Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kesedihan & Lelah Dimatanya
Misi yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan untuk pertama kalinya, Dhana memiliki akses langsung ke jantung kekuasaan Black Gold. Ia hanya perlu memastikan bahwa tidak seorang pun menyadari… bahwa tangan yang selama ini membantu Reval mempertahankan kekuasaannya... adalah tangan yang perlahan sedang membongkar seluruh kerajaan itu dari dalam.
Namun, sebelum Reval kembali melangkahkan kakinya. Seorang anak buah Reval datang tergesa-gesa. "Tuan."
Reval menoleh dan bertanya, “Ada apa?”
"Ada kabar dari mansion." Nada suara pria itu membuat Reval mengerutkan kening.
"Apa?"
"Nyonya Jenara jatuh saat berada di taman."
Reval terdiam, raut wajah Dhana terkejut bukan main. Rupanya firasat buruk itu tertuju pada Jenara dan calon bayinya. Seketika raut wajahnya berubah cemas dan khawatir, jauh berbeda dengan Reval yang tetap tenang seolah itu bukan masalah besar.
Hingga akhirnya Adrian yang masih berada di sana ikut bicara, "Seberapa parah?"
Anak buah itu menelan ludah. "Dokter mengatakan kondisi tubuhnya sangat lemah. Berat badannya turun drastis. Janinnya juga dalam kondisi yang mengkhawatirkan."
"Kita ke mansion." Perintah Reval.
“Aku akan ikut denganmu,” ujar Adrian.
Reval tidak menanggapi dan juga tidak melarang, mereka akhirnya segera menuju ke Mansion dimana Jenara berada. Perjalanan menuju mansion berlangsung dalam keheningan. Reval duduk di kursi belakang bersama Adrian. Sedangkan Dhana berada di kursi depan bersama anak buah Reval yang mengemudi.
Tidak ada seorang pun berbicara. Namun Dhana dapat melihat kegelisahan yang tersembunyi di wajah Reval dan Adrian. Entah karena khawatir terhadap Jenara atau karena khawatir terhadap calon pewarisnya, atau bahkan terhadap rencana mereka, Dhana tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu pertanyaan. Seberapa parah keadaan Jenara dan calon bayinya?
...****************...
Begitu mereka tiba, pintu mansion langsung terbuka. Dimana Kakek Algra sudah menunggu di ruang depan. Wajah lelaki tua itu tampak jauh lebih keras daripada biasanya. Bahkan saat melihat Reval datang bersama dengan besannya, Adrian. Ia jelas tidak peduli sama sekali.
"Reval, kau terlambat."
Reval menatapnya. "Bagaimana keadaannya?"
"Buruk." Kakek Algra berjalan mendekat. "Dokter sudah berusaha menstabilkannya, tetapi tubuh Jenara terlalu lemah. Bagaimana penjelasanmu tentang ini, Revaldo!"
Reval tidak menjawab, sementara Kakek Algra masih menatapnya tajam. "Kalau sesuatu terjadi pada cucuku atau bayinya, jangan harap aku akan diam."
Kali ini Reval hanya mengangguk singkat. Sebab ia tahu berdebat dengan kakeknya sama saja cari masalah yang lebih besar. Dan siapa sangka, masalah tentang kedatangan Vara yang menjadi penyebab kejadian itu tidak dibahas sama sekali. Semua orang menutupi kejadian itu dengan rapat dari Kakek Algra. Karena meskipun kejadian itu diungkapkan, Reval pasti akan membela kekasihnya mati-matian.
Kemudian mereka semua menuju kamar Jenara. Dhana berjalan paling belakang. Tetapi begitu pintu kamar dibuka, langkahnya terhenti. Dadanya seperti dihantam sesuatu. Jenara terbaring di atas ranjang.
Perempuan yang dulu memiliki sorot mata penuh perlawanan itu kini hampir tidak terlihat seperti dirinya sendiri. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, rambutnya terurai di atas bantal dan yang paling membuat Dhana terpukul adalah matanya.
Tidak ada lagi bara yang pernah ia lihat ketika pertama kali bertemu dengannya. Tidak ada kemarahan, tidak ada tantangan… hanya kelelahan. Jenara tampak seperti seseorang yang telah terlalu lama berjuang sampai akhirnya tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan.
Dhana menahan napas. Ia pernah melihat banyak korban perang. Orang-orang yang kehilangan rumah. Tentara yang pulang dengan luka. Keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Tetapi pemandangan di hadapannya terasa jauh lebih menyakitkan. Karena ia mengenal perempuan itu dan ia tahu sebagian dari luka tersebut tidak asing baginya.
"Bagaimana kondisinya?" Reval bertanya kepada dokter yang baru saja kembali memeriksanya.
"Untuk saat ini stabil."
"Janinnya?"
"Masih bisa bertahan." Tapi Dokter melanjutkan, "Nyonya harus banyak beristirahat. Asupan makanan dan cairan harus diperhatikan. Kondisi fisiknya sangat lemah dan saya harap Nyonya tidak banyak pikiran maupun tekanan untuk kedepannya."
Reval hanya mengangguk, karena pada akhirnya ia akan melimpahkan tugas itu kepada pelayan yang bertugas. Kakek Algra hanya melirik tajam ke arah cucunya yang jelas sekali terkesan tidak peduli, meski ada tatapan lain di matanya.
Adrian kemudian berjalan mendekati ranjang. "Jenara."
Kelopak mata perempuan itu bergerak. Perlahan ia membuka mata. Tatapannya melewati Adrian begitu saja, kemudian berhenti pada Reval. Tidak ada reaksi. Lalu matanya berpindah kepada Dhana. Dan untuk sesaat, Dhana melihat sesuatu. Bukan kemarahan, bukan kebencian melainkan kesedihan yang begitu dalam sampai membuat dada Dhana terasa sesak.
“Pergi! Aku ingin istirahat.” Jenara kemudian memejamkan mata kembali. Seolah bahkan untuk melihat mereka pun sudah terlalu melelahkan.
“Ooh, baiklah! Kalau begitu ayah tidak akan mengganggumu istirahat. Jaga bayimu baik-baik kedepannya.”
Kata Adrian yang jelas hanya mengkhawatirkan anak yang kelak akan menjadi kartu AS utamanya. Kalimat itu jelas tidak memperdulikan keadaan Jenara sama sekali. Bahkan setelah itu, Adrian langsung keluar begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Kakek Algra segera mengikutinya, karena bagaimanapun Adrian adalah tamu yang datang. Kini hanya Reval dan Dhana yang masih berada di dalam kamar itu sambil menatap Jenara dalam diam.
Dhana menundukkan kepala. Ia tiba-tiba merasa malu. Selama beberapa minggu terakhir, pikirannya hanya dipenuhi satu hal yaitu misi negaranya. Ia mengumpulkan informasi. Mencatat hubungan Reval. Membongkar jaringan Black Gold. Mencari kelemahan mereka dan mengirim laporan kepada rekan-rekannya. Ditambah dengan banyaknya mata-mata yang Reval tempatkan untuk selalu mengawasinya.
Semua itu penting, semua itu harus dilakukan. Tetapi di tengah semua kesibukan tersebut, ia melupakan satu hal sederhana. Jenara masih berada di mansion ini. Sendirian, menanggung semuanya. Dan tubuhnya sekarang membayar harga yang terlalu mahal.
Dhana mengepalkan tangan. "Maaf."
Kata itu hanya keluar di dalam hati. Ia tidak tahu apakah Jenara akan pernah memaafkannya. Mungkin tidak… dan mungkin memang tidak seharusnya. Karena apa pun alasan yang ia miliki, ia tetap menjadi bagian dari luka perempuan itu.
Namun melihat keadaan Jenara sekarang membuat Dhana sadar akan sesuatu. Misinya tidak boleh membuatnya kehilangan sisi kemanusiaannya. Ia tidak boleh terlalu sibuk menghancurkan Reval sampai lupa melindungi orang-orang yang menjadi korban kekuasaannya.
Dhana menatap Jenara sekali lagi. Kali ini tekad di matanya berbeda. Ia akan tetap menyelesaikan misinya. Akan tetapi, Ia akan tetap mengumpulkan bukti dan akan tetap menghancurkan jaringan Black Gold dari dalam.
Tetapi mulai hari ini, ada satu hal lain yang akan ia lakukan yaitu menjaga Jenara dan calon bayi mereka. Bukan karena perintah Reval dan bukan karena rasa bersalah semata. Melainkan karena Jenara adalah manusia yang selama ini diperlakukan seperti benda oleh orang-orang di sekelilingnya dan Dhana tidak ingin menjadi salah satu dari mereka lagi.
Bersambung ….