Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Malam kembali menyelimuti rumah besar itu.
Setelah menerima telepon dari ibu Rian, hati Adista semakin gelisah. Ia tidak bisa lagi berkonsentrasi melakukan apa pun. Wajah Rian dan suara ibunya terus terbayang di benaknya.
Di luar, hujan kembali turun perlahan. Suara rintiknya terdengar memukul genting rumah, membuat suasana terasa semakin sunyi dan mencekam.
Bik Sumi datang membawa secangkir teh hangat.
"Non, diminum dulu. Dari tadi Non belum makan apa-apa."
Adista hanya mengangguk pelan.
Ia mencoba meminum teh itu, tetapi tenggorokannya terasa tercekat. Baru satu teguk, cangkir itu kembali diletakkannya di atas meja.
"Bik..."
"Iya, Non?"
"Kalau semua orang tahu apa yang terjadi semalam... bagaimana?"
Bik Sumi terdiam.
Ia tahu pertanyaan itu bukan meminta jawaban. Adista hanya sedang meluapkan ketakutan yang selama ini dipendam.
"Saya takut, Bik."
"Saya benar-benar takut."
Air mata kembali mengalir di pipi Adista.
"Saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa."
Bik Sumi mengusap pelan bahu Adista.
"Non masih punya keluarga?"
Adista menggeleng.
"Tidak ada yang bisa saya percaya."
Jawaban itu keluar begitu saja. Namun beberapa detik kemudian, Adista teringat seseorang.
Maya.
Asisten pribadinya.
Maya sudah bekerja bersamanya selama hampir tiga tahun. Selama itu pula Maya selalu setia mendampinginya dalam urusan pekerjaan.
Perempuan itu juga pernah menjadi tempat Adista bercerita ketika Ronald meninggal secara tidak wajar, lalu disusul Bram beberapa bulan kemudian.
Saat semua orang menganggap kematian mereka hanyalah kecelakaan, Maya justru mengatakan bahwa ada sesuatu yang terasa janggal.
Sejak saat itu, Adista mulai percaya kepada Maya.
Namun ia tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.
Tentang suara tangisan perempuan.
Tentang bayangan yang sering muncul.
Tentang lukisan misterius yang seolah hidup.
Apalagi tentang kejadian semalam.
"Bik..."
"Saya ingin Maya datang."
"Maya?"
"Asisten saya."
Bik Sumi mengangguk.
"Kalau memang Non percaya sama beliau, mungkin sekarang waktunya meminta bantuan."
Adista menatap layar ponselnya.
Jarinya beberapa kali berhenti di nama Maya.
Namun ia belum berani menekan tombol panggil.
Bagaimana kalau Maya menganggap dirinya sudah gila?
Bagaimana kalau setelah mengetahui semua ini, Maya justru pergi meninggalkannya?
Belum sempat ia mengambil keputusan...
Terdengar suara benda jatuh dari arah ruang tengah.
Brak!
Adista dan Bik Sumi langsung menoleh.
"Suara apa itu?" bisik Bik Sumi.
Mereka saling berpandangan.
Tidak ada yang berani bergerak.
Beberapa detik berlalu.
Rumah kembali sunyi.
Adista akhirnya memberanikan diri berdiri.
"Ayo kita lihat."
Dengan langkah pelan, mereka berjalan menuju ruang tengah.
Lampu masih menyala.
Semua perabot tampak berada di tempatnya.
Namun saat Adista mengangkat pandangannya ke arah dinding...
Tubuhnya langsung menegang.
Lukisan wanita misterius itu.
Entah sejak kapan, posisi wajah perempuan di dalam lukisan berubah.
Semula kepalanya sedikit menunduk.
Kini wajahnya menghadap lurus ke depan.
Matanya seolah sedang menatap Adista.
"Non..."
Bik Sumi berbisik ketakutan.
"Itu... tadi bukan seperti itu."
Adista mengangguk pelan.
Ia juga menyadari perubahan itu.
Dengan jantung berdebar, ia melangkah mendekati lukisan.
Semakin dekat...
Udara di ruang tengah terasa semakin dingin.
Tangannya mulai gemetar.
Belum sempat ia berdiri tepat di depan lukisan...
Setetes cairan merah jatuh dari sudut mata perempuan di dalam lukisan.
Tap...
Adista membeku.
Disusul tetesan kedua.
Tap...
Kemudian tetesan ketiga.
Cairan merah itu mengalir perlahan melewati pipi perempuan dalam lukisan, menyerupai air mata.
"Darah..." bisik Bik Sumi sambil mundur beberapa langkah.
Air mata darah itu terus menetes hingga mengenai bingkai kayu.
Lalu jatuh ke lantai marmer.
Tap...
Tap...
Tap...
Adista tidak mampu mengalihkan pandangannya.
Perlahan, tetesan darah di lantai mulai bergerak sendiri.
Seolah ada tangan yang tidak terlihat sedang menyusunnya.
Huruf demi huruf mulai terbentuk.
Adista menahan napas.
Tulisan itu akhirnya selesai.
MASIH ADA.
Bik Sumi menjerit pelan.
"Apa maksudnya itu, Non?"
Adista menggeleng.
Ia sendiri tidak mengerti.
Masih ada...
Masih ada apa?
Korban?
Rahasia?
Atau sesuatu yang belum selesai?
Tiba-tiba...
"He... he... he..."
Suara tawa perempuan terdengar lirih.
Berasal dari segala arah.
Adista menoleh ke kanan.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia menoleh ke kiri.
Tetap kosong.
Namun ketika ia kembali melihat ke arah lukisan...
Perempuan di dalam lukisan itu sudah tidak menatap lurus.
Kepalanya sedikit miring.
Bibirnya tampak melengkung membentuk senyum tipis.
Senyum yang membuat darah Adista terasa membeku.
Brak!
Salah satu vas bunga di atas meja pecah sendiri.
Pecahannya berserakan di lantai.
Bik Sumi spontan memeluk Adista.
"Non... kita pergi dari rumah ini saja."
Adista memejamkan mata.
Kalimat itu sebenarnya sudah berkali-kali muncul di pikirannya.
Pergi.
Meninggalkan rumah ini.
Meninggalkan semua teror.
Namun setiap kali keinginan itu muncul, ia selalu teringat Ronald dan Bram.
Mereka juga pernah mencoba menjauh dari rumah.
Tetapi kematian tetap menemukan mereka.
Kalau benar semua ini berkaitan dengan wanita dalam lukisan itu...
Apakah melarikan diri benar-benar akan menyelesaikan masalah?
Adista membuka matanya perlahan.
Tatapannya kembali jatuh ke ponsel yang masih berada di atas meja.
Ia sadar.
Ia tidak mungkin menghadapi semua ini sendirian.
Cepat atau lambat, ia membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya.
Seseorang yang masih berpikir jernih.
Seseorang yang mau mendengarkan tanpa menganggapnya gila.
Dengan tangan yang masih gemetar, Adista mengambil ponselnya.
Ia kembali membuka daftar kontak.
Nama Maya muncul di layar.
Kali ini, tanpa ragu lagi, ibu jarinya menekan tombol panggil.
Nada sambung mulai terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Jantung Adista berdegup semakin kencang sambil menunggu telepon itu diangkat.
Ia tidak tahu apakah Maya akan percaya dengan semua yang akan diceritakannya.
Namun satu hal sudah pasti.
Mulai malam itu, Adista memutuskan bahwa ia tidak akan lagi menghadapi teror rumah itu seorang diri.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi