NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALBUM FOTO KECIL

Bulan-bulan pertama pascapersalinan berlalu dalam ritme yang sibuk namun dipenuhi kehangatan. Rumah Meguro tak lagi hanya berisi helaan napas tenang sang Profesor dan senyum lembut Yuki. Kini, sudut-sudut ruangan itu dihiasi oleh gantungan baju-baju bayi berukuran mungil, aroma minyak telon yang menenangkan, serta album foto tebal bersampul pastel yang terletak anggun di meja tengah.

Yuki duduk berselonjor di atas karpet ruang keluarga, memangku Sena yang kini berusia lima bulan. Bayi cantik itu sudah semakin menggemaskan—pipi gembulnya merona merah, tangannya yang gempal terus menggapai-gapai udara, dan matanya bulat jernih menatap kamera instan di tangan ibunya.

Cklik!

Kilatan cahaya tipis menyala, lalu mencetak selembar foto instan. Yuki mengambilnya, mengibaskan foto itu perlahan hingga sosok Sena yang sedang mengerutkan bibir mungilnya terlihat jelas.

"Lihat ini, Sayang. Foto Sena waktu pertama kali tengkurap..." gumam Yuki seraya menunjuk lembaran foto di halaman sebelumnya.

Di album tersebut, Yuki dan Akira mencetak serta menata perjalanan tumbuh kembang putri mereka secara rapi. Ada foto Sena saat berusia dua minggu terlelap dalam balutan kain bedong, foto canggung Akira yang ketakutan saat pertama kali memandikan Sena di bak plastik, hingga foto Sena berusia tiga bulan dengan celemek bayi bertuliskan 'Papa's Little Scientist'.

"Sedang menambah koleksi album lagi, Yuki?"

Suara bas yang akrab itu terdengar saat Akira melangkah masuk dari arah dapur sambil membawa segelas air hangat. Pria itu melepas kacamata bacanya dan ikut duduk di samping istrinya. Jemari kekar Akira mengusap lembut rambut halus Sena, membuat bayi itu tertawa kecil tanpa suara dan meraba jemari ayahnya.

"Iya. Aku mau mendokumentasikan setiap detail kecil tumbuh kembang Sena," sahut Yuki penuh binar bahagia. "Nanti saat Sena besar, kita bisa perlihatkan betapa banyaknya orang yang menyayangi dia sejak bayi."

Akira tersenyum tipis, merangkul bahu Yuki seraya memperhatikan deretan foto kecil putri mereka. "Aku setuju. Dokumentasi ini akan jadi bukti logis untuk Sena bahwa dia tumbuh di lingkungan yang dipenuhi rasa cinta."

Belum sempat Yuki membalas candaan ilmiah suaminya, suara bel pintu depan terdengar berbunyi beberapa kali, disusul ketukan ramah.

"Sepertinya tamu-tamu kita sudah datang," ujar Akira seraya bangkit berdiri untuk membuka pintu.

Suasana rumah Meguro seketika pecah oleh riuhnya suara langkah kaki dan sapaan hangat. Tidak tanggung-tanggung, sore itu rumah mereka kedatangan rombongan keluarga dan sahabat terdekat. Dua nenek Sena—Mama Akira dan Ibu Yuki—melangkah masuk paling depan membawa tas belanjaan besar berisi pakaian serta bahan makanan segar.

"Cucu Nenek yang paling cantik!" seru Mama Akira langsung mendekati Yuki dan mengambil alih Sena dari pangkuannya dengan keahlian seorang ibu senior. "Aduh, harumnya... Pipinya makin menggemaskan saja!"

Ibu Yuki ikut menempelkan pipinya ke pipi Sena dengan gemas. "Ibu buatkan sup hangat khusus untukmu, Yuki. Kamu harus tetap menjaga stamina selama menyusui."

Di belakang mereka, Yasiro dan Nana masuk bersama Ren kecil yang melompat-lompat antusias. Ren membawa sebuah boneka kelinci rajut berwarna merah muda yang dibungkus pita manis.

"Tante Yuki! Om Akira! Mana Sena-chan?" seru Ren riang. Begitu melihat Sena di pelukan neneknya, Ren berjingjit penuh kehati-hatian. "Halo Sena-chan... Ini kakak bawakan boneka baru buat Sena!"

"Wah, Ren makin dewasa ya sekarang, pintar menjaga adik," puji Nana seraya mengusap rambut putranya. Nana lalu menyerahkan setumpuk camilan buatan kafenya pada Yuki. "Yuki, kamu kelihatan segar sekali! Pendar ibu hamilnya hilang, ganti jadi pendar ibu menyusui yang cantik!"

Tidak berhenti di situ, pintu rumah kembali terbuka. Mbak Maya—manajer pribadi Yuki di agensi modelling yang terkenal tegas namun sangat perhatian—masuk dengan gaya pakaian stylish yang selalu elegan. Mbak Maya membawa kotak hadiah besar berisi gaun-gaun bayi terbitan brand mewah.

"Yuki dear! Ya ampun, Mbak kangen sekali!" seru Mbak Maya memeluk Yuki dengan hangat dan hati-hati. Ia lalu berlutut di samping boks bayi, menatap Sena dengan mata berbinar haru. "Astaga... calon supermodel masa depan! Garis wajah dan matanya cantik sekali, menurun dari ibunya!"

"Tolong jangan racuni putriku dengan dunia panggung terlalu dini, Mbak Maya," potong Akira tenang namun tegas seraya menyuguhkan cangkir teh di meja.

Mbak Maya terkekeh renyah seraya mengibaskan tangannya pelan. "Tenang saja, Profesor. Saya cuma mengagumi kecantikannya kok!"

Yasiro yang melihat ekspresi protektif Akira langsung menepuk bahu sahabatnya itu seraya tertawa lepas. "Lihat kan? Apa aku bilang, Bro! Kamu bakal protektif setengah mati kalau sudah berurusan sama putri kecilmu ini!"

"Bukan protektif berlebihan, Yasiro. Ini hanya kalkulasi risiko," sanggah Akira datar, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman pasrah saat melihat semua orang menertawakannya.

Sementara para tamu berbincang hangat di ruang tamu, Mama Akira dan Ibu Yuki mulai sibuk menata makanan di meja makan, sementara Nana membantu Yuki menyiapkan minuman tambahan. Ren kecil terlihat duduk tenang di samping boks bayi, dengan setia menggoyangkan mainan kerincingan untuk menghibur Sena yang tampak terpesona melihat kakak kecilnya.

Seluruh ruangan seketika dipenuhi gelak tawa dan kehangatan. Rumah yang dulunya begitu hening dan kaku kini terasa sangat hidup, bising oleh canda tawa, dan penuh warna.

Di tengah keriuhan itu, Yuki mengambil kamera instannya lagi. "Semua orang, kumpul sebentar! Ayo kita foto bersama Sena!"

Semua orang berkumpul mengelilingi sofa utama. Mama Akira dan Ibu Yuki duduk di tengah memangku Sena, dikelilingi Nana, Yasiro, Ren kecil, dan Mbak Maya yang tersenyum ceria ke arah kamera. Akira berdiri tepat di belakang Yuki, melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan penuh perlindungan dan rasa hangat.

Cklik!

Kilatan lampu menyala, dan selembar foto instan perlahan keluar dari kamera. Yuki mengambilnya, menunggu warnanya muncul sempurna, lalu menyisipkannya tepat di lembar utama album foto Sena.

Di sana, di antara puluhan foto kecil Sena yang sedang tertawa, menguap, menggeliat tidur, hingga menggenggam erat jari kelingking ayahnya, kini terpampang sebuah potret utuh yang penuh cinta dari orang-orang terdekat yang menjaga tumbuh kembang putri mereka.

Sena Riyuma tidak hanya tumbuh dalam dekapan hangat Akira dan Yuki, melainkan di dalam naungan kasih sayang melimpah dari keluarga dan sahabat sejati yang akan selalu ada di setiap langkah kecil masa depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!