Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32 Pengkhianat di dalam
Di lorong samping lantai dua mansion. Suasana malam terasa riuh pelan oleh kesibukan para staf dan pengawal yang berlalu-lalang merapikan sisa kargo hadiah serta mengatur ulang pos penjagaan. Luna berdiri di dekat jendela, memperhatikan para pengawal di halaman luar yang sibuk menempatkan personel tambahan.
Luna menoleh saat melihat Marco berjalan cepat melewati lorong sambil membawa papan jepit dokumen "Marco, tunggu sebentar."
Marco menghentikan langkahnya seketika, menundukkan kepala dengan penuh hormat "Nyonya Luna. Ada yang bisa saya bantu?"
Luna mengamati wajah Marco yang tampak tegang dan letih "Kulihat pengawalan di luar diperketat dua kali lipat sejak resepsi semalam. Apa ada masalah? Kamu kelihatan cemas."
Marco memperbaiki posisinya, mencoba menjaga nada suaranya tetap profesional dan tenang "Hanya penyesuaian standar keamanan baru atas perintah Tuan Leon, Nyonya. Pengumuman status Anda semalam membuat fokus pengamanan kita terbagi ke banyak titik baru. Semuanya masih dalam kendali."
Dari arah ujung lorong, Leon melangkah mendekat. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku. Matanya menatap tajam ke arah dokumen yang dipegang Marco sebelum beralih lembut pada Luna.
Leon merangkul pinggang Luna pelan "Kenapa belum istirahat, sayang? Ini sudah lewat tengah malam."
Luna menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Leon "Aku cuma merasa rumah ini terlalu riuh malam ini. Semua orang tampak sibuk dan terburu-buru."
Leon menatap Marco dengan isyarat mata yang dingin dan penuh arti "Marco hanya sedang memastikan tidak ada satu pun celah yang terlewat setelah pesta semalam. Benar begitu, Marco?"
Tenggorokan Marco bergerak pelan saat mengangguk tegas "Benar, Tuan. Pemindahan berkas aset dan penataan ulang rute patroli internal sedang berjalan. Namun..." Marco menggantung kalimatnya, melirik tipis ke arah staf yang lalu-lalang "...ada beberapa penyesuaian logistik internal yang perlu kita bahas secara pribadi, Tuan."
Leon mengusap lembut lengan Luna, memberikan kecupan hangat di pelipisnya "Masuklah ke kamar duluan, Luna. Cek Emily sebentar, lalu tidur. Aku hanya perlu menyelesaikan beberapa urusan kecil dengan Marco."
Luna menatap Leon dan Marco bergantian, menangkap ketegangan terselubung di antara mereka, namun memilih tidak bertanya lebih jauh "Baiklah. Jangan terlalu malam, Leon. Kamu juga butuh istirahat."
Setelah Luna melangkah masuk ke dalam kamar dan pintu tertutup rapat, senyum di wajah Leon seketika sirna. Udara di lorong itu mendadak mendingin.
Leon berbicara dengan suara rendah dan menusuk "Bicara, Marco. Apa yang terjadi?"
Marco mendekat setengah langkah, berbisik serius "Seseorang telah mengakses log sirkuit CCTV dan mengubah rute pengawalan internal saat fokus semua orang terpecah untuk pesta semalam, Tuan. Ada celah yang sengaja dibuka... dari dalam mansion ini sendiri."
Mata Leon menatap tajam ke arah Marco sarat dengan aura pembunuh berdarah dingin membuat bulu kudu Marco sedikit bergidik, dia tahu Tuannya sedang marah kali ini "Brengsek, siapa tikus yang berani menyabotase mansion ini, kurang ajar dia!" umpat Leon dengan tangan mengepal menahan amarahnya. "Marco! cepat kamu cari tahu siapa orang dalam rumah ini yang sudah berani menjadi mata-mata!" perintah tegas Leon pada Marco dan dengan segera Marco menaati perintah dari sang pimpinannya itu "Baik Tuan, saya akan segera cari orangnya," ucap Marco yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Leon berdiri sendiri di lorong rumahnya itu.
Leon melangkah pergi meninggalkan lorong itu dan berjalan menuju ke ruang kerjanya di sana Leon merebahkan tubuhnya di atas kursi kerjanya sambil melepas sedikit penat setelah seharian menjalani prosesi pernikahan di hotel dengan Luna.
Sementara itu Luna yang sedang berada di dalam kamar tiba-tiba saja keluar dan berjalan menuju ke kamar Emily dan Luna masih sempat kepikiran soal keamanan mansion yang tiba-tiba saja lebih di perketat lagi dengan menambah beberapa personel pengawal yang berjaga di sekeliling mansion "Mudah-mudahan saja tidak terjadi masalah lagi," gumam Luna dalam hatinya sambil membuka pintu kamar Emily dengan perlahan dan masuk ke dalam kamar itu. Luna berjalan menghampiri tempat tidur Emily, Luna melihat Emily sudah tertidur pulas, Luna mengambil selimut dan menutupkan ke tubuh Emily dan mengusap kepala anak itu dengan lembut kemudian Luna mencium kening Emily dengan sayang, Emily menggeliat sambil memegangi lengan Luna "Emily mau di temani mami Luna," ucap Emily dengan mata yang masih terpejam. Luna tersenyum lalu dia pun naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping tubuh Emily, seperti tahu akan kehadiran Luna di sebelahnya dengan cepat Emily memeluk perut Luna dan tertidur kembali, Luna kemudian mengusap-usap punggung Emily sampai dia pun akhirnya ikut tertidur juga.
Di koridor sebelah barat mansion terlihat Marco sedang berjalan dengan cepat menuju ke ruang kerja Leon "Tok tok tok," Marco mengetuk pintu ruang kerja Leon menunggu jawaban dari Leon yang sedang berada di dalam ruang kerjanya itu "Masuk," perintah Leon. Marco masuk ke dalam ruang kerja dan berdiri di hadapan Leon "Bagaimana?" tanya Leon menatap lurus ke arah Marco. "Saya sudah bertanya pada seluruh pelayan dan pengawal yang ada di mansion ini Tuan tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengaku sebagai mata-mata," ucap Marco pada Leon, terlihat Leon menipiskan bibirnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya "Hmm, baiklah kalau begitu kita akan buat jebakan yang tak terlihat karena aku tidak ingin membuat Luna panik dan merusak suasana bahagianya sebagai pengantin baru.
Leon secara sengaja menyebarkan informasi palsu terkait jadwal kunjungan Luna dan Emily ke area publik untuk memancing sang penyusup keluar dari persembunyiannya.
Umpan berhasil dimakan. Salah satu staf kepercayaan yang telah bekerja cukup lama di mansion tertangkap basah sedang mengirimkan koordinat lokasi rahasia melalui saluran radio frekuensi khusus.
Marco langsung berjalan dengan cepat menuju ke sebuah ruang kamar tempat pengkhianat itu sedang bekerja dengan segera Marco mendobrak pintu kamar yang sedang di tutup rapat itu dan dengan dua kali tendangan akhirnya pintu kamar itupun berhasil di robohkan oleh Marco. Sang pengkhianat itupun sangat terkejut dan ketakutan melihat Marco orang kepercayaan Leon tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
"A_ada apa Marco? kenapa kamu mendobrak pintu kamarku?" tanya Jack gelagapan, Jack adalah kepala pelayan di mansion dan juga orang yang selama ini akrab dengan Marco. "Sudahlah Jack jangan berbasa-basi lagi kita sudah tahu apa yang sedang kamu lakukan," ucap Marco pada Jack. "Maksud kamu apa Marco? Aku tidak mengerti?" terlihat Jack sedang berpura--pura di depan Marco dan Marco pun tahu akan hal itu. "Dasar Pengkhianat! seret dia keluar dan bawa ke hadapan Tuan Leon, cepat ...!!" perintah Marco penuh amarah pada beberapa pengawal yang berdiri di belakangnya. "Marco!! dengarkan dulu penjelasanku!!" pekik Jack saat kedua pengawal suruhan Marco mencekal lengannya dan membawanya dengan paksa keluar dari kamarnya itu. Marco tidak memperdulikan ucapan Jack sampai akhirnya kedua pengawal itu mendorong tubuh Jack hingga tersungkur di hadapan Leon yang sedang duduk di ruang khusus interogasi.
Pengkhianatan ini mengejutkan seluruh isi rumah karena pelaku adalah sosok yang selama ini dinilai sangat setia.
Saat diinterogasi secara dingin oleh Leon, sang pengkhianat mengungkapkan bahwa musuh tidak berniat menyerang Leon secara langsung, melainkan mengincar Luna sebagai "titik lemah" terbesarnya. Dalam keheningan yang mencekam, Leon menyadari bahwa status barunya dengan Luna membuat wanita yang dicintainya itu kini berada di pusaran bahaya yang jauh lebih besar.
"Masukkan dia kedalam penjara bawah tanah!" perintah Leon dingin.
"Ampuni saya Tuan!!! Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi...ampuni saya Tuan Leon ...!!" teriak Jack histeris saat tahu dia akan di masukkan ke dalam penjara bawah tanah.
.