Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam itu berlalu tanpa memberi Kael kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Sejak percakapannya dengan Aurora berakhir, matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar. Kalimat demi kalimat yang diucapkan gadis itu terus berputar di kepalanya, seolah menolak pergi.
"Bagaimana jika semua yang dikatakannya memang benar?"
Pertanyaan itu terus menghantuinya hingga fajar menyingsing.
Saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Kael langsung menegakkan tubuh. Waktu yang disebut Aurora semalam semakin dekat. Jika gadis itu benar-benar nekat menjalankan rencananya, semuanya bisa terlambat.
"Sial..." gumamnya pelan sambil mengusap wajah. "Kenapa aku terus memikirkan gadis keras kepala itu?"
Tanpa membuang waktu, ia berjalan menuju kamar mandi. Semalaman tidak tidur membuat seluruh tubuhnya terasa pegal dan kaku. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, sedikit meredakan rasa lelah, tetapi gagal menenangkan pikirannya. Bayangan wajah Aurora tetap muncul, membuat kegelisahan di dadanya semakin sulit diabaikan.
Di sisi lain kota, Aurora duduk gelisah di ruang tunggu sebuah klinik.
Sejak selesai melakukan proses administrasi, kedua tangannya tak berhenti bergerak. Jemarinya saling menggenggam, lalu terlepas, kemudian kembali diremas pelan. Setiap detik terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.
Sesekali ia melirik pintu ruang pemeriksaan, berharap seseorang datang sebelum namanya dipanggil.
"Di mana dia?" bisiknya lirih. "Apa dia benar-benar akan membiarkanku menghadapi semua ini sendirian?"
Aurora menundukkan kepala. Napasnya bergetar saat ia mengusap wajah berulang kali, berusaha menenangkan diri yang semakin diliputi kecemasan.
"Aku takut..." gumamnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tidak pernah ingin berada dalam situasi seperti ini. Tapi aku juga tidak tahu harus melakukan apa lagi."
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Meski berusaha tampak tegar, hatinya dipenuhi kebimbangan. Jauh di lubuk hatinya, Aurora masih berharap pintu ruang tunggu itu terbuka... dan Kael datang sebelum semuanya berubah menjadi penyesalan.
Seorang petugas memanggil nama Aurora dan mempersilahkannya mengikuti langkah mereka menyusuri lorong yang semakin jauh dari area utama klinik. Semakin dalam ia berjalan, suasana di sekeliling berubah drastis. Koridor yang semula ramai perlahan berganti menjadi sunyi dan lengang.
Di ujung lorong berdiri sebuah ruangan yang terletak di sudut paling terpencil. Pintu besinya tertutup rapat, sementara dua pria bertubuh tegap berjaga tanpa banyak bicara. Tempat itu terasa asing dan membuat bulu kuduk Aurora meremang.
Saat langkahnya terhenti, telinganya menangkap suara lirih dari balik dinding. Samar-samar terdengar seseorang berteriak kesakitan. Suara itu begitu pelan, namun cukup jelas untuk membuat Aurora yakin bahwa itu adalah jeritan seorang perempuan.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
"Kenapa tempat ini terlihat sangat menyeramkan...?" gumamnya dalam hati sambil mengusap tengkuk yang mendadak terasa dingin.
Aurora menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Tangannya kemudian merogoh tas dan menghitung kembali amplop berisi uang tunai yang sudah ia siapkan. Sejak awal, pihak klinik menegaskan bahwa pembayaran hanya bisa dilakukan secara tunai. Tidak ada transfer, kartu, ataupun metode lain. Persyaratan itu sempat terasa janggal, tetapi saat itu ia memilih mengabaikannya.
Kini, berdiri di lorong yang sunyi itu, keraguan mulai memenuhi dadanya.
Pandangannya kosong menatap pintu di hadapannya.
"Pak tua itu... apakah dia benar-benar akan membiarkanku menghadapi semuanya sendirian?" bisiknya lirih.
Kelopak matanya mulai terasa hangat. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia segera mengusapnya sebelum benar-benar mengalir. Jujur saja ia masih berharap pria itu muncul sebelum semuanya terlambat.
Aurora tahu dirinya masih memiliki kesempatan untuk berbalik dan pergi. Namun di sisi lain, ia juga terus dihantui pikiran tentang masa depan anak yang dikandungnya. Ia takut membesarkan buah hatinya tanpa sosok ayah yang bersedia mengakui dan melindunginya.
Dengan napas yang masih bergetar, Aurora memejamkan mata sejenak, berusaha mengumpulkan keberanian, meski hatinya dipenuhi kebimbangan dan harapan yang perlahan mulai memudar.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang tertutup itu akhirnya terbuka.
Sepasang anak muda keluar dari dalam. Seorang gadis seusia Aurora berjalan tertatih dengan wajah sepucat kertas. Seorang pemuda berseragam medis sigap menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Langkah mereka perlahan menjauh dari ruangan, sementara Aurora hanya bisa memperhatikan dalam diam.
"Tenang, semuanya sudah selesai. Kondisimu akan berangsur membaik." ucap pemuda itu lembut, berusaha menenangkan gadis di sampingnya.
Tak lama berselang, seorang perawat mendorong troli yang tertutup kain hijau melewati lorong. Di belakangnya berjalan seorang dokter perempuan berusia sekitar lima puluh tahun dengan jas putih dan kacamata yang bertengger rapi di pangkal hidungnya.
Dokter itu berhenti tepat di hadapan Aurora, lalu melihat berkas di tangannya.
"Saudari Aurora Elise Beaumont?"
Aurora mengangkat kepala perlahan.
"Saya..." jawabnya lirih, sementara jantungnya berdetak semakin cepat menanti apa yang akan terjadi berikutnya.
Dokter perempuan itu tersenyum tipis lalu membuka pintu di sampingnya.
"Silakan masuk."
Aurora menarik napas dalam sebelum melangkah ke dalam ruangan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, aroma menyengat langsung memenuhi indera penciumannya. Bau antiseptik bercampur dengan obat-obatan dan wewangian pengharum ruangan yang berlebihan menciptakan suasana yang membuat dadanya semakin sesak. Ia tak mampu menebak campuran aroma apa yang memenuhi ruangan itu, hanya saja semuanya terasa asing dan tidak nyaman.
Refleks, pandangannya langsung tertuju pada jam dinding.
Jarum pendek hampir menyentuh angka sepuluh.
Waktu terus berjalan.
Namun ponselnya tetap sunyi. Tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan dari Kael.
Aurora menurunkan pandangannya perlahan. Senyum pahit terlukis di bibirnya.
"Untuk apa aku masih berharap? Dia bahkan mungkin tidak peduli apakah aku dan bayi ini baik-baik saja atau tidak. Di matanya, aku mungkin bukan siapa-siapa."
Suara seorang perawat membuyarkan lamunannya.
"Uangnya sudah dibawa, kan?"
Bersamaan dengan pertanyaan itu, pintu ruangan dikunci rapat dari dalam hingga terdengar bunyi klik yang membuat jantung Aurora berdegup semakin cepat.
Aurora mengangguk pelan. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka tasnya lalu mengeluarkan sejumlah uang tunai sesuai nominal yang telah disepakati sebelumnya.
Perawat itu menerima uang tersebut tanpa banyak bicara, kemudian mulai menghitungnya satu per satu di hadapan Aurora.
Di sisi lain ruangan, dokter perempuan tadi sedang mempersiapkan peralatan medis. Dengan gerakan tenang dan terlatih, ia mengambil beberapa vial obat, lalu memasukkan cairannya ke dalam alat suntik sambil memastikan setiap langkah dilakukan dengan teliti.
Aurora hanya mampu berdiri mematung.
Tatapannya bergantian antara jarum suntik yang perlahan terisi, uang yang masih dihitung di atas meja, dan pintu yang kini telah terkunci rapat.
Untuk sesaat, ia kembali melirik layar ponselnya.
Tetap tidak ada apa pun.
Harapan yang sejak tadi ia pertahankan perlahan mulai memudar, menyisakan kecemasan yang semakin memenuhi dadanya.
Aurora duduk terpaku di tepi ranjang pemeriksaan. Sejak memasuki ruangan itu, tak seorang pun memberinya formulir persetujuan atau menjelaskan prosedur secara resmi. Keheningan yang ganjil justru membuatnya semakin sadar bahwa semua yang berlangsung di tempat itu tidak dilakukan sebagaimana mestinya.
Ia menggenggam kedua tangannya erat, berusaha meredam rasa takut yang terus merambat di dalam dada.
"Silakan bersiap untuk pemeriksaan." ujar dokter perempuan itu dengan nada tenang.
Aurora mengangguk pelan. Dengan gerakan kaku, ia mengikuti instruksi dokter dan mempersiapkan diri untuk pemeriksaan medis. Jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah memenuhi seluruh ruangan yang sunyi.
"Silakan berbaring."
Aurora menaiki ranjang pemeriksaan. Saat punggungnya menyentuh kasur tipis itu, napasnya terasa semakin berat. Berbagai pikiran berkecamuk tanpa henti.
Inikah akhirnya? Benarkah semua akan berakhir di ruangan ini?
Dokter kemudian menutupi sebagian tubuh Aurora dengan kain pemeriksaan demi menjaga privasinya. Setelah semuanya siap, dokter mengambil alat USG untuk memeriksa kondisi kehamilan dan memastikan usia janin.
Beberapa saat kemudian, layar monitor menyala.
Aurora memandangnya tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya, ia melihat gambaran kecil kehidupan yang tengah tumbuh di dalam rahimnya. Meski hanya berupa citra hitam putih yang samar, pemandangan itu membuat tenggorokannya tercekat. Air matanya mulai menggenang tanpa mampu ia tahan.
Dokter melirik wajah Aurora yang tampak pucat, lalu bertanya dengan suara yang jauh lebih lembut.
"Pasanganmu tidak ikut menemanimu hari ini?"
Aurora menundukkan kepala. Bibirnya bergetar, tetapi tak segera menemukan jawaban. Keheningan yang tercipta justru terasa lebih menyakitkan daripada pertanyaan itu sendiri.
Melihat air mata yang terus mengalir di pipi Aurora, dokter perempuan itu sempat terdiam. Wajah yang semula terlihat ramah kini sulit ditebak, seolah tengah menimbang sesuatu dalam benaknya.
Aurora menggigit bibir bawahnya. Dadanya naik turun menahan isak.
"Dok... saya berubah pikiran." Suaranya bergetar. "Saya tidak sanggup melanjutkan ini. Saya benar-benar takut."
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. Bayangan tentang kehidupan kecil yang baru saja ia lihat melalui layar USG terus terlintas di kepalanya. Hatinya menolak menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan buah hatinya.
Dokter itu berusaha menenangkan.
"Tenangkan dirimu. Kami sudah terbiasa menangani pasien dalam kondisi seperti ini. Kehamilanmu juga masih sangat dini, sehingga prosedurnya relatif lebih ringan. Cobalah untuk tidak panik."
Aurora menggeleng kuat-kuat.
"Tidak, Dok." Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Saya tidak ingin meneruskannya. Saya ingin mempertahankan bayi saya."
Dengan napas yang masih tersengal, Aurora berusaha bangkit dari ranjang pemeriksaan. Ia berniat segera meninggalkan ruangan itu sebelum keberaniannya kembali runtuh.
Namun, baru beberapa langkah bergerak, dokter memberi isyarat kepada perawat untuk membantu menenangkan Aurora yang tampak sangat panik.
Dalam situasi yang kacau itu, perawat tersebut dengan cepat menyuntikkan obat penenang ke tubuh Aurora, hingga perlahan Aurora merasakan tubuhnya semakin lemas dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
Kesadarannya perlahan memudar.
Dokter dan perawat segera sigap menopang tubuh Aurora agar tidak terjatuh, lalu membaringkannya kembali dengan hati-hati di atas ranjang pemeriksaan.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan, hanya terdengar suara alat medis yang berdengung pelan, sementara wajah Aurora tampak pucat dengan sisa air mata yang masih membekas di sudut matanya.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe