Diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang terbelenggu kebodohan cinta hingga hamil.
Namaku adalah Mia, seorang gadis yang beranjak dewasa merasa naluri ku berontak melihat yang terjadi di depan mata.Walau sebenarnya aku pun dari keluarga yang tak sempurna.
Sedangkan Kak Dinda adalah korban dari seorang lelaki yang memanfaatkan keluguan dan tubuhnya hanya untuk kesenangan sesaat.
Berbagai macam prahara ku hadapi bersama Kak Dinda untuk mencapai kebahagiaan semu.
Mampukah Aku dan Kak Dinda menghadapi hidup yang penuh lika liku ini.
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa like dan komen serta vote. Agar menulisnya lebih semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dice Mariyetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Brandon menghindariku. Karena setiap kami bertemu dia seakan menjauh.
Makanya saat break aku menemuinya di kelas. Ia langsung berdiri dan mau melangkahkan kaki ketika mengetahui aku datang menghampirinya.
"Ada apa sih? Kenapa menghindar.Katakan terus terang ada apa gerangan yang merasukimu. Ayo ngomong sekarang juga selagi kesabaranku masih ada. Kalau nggak, jangan harap aku mau bicara denganmu lagi sampai kapanpun"
Sekuat tenaga tanganku menahan tubuh cowok tinggi besar itu untuk tidak pergi.
"Aku akan jelaskan tapi bukan di sini"
Brandon mengajakku kesebuah taman yang cukup sepi.
"Kemarin Papa datang. Dia mengambil beberapa dokumen penting lalu pergi"
"Kamu cerita tentang Kak Dinda? "
" Maka daripada itu aku jadi bingung. Sebab Papa nggak kenal dengan Kak Dinda "
" Apa? "Pengakuan Boy Dillan membuatku syok hingga kakiku mundur dua langkah ke belakang.
" Tenang,Mi"
Brandon mengajakku duduk agar bisa berfikir jernih.
"Bagaimana aku bisa tenang. Boy Dillan tidak mengakui perbuatannya dengan Kak Dinda. Bukankah Kak Dinda sudah melihat foto Boy Dillan dan memgakuinya bahwa itu benar ayahnya si Upik"
" Itu belum cukup sebagai barang bukti. Bisa saja kebetulan wajah yang mirip. Di dunia ini banyak orang yang berwajah mirip walau mereka bukan saudara. Dan lagi ku harap Kak Dinda tidak mengada-ngada"
"Tak mungkin. Aku tak percaya dengan semua permainan bejat ini"
"Selama ini kita hanya mendengar pengakuan sepihak dari Kak Dinda "
" Jadi kamu mengira apa yang dikatakan Kak Dinda bohong"
"Buktinya? Dari namanya saja Papamu tak kenal. Apa Kak Dinda punya nama yang lain"
"Jangan ngaco. Orang polos dan lugu seperti Kak Dinda tak mungkin bohong"
"Penampilan kadang menipu"
"Apa mungkin Boy Dillan mengalami amnesia atau terserang alzheimer"
"Nggak mungkin. Papaku datang dalam keadaan segar bugar "
" Satu - satunya cara adalah mempertemukan mereka. Lalu lihat siapa pembohong "
" Rencana yang bagus tapi sayang saat ini Papa lagi di luar kota "
" Dengar Brandon.,Aku mengerti kalau kamu lebih membela Boy Dillan daripada Kak Dinda "
" Aku tak membela siapapun, aku berusaha untuk menegakkan keadilan"
"Begitu juga aku, aku yakin yang dikatakan Kak Dinda adalah benar. Aku tetap dalam pendirianku. Jika kamu lebih memilih percaya dengan Boy Dillan berarti kita berbeda haluan. Selamat tinggal Brandon, hubungan kita sampai di sini"
"Dari awal aku sudah tahu kamu akan mengambil keputusan secepat ini,"Brandon berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
Aku juga sudah menyadarinya, hubungan kita tak akan berhasil sebab kamu adalah anak dari orang yang selama ini aku benci karena sudah menelantarkan Kak Dinda.
*****
"Hai Mia"
Sengaja sepulang dari kampus aku kerumah Yani dengan mengabarinya terlebih dahulu. Beruntung Yani sudah ada di rumah. Aku ingin mengeluarkan semua masalah yang menimpaku padanya. Terasa menyesakkan jika ku pendam sendiri.
"Aku baru putus dengan Brandon"
Kataku sambil menutup wajahku dengan telapak tangan. Air mata tak terbendung meleleh dipipi. Padahal sudah kucoba untuk menahannya agar tak tumpah.
"What??!! Yang bener masih seumur jagung udah break aja"
Yani mengambil tisu dan memberikannya padaku.
" Masalahnya pasti parah banget sampai bisa putus"
" Brandon memilih lebih percaya Boy Dillan dan masalah dengan Kak Dinda baginya hanya omong kosong "
" Kesimpulannya Boy Dillan tidak mengakui perbuatannya terhadap Kak Dinda "
Aku mengangguk membenarkan ucapan Yani.
Bersyukur memiliki teman pintar seperti Yani yang dengan mudah menarik kesimpulan dan tak perlu kujelaskan secara detail.
"Sudahlah tak usah bersedih. Sekarang bagaimana dengan Kak Dinda dan Upik. Nasib mereka semakin terkatung katung deh"
"Aku akan berusaha tetap mencari Boy Dillan walau harus keluar kota dan ingin membuktikan kebenaran yang sesungguhnya "
" Tak mesti secepat itu juga kali, Mi"
" Menunggu sampai kapan lagi. Aku tak mau Boy Dillan semakin lupa daratan dan kabur dari tanggung jawab. Aku akan cari tahu keberadaannya dimanapun itu akan kukejar "
" Siapa yang akan memberi tahu alamat Boy Dillan pada kita? "
Aku mengangkat kedua bahu. Belum ada jawaban atas pertanyaan Yani.
Sejenak aku menyeka hidungku yang mengeluarkan cairan karena menangis. Kulihat sebuah mobil yang Kuingat pemiliknya adalah Roy masuk ke perkarangan rumah Yani.
" Roy? Mau apa dia ke sini? Sebaiknya aku pulang "
" Eeee.. Mau kemana? "kata Yani menarik lenganku. Terpaksa aku kembali duduk.
" Miaaa apa kabar? "Sapa Roy.
" Kabarnya lagi kacau balau, "potong Yani.
" Pantas matanya merah, pasti habis nangis "
" Putus sama pacarnya yang baru. Udah jangan tanya lagi nanti tambah sedih"
"Benarkah? "Roy menatap serius pada mataku.
" Ayo mana buku yang aku pesan tadi?"
Yani mengambil bungkusan hitam yang ditenteng Roy dan memeriksanya.
"Yes makasih sayang, "kata Yani membelai lembut tangan Roy setelah mendapatkan pesanannya yang sesuai.
Roy tak menggubris Yani.
" Aduh kasihan matanya jadi bengkak"
Melihat perhatian Roy begitu besar padaku membuat Yani tak enak hati. Mewakiliku, Yani menceritakan penyebab aku memutuskan Brandon.
"Menurutku keputusanmu adalah keputusan yang terbaik. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tak lagi sejalan. Beda denganku yang selalu ada untukmu "
Bagai mendengar petir di siang hari. Yani menjatuhkan benda yang dipegangnya.
Mataku dan Roy serentak melihat ke arah bunyi yang diciptakan oleh Yani di lantai.
" Benarkan, Yani. Kita akan selalu ada untuk Mia. Disaat sedih maupun senang"
"Ehhh iya. Jadi lupakan masalah dengan Brandon. Kalau memang ingin menyelamatkan Kak Dinda tak perlu ada Brandon. Ya kan sayang, "kata Yani bergayut manja pada Roy.
" Trus bagaimana langkah selanjutnya?"
"Aku akan mencari keberadaan Boy Dillan. Setelah itu aku akan mempertemukan Kak Dinda dengannya. Sehingga tak ada yang membuat Boy Dillan mengelak "
"Bukankah pria itu sedang di luar kota. Akan sulit bagi kita untuk mengejarnya ke tempat asing "
"Entahlah. Tak ada salahnya kita coba telusuri,"kataku datar.
Kepalaku semakin pusing.
"Okey. Aku siap bantu apapun yang dibutuhkan, "kata Roy.
" Benar itu. Tetap semangat dan lupakan orang yang akan menghalangi, "tambah Yani.
" Udah sore, aku pulang dulu nanti orang di rumah pada cemas. Bye "
Sayup kudengar suara Yani memanggilku yang telah melangkah jauh darinya.
Ternyata Yani juga kurang bisa dipercaya, buktinya Dia semakin mesra dengan Roy. Tetap saja aku menjadi pecundang diantara mereka.
Kakiku terhenti melihat kendaraan yang biasa dipakai Brandon terparkir depan rumahku.
"Brandon, "tangisanku pecah dalam pelukannya.
Papa dan Anthony terpaku melihat adeganku yang langsung memeluk Brandon setibanya di rumah.
Mereka pun berlalu untuk memberikan ruang bagi kami yang sedang terombang ambang ditengah lautan.
Brandon memeluk ku tubuhku dengan erat seakan tak ingin melepaskan walau hanya sedetik.
Bersambung...