Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Kekayaan II
Tut… tut.. tut…
Nada dering di ujung telepon bergema monoton.
Masih tidak ada jawaban.
Pak Dadang menurunkan ponselnya perlahan.
Di atas meja kayu, sepucuk kertas tebal tergeletak. Tulisan bertinta merah pekat di bagian atasnya seolah menyuruhnya untuk menyerah pada pilihan terakhir.
Membayangkan nasib Dian yang mungkin sedang terancam, ia mengesampingkan rasa takut dan dilemanya.
Ia mengepalkan tangan, memasukkan kertas misterius itu ke dalam saku celananya, lalu melangkah keluar.
Hari itu adalah hari liburnya dari tugas menjaga sekolah. Pak Dadang berjalan menempuh jarak yang cukup jauh menuju pinggiran kota.
Tujuan pertamanya adalah Gerbang Barat—salah satu titik keluar masuk utama yang membelah batas antara zona aman dan dunia luar.
Struktur dinding beton raksasa bertumpu pada kubah energi tampak menjulang gagah, memancarkan bias cahaya tipis ke udara. Di bawah naungan gerbang tersebut, beberapa petugas keamanan berjaga di posnya dengan raut wajah jenuh.
Seorang penjaga gerbang menyipitkan mata saat melihat figur Pak Dadang mendekat. Pakaian pria tua itu kusam, celana kainnya pudar di bagian lutut, dan langkah kakinya terseret lelah. Penampilan seperti itu bukanlah hal aneh baginya.
Sepertinya pemulung baru, desahnya dalam hati.
Faktanya sudah berkali-kali seorang pemulung nekat keluar pada siang hari untuk mencari sesuatu dari reruntuhan agar bisa dijual. Lagipula siang hari sudah pasti aman, dan mereka selalu kembali sebelum matahari terbenam jadi ia tidak mempermasalahkannya.
Pak Dadang hanya mengangguk pelan, membiarkan prasangka itu melekat demi mempermudah urusannya.
"Tulis nama dan nomor identitas di sini," perintah penjaga seraya menyodorkan lembar catatan.
"Ingat, sebelum matahari terbenam kamu harus sudah kembali gerbang ini. Tidak ada jaminan kamu bisa selamat jika masih di luar saat itu.”
"Baik, Pak. Terima kasih,"
Begitu melewati batas gerbang, jalan aspal yang mulus perlahan berganti menjadi rekahan tanah yang ditumbuhi semak liar dan puing-puing beton yang keropos.
Pak Dadang merogoh saku, membaca petunjuk arah dan koordinat lokasi yang tertera di kertas itu.
Waktu bergulir tanpa ampun. Langkahnya kian melambat, namun pemandangan di sekitarnya masih berupa hamparan reruntuhan tak bertepi.
Lokasi yang tertulis di surat itu rasanya tak kunjung mendekat.
Garis warna jingga keemasan mulai terukir di ufuk barat.
Napasnya memburu.
Jika ia memutar balik sekarang, tubuh tuanya tidak akan sanggup mencapai Gerbang Barat sebelum malam tiba. Namun jika ia terus berjalan menuju lokasi di surat, ia tidak yakin bisa sampai di tujuan.
Ssshh... Derum mesin.
Pak Dadang refleks berbalik dan menepi ke pinggir jalan berbatu.
Sebuah mobil minivan berwarna gelap melaju pelan, lalu berhenti tepat beberapa meter di sampingnya. Kaca jendela bagian depan perlahan turun secara otomatis.
Seorang wanita dewasa berumur sekitar tiga puluh tahun duduk di kursi kemudi. Wajahnya dipoles riasan yang cukup tebal—garis eyeliner tajam dan gincu merah menyala menghiasi bibirnya.
"Bapak mau ke mana jalan kaki sendirian di jam segini?"
"S-Saya... sedang mencari alamat ini, Bu,"
Melihat alamat yang ditunjukkan oleh Pak Dadang, senyum wanita itu perlahan memudar. Tatapannya terpaku pada kertas lusuh tersebut beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangkat wajah.
"Panggil saya Siska. Dan kebetulan sekali... tujuan kita sama."
Pak Dadang tertegun. "Tujuan kita... sama?"
"Kalau Bapak menerima surat itu... kita memang menuju tempat yang sama."
"Naiklah. Kalau Bapak nekat jalan kaki, jangankan sampai lokasi, yang ada nanti jadi santapan hantu.”
Matahari di ufuk barat kian merendah, melemparkan bayangan panjang yang menyeramkan di antara puing-puing bangunan.
Didesak oleh waktu yang kian menipis, Pak Dadang akhirnya mengangguk. Ia membuka pintu mobil lalu duduk di kursi penumpang.
Derum mesin bergetar pelan saat Bu Siska menekan pedal gas.
Jalanan aspal yang retak berubah menjadi jalanan tanah berbatu. Bekas bangunan gedung maupun toko tak lagi terlihat, digantikan deretan rumah-rumah kayu yang sebagian besar telah hancur.
Noda darah yang mengering berceceran di dinding dan jalanan.
Sayangnya, mereka tidak menyadari kengerian yang mengintai di sekitar. Pikiran keduanya tenggelam dalam dilema masing-masing, sementara kabut putih samar perlahan menyelimuti bangunan-bangunan di sepanjang jalan.
Bu Siska merasa pria tua yang diberinya tumpangan memiliki nasib yang tak jauh berbeda. Karena itu, ia berinisiatif membuka percakapan.
"Dulu, saya punya segalanya. Rumah megah, beberapa mobil mewah, dan perusahaan plastik milikku pun berjalan lancar.”
Ia menyimpan kepahitan yang berusaha ditutupi di balik pulasan riasan tebalnya. Menceritakan bagaimana kejayaan itu hancur dalam sekejap.
Bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan akibat kecerobohan teman dekat suaminya yang membuat perusahaannya meninggalkan tumpukan utang yang tak terkira.
Sikap Pak Dadang yang tenang dan mendengarkan dengan tulus membuat Bu Siska merasa nyaman. Tampak jelas bahwa pria tua di sampingnya bukanlah sosok yang memiliki niat jahat.
Tergerak oleh keterbukaan wanita di sampingnya, Pak Dadang pun mulai memberanikan diri berbagi cerita. Mengisahkan kehidupannya yang sederhana, perjuangannya membesarkan Dian, hingga bagaimana ia akhirnya terjerat utang.
Keheningan kembali melingkupi mereka sejenak, diiringi guncangan pelan roda mobil yang melintasi jalanan berbatu.
"Boleh bertanya, Bu Siska... berapa utang Bu Siska hingga berniat ikut ritual ini?"
Bu Siska melirik sekilas melalui kaca spion tengah, lalu menghela napas panjang. "Aduh, Pak... yang pasti lebih besar daripada punya Bapak."
Mendengar hal itu, tubuh Pak Dadang menegang. Tenggorokannya terasa kering hingga ia refleks menelan ludah dengan susah payah.
Melihat reaksi Pak Dadang, Bu Siska menyunggingkan senyum tipis penuh ironi.
"Sekitar 30 Miliar."
"30 Miliar...?" Pak Dadang mengulangi kata itu tanpa sengaja. Bagi orang kecil seperti dirinya, angka sejuta saja sudah seperti gunung, apalagi puluhan miliar.
Bu Siska tertawa sebentar, suara tawa yang terdengar hampa di tengah derum mesin.
" Kalau ritual ini berhasil... Pak Dadang nanti ikut sama saya saja," ujar Bu Siska dengan nada yang lebih hangat.
“Karena saya lihat Bapak ini orang yang pekerja keras dan bisa dipercaya. Zaman sekarang, orang seperti Bapak itu langka."
Pak Dadang terdiam termenung. Bayangan wajah Dian kembali memenuhi benaknya. Di sela-sela kecemasan itu, kata-kata Bu Siska terus bergema di kepalanya.