Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 — Sekarang Kamu ke Sini Minta Maaf
Bu Marni menekan tombol panggil sebelum Karina sempat mencegahnya.
Nada sambung terdengar tiga kali.
Di Vila Kusuma, Arya sedang memeriksa susunan portofolio ketika ponselnya bergetar. Nomor itu tidak tersimpan, tetapi kode wilayah dan empat angka terakhir terasa familier.
Ia mengangkatnya. "Halo?"
"Arya Wibowo!"
Suara Bu Marni meledak dari pengeras suara. Arya menjauhkan ponsel sedikit dari telinga.
Anindya, yang sedang membaca dokumen di sofa seberang, mengangkat kepala. Arya memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.
"Selamat sore, Bu Marni," katanya datar.
"Kamu masih ingat saya rupanya. Sekarang datang ke Griya Asri dan minta maaf kepada Karina!"
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Kamu menceraikan istrimu, menikahi sahabatnya, lalu membiarkan dia yang sedang hamil menjemput orang tuanya sendirian di tengah hujan. Dia sampai jatuh dan kakinya bengkak!"
Arya menutup laptop. "Pertama, Karina yang mengajukan perceraian dan saya menyetujuinya. Kedua, saya menikah setelah perceraian sah. Ketiga, saya tidak tahu jadwal kedatangan Ibu."
"Dia sudah menghubungimu berkali-kali!"
"Setelah kami tidak lagi memiliki hubungan, saya berhak memblokir gangguan."
Bu Marni tercekat. Selama bertahun-tahun, Arya selalu menjawab dengan sopan, bahkan ketika dimarahi. Hari ini nada suaranya tetap sopan, tetapi tidak ada ruang untuk diinjak.
"Gangguan? Kami ini orang tuamu juga!"
"Orang tua saya Pak Warno dan Bu Lastri. Saya menghormati Ibu selama menjadi mertua saya. Hubungan itu sudah berakhir bersama perceraian."
Karina mendengar setiap kata dari sofa. Wajahnya memucat.
Bu Marni menaikkan volume pengeras suara. "Jangan kurang ajar. Datang malam ini. Bawa obat untuk kaki Karina dan uang dua ratus juta untuk operasi Bapak."
"Tidak."
Satu kata itu jatuh begitu bersih.
"Apa katamu?"
"Saya tidak akan datang. Saya juga tidak akan membayar biaya operasi Pak Suryanto."
"Kamu tega membiarkan orang tua mati?"
Arya menarik napas. "Saya berharap operasi beliau berjalan lancar. Tetapi beliau memiliki istri dan anak dewasa yang baru menerima satu miliar rupiah. Biaya itu bukan tanggung jawab mantan menantu."
Bu Marni menoleh tajam kepada Karina. "Kamu cerita soal uang juga?"
"Dia sudah tahu dari awal," bisik Karina.
"Uang itu kompensasi untuk Karina!"
"Benar. Karena itu, Karina bebas memakainya untuk ayahnya."
"Dia sedang hamil anakmu! Uang itu harus dipakai untuk bayi."
Arya melihat Anindya berdiri dan mendekat. Perempuan itu tidak merebut telepon. Ia hanya meletakkan segelas air di sampingnya, lalu berdiri dalam jangkauan tangan.
"Tentang kehamilan," kata Arya, "saya sudah menjelaskan aturannya. Setelah anak lahir, lakukan tes DNA di lembaga medis resmi. Jika terbukti anak saya, saya memenuhi semua tanggung jawab terhadap anak. Itu tidak berarti rujuk dan tidak ada hubungannya dengan biaya operasi orang dewasa lain."
"Kamu menuduh Karina selingkuh?"
"Saya meminta kepastian sebelum menerima tanggung jawab seumur hidup. Kalau Karina yakin, tidak ada alasan takut."
Karina meraih ponsel dari tangan ibunya. "Mas, aku tadi jatuh. Kakiku sakit sekali."
"Pergi ke klinik."
"Aku butuh Mas di sini."
"Kamu butuh tenaga medis, bukan mantan suami."
"Dulu Mas selalu merawatku kalau sakit."
"Dulu kamu istriku."
Kalimat itu lebih tajam daripada bentakan. Karina menutup mulut, tetapi isaknya tetap terdengar.
Arya melanjutkan, "Jangan memakai luka, orang tua, atau kehamilan untuk menghapus keputusanmu sendiri. Hubungan kita selesai."
Pak Suryanto mengambil ponsel. "Arya, ini Bapak."
Nada Arya tetap tenang. "Saya dengar, Pak."
"Kamu datang sekarang. Kita bicara laki-laki dengan laki-laki. Bapak tidak menerima keputusan sepihak seperti ini."
"Perceraian diproses di Pengadilan Agama, Pak. Karina mengajukan, saya menyetujui, putusan telah berkekuatan, dan akta cerai sudah terbit. Bukan keputusan sepihak saya."
"Bapak tidak peduli kertas pengadilan! Karina mengandung keturunanmu. Kamu wajib kembali."
"Saya tidak akan rujuk."
"Kalau begitu, setidaknya bayar operasi Bapak sebagai bukti kamu masih tahu balas budi."
Arya memandang layar laptop yang menampilkan bertahun-tahun pekerjaan tak diakui. Ia teringat bagaimana sebagian gajinya selalu habis untuk keluarga Karina, sementara utang pernikahannya sendiri dibiarkan menumpuk.
"Selama menjadi menantu, saya sudah membantu semampu saya," katanya. "Bantuan sukarela bukan utang seumur hidup."
"Bapak pernah menerimamu ketika kamu bukan siapa-siapa!"
"Bapak menerima saya sebagai suami Karina, lalu berkali-kali mengingatkan bahwa saya miskin. Jangan mengubah penghinaan menjadi jasa setelah saya pergi."
Pak Suryanto kehilangan kata-kata.
Bu Marni kembali berteriak dari belakang, "Perempuan kaya itu yang mengajarimu melawan kami, ya? Suruh Anindya bicara!"
Anindya mengulurkan tangan. Arya mengira ia ingin mengambil ponsel, tetapi perempuan itu justru menggenggam tangannya.
"Istri saya tidak perlu ikut menerima bentakan Ibu," kata Arya. "Keputusan ini milik saya."
"Istri? Kamu berani menyebut dia istri di depan kami?"
"Karena dia memang istri sah saya."
"Kamu keterlaluan!"
"Saya hanya berhenti menuruti tuntutan yang bukan tanggung jawab saya."
Arya meminum seteguk air. Suaranya tidak naik sedikit pun.
"Kalau ada urusan resmi mengenai anak setelah lahir, kirim melalui kuasa hukum. Selain itu, jangan hubungi nomor ini lagi."
"Tunggu!" seru Pak Suryanto. "Kalau kamu tidak mau mendengar kami, Bapak akan bicara dengan ayahmu. Pak Warno pasti tahu cara mendidik anak!"
"Silakan."
Arya memutus sambungan.
Tangannya masih berada dalam genggaman Anindya. Baru setelah ruangan kembali sunyi, ia menyadari telapak tangannya berkeringat.
"Aku tadi terlalu keras?" tanyanya.
"Tidak. Mas Arya menjawab semua hal yang memang perlu dijawab."
"Pak Suryanto benar-benar sakit."
"Rasa iba tidak sama dengan kewajiban. Kalau Mas ingin membantu karena kemauan sendiri, aku tidak akan melarang. Tapi jangan membayar karena mereka mengancam memakai bayi."
Arya mengangguk. "Aku tidak akan membayar. Karina punya lebih dari cukup."
Anindya menatap susunan proyek di laptop. "Dulu kamu selalu memenuhi permintaan mereka?"
"Sebisa mungkin. Biaya obat, tiket, perbaikan rumah, kadang cicilan saudara. Kalau menolak, aku dibilang tidak tahu balas budi."
"Lalu siapa yang bertanya apakah kamu mampu?"
Arya tersenyum hambar. "Tidak ada."
Anindya menggenggam tangannya sedikit lebih kuat. "Mulai sekarang ada."
Empat kata itu meredakan sisa gemetar yang bahkan tidak diakui Arya. Ia membalik telapak tangannya dan membalas genggaman Anindya.
"Terima kasih."
"Sama-sama. Tapi ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Besok kalau nomor asing menelepon, nyalakan pengeras suara sejak awal. Aku tidak mau ketinggalan saat suamiku galak."
Arya tertawa. Ketegangan yang dibawa suara keluarga Karina menguap sedikit demi sedikit.
Di Griya Asri, tiga orang menatap layar ponsel yang gelap dengan wajah tak percaya.
Bu Marni mencoba menelepon lagi. Panggilannya tidak masuk.
"Dia memblokir nomor ini juga," katanya.
Pak Suryanto meminta nomor Pak Warno dari kontak lama. "Tidak apa-apa. Ayahnya masih kenal adat. Dia pasti malu kalau tahu anaknya meninggalkan perempuan hamil."
Karina tidak seoptimistis itu. Ia pernah mendengar suara Pak Warno saat menelepon Arya setelah perceraian. Untuk pertama kalinya, keluarga sederhana itu tidak meminta putranya mengalah.
Karina mengenal satu-satunya nomor yang mungkin masih mampu menembus Arya.
Namun, mereka belum tahu bahwa Pak Warno tidak lagi menjadi ayah yang akan memaksa putranya berlutut demi keluarga orang lain.