NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Teror Penyusup, Sabotase Malam Hari, dan Pertaruhan Nyawa sang Komandan

BAB 32: Teror Penyusup, Sabotase Malam Hari, dan Pertaruhan Nyawa sang Komandan

Kemenangan tim Satuan Tugas Reaksi Cepat Batalyon dalam menembus medan ekstrem Sektor Utara untuk mengevakuasi korban tanah longsor menyisakan kehangatan tersendiri di seluruh kompleks markas.

Nama Mayor Aris dan Mayang kian melambung di mata para prajurit serta ibu-ibu Persit. Namun, di dalam dunia militer, ketenangan sering kali hanyalah jeda singkat di antara badai.

Malam itu, jam dinding di ruang tengah kediaman dinas Danyon menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Suasana asrama begitu hening, diselimuti kabut tipis dan dinginnya udara malam. Di dalam kamar utama, Aris tidur terlelap seraya merengkuh Mayang di sampingnya.

Tiba-tiba, dari kejauhan tepatnya di area Gudang Amunisi dan Logistik Sektor Bbgumpalan asap hitam pekat mulai membumbung tinggi menembus celah ventilasi. Percikan api menyambar cepat tumpukan peti kayu berisi perlengkapan komunikasi dan cadangan logistik Batalyon.

Tak lama kemudian, sirine bahaya utama markas menyalak keras dengan nada melengking yang memecah kesunyian malam.

Teeet! Teeet! Teeet!

Refleks latih militer yang tertanam bertahun-tahun membuat Aris langsung meloncat dari tempat tidur dalam hitungan detik. Tanpa sedikit pun rasa ragu, sang Mayor meraih celana lapangan, mengenakan sepatu pdh, dan menyambar senjata korps dari brankas dinding.

Mayang terbangun dengan wajah pucat. Napasnya memburu keras saat menyadari suara sirine darurat yang meraung-raung di luar rumah.

"Mas Aris! Ada apa? Ada suara alarm bahaya!"

Aris memegang kedua bahu Mayang dengan penuh ketegasan, namun tatapan matanya memancarkan rasa protektif yang begitu mendalam.

"Tetap di dalam rumah, Mayang! Kunci semua pintu dari dalam, matikan lampu utama, dan jangan keluar sampai saya kembali!"

"Tapi Mas Aris..."

"Ini perintah, Istriku," bisik Aris mantap seraya menyempatkan diri mendaratkan kecupan singkat di kening Mayang. "Saya harus amankan markas."

Aris melesat keluar, mendobrak pintu depan rumah dinas. Di luar, kondisi Mako Batalyon tampak kacau namun terkendali secara taktis. Puluhan prajurit berpakaian piket berlarian membawa tabung pemadam api dan menyambungkan selang air bertekanan tinggi menuju Gudang Logistik. Kobaran api mulai membesar, membakar sebagian atap bangunan gudang.

"Lapor Danyon!" Kapten Galih berlari menghampiri Aris di tengah kepulan asap tebal, wajahnya tertutup jelaga hitam. "Gudang Logistik Sektor B terbakar hebat! Tapi ada indikasi kejahatan, Danyon! Gembok rantai gerbang belakang dipotong paksa memakai pemotong baja, dan kabel sistem kamera pengawas (CCTV) diputus secara sengaja!"

Mata Aris berkilat tajam di balik pekatnya asap. Gerahamnya merapat keras. "Ini bukan sekadar kebakaran... Ini sabotase terencana!" Aris memberi perintah dengan suara bariton menggelegar yang langsung dipatuhi seluruh perwira.

"Kunci seluruh pintu gerbang markas! Berlakukan status Lockdown penuh! Pasukan Siaga Satu, sisir perimeter luar sekarang juga! Jangan biarkan ada satu orang pun lolos!"

"Siap, Danyon!"

Di saat perhatian seluruh pasukan terpusat pada pemadaman api di Gudang Logistik Sektor B, sebuah bayangan hitam memanfaatkan kepulan asap tebal dan kebingungan massa. Penyusup tersebut rupanya merupakan bagian dari sindikat gelap perbatasan yang dendam karena operasinya digagalkan oleh Batalyon Aris.

Pria berpakaian serba hitam dan bertopeng itu menyadari satu hal, cara tercepat untuk meruntuhkan wibawa sang Komandan Batalyon bukanlah dengan merusak gudang, melainkan menyasar titik terlemah Aris istri tercintanya.

Sementara itu, di dalam rumah dinas yang gelap, Mayang berdiri membisu di tengah ruang tamu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga suaranya terdengar jelas di telinganya sendiri. Mayang memegang erat telepon genggamnya, mengingat pesan Aris untuk tetap tenang.

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki pelan tergesa-gesa terdengar di sisi luar jendela dapur. Mayang menahan napas.

PRANG!

Suara kaca jendela dapur yang dipecahkan paksa bergema mencekam di dalam rumah. Mayang menyentak kaget. Rasa dingin menyergap hingga ke ujung jarinya. Dari celah kegelapan koridor tengah, sesosok pria bertubuh tinggi besar melangkah keluar. Sebuah pisau komando yang mengilap dalam temaram cahaya malam tergenggam di tangan kanannya.

"Jangan berteriak kalau kamu masih mau bernapas, Ibu Komandan," ancam penyusup itu dengan suara parau mengerikan. Pria itu menyeringai dingin di balik topengnya. "Suamimu sudah terlalu banyak campur tangan dengan bisnis kami di perbatasan. Malam ini, istrinya yang harus membayar harganya!"

Mayang mundur perlahan hingga punggungnya menempel keras pada lemari kayu di sudut ruangan. Meskipun ketakutan luar biasa membuat lututnya gemetar, Mayang berusaha mengingat identitasnya sebagai istri seorang perwira.

Dari balik lensa kacamatanya yang mulai berembun, ia menatap lurus ke arah penyusup tersebut, mencoba memutar otak untuk mengulur waktu.

Dengan jemari yang gemetar di balik saku gaun malamnya, Mayang menekan tombol panggilan cepat pada ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari lawan.

"Siapa yang mengirimmu?" tanya Mayang dengan nada berusaha ditahan agar tidak gemetar.

"Kamu ada di tengah-tengah Markas Batalyon TNI! Ratusan prajurit bersenjata ada di luar. Kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!"

Penyusup itu tertawa sinis, melangkah maju menyudutkan Mayang. "Tentu saja aku bisa keluar setelah membuat suamimu hancur! Diam kamu!"

Pria itu mengangkat pisau komandonya tinggi-tinggi, siap Menerjang ke arah Mayang!

BRAAAK!

Pintu depan kediaman dinas didobrak dari luar hingga engsel kayunya terlepas!

Mayor Aris melesat masuk bagaikan harimau yang murka melihat wilayah dan belatan jiwanya diusik. Sorot mata Aris kilat-berkilat memancarkan aura membunuh pada tingkat teratas saat melihat mata pisau lawan hanya berjarak beberapa senti dari dada istrinya.

Tanpa banyak bicara, Aris melompati sofa di tengah ruangan, melayangkan tendangan lurus berkekuatan dahsyat tepat ke dada pria tersebut!

BUGH!

Dampak benturan itu begitu hebat hingga penyusup terpental menabrak lemari kayu dan jatuh tersungkur di atas ubin. Pisau komando di tangannya terlepas dan terlempar jauh.

Pria itu berusaha bangkit seraya mencabut pisau cadangan dari pinggangnya, namun Aris tidak memberikan ruang sedikit pun.

Dengan gerakan taktis pertarungan jarak dekat militer (hand-to-hand combat), Aris menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang patah, lalu membanting tubuh besar pria itu ke lantai!

BUUUAGH!

Aris mengunci leher penyusup itu dengan lututnya, menahannya tanpa daya di bawah tekanan fisik mutlak.

"Pegang istri saya... kamu sudah menggali kuburmu sendiri!" geram Aris dengan intonasi rendah yang begitu dingin dan mematikan, sanggup membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.

Detik berikutnya, Kapten Galih bersama enam personel Provost mendobrak masuk dengan senjata siaga penuh. Mereka seketika mengamankan dan memborgol penyusup tersebut sebelum menyeretnya keluar menuju sel tahanan markas.

Suasana ruang tengah kediaman dinas mendadak kembali hening. Asap sisa kebakaran dari luar masih tercium tipis melalui celah jendela.

Aris berdiri perlahan, napasnya memburu keras. Ia melempar pandangannya ke sudut ruangan dan mendapati Mayang terduduk lemas di lantai, menangis tanpa suara dengan tubuh yang gemetar hebat akibat kejutan trauma.

Aura membunuh dan ketegasan militer Aris seketika melunak tanpa sisa. Rasa panik dan cinta luar biasa memenuhi dadanya. Aris langsung berlutut di depan istrinya, merengkuh tubuh Mayang ke dalam pelukan paling erat dan paling hangat yang pernah ia berikan.

"Mayang... Mayang, lihat saya. Kamu aman sekarang. Mas di sini... Mas di sini," bisik Aris berulang kali dengan suara bergetar emosional. Tangan kekarnya tak berhenti mengusap punggung Mayang dan mengecupi puncak kepala istrinya yang berderai air mata.

Mayang melingkarkan kedua tangannya di leher Aris erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami yang masih beraroma asap dan peluh pertarungan.

Tangis ketegangannya tumpah sepenuhnya di sana, merasakan detak jantung Aris yang melaju cepat sebuah bukti betapa takutnya sang Komandan Batalyon kehilangan wanita tercintanya.

Malam yang penuh ketegangan, sabotase, dan pertaruhan nyawa itu akhirnya ditutup dengan terkendalinya situasi markas serta terungkapnya jaringan kejahatan perbatasan.

Namun yang terpenting, di tengah puing-puing ancaman malam itu, ikatan cinta dan komitmen perlindungan abadi antara Mayor Aris dan Mayang kian terukir kokoh dan tak tergoyahkan.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!