Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH PILIHAN YANG TERANCAM.
Sore itu, atmosfer di dalam kamar utama mansion Alfarizi mendadak berubah mencekam. Barra yang baru saja melangkah masuk setelah perjalanan luar kota langsung terpaku di depan meja kerjanya. Sepasang mata elangnya melebar sempurna, menatap selembar kertas putih dan sebuah cincin emas putih yang berkilau di bawah temaram lampu meja.
Surat gugatan cerai sepihak.
Darah Barra berdesir hebat, amarah dan kepanikan menjalar ke seluruh pembuluh darahnya dalam sekejap. Tanpa membuang waktu, ia menyambar ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya.
"Ferdi! Cari Davina sekarang juga! Kerahkan semua orang, temukan dia dalam waktu satu jam!" geram Barra dengan suara bariton yang bergetar hebat karena emosi.
Ferdi, dengan kelihaian dan jaringan informasinya yang luas, tidak butuh waktu lama untuk melacak keberadaan sang nyonya besar. Hanya dalam waktu empat puluh menit, sebuah pesan masuk ke ponsel Barra, mengabarkan bahwa Davina sedang berada di sebuah rumah kontrakan kecil milik teman sekantornya di pinggiran kota.
Tanpa memedulikan rasa lelahnya, Barra langsung memacu mobil sedannya dengan kecepatan gila-gilaan membelah jalanan. Begitu sampai di lokasi, Barra langsung merangsek masuk, mengabaikan pemilik rumah, dan menarik paksa pergelangan tangan Davina yang saat itu sedang duduk termenung di ruang tamu.
"Lepas, Barra! Apa-apaan kamu ini?!" jerit Davina, mencoba melepaskan cengkeraman kokoh di tangannya.
"Ikut aku pulang, Davina! Kita harus bicara!" bentak Barra, matanya memerah menahan badai emosi.
Di halaman rumah kontrak itu, terjadilah pertengkaran hebat yang selama ini di pendam. Davina meluapkan seluruh rasa sakit hati, kekecewaan, dan harga dirinya yang telah diinjak-injak. Air matanya luruh membasahi pipi, di balik jilbab pasminanya yang tampak sedikit kusut karena pergulatan fisik tersebut.
"Pulang ke mana, Barra?! Ke rumah hantu yang penuh kebohongan itu?!" teriak Davina dengan suara serak, dadanya naik turun memburu napas. "Aku tahu semuanya! Silfany datang menemuiku kemarin! Dia memamerkan foto-foto kemesraan kalian di London! Sementara aku membusuk menunggumu di sini, kamu bersenang-senang dengannya di sana! Semua perhatian manismu beberapa minggu ini hanyalah lelucon untuk menutupi rasa bersalahmu, kan?!"
Barra tertegun, rahangnya mengeras mendengar nama itu disebut. Ia mencoba maju satu langkah, merendahkan suaranya yang bergetar. "Vina, dengarkan aku dulu! Itu tidak seperti yang kamu lihat! Silfany adalah bagian dari masa lalu yang sengaja kubawa ke London sebagai 'umpan' politik bisnis! Aku harus memanfaatkan pengaruh keluarganya untuk menghancurkan musuh-musuhku dari dalam! Aku tidak pernah menyentuhnya, Vina! Hanya kamu..."
"Cukup, Barra! Aku sudah terlanjur menutup mata dan telingaku untuk semua bualanmu!" potong Davina kejam. Ia berbalik, bersiap untuk melangkah kembali masuk ke dalam kos temannya. "Aku tidak peduli lagi. Aku ingin bebas! Jadi cepat selesaikan surat perceraian kita!"
Melihat keras kepalanya Davina yang sudah tidak bisa diajak berkompromi, akal sehat Barra seketika menguap. Dengan pergerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Barra merangsek maju. Ia langsung membopong tubuh mungil Davina di atas pundak tegapnya, membuat kepala Davina menjuntai ke belakang punggung Barra.
"Barra! Lepaskan aku! Kamu gila! Turunkan aku!" Davina memukul-mukul punggung Barra dengan histeris, kakinya meronta-ronta di udara.
Barra mengabaikan semua jeritan dan pukulan itu. Dengan langkah besar, ia membawa Davina menuju mobil, membuka pintu penumpang dengan kasar, dan memaksa Davina masuk ke dalam sebelum mengunci sistem pintu dari kemudi. Pria itu langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, mempercepat laju mobilnya kembali menuju mansion, tidak memedulikan Davina yang terus menangis di sampingnya.
Sesampainya di mansion mereka, Barra kembali mengulang aksi nekatnya. Ia membuka pintu mobil, mengangkat kembali tubuh mungil Davina yang sudah lemas karena kelelahan menangis, dan membawanya menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua.
Brak!
Barra membanting tubuh Davina ke atas tempat tidur empuk mereka yang luas. Davina terengah-engah, buru-buru membenahi letak jilbabnya dan mencoba untuk kembali berdiri, namun Barra dengan cepat mengambil sebuah dokumen tebal dari dalam laci meja kerja dan melemparnya tepat di hadapan Davina.
"Baca itu, Davina Zuhaira!" titah Barra dengan napas yang memburu, berdiri angkuh di tepi ranjang.
Davina menatap dokumen itu dengan mata sembapnya. Itu adalah salinan kontrak asli mereka. Di lembar bagian belakang yang baru saja dibuka Barra, tertera sebuah pasal tambahan dengan tinta tebal yang selama ini luput dari perhatian Davina. Di sana tertulis dengan jelas: Jika salah satu pihak memutuskan hubungan pernikahan sebelum waktu kontrak dua tahun habis secara sah, maka pihak tersebut diwajibkan membayar denda penalti sebesar sepuluh kali lipat dari seluruh biaya medis yang telah dikeluarkan.
Melihat angka nominal yang fantastis itu, Davina seketika terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Seluruh biaya medis neneknya selama dua tahun ini bukanlah jumlah yang sedikit, dan ia tidak akan pernah mampu membayarnya bahkan jika ia bekerja seumur hidup.
Namun, rasa sakit hati yang terlanjur mendalam membuat harga diri Davina memberontak. Ia melempar kertas itu kembali ke kasur, menatap Barra dengan sorot mata menantang yang berapi-api.
"Aku tidak peduli dengan denda bodoh ini, Barra! Penjara sekalipun akan kutempuh daripada harus tinggal satu atap dengan pria pembohong sepertimu! Rumah ini membuatku sesak!" seru Davina histeris.
Ia berdiri, menyambar tas jinjingnya, dan melangkah lebar keluar dari kamar, ia menuruni anak tangga dengan cepat, saat ia memegang gagang pintu utama mansion untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan Barra Alfarizi malam itu juga.
Bip. Bip. Klik.
Tepat saat telapak tangan Davina baru saja menyentuh gagang besi pintu utama yang dingin, sebuah suara sistem digital berbunyi nyaring. Seluruh akses penguncian otomatis di mansion itu mendadak mengunci secara permanen. Gagang pintu di tangan Davina sama sekali tidak bisa digerakkan.
Davina tersentak, membalikkan badannya dengan panik.
Di ujung koridor lantai satu yang remang-remang dan diselimuti kegelapan, Barra berdiri diam dengan ponsel di tangan kanannya. Sinar layar ponsel memantulkan gurat wajahnya yang tampak hancur, terluka, namun dipenuhi oleh kebulatan tekad yang sangat kejam. Pria itu melangkah perlahan mendekati Davina, memancarkan kembali aura monster yang dua tahun lalu sangat Davina takuti.
Barra berhenti tepat di tengah koridor, menatap Davina dengan pandangan mata elang yang meredup kelam.
"Melangkah satu langkah saja keluar dari pintu ini setelah aku membukanya nanti, Davina..." ucap Barra, suaranya bariton, sangat rendah, dingin, dan menggema penuh ancaman yang mematikan. "...dan aku akan memastikan perusahaan penerbitan tempatmu bekerja saat ini akan hancur dan bangkrut besok pagi. Aku akan melenyapkan karier semua orang yang membantumu bersembunyi. Jadi tetaplah di sini, Davina!"
Barra terpaksa menggunakan sisi kejam dan kekuasaannya lagi demi menahan wanita yang teramat dicintainya agar tidak pergi dan meninggalkan Davina dalam cekaman ketakutan.