NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27.

Alesha berjalan menyusuri koridor sekolah sambil memeluk map birunya.

Langkahnya jauh lebih ringan dibanding saat menuju aula tadi. Walaupun Bu Rina masih memberikan beberapa catatan yang harus diperbaiki, setidaknya latihan pertamanya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan.

"Les!"

Suara Dinda terdengar dari arah kantin.

Alesha langsung menoleh.

Dinda berlari kecil menghampirinya dengan wajah penasaran.

"Gimana? Gimana? Cerita!"

Alesha tertawa kecil.

"Pelan-pelan, napa."

"Nggak bisa. Aku penasaran."

Mereka pun duduk di bangku yang berada di bawah pohon dekat taman sekolah.

Alesha mulai menceritakan semua yang terjadi di aula.

Mulai dari suaranya yang sempat bergetar, lupa satu bagian pidato, sampai saran yang diberikan Bu Rina.

Dinda mendengarkan dengan serius.

"Nah, kan. Ternyata nggak seseram yang kamu pikir."

Alesha mengangguk.

"Iya. Bu Rina baik banget."

"Terus sekarang gimana?"

"Aku harus latihan setiap hari."

Dinda tersenyum.

"Aku bantu, deh."

Alesha menatap sahabatnya.

"Serius?"

"Iya. Nanti setiap istirahat atau pulang sekolah, kamu latihan di depan aku."

Alesha langsung tersenyum lebar.

"Makasih, Din."

"Teman kan harus saling bantu."

Bel masuk kembali berbunyi.

Mereka segera berdiri dan berjalan menuju kelas.

Di tengah perjalanan, mereka kembali berpapasan dengan Arka yang baru keluar dari ruang OSIS sambil membawa beberapa map.

Arka menghentikan langkahnya ketika melihat Alesha.

"Sudah selesai?"

Alesha mengangguk.

"Iya."

"Bagaimana hasilnya?"

Alesha tersenyum kecil.

"Masih banyak yang harus diperbaiki."

"Itu berarti masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik."

Alesha mengangguk pelan.

"Iya."

Arka melihat map biru yang dipeluk Alesha.

"Jangan menyerah di tengah jalan."

Alesha menatap Arka beberapa saat, lalu tersenyum lebih lebar.

"Nggak akan."

"Bagus."

Arka kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang guru.

Sementara Alesha berdiri beberapa detik di tempatnya.

Dinda yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung menyenggol pelan lengan Alesha.

"Tuh, semangat lagi kan?"

Alesha terkekeh kecil.

"Iya."

"Kalau begitu, buktikan waktu lomba nanti."

Alesha mengepalkan tangan dengan penuh semangat.

"Pasti."

Untuk pertama kalinya sejak dipilih menjadi perwakilan kelas, rasa takut dalam dirinya mulai tergantikan oleh tekad.

Ia ingin tampil sebaik mungkin.

Bukan hanya untuk Bu Rina atau teman-temannya.

Tetapi juga untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu melakukan hal-hal yang dulu ia kira tidak mungkin.

Pelajaran sore itu berlangsung cukup tenang.

Bu Siska menjelaskan materi di depan kelas, sementara seluruh siswa sibuk mencatat poin-poin penting ke dalam buku masing-masing.

Alesha yang biasanya sesekali melamun, kali ini benar-benar fokus.

Ia bahkan menandai beberapa bagian menggunakan stabilo baru yang dibelinya kemarin.

Dinda yang melihat itu sampai tersenyum.

"Wah."

Alesha menoleh.

"Kenapa?"

"Kamu benar-benar berubah."

Alesha mengerutkan kening.

"Memangnya dulu aku separah itu?"

Dinda mengangguk mantap.

"Dulu baru lima belas menit belajar, kamu sudah mulai menguap."

Alesha langsung tertawa pelan.

"Jangan diingat-ingat terus."

"Nggak bisa."

Tak lama kemudian, Bu Siska berhenti menjelaskan.

"Baik, sekarang Ibu ingin memberikan tugas."

Seluruh kelas langsung menghela napas bersamaan.

"Tugasnya dikerjakan berpasangan."

Suasana kelas kembali ramai.

"Silakan pilih pasangan kalian."

Dinda langsung menoleh ke arah Alesha.

"Ya jelas sama kamu."

Alesha mengangguk.

"Oke."

Mereka berdua mulai berdiskusi mengerjakan soal yang diberikan guru.

Alesha membaca soal pertama dengan saksama, lalu mulai menyampaikan pendapatnya.

"Kalau menurutku jawabannya begini."

Dinda mendengarkan, lalu mengangguk.

"Iya, masuk akal."

Mereka saling bertukar pendapat hingga seluruh soal berhasil diselesaikan sebelum waktu yang diberikan habis.

Bu Siska kemudian berkeliling memeriksa hasil pekerjaan setiap kelompok.

Saat tiba di meja Alesha dan Dinda, beliau membaca jawaban mereka satu per satu.

"Hmm..."

Alesha langsung menelan ludah.

Beberapa detik kemudian, Bu Siska tersenyum.

"Jawabannya sudah benar."

Alesha dan Dinda saling berpandangan.

"Terima kasih, Bu."

Bu Siska mengangguk pelan.

"Kerja samanya juga bagus. Pertahankan."

Setelah guru berjalan ke kelompok lain, Dinda langsung menepuk pelan tangan Alesha.

"Lihat?"

"Apa?"

"Kamu sekarang benar-benar semangat belajar."

Alesha tersenyum kecil.

"Mungkin karena aku mulai menikmati sekolah."

Dinda ikut tersenyum.

"Itu lebih baik."

Di luar kelas, Arka yang sedang berjalan bersama Alvian melewati koridor sempat melihat suasana kelas Alesha melalui jendela.

Ia melihat Alesha dan Dinda sedang tersenyum sambil membereskan buku-buku mereka.

Alvian menyadari arah pandangan Arka.

"Ngelihat apa?"

"Tidak ada."

Alvian ikut melirik ke dalam kelas.

"Oh... Alesha."

Arka langsung mengalihkan pandangannya.

"Ayo."

Alvian hanya tersenyum tipis sebelum mengikuti langkah Arka.

Sementara itu, di dalam kelas, Alesha sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sempat memperhatikannya dari luar.

Ia hanya menatap buku catatannya sambil tersenyum puas.

Hari demi hari, ia mulai membuktikan bahwa dirinya bukan lagi gadis yang hanya dikenal karena sering tidur di kelas.

Kini, ia mulai dikenal sebagai siswi yang mau belajar, berani mencoba, dan terus berkembang sedikit demi sedikit.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suara riuh langsung memenuhi setiap sudut sekolah. Para siswa bergegas keluar kelas sambil mengobrol dengan teman-temannya.

Alesha memasukkan buku ke dalam tas, lalu meregangkan kedua tangannya.

"Capek juga."

Dinda menutup resleting tasnya.

"Tapi hari ini produktif."

Alesha mengangguk sambil tersenyum.

"Iya."

Baru saja mereka hendak keluar kelas, ketua kelas masuk kembali dengan membawa selembar pengumuman.

"Teman-teman, sebentar!"

Seluruh siswa yang sudah berdiri kembali menoleh.

"Ada informasi dari Bu Rina."

Semua kembali memperhatikan.

"Besok setelah jam pelajaran selesai, perwakilan lomba pidato wajib mengikuti latihan gabungan di aula."

Alesha yang mendengar namanya disebut langsung mengangguk pelan.

"Baik."

Ketua kelas kembali melanjutkan.

"Dan setiap peserta diminta menghafalkan minimal setengah isi pidato."

Beberapa teman langsung bersorak kecil.

"Wah, semangat ya, Les!"

"Jangan grogi nanti."

Alesha hanya tertawa malu.

"Iya, doain aja."

Setelah itu, ia dan Dinda berjalan menuju gerbang sekolah.

Di depan ruang OSIS, Arka baru saja keluar sambil membawa tas ranselnya.

Melihat Alesha, ia menghentikan langkah.

"Mau pulang?"

"Iya."

Arka memperhatikan map biru yang masih dibawa Alesha.

"Sudah mulai hafal?"

Alesha menggaruk pipinya pelan.

"Baru sebagian."

"Tidak apa-apa."

Arka menjawab tenang.

"Sedikit demi sedikit."

Alesha mengangguk.

"Aku bakal latihan lagi malam ini."

"Bagus."

Reza yang baru keluar dari ruang OSIS langsung menyenggol bahu Arka.

"Eh, Ketua."

Arka menoleh.

"Apa?"

"Rapatnya besok jadi dimajukan."

"Iya, nanti saya ke sana."

Reza kemudian melirik Alesha.

"Semangat ya buat lombanya."

"Makasih, Kak."

Alesha tersenyum ramah.

Tak lama kemudian, Kevin datang dari arah parkiran sambil membawa helm di tangannya.

"Alesha."

"Eh, Kak."

Kevin menghampiri mereka.

"Sudah siap pulang?"

"Iya."

Reza langsung menyapa Kevin.

"Vin, adikmu sekarang rajin banget."

Kevin tersenyum tipis.

"Syukurlah."

"Lumayan bikin kami kaget."

Alesha langsung memanyunkan bibir.

"Kok semua bilang begitu sih?"

Karena ucapan Alesha, mereka semua tertawa kecil.

Arka hanya memperhatikan dari samping dengan wajah datarnya.

Namun sudut bibirnya tampak sedikit terangkat.

Melihat itu, Reza langsung menyenggol pelan lengan Arka.

"Tumben senyum."

"Biasa saja."

"Iya... biasa."

Reza menahan tawanya.

Alesha yang tidak menyadari percakapan mereka langsung berpamitan.

"Duluan ya."

"Hati-hati."

Arka mengangguk singkat.

Kevin dan Alesha pun menaiki motor lalu meninggalkan area sekolah.

Di sepanjang perjalanan pulang, Alesha memandangi langit sore yang mulai berubah jingga.

Di dalam tasnya tersimpan map biru berisi naskah pidato.

Ia tersenyum kecil.

Besok...

Ia akan kembali berlatih.

Dan kali ini, ia ingin tampil lebih baik daripada hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!