Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?
Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)
Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWANAN RUMAH
Namanya juga Komandan pasukan senior militer Inggris yang berhati dingin dan penuh taktik, Leo tidak semudah itu kasihan dengan musuhnya apalagi tidak menguntungkannya.
Entah kenapa Leo ingin sekali memanfaatkan Agatha untuk pelampiasan balas dendam. Wanita ini seakan akan mengikat dirinya.
"Apa yang kudapatkan jika membiarkan anak musuh tetap hidup?" tanya Leo kepada Agatha.
"Aku akan melakukan apapun untukmu. Biarkan aku yang menanggung semua dosa dan kesalahan orang tuaku" jawab Agatha dengan raut wajah benar benar mengiba.
Sang adik hanya bisa menangis dipelukannya.
Lagi lagi Leo menampakkan senyuman tipis yang mengerikan.
"Kamu menyerahkan hidupmu demi menyelamatkan adikmu?" pancingnya kemudian.
"Benar. Aku akan menyerahkan diriku padamu agar adikku selamat dan tidak mendapatkan penyiksaan" sahut Agatha.
"Kakak...kakak jangan tinggalkan aku" mohon sang adik.
"Kamu harus selamat terlebih dahulu" lirih Agatha kepad adiknya.
"Siapa nama adikmu?" tanya Leo.
"Apakah perlu aku menjawabnya. Aku hanya minta kamu selamatkan dia dan jauhkan dari masalah ini" jawab Agatha kembali berani.
"Aku tidak akan menyelamatkannya jika tidak tau namanya" sahut Leo.
"Bianca" pada akhirnya Agatha menjawab.
"Bianca...Agatha dan Bianca, kedua putri seorang pemberontak Skotlandia" sarkasme Leo.
Betrand pun kembali dan memberikan laporan lanjutan.
"Semua pondok yang terbakar sudah kami pastikan tidak ada orang yang tersisa didalamnya, komandan. Jika ada pun mereka akan mati terbakar" lapor sang prajurit.
"Baiklah. Misi selesai. Tinggalah bersama 10 prajurit disini sampai api padam dan pastikan lagi tidak ada yanb tersisa" perintah Leo.
"Siap Komandan!" seru Bertrand lalu pergi lagi keluar pondok.
"Stevanus, BBM bawa anak perempuan ini keluar dan jadikan satu dengan tawanan yang lain" perintah Leo kepada prajurit didepan pondok.
"Siap Komandan!" sahut prajurit yang terpanggil.
"KAKAK!!! JANGAN TINGGALKAN AKUU!!!" teriak Bianca.
Agatha hanya bisa merelakan adiknya dibawa oleh prajurit agar bisa berkumpul dengan sandera yang lain. Setidaknya, adiknya tidak sendiri.
"Bertahanlah..kamu adalah anak perempuan hebat, Bianca" hanya kata kata semangat ini yang ia berikan kepada sang adik.
"KAKAK!!!!" teriak bocah itu hingga keluar pondok meninggalkan Leo dan Agatha kembali berdua.
"Kamu sendiri yang menyerahkan jiwa ragamu kepadaku. Jika kamu mengkhianati atau menipuku, adikmu akan jadi jaminan" ucap Leo.
Agatha pun memberikan tatapan menurut kearah pria didepannya.
Eksekusi pemberontakan Skotlandia di Nottinghamshire, selesai.
Para prajurit yang ditugaskan menyelesaikan misi tetap tinggal dan sisa nya membawa wanita serta anak anak dari pemberontak ke London.
Termasuk Agatha yang dibawa Leo secara terpisah dengan yang lain.
Keduanya duduk berdampingan.
Tidak ada suara manusia dan hanya ada suara ban mobil serta kendaraan di jalan.
Hingga sampailah, di sebuah rumah minimalis berlantai 1 dengan halaman luas yang jarak pagar tinggi kerumahnya cukup jauh.
"Kamu akan tinggal disini, melayaniku dan tidak ada penolakan. Jangan banyak tingkah atau niat untuk melarikan diri" peringatan Leo.
"Baiklah" sahut Agatha.
Leo pun turun dari mobil. Agatha yang tangannya masih diborgol dibukakan pintu oleh driver setia Leo yaitu Zane yang juga seorang militer.
"Buka borgolnya, Zane" perintah Leo.
"Siap, Sir!" sahut Zane lalu menjalankan perintah.
Memang Leo memiliki beberapa panggilan dari anak buahnya. Yang memanggilnya komandan berarti ciri khas bahwa orang itu berasal dari asli militer sejak awal, sedangkan yang memanggilnya Sir sudah mengenal Leo sejak sebelum masuk militer karena terhubung dari kerabat atau kenalan keluarga ataupun teman masa sekolah.
Zane adalah salah satu kenalan Leo dari masa sekolah dan juniornya.
Setelah borgol dilepaskan, terlihat garis merah di pergelangan tangan Agatha.
"Ikuti aku" perintah Leo kepada wanita itu.
Agatha menurut tanpa membantah.
Ia mengikuti langkah panjang dan cepat seorang Leonardo Davarza.
Leo berjalan disamping rumah, tidak masuk rumahnya menuju bagian rumah yang ternyata masih halaman luas dan lapang.
Di bagian paling belakang terlihat halaman luas yang cukup gelap.
Semakin berjalan menjauh dari rumah utama dan berjalan cukup lama, mulai terlihat sebuah pondok kecil dari kayu. Leo berjalan kearah sana.
Agatha lagi lagi diam dan hanya bisa memandang sekitar sambil mengamati situasi tempat yang akan ia tinggali. Meskipun kakinya berjalan tanpa alas, ia tidak berhenti dan mengikuti Leo.
Sesampainya didepan pondok kayu itu, Leo membuka pintunya.
Saat pintu terbuka, debu debu didalam pondok berhembus keluar.
"Ini adalah tempat tinggalmu. Sekali lagi aku peringatkan jangan macam macam disini. Kalau pun kau memilih membunuh dirimu sendiri, adikmu juga akan menyusul mu, jadi jaga nyawamu" peringatan Leo.
"Ya, aku mengerti. Aku hanya ingin adikku selamat. Jika ternyata kamu yang mengkhianati ku atau menipu, ku tidak segan segan mengorbankan nyawaku untuk membunuhmu" peringatan balik Agatha.
Leo tersenyum menyeringai.
"Aku adalah seorang komandan militer Inggris yang bermartabat, tidak akan mengingkari apa yang telah disepakati" ujarnya.
"Bermartabat brengsek iya" batin Agatha mengumpat.
"Dan kamu pun jangan lupa kamu sudah memberikan jiwa dan ragamu kepadaku, jadi setiap saat aku ingin kamu layani, kamu harus siap" lanjut Leo dan wanita tawanannya menganggukan kepala mengiyakan.
"Jangan pernah masuk kerumah utama tanpa seizinku atau keluar dari pondok ini. Setiap hari ada mata mataku yang selalu berjaga" jelas Leo.
"Banyak omong juga pria ini" ejek Agatha lagi lagi dalam hati.
Seperti bisa membaca pikiran dan hati Agatha, Leo mengeluarkan suaranya lagi.
"Aku tau jika aku banyak omong, tapi lebih baik aku seperti ini daripada saat aku diam seribu bahasa, mungkin yang ada hanya ada teriakanmu".
Agatha terdiam.
"Bersihkan pondok ini sendiri atau jika ingin langsung tidur silahkan saja tidur dengan debu. Kamar mandi ada didalam, semoga airnya menyala" ujar Leo lagi lalu tanpa menunggu sahutan wanita itu, ia pergi dari pondok berjalan kearah rumahnya.
Melihat punggung Leo yang tidak terdampak sama sekali setelah ia menembak 3 peluru disana, Agatha benar benar tak percaya.
"Bagaimana ada manusia yang bisa kebal dengan tembakan peluru? Apa pria bajingan ini bukan manusia?" lirihnya.
Tak ingin memikirkan hal tidak penting itu, Agatha memilih untuk memikirkan cara bertahan agar dirinya bisa melalui ini dengan rencana pembalasan yang sepadan.
Namun setelah beberapa saat ia berdiri didepan pondok hingga Leo tidak ada di pandangannya lagi, air mata terkujur deras.
Ia masuk ke pondok yang penuh debu itu dan gelap lalu menangis disana.
"Maafkan aku, ayah ibu. Aku belum bisa menjaga Bianca" lirihnya.
"Maafkan aku, Callum. Aku sudah menjadi wanita hina" lanjutnya.
Bayangan kedua orang tuanya yang tidak bernyawa membuatnya semakin sakit di hati. Teriakan Bianca yang meminta tolong juga semakin menyayat hatinya. Ditambah teriakan Callum yang akan menyelamatkannya juga membuat hatinya teriris.
"Lebih baik, Callum tidak menemukan atau menyelamatkan ku karena aku tidak pantas ia selamatkan lagi" gumamnya.
Setelah puas menangisi kehidupannya, Agatha pun tanpa sadar tertidur kelelahan di lantai penuh debu itu. Meringkuk dan menahan sakit di seluruh tubuh maupun hati serta pikirannya.
cerita nya seru👍