Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Dia Benar-benar Ingin Mencari Pria Lain?
Malam telah menyelimuti kediaman Bianchi.
Dari balik jendela besar ruang kerjanya, Leon melihat halaman yang hanya diterangi beberapa lampu taman. Angin malam sesekali menggerakkan dedaunan, menciptakan bayangan yang bergoyang di atas kaca.
Leon menghela napas lalu, kembali duduk di belakang meja kerjanya.
Sejak tadi tidak ada satu pun pekerjaannya yang benar-benar ia kerjakan.
Beberapa berkas masih terbuka di hadapannya. Laptop menyala, tetapi pandangannya justru kosong menatap layar tanpa membaca satu kalimat pun.
Tidak biasanya ia seperti ini, berada di rumah sepanjang hari tanpa melakukan apapun.
Biasanya, kesibukannya di markas membuatnya jarang memiliki waktu untuk duduk diam. Tetapi hari ini, entah mengapa, ia memilih tetap berada di kediaman Bianchi.
Mungkin karena ia mengkhawatirkan Elena. Atau mungkin, karena ia ingin memastikan wanita itu tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan lagi.
Leon menghembuskan napas panjang. "Kenapa aku terus memikirkannya?"
Tangannya terangkat untuk memijat pelipisnya. Tapi, bukannya merasa lebih tenang, wajah Elena justru kembali memenuhi pikirannya.
Tatapan wanita itu, senyumnya, bahkan cara Elena menggodanya. Semuanya terus berputar di kepalanya.
Leon bersandar pada kursinya. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas. Detak jantungnya terdengar lebih cepat dari biasanya.
Sekali, dua kali lalu, semakin cepat setiap kali wajah Elena muncul dalam ingatannya.
Leon mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Seharusnya, Elena hanyalah seseorang yang harus ia awasi. Seorang wanita yang menyimpan terlalu banyak rahasia dan mungkin bisa membahayakan keluarga Bianchi dan The Raven.
Tapi, mengapa setiap kali memikirkan wanita itu, rasa gelisah di hatinya justru semakin sulit ia kendalikan?
Leon menatap jendela.
Di luar sana, malam semakin larut. Ia mengepalkan tangannya erat. Kegelisahan yang sejak tadi mengusik pikirannya akhirnya membuatnya tidak mampu lagi duduk diam.
Ia bangkit, sehingga kursinya terdorong ke belakang.
Entah apa yang sebenarnya ingin dia lakukan. Tapi yang jelas, ia hanya ingin memastikan Elena baik-baik saja.
Atau mungkin, ia ingin memastikan wanita itu tidak sedang melakukan sesuatu yang nekat.
Dengan langkah panjang, Leon meninggalkan ruang kerjanya dan berjalan menuju kamar Elena. Tapi, begitu pintu kamar dibuka, keningnya langsung berkerut.
Kosong, tidak ada Elena di sana.
Leon melangkah masuk dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat tidur masih tertata rapi. Tidak ada tanda-tanda wanita itu baru saja berbaring.
"Elena!" panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Leon segera memeriksa kamar mandi tapi, kosong. Ia kemudian membuka pintu menuju balkon.
Angin malam langsung menyambutnya, tetapi tidak ada siapa pun di sana.
Leon semakin mengernyit. Ke mana wanita itu pergi?
Ia mengepalkan tangannya erat saat rasa kesal mulai menguasai dirinya.
"Apa dia menyelinap keluar dari sini?" geramnya.
Tanpa membuang waktu, Leon kembali keluar dari kamar. Ia berjalan menyusuri koridor, matanya terus mencari keberadaan Elena.
Tapi, baru beberapa langkah, pandangannya menangkap sesuatu di depannya.
Leon berhenti. Tatapannya tertuju pada Elena.
Wanita itu berdiri sendirian di balkon koridor. Tubuhnya hanya terbalut gaun tidur sutra yang tipis. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, bergerak perlahan tertiup angin malam.
Kepalanya sedikit mendongak. Matanya menatap langit yang dipenuhi bintang.
Leon terdiam sesaat. Ada suatu kekaguman dalam pemandangan itu yang membuat langkahnya tertahan.
Tapi, kekaguman itu segera tergantikan oleh rasa kesal.
"Apa yang dia lakukan di sana?" gumamnya. Ia lalu menghembuskan napas kasar. "Apa dia tidak takut sakit?"
Tanpa berpikir panjang, ia kembali melangkah. Kali ini, tujuannya jelas ingin menghampiri Elena dan membawanya kembali ke kamar.
Tetapi, baru beberapa langkah, Leon kembali berhenti saat seseorang tiba-tiba muncul dari koridor belakang Elena.
Daniel.
Pria itu berjalan santai menuju balkon sambil membawa segelas wine dengan pandangan yang langsung tertuju pada Elena.
Leon membeku. Tatapannya berubah tajam. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuh.
Sementara itu, Elena masih belum menyadari kehadiran bahwa dua pasang mata kini tertuju padanya.
Leon tidak bergerak. Ia hanya menatap Daniel dengan sorot mata yang semakin dingin.
Untuk beberapa detik, koridor itu terasa sunyi. Sampai, Daniel berhenti di belakang Elena dan menyapanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Elena terkejut. Ia berbalik, menatap Daniel dengan wajah tegang. Tapi, sedetik kemudian, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Aku sedang mencari angin saja. Kalau kamu?"
Daniel menggoyangkan gelas wine nya, lalu berdiri di samping Elena. "Aku tidak bisa tidur. Makanya, aku jalan-jalan saja menikmati malam. Tidak tahunya, malah bertemu dengan mu di sini."
Elena tersenyum semakin lebar. "Ya, ini kebetulan sekali." Ia berbalik. Kini tatapan keduanya mengarah pada halaman yang gelap.
Sementara itu, Leon hanya bisa diam dengan rahang mengeras.
Rasanya, ia ingin menghadiahi Daniel sebuah pukulan keras, dan menarik Elena pergi dari sana. Tapi, ia mengurungkan niatnya. Ia justru bersembunyi, dan menguping pembicaraan mereka.
"Ngomong-ngomong, di mana Leon? Kenapa dia membiarkanmu sendirian di sini?"
Elena tersenyum miring. "Jangan bicarakan dia. Sudah pasti dia mengurung diri di ruang kerjanya," seru Elena.
Daniel tersenyum penuh arti. Tatapannya turun pada garis leher gaun tidur elena yang rendah, sehingga memperlihatkan gundukan kenyal yang membuat hasrat nya bangkit.
Daniel menunduk sehingga bibirnya berada tepat di telinga Elena. "Sepertinya, kamu kesepian," bisiknya.
Leon mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras.
Sekilas, ia teringat percakapan mereka sebelumnya.
"Sudah berapa lama kita menikah? Tapi, kamu masih bersikap dingin padaku."
"Jangan sampai aku mencari pria lain."
Leon tertegun. "Apa dia benar-benar ingin mencari pria lain?"
apa dia orgtua leo?
disinilah jackson dibunuh