Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Aduh, Mas Toto
Mobil melaju meninggalkan Apartemen Blue Residence. Untuk beberapa saat, suasana di dalam kabin dipenuhi keheningan. Toto sesekali melirik ke arah kaca spion tengah. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Jena. Akhirnya, ia memberanikan diri membuka percakapan. "Mbak ... bolehkah saya bertanya?"
Jena mengalihkan pandangannya dari jendela. "Silakan, Mas."
Toto tersenyum canggung. "Maaf kalau saya lancang, tapi ... Mbak Jena sebenarnya bukan mau liburan, kan?"
Jena terdiam beberapa detik. Lalu senyum tipis terukir di bibirnya. "Iya, Mas." Ia mengangguk pelan. "Saya memang bukan mau liburan." Toto memilih diam, membiarkan Jena melanjutkan ucapannya. "Saya mau kembali ke rumah saya." Tatapan Jena kembali lurus ke depan. "Unit apartemen yang selama dua tahun ini saya tempati itu sebenarnya milik Jovian, mantan pacar saya." Ia menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Dan sekarang ... hubungan saya dengan dia sudah usai."
Tangan Toto yang menggenggam kemudi sedikit mengencang. Ia akhirnya mengerti mengapa Jena membawa dua koper besar. "Maaf ya, Mbak. Saya sudah lancang bertanya macam-macam."
Jena menggeleng sambil tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, Mas. Justru saya lega bisa mengatakannya kepada seseorang."
Toto mengangguk pelan. "Kalau boleh saya mengucapkan beberapa patah kata ..." Ia berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, "Mungkin ini memang berat. Tapi saya yakin Mbak Jena akan baik-baik saja."
Jena menoleh dan tersenyum tulus. "Terima kasih, Mas Toto."
"Sama-sama, Mbak." Toto membalas senyum itu. "Kadang kita memang harus meninggalkan sesuatu yang sudah tidak bisa dipertahankan supaya bisa menemukan kebahagiaan yang baru."
Jena mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, ucapan sederhana dari seorang sopir yang baru dua kali ditemuinya itu terasa begitu menenangkan. "Iya, Mas. Aamiin."
Toto mengangguk pelan. Suasana kembali hening beberapa saat, hingga rasa penasarannya muncul lagi. "Berarti ... si PHP itu namanya Jovian ya, Mbak?"
Jena tak kuasa menahan tawa kecilnya. "Iya, Mas."
"Nah, akhirnya saya tahu juga nama pelakunya."
Jena kembali terkekeh mendengar cara Toto menyebut mantan kekasihnya.
"Memangnya Mbak sudah berapa lama menjalin hubungan sama si Mr. PHP itu?"
Jena masih tersenyum saat menjawab, "Sembilan tahun, Mas."
"What?!"
Seruan spontan itu membuat Jena langsung tertawa ngakak. "Aduh, Mas Toto! Bahasa Inggrisnya keluar lagi."
"Hehe ..." Ia menggaruk tengkuk, lalu berkata lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Lama banget, Mbak! Udah kayak kredit rumah."
"Hahaha ..." Jena sampai mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa. "Iya, Mas. Lama banget. Hampir satu dekade." Senyumnya perlahan memudar. "Tapi akhirnya saya malah ditinggal. Dia lebih memilih wanita yang sederajat dengannya. Sama-sama calon penerus perusahaan besar." Jena tersenyum tipis, meski sorot matanya menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh. "Sedangkan saya ... hanya anak yatim piatu. Jadi ya ... kalah jauh, Mas."
Mendengar itu, Toto spontan mengurangi kecepatan mobil. Tatapannya beralih sesaat ke kaca spion, menatap Jena dengan ekspresi prihatin. "Mbak ..." Jena balas menatapnya melalui pantulan kaca spion. "Maaf ya kalau saya ikut berkomentar." Toto tersenyum tipis. "Tapi menurut saya, Mbak tidak kalah." Jena terdiam. "Yang kalah itu justru mantan pacar Mbak." Jena mengernyit pelan, Toto melanjutkan. "Dia kehilangan perempuan yang sudah setia menemaninya selama sembilan tahun." Ia menggeleng pelan. "Percaya sama saya, Mbak. Di zaman sekarang, mencari perempuan yang tetap bertahan selama sembilan tahun itu jauh lebih sulit daripada mencari orang yang punya perusahaan besar."
Jena tak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari Toto.
"Kalau seseorang mengukur pasangan dari harta, jabatan, atau nama besar keluarga ..." Toto tersenyum kecil. "Berarti dia memang belum tahu cara menghargai hati seseorang." Hidung Jena terasa sedikit memanas. "Saya memang cuma sopir, Mbak." Toto terkekeh kecil. "Tapi saya percaya satu hal. Orang baik nggak pernah benar-benar kalah. Mungkin jalannya lebih panjang, tapi pada akhirnya Tuhan akan mempertemukan dia dengan orang yang tahu cara menghargainya."
Jena menundukkan kepala sejenak, lalu mengangkatnya kembali dengan senyum yang jauh lebih tulus. "Terima kasih atas kata-kata bijaknya, Mas Toto."
"Jangan berterima kasih dulu, Mbak." Toto kembali bercanda. "Nanti kalau Mbak sudah ketemu jodoh yang jauh lebih baik, baru bilang terima kasih sama saya."
Tawa Jena kembali pecah memenuhi kabin mobil. Siang itu, tawanya terdengar begitu lepas, bukan lagi untuk menutupi luka, melainkan karena hatinya benar-benar mulai merasa lebih ringan. Dan itu karena sopir taksi bernama Toto.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana.
"Sudah sampai, Mbak," ujar Toto sambil mematikan mesin.
Jena mengangguk. "Terima kasih, Mas."
Toto segera turun lebih dulu. Ia membuka bagasi, lalu mengangkat kedua koper milik Jena dengan cekatan. Setelah itu, ia berjalan membukakan pintu mobil. "Silakan, Mbak."
"Terima kasih."
Begitu Jena turun, Toto langsung meraih kedua koper. "Saya bantu bawa sampai ke dalam ya, Mbak?"
Jena buru-buru menggeleng. "Nggak usah, Mas. Biar saya saja."
"Eh, nggak apa-apa." Toto mengangkat kedua koper itu sambil tersenyum lebar. "Ini adalah tugas seorang lelaki."
Jena kembali tertawa mendengar ucapannya. "Aduh, Mas Toto ini ada-ada saja."
"Saya serius, Mbak."
Masih sambil tertawa kecil, Jena mengeluarkan kunci pagar dari tasnya. Ia membuka pagar, lalu melangkah masuk. Toto mengikuti di belakang sambil menggeret kedua koper.
Sesampainya di teras, Jena membuka kunci pintu rumah.
Pintu terbuka. Toto masuk beberapa langkah, lalu meletakkan kedua koper di ruang tamu. "Nah, beres."
Jena menoleh sambil tersenyum ramah. "Mas, mau masuk dulu? Saya buatkan minum."
Toto menyeringai lebar. "Sebenarnya mau, Mbak." Jena mengangkat alis, Toto melanjutkan ucapan. "Tapi saya takut di-SP sama Pak Trisno Rahadireja."
Jena terkekeh. "Atasan Mas Toto ya?"
"Iya." Toto mengangguk mantap. "Pemilik Perusahaan taksi Green Fast. Orangnya galak banget, Mbak. Kayak mafia." Jena mulai menahan tawa. "Kalau marah ..." Toto memperagakan wajah melotot hingga matanya membesar. "Matanya nyaris keluar kayak orang lagi nahan berak."
"Hahahaha ...!" Tawa Jena langsung meledak memenuhi ruang tamu. Ia sampai membungkukkan badan sambil memegangi perutnya. "Ya ampun, Mas Toto ... bisa-bisanya ngatain bos besar seperti itu!"
Toto ikut tertawa melihat reaksi Jena.
Butuh beberapa saat sampai tawa Jena benar-benar mereda. Sudut matanya bahkan sedikit basah karena terlalu banyak tertawa.
Melihat tawa Jena yang begitu lepas, senyum Toto berubah menjadi lebih hangat. Dalam hati ia merasa lega. "Syukurlah," batinnya. "Setidaknya, Mbak Jena sudah bisa tertawa lagi. Semoga setelah ini hidupnya benar-benar dipenuhi lebih banyak tawa daripada air mata." Toto mengakhiri suara batinnya. "Kalau begitu saya pamit dulu ya, Mbak."
Jena mengangguk dengan senyum tulus. "Hati-hati di jalan, Mas Toto. Terima kasih untuk semuanya."
"Sama-sama, Mbak." Toto mengangkat satu tangan sambil tersenyum. "Semoga bab baru dalam hidup Mbak dimulai dengan banyak kebahagiaan."
"Aamiin. Saya udah bayar pake aplikasi dan kasih bintang lima lagi ya, Mas."
"Hehe, hatur thank you, Mbak." Dengan perasaan jauh lebih tenang, Toto pun melangkah keluar dari rumah, meninggalkan Jena yang kini berdiri di ambang pintu rumah masa kecilnya, siap memulai kehidupan yang benar-benar baru.
yg di incer sifa buat jihan...
.cocok kan