NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA

Pagi di pertengahan bulan kelima kehamilan Khadijah membawa udara yang lebih sejuk dari biasanya.

Sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai putih kamar utama rumah Al-Idrus, membiaskan pola garis-garis emas di atas sprei.

Zaid sudah bangun sejak sebelum Subuh.

Namun, alih-alih langsung bersiap dengan kemeja dan berkas hukumnya, pria tegap itu kini berbaring miring dengan satu tangan menopang kepala.

Matanya tak lepas menatap wajah istrinya yang masih tertidur lelap.

Mukena putih yang dipakai Khadijah saat sholat malam tadi masih membingkai wajah cantiknya yang polos tanpa polesan apa pun.

Perut Khadijah kini benar-benar sudah membuncit anggun.

Di balik kain piyama longgar berwarna lembut, ada kehidupan kecil yang terus bertumbuh sebuah bukti nyata dari takdir ajaib yang menyatukan seorang mantan penguasa jalanan dan seorang Hafizah.

Zaid mengulurkan tangannya perlahan, menyentuh lembut lengkungan perut istrinya dengan telapak tangan yang hangat dan penuh bekas kapalan.

_Duk._

Sebuah tendangan kecil yang sangat halus terasa menghantam telapak tangan Zaid.

Zaid menahan napas seketika.

Iris mata elangnya membelalak, lalu perlahan mengembang menjadi binar kebahagiaan yang begitu murni.

Ini bukan pertama kalinya ia merasakan getaran itu, tetapi setiap kali si kecil di dalam rahim Khadijah bergerak, dada Zaid selalu bergemuruh oleh rasa haru yang tak terlukiskan.

"Mas Zaid..."

suara serak khas bangun tidur Khadijah mengalihkan perhatian Zaid.

Khadijah membuka matanya perlahan.

Melihat Zaid sedang tersenyum sendiri sambil menempelkan telinganya di atas perutnya, Khadijah tak sanggup menahan tawa kecilnya yang merdu.

Jemari Khadijah bergerak lembut mengusap rambut tebal suaminya.

"Mas sedang bicara apa sama bayinya pagi-pagi begini?"

tanya Khadijah, suaranya lembut membelaikan kedamaian di hati Zaid.

Zaid mendongak, mengecup kilat bibir Khadijah sebelum kembali menempelkan pipinya di perut sang istri.

"Aku bilang sama dia... cepat-cepat lahir, ya.

Ayah sudah tidak sabar mau ajak jalan-jalan naik motor—"

"Mas Zaid!"

Khadijah langsung memotong, menepuk bahu tegap Zaid pelan sambil memasang muka cemberut yang menggemaskan.

"Tidak ada motor-motoran untuk anak kita sebelum dia lulus pesantren!"

Zaid terkekeh renyah suara tawa lepas yang dulu sangat langka terdengar dari bibirnya, namun kini menjadi musik harian di rumah mereka.

Zaid menegakkan tubuhnya, merangkul pinggang Khadijah dari samping dan menarik tubuh hangat istrinya ke dalam dekapan posesifnya.

"Iya, Ibunda Hafizah...

menurut apa kata Bunda saja,"

bisik Zaid hangat di ceruk leher Khadijah, membuat wanita itu merinding halus dan menyembunyikan wajah blushing-nya di dada bidang Zaid.

"Hari ini... jadwal dokter Hani, kan?"

tanya Khadijah pelan di balik dada Zaid.

"Kita mau lihat jenis kelaminnya..."

Zaid mengepalkan tangannya di balik punggung Khadijah.

Ada rasa mendebarkan yang aneh di dadanya.

"Iya.

Mau laki-laki atau perempuan, yang penting kamu dan bayinya sehat, Khadijah.

Tapi kalau laki-laki... aku bakal ajarkan dia cara melindungi Bundanya."

"Kalau perempuan?"

Khadijah mendongak, menatap mata hitam Zaid.

"Kalau perempuan..."

Zaid mengusap pipi Khadijah dengan ibu jarinya,

"aku bakal pastikan tidak ada satu pun laki-laki brengsek di luar sana yang berani menyakiti hatinya.

Kalau ada, dia harus melangkahi mayat Ayahnya dulu."

Khadijah menggelengkan kepala sambil tersenyum tulus.

"Protektifnya Mas Zaid ini tidak pernah berkurang, ya."

"Untuk dua wanita tersayang dalam hidupku?

Tidak akan pernah,"

jawab Zaid mantap.

Klinik Dr. Hani siang itu tampak tenang.

Aroma minyak esensial lavender menenangkan ketegangan halus yang menggelayuti dada Zaid dan Khadijah.

Di dalam ruang periksa yang temaram, Khadijah berbaring di atas ranjang dengan perut yang diolesi gel transparan dingin.

Zaid berdiri tepat di sebelah kiri ranjang, memegang erat tangan kanan Khadijah.

Genggaman tangan Zaid begitu kuat, seolah-olah ia yang sedang menjalani pemeriksaan medis.

"Baik, kita lihat adik bayinya ya..."

dr. Hani menggerakkan alat _transducer_ di atas perut Khadijah.

Layar monitor di samping mereka seketika menampilkan gambaran hitam putih yang bergerak dinamis.

Suara detak jantung bayi mendadak memenuhi ruangan.

_Dug-dug-dug-dug..._

cepat, berirama, dan begitu perkasa.

Zaid menahan napasnya lagi.

Setiap kali mendengar detak jantung itu, dadanya terasa seperti dihantam gelombang kebahagiaan yang meluap.

Khadijah menggigit bibirnya, menatap layar monitor dengan mata yang berkaca-kaca.

"Posisi bayinya bagus sekali,"

dr. Hani tersenyum mengamati layar.

"Perkembangan organ dalamnya sempurna, air ketuban cukup, dan berat badannya sangat ideal.

Ibu Khadijah rajin minum vitaminnya, ya?"

"Alhamdulillah, Dokter...

Mas Zaid yang selalu rewel mengingatkan setiap jam,"

sahut Khadijah sambil melirik suaminya yang masih terpaku menatap layar.

dr. Hani tertawa pelan.

"Suami siaga itu luar biasa, Bu.

Nah, sekarang... mau lihat jenis kelaminnya?

Kakinya lagi terbuka lebar nih, pamer banget bayinya."

Zaid dan Khadijah saling pandang.

Jantung Zaid berdegup dua kali lebih cepat.

"Tolong kasih tahu kami, Dok,"

ujar Zaid dengan suara sedikit parau karena tegang.

dr. Hani menunjuk sebuah titik kecil di antara kedua paha bayi pada layar monitor.

"Lihat moncong kecil di sini?

Selamat ya Pak Zaid, Ibu Khadijah... bayinya Laki-Laki!"

Laki-laki.

Kata itu bergaung di telinga Zaid bagaikan nada terindah yang pernah ia dengar.

Seorang putra.

Seorang penerus darah Al-Idrus.

Seorang laki-laki kecil yang kelak akan menjadi pelindung bagi Ibunya.

Khadijah meneteskan air mata harunya, menoleh menatap Zaid.

Zaid tidak sanggup menahan perasaannya lagi.

Tanpa peduli pada dr. Hani yang tersenyum hangat, Zaid membungkuk, merengkuh kepala Khadijah dan mengepalkan ciuman dalam di kening sang istri.

"Anak laki-laki, Khadijah..."

bisik Zaid bergetar, air bening menetes dari sudut mata elangnya.

"Kita punya anak laki-laki..."

"Alhamdulillah, Mas...

Alhamdulillah,"

balas Khadijah tulus, mengusap air mata di pipi suaminya.

Setelah keluar dari klinik dan menembus kemacetan sore, Zaid membawa Khadijah menyantap makan malam di sebuah restoran bernuansa taman yang cukup privat di kawasan Jakarta Selatan.

Zaid sengaja memilih area saung terbuka yang dikelilingi kolam ikan dan pepohonan rindang agar Khadijah bisa menghirup udara segar.

Khadijah tampak sangat anggun malam itu.

Gamis berwarna hijau sage dan jilbab syar'i warna senada membuat kulit putihnya tampak makin bersinar.

Aura kehamilannya _pregnancy glow_ memancarkan kecantikan murni yang begitu memikat, hingga tak jarang mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka.

Saat Zaid sedang pergi sebentar ke toilet, dua orang pemuda berpakaian rapi yang duduk di meja tak jauh dari saung mereka perlahan mendekat.

Salah satu dari mereka pria muda berkaca mata dengan gaya necis membawa sebuah kartu nama.

"Permisi, Mbak..."

sapa pria necis itu dengan senyum ramah.

"Maaf mengganggu waktunya.

Saya dari manajemen talent agency.

Kami sedang mencari model untuk busana muslimah dan ibu hamil.

Mbak punya aura yang sangat bagus—"

Khadijah terkejut, langsung membetulkan posisi duduknya dan menundukkan pandangannya secara sopan.

"Maaf, Mas... saya tidak tertarik."

"Cuma simpan kartu nama saya dulu, Mbak.

Fee-nya sangat besar dan—"

"Dia bilang dia tidak tertarik."

Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi mendadak memotong kalimat pria itu dari belakang.

Pria necis itu berbalik dan seketika menelan ludah.

Zaid berdiri tegak di sana.

Kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku memperlihatkan otot matang dan urat-urat menonjol di tangannya.

Tatapan mata Zaid begitu tajam, seolah siap mencabik siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Aura aura mantan ketua geng motor yang mematikan memancar kuat dari tubuh Zaid, membuat kedua pemuda itu mundur satu langkah secara refleks.

"Mas... ini siapa ya?"

tanya pria necis itu mencoba mempertahankan gengsi, meski suaranya sedikit gemetar.

Zaid melangkah maju, memotong jarak dan meletakkan tangan kekarnya di atas bahu pria necis tersebut.

Cengkeraman Zaid tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat pria itu mengerti tingkat bahayanya.

"Saya suaminya,"

bisik Zaid dingin tepat di samping telinga pria itu.

"Dan istri saya bukan konsumsi publik.

Sekarang, ambil kartu namamu, lalu pergi dari sini sebelum saya hilang kesabaran."

Kedua pemuda itu tidak perlu diperintah dua kali.

Dengan wajah pucat, mereka meminta maaf terburu-buru lalu berbalik dan pergi dari restoran tersebut dalam hitungan detik.

Zaid menghela napas kasar, merapikan gulungan kemejanya, lalu berjalan menghampiri saung.

Sikap dinginnya seketika mencair saat matanya beradu dengan mata Khadijah.

Khadijah menahan senyumnya, menutup mulutnya dengan ujung jilbab saat melihat raut wajah Zaid yang kusam dan dipenuhi rasa cemburu.

"Mas Zaid..."

panggil Khadijah lembut saat Zaid duduk di sampingnya.

"Mas galak sekali pada mereka."

Zaid cemberut sebuah ekspresi langka yang hanya diperlihatkan di depan Khadijah.

Ia merangkul bahu Khadijah, menarik istrinya mendekat seolah ingin menyembunyikan Khadijah dari pandangan dunia luar.

"Lagian mereka tidak sopan,"

gumam Zaid gusar.

"Sudah tahu kamu lagi hamil, masih saja diganggu.

Lain kali kalau ada yang mendekat begitu, langsung panggil aku atau Haikal."

Khadijah tertawa pelan, tawa manis yang hangat.

Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Zaid, mengusap rahang tegas suaminya yang masih menegang.

"Mas Zaid... tidak akan ada laki-laki lain yang bisa membuat hati saya bergetar selain suami saya sendiri,"

bisik Khadijah tulus.

"Di mata saya, tidak ada laki-laki yang lebih gagah dan tampan selain Zaid Al-Idrus."

Kata-kata sederhana itu meluncur seperti penawar racun di dada Zaid.

Rasa cemburu dan kekesalannya menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Zaid menunduk, menatap mata Khadijah yang selalu memancarkan kejujuran murni.

"Kamu ini... makin pinter gombal sekarang,"

bisik Zaid sambil mencubit pelan hidung mancung Khadijah.

"Saya bicara jujur, Mas,"

balas Khadijah tersenyum lebar.

Sekembalinya mereka ke rumah, malam sudah larut.

Keheningan menyelimuti kediaman Al-Idrus.

Setelah menyegarkan diri, Zaid dan Khadijah menunaikan sholat Witir bersama di kamar mereka.

Di atas sajadah yang terbentang, setelah salam terpancar, Zaid membalikkan tubuhnya.

Khadijah maju mendekat dan mencium punggung tangan Zaid penuh takzim.

Zaid memegang kepala Khadijah, merapalkan doa kebaikan untuk istrinya, lalu mengecup kening Khadijah lama.

"Khadijah,"

panggil Zaid pelan saat mereka masih bersimpuh di atas sajadah.

"Iya, Mas?"

Zaid merengkuh tangan Khadijah, menyatukan jemari mereka.

"Soal nama anak kita nanti... aku sudah memikirkannya."

Mata Khadijah berbinar tertarik.

"Mas sudah siapkan nama?"

Zaid mengangguk pelan.

Ada gurat keseriusan dan ketulusan mendalam di wajahnya.

"Aku ingin memberi nama depan Muhammad... agar dia memiliki keteladanan tertinggi dari Rasulullah."

"Masyaallah yang indah, Mas,"

puji Khadijah.

"Lalu nama tengah dan belakangnya?"

Zaid menatap perut Khadijah, lalu menatap mata istrinya.

"Muhammad Farhan Al-Idrus."

Khadijah tertegun.

Air mata seketika menggenang di pelupuk mata cantiknya.

Nama Farhan nama almarhum kakak Zaid yang dulunya menjadi calon suaminya, pria yang tewas demi membongkar kejahatan dan meniti jalan keadilan.

"Mas... Mas yakin?"

suara Khadijah bergetar menahan haru.

Zaid tersenyum tulus, menggelengkan kepalanya pelan untuk menenangkan Khadijah.

"Aku sangat yakin, Istriku.

Bang Farhan adalah pria yang luar biasa.

Tanpa perjuangannya, kita tidak akan sampai di titik ini.

Aku ingin anak laki-laki kita kelak memiliki keberanian, kejujuran, dan kebaikan hati seperti almarhum Bang Farhan... tapi dengan takdir hidup yang jauh lebih panjang dan membahagiakan bersama kita."

Khadijah tak sanggup lagi menahan keharuannya.

Ia menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan Zaid, menangis sesenggukan di dada bidang suaminya.

Bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan atas kebesaran hati suaminya yang begitu indah.

Zaid merangkul Khadijah erat-erat, mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali.

Di dalam keremangan kamar, di atas sajadah yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, Zaid berjanji pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.

Masa lalu yang gelap telah benar-benar runtuh.

Kini, di depan sana, sebuah kehidupan baru bernama Muhammad Farhan Al-Idrus sedang menunggu untuk dilahirkan ke dunia membawa cahaya, harapan, dan cinta abadi bagi Zaid dan Khadijah hingga babak-babak akhir kehidupan mereka.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!