"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Pernyataan yang meluncur dari bibir Snow di aula makan seolah menjadi ikatan takdir baru yang membelit dua jiwa yang sebelumnya hancur berkeping-keping. Udara di dalam Istana Blackwood terasa sedikit lebih ringan, meski sisa-sisa duka dan ketegangan masih berhembus pelan di balik dinding-dinding batu ukir.
Setelah menyelesaikan santapan pagi yang hening namun sarat makna, Snow melangkah keluar aula menuju kamar perawatan bayi.
Di sana, Eva sudah menunggu dengan raut wajah penuh penyesalan dan ketakutan atas kesalahpahaman semalam. Tanpa sepatah kata pun yang menyudutkan, Snow menyerahkan Ocean yang lelap berada dalam pelukan hangat selimut rajutnya ke tangan Eva.
"Tolong jaga Ocean sebentar, Eva," ucap Snow lembut, mengusap pipi gembul putranya sebelum menegakkan tubuh.
"B-baik, Nona Snow... Saya akan menjaga Pangeran Ocean," balas Eva seraya menunduk dalam-dalam.
Belum sempat Snow membalikkan badan sepenuhnya, sepasang lengan tegap berkulit hangat mendadak melingkar dari arah belakang, menyergap pinggangnya dengan posesif namun teramat lembut. Aroma maskulin berpadu cedarwood dan kehangatan khas tubuh Arthur menyerbu indera penciumannya.
"Arthur... apa yang kau—"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Snow untuk merangkai protes, Arthur menarik pelan jemari lentik wanita itu, membimbingnya melangkah cepat menyusuri koridor khusus Sayap Timur.
Pria tegap itu membawa Snow menuju satu-satunya area terlarang bagi siapapun di istana ini: kamar pribadinya.
Klek.
Pintu kayu mahoni tebal bertatahkan segel emas itu tertutup rapat, disusul bunyi kunci yang diputar dari dalam. Begitu kait selot terkunci sempurna, seolah-olah seluruh dunia luar—beserta sejarah berdarah, politik takhta, dan riuh intrik kerajaan—lenyap tak berbekas.
Yang tersisa di dalam ruangan bernuansa abu-abu dan perak yang luas itu hanyalah dua insan yang saling terikat oleh benang merah penderitaan dan cinta.
Arthur tak membuang waktu. Pria itu membalikkan tubuh Snow secara perlahan, mendorongnya lembut hingga punggung wanita itu menyentuh permukaan pintu kayu yang dingin. Arthur mengurung Snow di antara kedua belah lengannya, menatap wanita di hadapannya dengan sepasang mata kelam yang bertabur derai emosi yang meluap-luap.
Napas Arthur memburu, hangat dan tidak teratur sewaktu jarak di antara wajah mereka terkikis hingga tak lebih dari sehelai benang.
"Ulangi kata-katamu yang di aula makan tadi, Honey..." bisik Arthur dengan suara parau yang bergetar hebat. Matanya bergerak liar, memindai setiap senti paras pucat nan cantik di depannya—mulai dari kening yang halus, jelaga mata bening yang menatapnya tenang, hingga bibir merah muda yang menjadi sumber dahaganya selama bertahun-tahun. "Katakan lagi... katakan bahwa kau tidak bercanda sewaktu menyebut cintamu lebih besar dari rasa bencimu."
Snow menatap lurus ke dalam sepasang manik pria tegap yang sedang mengurungnya.
Senyuman tipis—begitu tipis hingga nyaris menyerupai guratan keharuan yang terselubung—terukir di bibirnya. Jemari lentik Snow yang dingin terangkat perlahan, menyentuh rahang tegas Arthur yang ditumbuhi serabut halus, merasakan denyut nadi pria itu yang bertabuh kencang di bawah kulitnya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Pangeran Arthur," balas Snow dengan nada suara mendayu, melankolis namun menghujam tepat ke ulu hati. "Cintaku memang lebih besar... begitu besar hingga rasa benci itu tidak lagi memiliki ruang untuk membakarku dari dalam. Tapi ingatlah... hukumanmu baru saja dimulai."
Airmata Arthur akhirnya kembali menetas, meluncur membasahi pipinya yang tegas. Pria militer yang tak pernah gentar di hadapan benturan pedang dan desing peluru itu kini menangis tanpa suara, tergugah oleh kemurahan hati wanita yang telah ia lukai sedemikian dalam.
"Hukumlah aku, Snow... siksa aku dengan seluruh keberadaanmu," ratap Arthur lirih. Pria itu menyandarkan dahinya pada dahi Snow, berbagi napas yang membakar. "Hukumlah aku untuk mencintaimu di setiap helaan napasku. Siksa aku untuk berlutut di bawah kakimu setiap kali aku memandang wajahmu dan Ocean. Aku bersumpah demi langit dan bumi Blackwood... sisa hidupku sepenuhnya milikmu. Nyawaku, takhtaku, jiwaku... tak ada satu pun yang tidak kupersembahkan untukmu."
"Apakah kau berjanji, Arthur?" bisik Snow, matanya berkaca-kaca sewaktu rasa hangat dari dahi Arthur merambat mengikis dingin di jiwanya. "Berjanji bahwa takkan ada lagi rahasia, takkan ada lagi wanita lain, dan takkan ada lagi luka yang kau goreskan di atas kenangan ibuku?"
"Aku berjanji, demi Tuhan... demi bernafasnya Ocean di dunia ini," jawab Arthur tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Pria itu mengikis sisa jarak yang ada, menyatukan bibirnya dengan bibir Snow dalam sebuah kecupan yang teramat dalam, lembut, dan sarat akan dahaga kerinduan yang telah bertahun-tahun terkunci.
Ciuman itu tidak lagi diwarnai oleh kebiasaan kasar atau pergerakan liar yang menuntut seperti semalam. Kali ini, kecupan Arthur mengalir bagaikan usapan penyesalan yang membatu, menyapu setiap inci kelembutan bibir Snow dengan pengabdian murni.
Snow memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan jemarinya merayap naik, melingkari leher tegap Arthur dan meremas rambut legam pria itu saat ia membalas ciuman sang pangeran dengan kehangatan yang tak lagi tertahan.
Arthur mengerang pelan di balik ciuman mereka sewaktu merasakan balasan dari Snow. Lengan tegapnya merengkuh pinggang wanita itu dengan protektif, mengangkat tubuh mulus Snow secara perlahan tanpa memutus tautan bibir mereka.
Langkah kaki Arthur membawa Snow melintasi ruang tidur yang luas menuju ranjang berukuran king-size berseprai sutra kelabu.
Dengan kelembutan yang teramat sangat, Arthur merebahkan Snow di atas peraduan empuk tersebut. Pria itu ikut menyusul, menindih anggun tubuh cantik wanita itu dengan menjaga agar bobot tubuh tegapnya tidak sepenuhnya menekan Snow.
Bibir mereka baru terlepas sewaktu pasokan udara di paru-paru kian menipis. Arthur menatap Snow dari atas, tatapannya membara oleh perpaduan gairah murni dan pengagungan abadi.
Jemari besarnya bergerak perlahan, menyingkap kerah gaun Snow yang sedikit berantakan, mengusap bekas-bekas kemerahan yang ia tinggalkan semalam dengan kecupan-kecupan kecil yang beralih menjadi bisikan penyesalan sekaligus janji cinta.
"Aku akan membawamu ke altar, Snow... bukan sebagai selir, bukan sebagai rahasia," bisik Arthur serak di leher Snow, membuat wanita itu meremang hebat. "Aku akan membawamu berdiri di sampingku sebagai satu-satunya Ratu di Istana Blackwood ini. Seluruh dunia akan tahu bahwa kau adalah pemilik sah dari jantungku yang masih berdetak."
Snow menghembuskan napas halus yang terengah, matanya memandang langit-langit kamar pribadi Arthur yang berukir indah sebelum kembali menatap mata pria yang menindihnya.
"Aku tidak butuh mahkota atau gelar Ratu itu, Arthur," bisik Snow, suaranya terdengar begitu syahdu dan menggetarkan. "Aku hanya butuh hatimu yang utuh... hati yang tidak akan pernah berpaling lagi."
"Hatiku sudah menjadi milikmu sejak malam pertama kita di rumah hutan bertahun-tahun lalu, Honey" balas Arthur penuh penekanan. Pria itu merendahkan wajahnya kembali, menyerang bibir Snow dengan kecupan-kecupan panas yang kian menuntut kehangatan. "Bahkan ketika aku terjebak dalam pernikahan penuh kebohongan bersama Savea... jiwaku selalu mengenali aromamu, kehangatanmu, dan denting suaramu."
Jemari tegap Arthur merayap turun, membelai garis pinggang Snow, menarik gaun yang dikenakan wanita itu perlahan demi perlahan.
Snow tidak lagi menolak. Kali ini, ia menyambut jamahan pria itu dengan pasrah yang indah—sebuah kepasrahan dari jiwa yang telah memilih untuk memaafkan tanpa harus melupakan.