleh petugas itu. Tak lama, beberapa orang di belakangnya membawa 2 buah sepeda dengan sebuah drone.
Chelsea mengangkat alis. Namun senyum tercetak di bibirnya ketika Ziv menggenggam tangannya lalu menuntun untuk mengendalikan drone berwarna putih itu.
Ziv memeluknya dari belakang. Dengan bibir yang sempat untuk mencium pelipisnya. Kepala mereka mendongak keatas saat drone mulai terbang.
Ternyata, di bagian depan sepeda sudah ada layar kecil yang terhubung dengan kamera drone. Chelsea bisa melihat bagaimana pemandangan Central Park secara keseluruhan. Ia kini tahu jalan mana saja yang bisa dilalui oleh sepeda dan mana yang tidak.
Mereka bersenang-senang di Central Park hari itu. Dengan senyum tipis yang tak hilang di wajah keduanya.
Dengan cinta yang saling bersemi.
Tangan yang saling menggenggam.
Juga mata yang sarat akan pengertian.
Mereka berbicara lewat hati.
Bertanya lewat tatapan.
Menyalurkan kebahagiaan yang tak tertuliskan, dengan saling menatap dalam diam.
Saling memiliki tanpa harus kehilangan.
Meresapi rasa yang datang.
Yang tanpa undangan namun tetap berkesan.
Bahagia bersama dalam suka untuk menangkal duka.
Namun ada pertanyaan yang belum terjawab.
Kebingungan akan kebahagiaan yang benarkah takkan berubah?
Tanda tanya yang mempertanyakan apa ini saatnya mereka bahagia?
Atau justru semuanya adalah sementara.
Hanya sebuah jeda yang tiba sebelum badai datang sebagai bencana.
Entahlah.
Ziv dan Chelsea memiliki satu pemikiran.
Yaitu, bahwa hari ini adalah hari yang indah.
Teramat indah sampai mereka ingin menghentikan waktu walau hanya dalam angan dan lamunan.
favorit
👍❤