NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19. Respect

Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah jendela kamar kosan, membangunkan Acha yang semalaman baru bisa memejamkan mata menjelang subuh. Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, dia meraih ponsel di samping bantalnya.

Pikirannya masih melayang kepada segudang rencana hari itu, termasuk niatnya untuk segera menghubungi Teh Nia—salah satu customer minimarket yang memesan produk khusus dan harus dikabari pagi ini.

Dalam kondisi setengah sadar, jari Acha dengan cepat menekan menu panggilan dan mencari kontak, tanpa sadar bahwa dia salah melihat nama di layar.

Tuuut... tuuut...

Panggilan terhubung. Di ujung sana, ponsel Nathan yang diletakkan dekat bantal langsung berdering nyaring.

Nathan yang masih terlelap seketika terusik. Dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur, dia meraba ponselnya dan menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa peneleponnya.

"Halo..." sapa Nathan dengan suara berat dan baritonnya yang khas, terdengar sangat seksi di pagi hari.

Acha yang mendengar suara itu langsung terkesiap. Dia melirik layar ponselnya, dan jantungnya seolah copot saat melihat nama Nathan terpampang jelas di sana, bukan nama Teh Nia!

Sebelum Acha sempat meminta maaf atau mematikan sambungan karena panik, Nathan di ujung telepon tiba-tiba terkekeh pelan. Suara tawa renyah itu terdengar begitu menggoda.

"Wah... hebat banget alarm pagi aku hari ini," goda Nathan dengan nada mengejek yang sengaja dilembut-lembutkan.

"Baru juga pagi buta, udah ditelepon aja. Kangen banget ya sama aku, Cha? Bilang aja kalau mau modus pengen dengar suara aku pagi-pagi yah."

Pipi Acha langsung merona merah padam hingga menjalar ke telinganya. Rasa malu dan salah tingkah bercampur jadi satu.

"Eh! Enggak ya! Jangan GR dulu deh!" sanggah Acha cepat, suaranya naik oktaf karena panik.

"Aku tuh tadinya mau nelepon customer tahu A, tapi aku malah salah pencet tadi! Sumpah deh!"

Tawa Nathan semakin pecah mendengarkan kepanikan Acha di ujung telepon, membuat hari pagi itu terasa begitu manis bagi mereka berdua.

"Udah ya, nggak usah ngeles! Alasan aja salah pencet, padahal emang kangen kan?" ledek Nathan makin menjadi-jadi di ujung telepon, suaranya dihiasi tawa renyah yang terdengar menyebalkan sekaligus manis di telinga Acha.

"Ih, nyebelin banget tahu! Udah ah, mau mandi!" seru Acha dengan wajah merah padam, lalu tanpa pikir panjang dia langsung menekan tombol merah untuk mematikan panggilan secara sepihak.

Acha mengembuskan napasnya panjang sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Dia menggelengkan kepala, merutuki kecerobohannya sendiri karena bisa-bisanya salah memencet kontak di pagi hari.

Tanpa membuang waktu lagi, dia segera beranjak dari tempat tidur dan menyambar handuk untuk bersiap mandi.

Tak lama kemudian, Acha dan Vika sudah siap dengan seragam minimarket mereka dan bersiap untuk berangkat bersama menaiki motor.

Di sepanjang perjalanan menuju tempat kerja, Acha sebenarnya berniat menutup rapat-rapat insiden telepon pagi tadi agar tidak menjadi bahan ledekan.

Namun, karena tidak tahan menahan rasa gemasnya sendiri, akhirnya dia keceplosan menceritakan kekonyolan tersebut kepada Vika saat mereka berhenti di lampu merah.

Mendengar cerita itu, Vika langsung terbahak-bahak di atas motor sampai-sampai hampir kehilangan keseimbangan.

"Hahaha! Sumpah, Cha? Demi apa kamu salah nelepon ke A Nathan?" tawa Vika menggelegar di balik helmnya.

"Alasan klasik banget salah pencet! Pasti habis semalaman dibayangin muka dia kan, makanya nama A Nathan yang malah kepencet duluan?"

Acha cemberut di jok belakang, merasa sangat kesal sekaligus malu. "Makanya jangan kenceng-kenceng ketawanya! Sumpah nyesel banget aku cerita ke kamu, Vika. Pasti habis ini kamu bakalan ledekin aku terus seharian!"

"Dih, emang iya bakal aku ledekin terus! Lucu banget sih modus pagi-pagi ala Acha, bisa kita tiru yah temen-temen" balas Vika sambil terus terkekeh geli, membuat Acha hanya bisa pasrah sambil merona merah sepanjang jalan menuju minimarket.

"Apaan sih, tambah gak jelas aja deh ah" Ucap Acha.

Setibanya di minimarket, suasana pagi itu langsung menyibukkan Acha dan Vika. Setelah merapikan beberapa rak display dan menyalakan komputer kasir,

Acha teringat pada pesanan penting yang sempat hampir dia lewatkan gara-gara insiden salah panggil tadi pagi.

"Wah, hampir aja aku lupa!" gumam Acha sambil menepuk jidatnya pelan.

"Lupa apa lagi, Cha? Jangan bilang lupa cara kerja deh?" ledek Vika yang kebetulan sedang melintas membawa lap pembersih kaca.

"Bukan itu, Vika! Ini lho, pesanan paket snack ulang tahun dari Teh Nia yang kemarin," jawab Acha sambil bergegas menuju gudang belakang tempat penyimpanan kardus dan aneka makanan ringan.

Acha langsung mengambil meja lipat kecil dan menyusun berbagai macam camilan di atasnya—mulai dari biskuit, wafer cokelat, susu kotak, hingga permen warna-warni kesukaan anak-anak.

Dengan teliti dan cekatan, dia menghitung satu per satu isi setiap kantong plastik transparan agar jumlahnya pas sesuai pesanan Teh Nia untuk acara ulang tahun anaknya besok.

Meskipun sesekali telinganya masih panas mengingat ledekan Vika soal telepon paginya dengan Nathan, Acha berusaha fokus merangkai pita hias di setiap ujung plastik bingkisan tersebut agar terlihat rapi dan menarik.

Belum sempat Acha memasang pita hias terakhir pada bingkisan terakhir, bel pintu minimarket tiba-tiba berdenting nyaring.

Ding-dong!

Seorang wanita berpenampilan rapi dengan senyuman ramah melangkah masuk ke dalam toko. Itu Teh Nia, customer yang memesan paket snack ulang tahun tersebut.

Teh Nia langsung berjalan ke arah meja kasir tempat Amina sedang kewalahan melayani antrean pembeli yang cukup padat pagi itu.

"Eh, Teh Nia! Mau ambil pesanan paket snack ya?" sapa Amina sopan di sela-sela kesibukannya melayani pembayaran.

Mendengar nama Teh Nia disebut, mata Acha langsung membelalak kaget. Dia melirik jam dinding di atas meja kasir.

"Lho, Teh Nia? Cepat banget datangnya! Padahal janjinya diambil agak siangan," gumam Acha panik dalam hati.

Situasi langsung mendadak repot. Amina tidak bisa ditinggal karena antrean pembeli di kasir sedang mengular panjang.

Sementara itu, Vika sedang sibuk di gudang belakang bersama sales yang tengah menurunkan dus-dus barang baru, sehingga Vika sama sekali tidak bisa keluar untuk membantu.

Dan mau tidak mau, Acha harus menyelesaikan sisa pekerjaannya seorang diri dalam waktu singkat.

Dengan napas memburu dan tangan yang bergerak sangat cekatan, Acha merapikan sisa pita, memasukkan bingkisan terakhir ke dalam kardus besar, lalu melakbannya dengan cepat tanpa cacat.

Kecepatan tangan Acha benar-benar diuji saat itu. Hanya dalam hitungan menit, seluruh pesanan sebanyak puluhan paket snack itu sudah tertata rapi dan siap dibawa.

Acha berjalan menghampiri Teh Nia dengan sedikit senyum sungkan sambil membawa kardus besar tersebut.

"Maaf ya, Teh, baru kelar dirapikan. Barusan banget selesai."

Teh Nia menerima kardus itu dan mengintip ke dalam isinya. Seketika mata wanita itu berbinar kagum melihat kerapian susunan makanan ringan serta pita hias yang cantik di setiap kantongnya.

"Wah, Acha! Ini mah rapi banget, malah lebih bagus dari bayangan tahun gak, ibu Ema yang rekomendasiin kamu sama teteh!" puji Teh Nia dengan nada tulus dan puas.

"Gercep banget lagi padahal tokonya lagi ramai. Makasih banyak ya, Cha!"

Acha mengembuskan napas lega, tersenyum lebar sambil menyeka keringat tipis di dahi. Rasa lelah dan kepanikannya seketika terbayar lunas melihat kepuasan di wajah customer-nya itu.

Setelah Teh Nia pergi dengan membawa seluruh pesanan paket snack-nya dan suasana kasir mulai kembali kondusif, Acha tidak lantas bisa bersantai.

Dia segera membereskan meja lipat di sudut gudang, lalu kembali ke area toko untuk melanjutkan tugas rutinnya.

Acha mendorong troli dorong berisi berbagai macam barang yang mulai menipis di etalase.

Langkah kakinya membawanya ke lorong tengah minimarket, tempat rak-rak jajanan ringan, popok bayi (pempers), mie instan, serta sabun cuci berjejeran rapi.

Dengan telaten, gadis itu mulai mengisi satu per satu bagian rak yang kosong. Dia merobek kardus snack kemasan baru dan menyusunnya menghadap ke depan agar terlihat rapi dan menarik bagi pembeli.

Setelah itu, dia langsung beralih ke rak popok bayi, menata berbagai ukuran dengan presisi, lalu melanjutkan ke deretan mie instan dan sabun mandi serta deterjen cair.

Meskipun tangannya sibuk bekerja menata barang, sesekali senyuman tipis terukir di bibirnya. Pikirannya kembali melayang pada insiden salah telepon tadi pagi dan malam karnaval yang menyenangkan bersama Nathan.

Mengingat semua kenangan manis itu seolah menjadi energi tambahan yang membuat lelah di tubuhnya seketika menguap begitu saja.

Di tengah kesibukannya menata sabun dan deterjen di rak bawah, gerakan tangan Acha tiba-tiba melambat.

Kepalanya mendadak terasa berputar hebat, dan pandangannya di sekitar lorong minimarket seketika menjadi buram serta berkunang-kunang.

Acha langsung memegang erat tepi rak besi di depannya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang lemas. Keringat dingin mendadak bercucuran di pelipisnya, sementara napasnya terasa pendek dan tersengal.

Amina yang kebetulan sedang merapikan meja kasir tak sengaja melihat gelagat aneh dari Acha.

Dia langsung meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menghampiri Acha. Begitu tiba di dekat Acha, Amina terkejut melihat kondisi sahabatnya itu.

"Ya ampun, Acha! Muka kamu pucat banget tahu gak!" seru Amina panik sambil memegang pundak Acha yang hampir limbung.

"Udah, nggak usah dilanjutin dulu kerjanya. Pucat pasi begini, mending kamu istirahat sekarang ke belakang aja deh, takutnya kamu kenapa-napa lagi."

Mendengar keributan kecil itu, Vika yang baru saja selesai membereskan barang di gudang langsung ikut berlari menghampiri mereka.

"Eh, kenapa nih? Acha kenapa, Na?" tanya Vika cemas.

"Nih, Acha pucat banget pas lagi nata rak. Kayaknya kecapekan deh," jawab Amina khawatir.

Meski tubuhnya sudah bergetar hebat dan kepalanya terasa sangat pusing akibat kurang tidur semalaman plus bekerja berat sejak pagi, Acha tetap memaksakan diri menggelengkan kepala. Dia berusaha menegakkan tubuhnya meski masih limbung.

"Aku... aku nggak apa-apa, Amina, Vika," ucap Acha dengan suara parau dan lemah.

"Sisa barang di troli dikit lagi kelar kok. Tanggung, sayang kalau ditinggal sekarang. Nanti aja kalau udah selesai aku janji deh habis ini langsung istirahat."

"Dih, keras kepala banget sih dibilangin juga!" protes Vika kesal bercampur khawatir, langsung merebut sisa bungkus sabun dari tangan Acha.

"Udah nggak usah sok kuat deh! Nurut sekali aja apa susahnya sih Cha? Muka kamu udah pucat gitu dibilang nggak apa-apa."

Meskipun Vika dan Amina menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran, Acha berusaha mengulas senyuman tipis untuk menepis kecemasan kedua sahabatnya itu.

Dia tahu tubuhnya memang sedang protes karena kelelahan, tetapi dia tidak ingin membuat pekerjaannya jadi keteteran atau merepotkan mereka berdua yang juga sibuk.

"Sumpah, aku beneran masih sanggup, kok. Sisa barang di troli tinggal sedikit lagi, nanggung banget kalau ditinggal sekarang," bujuk Acha dengan suara lembut namun meyakinkan.

"Janji deh, kalau nanti pusingnya makin parah atau aku ngerasa udah nggak kuat, aku bakal langsung berhenti dan istirahat ke belakang. Nggak bakal sok kuat lagi, ya?"

Vika dan Amina saling berpandangan sejenak. Melihat kesungguhan di mata Acha—meski wajahnya masih terlihat pucat—mereka akhirnya menghela napas pasrah.

"Yakin ya? Awas aja kalau pingsan beneran, nanti aku seret kamu ke ruang istirahat belakang!" ancam Vika setengah bercanda.

Meskipun nada suaranya Vika terkesan mengancam tetapi menyiratkan rasa sayang yang begitu besar. Sedangkan Amina hanya mengangguk menyetujui syarat tersebut.

"Iya, tenang aja,ibu-ibu ratu cerewet," balas Acha terkekeh pelan, merasa sedikit lebih lega.

Setelah mendapat lampu hijau dari Vika dan Amina, Acha kembali melanjutkan sisa pekerjaannya. Dengan gerakan yang sedikit lebih santai dan hati-hati, dia merampungkan penataan barang-barang di troli hingga seluruh rak kembali tersusun rapi.

Vika dan Amina yang melihat Acha berhasil menyelesaikan tugasnya langsung kembali ke pos masing-masing untuk melayani pembeli yang mulai berdatangan ke area kasir.

Menjelang siang hari, kondisi fisik Acha rupanya benar-benar sudah mencapai batasnya. Meskipun tadi dia sempat berjanji akan beristirahat jika sudah tidak kuat, rasa tanggung jawab di tempat kerja membuatnya terus memaksakan dirinya.

Saat itu, Acha sedang bertugas merapikan susunan makanan ringan (ciki) kemasan besar di jajaran rak paling atas. Karena tinggi badannya tidak sampai untuk menjangkaunya sudut terdalam rak, Acha berinisiatif mengambil sebuah kursi kecil berbahan plastik untuk dijadikan pijakan.

Dia menaiki kursi tersebut dengan hati-hati, lalu berjinjit sambil mengangkat kedua tangannya ke atas demi mendorong kardus ciki ke tempatnya.

"Dikit lagi sampai ayo Cha kamu pasti bisa..." gumam Acha pelan, napasnya terasa kian pendek.

Namun, di detik berikutnya, kepala Acha mendadak diserang pening yang teramat sangat. Pandangannya langsung gelap gulita, dan keseimbangannya runtuh seketika. Kursi kecil di bawah kakinya bergeser, membuat tubuh Acha terhuyung jatuh ke depan.

Bruuk!

Seketika itu juga, sebuah tangan kokoh bergerak dengan sangat cepat menyergap pinggang Acha sebelum tubuh gadis itu membentur lantai minimarket.

Belum sempat Acha menyadari siapa yang menangkapnya, kesadarannya sudah sepenuhnya hilang. Acha terkulai lemas tak sadarkan diri di dalam dekapan pria tersebut.

Orang yang baru saja datang tepat waktu itu tidak lain adalah Nathan. Pria paruh baya—ralat, pria yang sengaja datang ke minimarket untuk menemui Acha itu—seketika tertegun panik melihat gadis pujaannya pingsan di pelukannya.

"Acha! Acha, bangun, Cha!" seru Nathan cemas, menepuk pelan pipi Acha yang tampak sangat pucat pasi, sementara Vika dan Amina yang mendengar suara gaduh langsung berlari panik dari arah kasir.

Suasana di dalam minimarket mendadak riuh dan mencekam. Vika dan Amina yang baru saja tiba di lorong tempat kejadian langsung terbelalak kaget melihat Acha sudah berada di dalam dekapan Nathan dalam kondisi terkulai lemas.

"Acha! Ya ampun, Acha kenapa?!" seru Vika histeris, wajahnya memerah karena panik.

"Tadi dia memang maksain kerja padahal mukanya udah pucat banget, Vika!" sahut Amina dengan suara bergetar ketakutan.

Tanpa membuang waktu, Nathan langsung mengangkat tubuh Acha dengan sigap gaya bridal style dan membawanya menuju ruang istirahat karyawan di bagian belakang minimarket.

Dia membaringkan tubuh Acha dengan hati-hati di atas sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, sementara Vika dan Amina mengekor di belakang dengan napas memburu.

"Cha, sadar, Cha..." panggil Nathan cemas, terus menepuk pelan pipi Acha yang masih terpejam rapat dengan wajah pucat. Namun, tidak ada respons sama sekali dari gadis itu.

Kepanikan di ruangan itu semakin menjadi-jadi ketika beberapa menit berlalu tapi Acha tak kunjung membuka kan matanya.

Vika sudah mondar-mandir tak keruan sambil menggigit jarinya, sementara Amina yang ketakutan langsung merogoh saku celananya untuk mencari ponsel.

"Duh, gimana ini? Nggak bangun-bangun! Na, coba telepon Bu Ema sekarang! Minta izin atau tanya harus gimana nih," suruh Vika dengan suara bergetar hampir menangis.

Amina yang tangannya gemetar langsung menekan nomor kontak atasannya, Bu Ema, sang pengawas operasional minimarket.

Setelah beberapa dering, sambungan telepon terangkat. Dengan tergesa-gesa, Amina menjelaskan kondisi darurat yang sedang terjadi kepada Acha di toko.

Di ujung telepon, suara Bu Ema terdengar sama paniknya. Setelah mendengar penjelasan Amina, Bu Ema dengan tegas berniat langsung datang ke minimarket dan mengantar Acha ke klinik terdekat menggunakan mobil operasional toko.

Mendengar hal itu, Nathan langsung bangkit dari sisi sofa. Dengan tatapan penuh ketegasan sekaligus kekhawatiran yang mendalam, dia mendekati Amina dan mengambil alih ponsel dari tangan gadis itu.

"Halo, Bu Ema? Saya Nathan," ucap Nathan dengan nada bicara yang sopan namun sarat akan otoritas.

"Maaf, biar saya saja yang bawa Acha ke klinik sekarang. Kebetulan saya ada kendaraan dan posisinya saya adalah keluarganya."

Mendengar pengakuan Nathan yang secara spontan menyebut dirinya sebagai keluarga Acha—serta melihat ketulusan dan kepanikan di wajah pria itu—Bu Ema di ujung telepon sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya melunak.

"Oh... baik, Mas Nathan. Kalau memang keluarga, tolong langsung dilarikan ke klinik terdekat ya supaya cepat ditangani dokter. Izin toko untuk Acha saya berikan, tolong kabari perkembangannya," jawab Bu Ema memberikan izin.

"Baik, Bu. Terima kasih," ujar Nathan, lalu langsung menutup panggilan tersebut.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Nathan kembali membungkuk dan mengangkat tubuh Acha ke dalam gendongannya, bersiap membawanya keluar menuju kendaraan untuk segera mendapatkan pertolongan medis.

Langkah kaki Nathan bergegas membawa tubuh Acha yang masih terkulai lemas keluar dari minimarket, disusul Vika dan Amina yang mengawal dengan perasaan cemas.

Nathan langsung membaringkan Acha di jok belakang mobilnya, ditemani oleh Vika yang ikut mendampingi. Dalam hitungan menit, mobil Nathan melaju kencang membelah jalanan kota menuju klinik terdekat.

Setibanya di klinik, perawat dan dokter IGD dengan sigap langsung menangani Acha dan memindahkannya ke ruang periksa.

Setelah beberapa pemeriksaan awal dan pemasangan selang infus, dokter yang bertugas keluar menemui Nathan dan Vika yang menunggu dengan tegang di depan pintu.

"Keluarga pasien?" tanya dokter paruh baya tersebut ramah.

"Saya pacarnya, Dok—eh, maksudnya keluarganya!" jawab Nathan cepat, suaranya menyiratkan kekhawatiran yang teramat sangat.

Vika di sebelah Nathan hanya melirik sekilas, mengabaikan sedikit pelesetan lidahnya Nathan demi mencemaskan sahabatnya.

Dokter tersenyum tipis menenangkan. "Oh, baik. Tidak perlu terlalu khawatir. Kondisi pasien stabil kok. Dia hanya terlalu kecapekan, kurang tidur, ditambah ada beban pikiran serta emosi yang sempat dialaminya akhir-akhir ini, jadi tubuhnya langsung protes dan drop."

Mendengar penjelasan itu, Nathan dan Vika langsung mengembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan.

"Jadi tidak apa-apa kan, Dok?" tanya Nathan memastikan.

"Iya, tidak apa-apa. Saat ini pasien hanya butuh diinfus untuk mengembalikan cairan tubuh dan tenaganya yang terkuras. Nanti kalau cairan infus sudah habis dan badannya sudah enakan, pasien sudah diperbolehkan pulang," jelas dokter tersebut.

"Tapi ingat, dengan catatan pasien harus banyak beristirahat total selama beberapa hari ke depan, jangan biarkan dia stres atau capek-capek dulu."

"Baik, Dok. Terima kasih banyak," ujar Nathan penuh rasa syukur.

Beberapa jam kemudian, Acha perlahan-lahan mulai membuka matanya di ruang rawat singkat klinik. Di sisi ranjang, Nathan dan Vika tampak setia menemani dengan tatapan penuh kelegaan menyambut kesadarannya.

Setelah cairan infus di klinik habis dan tubuh Acha dirasa sudah jauh lebih baik, Nathan dan Vika langsung membawanya pulang ke kosan.

Dokter benar-benar melarang Acha untuk langsung beraktivitas berat, sehingga hari-hari berikutnya, kamar kosan Acha yang sederhana mendadak kedatangan "perawat pribadi" yang super siaga.

Ya, siapa lagi kalau bukan Nathan.

Selama Acha harus beristirahat total, Nathan mengambil alih banyak hal. Setiap hari, pria itu memastikan Acha makan tepat waktu dengan menu sehat yang sengaja dia belikan atau bahkan dia masak sendiri.

Dengan telaten, Nathan menyuapi Acha bubur hangat sambil sesekali meniupnya pelan agar tidak terlalu panas, layaknya seorang perawat profesional yang merawat orang tersayang.

"Ayo dihabiskan dulu buburnya, Cha. Biar tenaganya cepat pulih," bujuk Nathan lembut sambil menyodorkan sesendok bubur ke hadapan Acha yang bersandar lemah di atas bantal.

Acha yang pipinya merona merah karena merasa tidak enak diperlakukan seistimewa itu hanya bisa menurut sambil tersipu malu.

"A, aku udah enakan kok. Nggak usah disuapin juga deh, lagian aku bisa sendiri kali," protes Acha pelan, meski dalam hatinya sia merasa sangat tersentuh dan berbunga-bunga.

"Stt, nggak usah protes. Nurut aja sama perawat ganteng ini," balas Nathan terkekeh lembut, membuat Acha langsung bungkam sambil menunduk menyembunyikan senyum lebarnya.

Tidak hanya urusan makan, Nathan juga sangat telaten mengingatkan Acha untuk minum obat tepat waktu, merapikan bantalnya agar lebih nyaman, hingga memastikan kamar kosan tersebut tetap bersih dan sejuk.

Vika yang melihat kebucinan dan perhatian luar biasa dari Nathan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum geli, merasa bersyukur sahabatnya mendapatkan pria sebaik dan setulus Nathan.

Berkat perawatan penuh cinta dan perhatian ekstra dari Nathan, kondisi Acha berangsur-angsur membaik dengan cepat.

Rasa lelah dan beban pikiran yang sempat menghantam tubuhnya seolah lenyap begitu saja, tergantikan oleh rasa hangat yang terus memenuhi hatinya setiap kali menatap wajah Nathan di sisinya.

Sore itu, suasana kamar kosan Acha terasa begitu hangat setelah mereka baru saja tiba dan kembali dari klinik. Nathan sama sekali tidak langsung pamit pulang.

Pria itu justru sigap merapikan barang-barang belanjaan, membuatkan air hangat, dan memastikan Acha sudah duduk dengan nyaman di atas kasurnya.

Melihat betapa telaten dan tulusnya perlakuan Nathan—padahal mereka baru saja melewati insiden menegangkan di minimarket—rasa penasaran yang sejak tadi mengganjal di benak Acha akhirnya mendesak untuk dikeluarkan. Gadis itu menatap punggung Nathan sejenak, lalu menarik napas pelan.

"A Nathan..." panggil Acha ragu-ragu.

Nathan menoleh, lalu duduk di tepi kasur sambil menatap Acha lembut. "Kenapa, Cha? Kepalanya pusing lagi yah? Atau mau di ambilin apa?"

Acha menggeleng pelan, meremas ujung selimutnya karena salah tingkah.

"Bukannya apa-apa... tapi, aku penasaran aja. Kenapa Aa bisa se-evort ini, sebaik, dan sedemikian pedulinya sama aku? Padahal... kita kan baru kenal belum lama, dan awalnya juga gara-gara salah paham soal A Alfian."

Mendengar pertanyaan itu, Nathan tidak langsung menjawab. Pria itu justru tersenyum—sebuah senyuman tulus yang sangat menenangkan, memancarkan ketulusan yang membuat debaran di dada Acha mendadak tak beraturan.

Nathan menatap mata Acha lekat-lekat. "Aku baik dan peduli sama kamu, karena aku emang beneran serius sama kamu, Cha," jawab Nathan mantap, tanpa ragu sedikit pun.

Pipi Acha langsung merona merah mendengar jawaban yang begitu blak-blakan itu. Meski hatinya menghangat, akal sehatnya mencoba untuk mengerem.

Mengingat mereka baru saja melewati hari yang melelahkan dan baru mengenal satu sama lain, Acha tidak ingin terburu-buru memberikan harapan penuh.

Dengan sedikit menggigit bibirnya, Acha mencoba mengetes keseriusan pria di hadapannya.

"Kalau... kalau nih yah, misalkan nih aku menolaknya, gimana A?" tanya Acha pelan, menyelami reaksi Nathan.

Alih-alih marah, kecewa, atau mundur, Nathan justru kembali tersenyum lebar. Pria itu mengulurkan tangannya, mengelus puncak kepala Acha dengan penuh kelembutan.

"Kalau kamu menolak, ya aku tinggal memperjuangkan cintanya lagi sampai kamu mau... sampai akhirnya kamu benar-benar luluh dan mau untuk menikah sama aku," ucap Nathan dengan nada suara yang begitu tulus dan penuh keyakinan.

Jantung Acha seolah berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Kata 'menikah' bukanlah ucapan main-main bagi seorang pria, dan cara Nathan mengatakannya menyiratkan bahwa niatnya benar-benar serius, bukan sekadar cinta sesaat atau permainan masa muda.

Di balik wajahnya yang merona malu dan sikapnya yang pura-pura salah tingkah, jauh di dalam lubuk hatinya, Acha diam-diam semakin menyukai Nathan, jauh lebih dalam dari yang sia sadari.

Namun, dia memilih menyembunyikan perasaan itu rapat-rapat di balik senyum tipisnya. Acha tidak mau terlalu buru-buru jatuh cinta lagi.

Apalagi menyadari bahwa niat Nathan untuk menikahinya adalah sebuah komitmen besar yang sakral dan tidak boleh dianggap remeh.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!