Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Gara-gara pasangan sarap.
Aku ke toilet dulu."
Nayla yang sejak tadi duduk gelisah dan meremas pahanya, merasa perlu pergi — entah keinginan pipis atau karena tubuhnya ikut terasa panas melihat pemandangan di depannya. Sejak tadi ia menggigit bibir, tak bisa menyangkal bahwa ia ikut terangsang melihat kedekatan pasangan itu. Suasana ini terasa jauh lebih panas daripada menonton film dewasa di bioskop.
"Hahaha... Sayang, sepertinya dia tidak kuat melihat kita seperti ini."
"Kak, kamu lemah sekali. Istrimu sudah terangsang begitu, kamu malah diam saja."
"Kalian berdua ini gila ya, jangan merusak pikiran istriku!"
Shela hanya terkekeh, lalu duduk menindih tubuh Marcus, membuat pria itu mengeluarkan suara nikmat.
"Ah... sayang, masukkan pelan-pelan..."
"Ethan... enak sekali..."
Shela membelakangi Ethan, jadi ia tak bisa melihat tubuhnya dengan jelas, namun suara desahan mereka yang begitu keras membuat Ethan ikut merasa tegang.
"Kak, jangan diam saja. Kamu harus lebih aktif padanya."
Marcus berhenti sejenak, menikmati momen itu seolah tak ada orang lain di ruangan itu, sementara Ethan memijat pelipisnya dengan kesal.
"Iya, Ethan kamu lemah sekali."
"Apa?! Apa katamu?!"
Ethan mendengus kesal. Biasanya ia menonton film dewasa di layar laptop saja, tapi sekarang melihatnya secara langsung di depan mata — ia harus menahan diri begitu kuat hingga tubuhnya ikut tegang. Marcus tampak begitu menikmati, berkeringat di dahi sambil mengerang nikmat.
"Ya ampun, enak sekali..."
Nayla kembali masuk ke ruangan VIP itu, melihat Ethan yang masih duduk di sofa sambil memegang gelas anggur, padahal sebenarnya ia sedang berjuang menahan dirinya sendiri.
"Kita pulang saja ya, aku merasa tidak enak badan."
"Kamu sakit lagi?"
Ethan segera mengambil kunci mobilnya di meja, lalu menyodorkan mantel tebalnya agar Nayla memakainya. Ia berusaha menutupi tubuh istrinya agar tak melihat pemandangan tak senonoh di ruangan itu lebih lama lagi.
"Kami pulang dulu."
"Ya ampun, baru jam sebelas, Ethan."
"Nayla tidak enak badan. Kami pulang dulu ya. Kalian tetap di sini kalau masih mau melanjutkan."
Ethan menyeringai dan melambaikan tangan pada Marcus yang masih terlihat kelelahan. Di luar, ia tampak tenang, padahal di dalam ia berjuang keras menahan dirinya sendiri.
Mobil Ethan meluncur di jalanan aspal Jakarta yang telah sepi malam ini. Ia menyetir dengan gelisah, bahkan melaju dengan kecepatan tinggi karena tak sabar segera sampai ke apartemen, masuk ke kamar, dan melepaskan ketegangan yang makin memuncak sejak tadi.
"Ya ampun, jangan ngebut, aku takut..."
Nayla meremas sabuk pengamannya dengan cemas. Ia melirik Ethan yang tak menyahut sepatah kata pun, lalu pandangannya turun ke arah bawah tubuh pria itu. Celana jeans hitam yang dikenakan Ethan tampak pas di tubuhnya, dan terlihat jelas bentuk yang membesar di sana — membuat Nayla menelan ludah dengan susah payah.
Cobalah jadi istri yang baik, layani suamimu. Kau kan istrinya, wanita sahnya. Jadi Ethan juga berhak mendapatkan kebutuhannya, Nayla.
Nayla menggigit bibirnya resah. Kata-kata Shela tadi terus berputar di kepalanya, apalagi saat temannya itu memperingatkan, bisa saja Ethan mencari wanita lain di luar sana jika terus diabaikan.
Mobil Ferrari merah itu terparkir buru-buru di area parkir bawah tanah, sedikit oleng dan kasar hingga Ethan nyaris menabrak pilar besar. Ia tak tahan lagi, kepalanya mulai terasa pening karena tegangannya.
Ethan keluar lebih dulu, berjalan terburu-buru menuju lift diikuti Nayla yang cemas melihat tingkah suaminya seperti orang yang kehilangan kendali.
Setelah memasukkan kata sandi pintu, Ethan melempar sepatunya, lalu berlari naik ke lantai atas menuju kamar. Nayla duduk di sofa ruang tamu, memijat pelipisnya dengan perasaan yang tak menentu.
Nayla, suamimu itu pria normal. Kalau dia tidak tegang setelah melihat tingkah pasangan itu tadi, baru kau perlu khawatir.
Begitulah batin Nayla berusaha meyakinkan diri. Ia baru saja selesai masa haidnya pagi ini, setelah lima hari. Apakah ia siap melakukannya?
Nayla melangkah naik ke tangga dengan langkah gontai. Melewati pintu kamar Ethan yang tertutup rapat, ia yakin pria itu sedang melampiaskan keinginannya sendirian lagi seperti kemarin.
Dengan ragu, Nayla memutar kenop pintu. Melihat kemeja dan celana Ethan yang berserakan di lantai, ia melangkah masuk perlahan, lalu duduk di tepi ranjang, menunggu suaminya selesai mandi.
Cklek...
"Sialan! Jalan berempat sialan! Membuatku repot saja!" Ethan menggerutu sambil berjalan menuju lemari, berganti pakaian tidur sambil meringis kesal, tubuhnya masih tegang, menolak untuk tenang.
"Nakal sekali kamu.. jangan menyiksaku sekarang, ah..." Ethan mengacak rambutnya yang masih basah, lalu terkejut saat melihat Nayla duduk di tepi ranjangnya.
"Kamu?! Mau apa kau ke sini?"
Nayla memeluk bantal, lalu berbaring di sisi ranjang sambil menatapnya. "Memangnya aku tidak boleh tidur di sini? Aku takut, di kamarku ada kecoa besar..."
"Hah? Sejak kapan kau takut kecoa? Di apartemen ini yang selalu dibersihkan setiap hari pun ada kecoa?"
"Kamu yakin ada kecoa? Besok aku suruh Bu Sumi panggil pembasmi serangga saja."
"Iya, aku takut. Aku tidur di sini saja ya."
Nayla menepuk sisi kanan tempat tidur, meminta Ethan berbaring di sana. Pria itu pun merebahkan diri, meski masih gelisah karena keinginannya belum tuntas.
"Kau kenapa?" Ethan berbaring miring menghadap Nayla, wajahnya memerah karena menahan diri, ia begitu ingin menyentuh bibir wanita itu. Namun Nayla justru mendekatkan tubuhnya, melingkarkan lengan di pinggangnya.
"Nayla... astaga, tidurlah. Jangan begini."
Ethan makin gelisah, wajahnya pucat menahan diri sementara Nayla menatapnya dengan pandangan sendu.