Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Orang Asing
“Aku akan mengambil makanan penutup.” Paula berdiri dari kursinya. “Gwen, ayo bantu aku,” ajak Paula sembari berbalik, berjalan menuju dapur.
“Jadi ceritakan padaku, Gwen, apakah Aaron akhir-akhir ini tidak pulang ke rumah. Kenapa ia terlihat begitu kurus, jambang di wajahnya juga terlihat berantakan. Kapan ia terakhir kali mencukurnya, dan apa yang dilakukan kekasihnya itu.” Paula menyerocos, membelakangi lawan bicaranya karena sibuk menyusun puding, kue dan buah segar di atas nampan. Tidak ada sahutan, tidak lantas membuatnya menoleh ke belakang. Ia terus saja berbicara tentang penampilan Aaron yang tidak enak dilihat dan betapa gatal tangannya untuk merapikan rambut dan bulu-bulu di wajah pria itu.
“Akh, aku butuh beberapa mangkuk untuk es krim, kau juga ingin es krim, bukan?” Paula membuka lemari dapur. Paula berjinjit, untuk menggapai mangkuk yang diletakkan di rak tertinggi. “Kenapa ini tinggi sekali,” Paula mengerjapkan mata beberapa kali, sebuah tangan kekar melewati kepalanya dan mengambil mangkuk yang ia butuhkan. Jantungnya berdegup kencang, ia merasakan tubuh Aaron di balik punggungnya. Ia tidak berani untuk berbalik, dan apa yang ia bicarakan tadi. Di mana Gwen?
“Aku tidak keberatan kau melakukannya,” Aaron melingkarkan kedua tangannya di perut rata Paula, meletakkan dagunya di bahu gadis itu dan menghirup dalam aroma Paula yang sangat menenangkan dan membuatnya gila dalam saat bersamaan.
Paula menggigit bibirnya, jantungnya seakan mau meloncat ke luar dan tubuhnya kaku menerima pelukan yang sialnya sangat ia rindukan. Sekarang ia tidak tahu harus berbuat apa. Untuk menggerakkan lidahnya saja rasanya sangat susah, dan sial ia ingin waktu berhenti detik itu juga. Ia ingin pria itu tetap bersamanya, dan ia ingin meneriakkan apa yang ia rasakan, ketakutan seperti apa yang ia sembunyikan dan pengobatan terbaik apa pun yang sudah dilakukan keluarganya justru membuatnya semakin merasakan takut yang luar biasa. Sugesti yang diberikan Luna lebih berpengaruh dibanding sugesti yang dilakukan dokter terbaik sekalipun.
“Aku merindukanmu, princess.” Aaron menyampirkan rambut Paula untuk memberi akses kepadanya, mengecup telinga gadis itu.
Sekujur tubuh Paula membara, darahnya dengan cepat merangkak naik ke atas. Ia menelan ludahnya susah payah, dan astaga ia bahkan merasakan pijakan kakinya seperti jeli.
“A-Aaron..” suaranya bergetar hebat, bukan karena ia takut, tapi karena sensasi yang ia rasakan atas sentuhan pria itu.
‘Hmm.” Aaron dengan nakalnya justru mengecup leher Paula.
“A-apa yang kau lakukan,” Paula meremas ujung bajunya.
“Merasakanmu,” jawab Aaron dengan santai.
“Lepaskan aku,” ucap Paula yang terdengar seperti lirihan.
“Aku menolak,” Lagi Aaron berulah dengan menggigit pelan bahu Paula. “Aku hampir gila mendengarmu sedang berkencan dengan pria lain. Bukankah sudah kuktakan, tidak ada pria yang boleh menyentuh atau berdekatan denganmu. Kenapa kau membangkang?” Aaron memutar tubuh Paula, ia ingin menatap wajah gadisnya, wajah yang selalu hadir dalam mimpinya sejak ia mangalami mimpi basah untuk pertama kalinya. Mimpi basah, ukuran bagi pria untuk bisa dikatakan dewasa, dan sejak itu ia mengklaim Paula jadi miliknya. Ya, ia menetapkan Paula sebagai wanitanya sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Aku berkencan bersama Pax.”
“Tapi aku tidak tahu sebelumnya.” Aaron mengangkat dagu Paula agar gadis itu menatapnya. Paula memalingkan wajahnya, ia tidak kuat jika harus menatap pria itu secara terang-terangan. “Tatap aku.”
“Tidak mau.” tolak Paula.
“Lala,,,” panggilnya dengan sangat lembut mendayu.
“Tidak mau!” tolak Paula, dan justru kembali menundukkan kepalanya.
“Jadi katakan kapan kau akan merapikan wajahku? Aku tidak keberatan jika kita melakukannya sekarang.” Lagi Aaron mengangkat dagu Paula.
“Melakukan apa?” Paula tidak memalingkan wajahnya lagi, ia menatap manik Aaron, manik yang selalu menatapnya penuh cinta dan itu bisa ia lihat jika mereka hanya berdua dan ia benci itu, kenapa pria di hadapannya itu selalu berubah-ubah.
“Memangnya melakukan apa yang ada di pikiranmu?” Aaron mengelus wajah Puala dengan jemarinya.
Paula mengerjap, menyadari kekeliruannya, seketika wajahnya bersemu merah. Bukankah tadi Aaron mengatakan dengan sangat jelas, bahwa ia sedang membicarakan rambut dan jambang, bukan hal lainnya.
Paula menepis tangan Aaron, “Aku harus pergi, kau bisa meminta kekasihmu melakukannya dan kau juga bukan anak kecil yang harus digiring ke barbershop untuk merawat dirimu.” Paula berbalik, baru satu langkah, Aaron menariknya kembali hingga Paula kini sudah berada dalam dekapannya.
“Kau mengatakan tanganmu, gatal.” Aaron mengangkat sebelah tangan Paula dan mengecup telapak dan punggung tangannya, lalu memaksa tangan mungil itu menjamah wajahnya yang kasar akibat jambang yang tumbuh tidak teratur dan tidak terawat. “Aku sengaja mencari perhatianmu, jadi perhatikan aku,”
“Kau tidak haus perhatian!” Paula meronta untuk melepaskan diri.
“Aku haus akan dirimu, dahaga berkepanjangan yang tidak akan membuatku puas sekalipun memelukmu erat seperti ini.”
“Kau terdengar seperti pria brengsek,” desis Paula dengan sengit.
“Ya, itu memang aku. Maafkan aku.” Aaron membenarkan. Harus ia akui ia memang terlihat srperti pria brengsek di luar sana yang tidak bisa memantapkan hati untuk siapa, lebih tepatnya tidak berani untuk mengambil keputusan.
“Kenapa harus meminta maaf padaku, bukan aku yang kekasih yang sedang kau khianati.” sarkas Paula.
Aaron terdiam, ia menatap Paula dengan lekat, mengabsen semua keindahan yang terdapat di wajah gadisnya itu. Ia menyukai semua yang ada pada gadis itu. Semuanya terlihat sempurna, dan ia ingin kesempurnaan gadis itu hanya miliknya. “Jangan berkencan lagi,”
“Siapa kau?” Paula menatapnya marah. Bagaimana tidak marah, ia selalu dilarang pria itu untuk berdekatan dengan pria lain disaat ia bebas bermesraan bersama Luna, wanita yang sangat ia benci. “Dan berhenti merecoki hubunganku. Kau bukan daddy, Lux atau pun Pax, dan yang terpenting aku tidak ingin menjadi perawan tua seumur hidupku. Jika kau terus ikut campur dalam hubunganku, lalu kapan aku bisa hidup bahagia.”
“Tidak akan ada pria yang bisa membuatmu bahagia,” Aaron menatapnya kesal, “Aku tidak akan membiarkannya!”
“Pergilah ke neraka, sialan!” Paula menginjak kakinya, lalu mendorong tubuh Aaron.
Aaron menariknya kembali, dan mendorong tubuhnya ke dinding, memerangkapnya di sana, “Jangan membantahku, karena aku tidak akan segan menghabisi pria yang berani mengatakan mampu membahagiakanmu, Lala.”
“Jika kau memang mampu membunuh, kenapa kau tidak menghabisi wanita itu,” Paula tidak tahu ia mendapat keberanian dari mana untuk mencetuskan ide gila itu. “Dia menyakitiku, tapi kau justru membelanya dan percaya padanya. Jadi berhenti membuatku salah faham atas tingkahmu terhadapku di belakangnya. Jangan menjadi pria menjijikkan yang terlihat sangat serakah, dan Aaron aku membencimu sebesar aku membenci kekasihmu. Jadi berhentilah menyentuhku, seakan aku milikmu. Percayalah, itu sangat menjijikkan! Kau membuatku seperti seorang simpanan, atau aku memang terlihat seperti itu di matamu?”
Aaron terhenyak mendengar perkataan Paula, ia bahkan mundur beberapa langkah. Ucapan Paula seakan menamparnya, ia merasa tertohok.
“Lagipula, kenapa kau dan dia harus kembali kemari. Percayalah, hidupku sangat damai disaat kau dan dia tidak terlihat. Dan sekarang kau dan dia mengacaukannya lagi. Tidak bisakah kalian pergi saja?”
“Lala,” erang Aaron dengan nada frustasi dan wajah terluka .
“Berhentilah memanggilku seperti itu. Kau adalah orang asing bagiku sejak kau mengusirku malam itu,” Paula pun segera pergi, meniggalkan Aaron dan dessert yang akan disajikan.