Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 32
Sementara itu, di sebuah desa kecil bernama Desa Kayu Hijau yang terletak di pinggir hutan...
Suasana di lapangan tengah desa yang biasanya tenang kini diliputi oleh ketegangan yang sangat mencekam! Puluhan penduduk desa berkerumun dengan wajah pucat pasi dan mata dipenuhi ketakutan.
Di tengah lapangan, berdiri rombongan perwakilan dari salah satu sekte menengah yang cukup berpengaruh di wilayah barat, Sekte Awan Surya.
Rombongan itu dipimpin oleh seorang pria tua berjubah merah bersulam matahari keemasan, Guru Besar Zhao, seorang ahli kultivasi yang telah mencapai Ranah Suci Tingkat Awal. Di belakangnya, berdiri dua orang murid seniornya, seorang wanita berwajah dingin di Ranah Roh Baji dan seorang pemuda bertubuh tegap di Ranah Inti Emas Awal.
Di depan Guru Besar Zhao, seorang anak perempuan berusia 12 tahun bernama Xiao Chen menangis sesenggukan. Pakaian kain lusuhnya kotor oleh debu. Di balik tubuh kecilnya, ia memeluk erat seorang kakek tua berambut putih yang terduduk lemas di tanah.
Xiao Chen memiliki bakat yang sangat langka, tubuhnya memancarkan kilauan uap murni Elemen Air Terbaik, sebuah potensi besar yang mampu membuat sekte mana pun tergiur untuk merekrutnya.
"Gadis kecil, jangan membuang-buang waktu!" gertak Guru Besar Zhao, suaranya yang berat dan dipenuhi tekanan qi membuat udara di lapangan bergetar. "Bakat Elemen Air milikmu sangat langka! Ikutlah bersama kami ke Sekte Awan Surya! Kau akan menjadi murid inti dan mendapatkan semua sumber daya yang kau impikan!"
Xiao Chen mengusap air matanya dengan lengan baju, lalu menatap Guru Besar Zhao dengan mata membulat penuh keteguhan.
"T-Tidak! Aku tidak mau ikut jika Kakek tidak boleh ikut!" seru Xiao Chen dengan suara serak namun tegas. "Kakek adalah satu-satunya keluargaku! Aku hanya mau bergabung dengan sekte jika Kakek juga dibolehkan tinggal bersamaku!"
Guru Besar Zhao menyipitkan matanya sharp, menunjukkan raut wajah sangat jijik saat melirik kakek tua bersamanya.
Kakek tua berusia 100 tahun itu bernama Kakek Lu. Secara ajaib, kakek tua ini sebenarnya memiliki konstitusi tubuh yang sangat istimewa, Tubuh Sakti Tempur, sebuah wadah fisik yang diciptakan khusus untuk menjadi ahli bertarung tanpa tanding!
Sayangnya, keberadaan Tubuh Sakti ini baru saja terdeteksi hari ini, di usianya yang sudah berkepala satu!
"Cih! Orang tua bangkai ini sudah berusia seratus tahun!" bentak Guru Besar Zhao tanpa belas kasihan. "Jalur darahnya sudah tua, meridiannya mengeras bagaikan batu, dan organ dalamnya mulai membusuk oleh usia! Meskipun dia memiliki Tubuh Sakti Tempur, sudah sangat terlambat baginya untuk memulai jalan kultivasi!"
Murid perempuan di belakangnya ikut mencibir dingin. "Benar! Untuk membangun kembali kultivasi orang tua bangkai ini dari nol, sekte kita harus menghamburkan ribuan pil sakti dan sumber daya tingkat tinggi! Itu sama saja dengan membuang-buang harta sekte ke dalam sumur tanpa dasar! Sekte Awan Surya tidak akan pernah menampung beban tidak berguna seperti dia!"
"Kalau begitu aku tidak mau ikut!" teriak Xiao Chen histeris, merapatkan pelukannya pada Kakek Lu. "Biarkan aku tetap di desa ini bersama Kakek!"
Mata Guru Besar Zhao berkilat marah. "Bocah tidak tahu diri! Kau pikir kau punya hak untuk menolak?! Bakatmu milik Sekte Awan Surya! Jika kau tidak mau ikut secara sukarela, aku akan membawamu secara paksa!"
"Jangan sentuh cucuku!" raung Kakek Lu dengan sisa-sisa tenaganya!
Meskipun tubuh fisiknya sudah sangat tua dan tidak memiliki kultivasi, kebangkitan naluri Tubuh Sakti Tempur membuat Kakek Lu bangkit berdiri secara mendadak. Ia menerjang maju dengan tinju kosong, berusaha melindungi Xiao Chen!
"Orang tua tidak tahu diri! Cari mati!" dengus Guru Besar Zhao dingin.
Dengan hanya satu kibasan ringan dari lengan bajunya, sebuah gelombang tekanan qi Ranah Suci menembak keras tepat di dada Kakek Lu!
BAMMMMMM!
"AAAGHH!"
Tubuh Kakek Lu terlempar sejauh belasan meter, menghantam tembok batu rumah warga hingga hancur berkeping-keping sebelum akhirnya ambruk di atas tanah, memuntahkan darah segar dari mulutnya. Beruntung, keberadaan Tubuh Sakti Tempur membuat tulang-tulangnya jauh lebih padat dibanding manusia biasa, jika ia adalah manusia fana biasa, serangan Ranah Suci itu pasti telah meremukkan tubuhnya menjadi serpihan daging!
"KAKEK!" jerit Xiao Chen histeris, matanya membelalak penuh ketakutan saat melihat kakeknya tergeletak tak berdaya.
Rasa amarah dan benci yang teramat sangat mendadak membakar dada anak perempuan berusia 12 tahun itu. Mengabaikan perbedaan kekuatan yang bagaikan bumi dan langit, Xiao Chen memanggil seluruh energi Elemen Air di dalam darahnya, memicu pusaran air kecil di tangannya, dan menerjang langsung ke arah Guru Besar Zhao!
"Kembalikan Kakekku, orang jahat!" teriak Xiao Chen seraya mengayunkan tinju airnya.
Guru Besar Zhao hanya terkekeh sinis. "Usaha yang menyedihkan."
Tanpa perlu menggerakkan tubuhnya, murid laki-laki di belakang Guru Besar Zhao melangkah cepat, menangkap pergelangan tangan kecil Xiao Chen dengan cengkeraman besi, lalu mengikat kedua tangannya menggunakan tali jimat spiritual secara paksa.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" jerit Xiao Chen meronta-ronta dalam tangisan.
Melihat kekejaman dan sikap arogan perwakilan sekte tersebut, seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang berdiri di barisan depan warga desa akhirnya tidak sanggup menahan kesabarannya lagi. Ia adalah Kepala Desa Kayu Hijau, seorang kultivator bebas yang berada di Ranah Pencerahan.
Swoosh!
Kepala Desa melompat ke tengah lapangan, menarik sebilah pedang baja besar dari punggungnya dan menunjuk langsung ke arah Guru Besar Zhao!
"Sekte Awan Surya benar-benar keterlaluan!" bentak Kepala Desa dengan suara penuh amarah yang membara. "Kalian datang ke desa kami mengaku sebagai sekte ortodoks pemberi perlindungan, tapi kelakuan kalian tak ubahnya seperti iblis jahat! Memaksa anak kecil dan melukai orang tua renta! Kami tidak akan membiarkan kalian membawa Xiao Chen secara paksa!"
Guru Besar Zhao menyipitkan matanya, menatap Kepala Desa dengan pandangan merendahkan. "Hanya seorang kultivator bebas di Ranah Pencerahan... Kau pikir kau punya kualifikasi untuk berbicara di hadapanku?"
"Aku mungkin tidak sebanding denganmu, tapi aku tidak akan berdiam diri melihat warga desaku dianiaya!" raung Kepala Desa.
Dengan seluruh kekuatannya, Kepala Desa memicu energi Pencerahan penuh, mengayunkan pedang besarnya hingga memancarkan tebasan angin tajam yang menggelegar menuju Guru Besar Zhao!
Sssswuuuushhhh!
Tebasan pedang itu membelah tanah lapangan secara drastis. Namun, Guru Besar Zhao bahkan tidak berkedip. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, membentuk cakar air raksasa dari udara tipis dan meremukkan tebasan pedang tersebut hingga hancur menjadi abu!
BLAMMMM!