Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YUKARI HILANG
Belum sempat Yukari menyelesaikan kalimatnya kepada Akira, sebuah tepukan tiba-tiba di bahunya mengejutkan gadis itu setengah mati. Efek trauma yang masih segar membuat Yukari secara otomatis memutar tubuhnya dengan panik, hingga punggungnya menabrak dada bidang Akira yang berdiri tepat di belakangnya.
"Hai, Yukari!" sapa Daiki ceria. Namun, senyuman Daiki langsung luntur saat melihat wajah Yukari yang memucat pasi dengan tatapan mata yang menyiratkan ketakutan hebat. "Kau... kenapa?"
Akira yang tanggap langsung menimpali, "Ah, Yukari... tadi kau bilang melihat apa?"
Sadar bahwa ia tidak boleh merusak suasana festival dan tidak ingin membuat kedua pria di dekatnya cemas, Yukari segera menggelengkan kedua tangannya beberapa kali ke udara. "Ah, bukan apa-apa! Sepertinya aku hanya salah lihat, hehe."
"Ah, apel karamelnya sudah dibungkus," sela Akira sembari menerima kantong plastik dari penjual
"Bagus! Aku sudah mengamankan meja kosong untuk kita di sebelah sana. Ayo!" seru Daiki melambaikan tangan. Akira dan Yukari pun segera mengikuti langkah kaki Daiki menembus keramaian, dengan jemari Yukari yang tetap berada dalam genggaman erat nan hangat milik Akira.
***
Mereka bertiga tiba di area makan terbuka di bawah pendar lampion. Yukari dan Akira duduk berdampingan di sebuah kursi panjang kayu, sementara Daiki mengambil tempat di hadapan mereka.
"Ayo kita coba, aku penasaran sekali," ucap Akira memecah kecanggungan. Ia membuka bungkus apel karamel pesanan mereka, lalu mulai menggigitnya.
Akira mengangguk-angguk tanda menyukai rasanya. Namun, sudut matanya menangkap raut wajah Yukari yang sama sekali tidak sesemangat tadi pagi. Pria itu sedikit mendekatkan wajahnya, lalu berbisik tepat di telinga Yukari. "Kenapa, Yukari-san? Kau tidak enak badan , kau tidak maksn apel mu ?"
Mendengar bisikan Akira yang sarat akan kekhawatiran, Yukari sempat tertegun. Ia benar-benar tidak ingin menjadi beban atau membuat Akira dan Daiki cemas di hari festival ini. Yukari memutuskan untuk mengabaikan bayangan hoodie hitam tadi dalam-dalam. Asalkan aku tidak lepas dari sisi Akira... aku akan aman! batinnya menyemangati diri.
Yukari langsung memasang wajah ceria kembali, lalu ikut berbisik di telinga Akira. "Aku baik-baik saja. Coba lihat, aku juga mau makan bagianku!"
Yukari kemudian menyuap bagian apel karamel miliknya. Begitu rasa manis dan asam buah itu meledak di lidahnya, memorinya langsung bernostalgia. "Wah! Rasanya benar-benar tidak berubah sedikit pun! Kau suka, Akira-san?" Akira tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.
Di seberang meja, Daiki yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka langsung menyipitkan mata. "Kalian berdua terlihat sangat berbeda hari ini... Ngapain, sih, pakai bicara bisik-bisik begitu di depanku?!"
Yukari langsung melotot sebal. "Apaan sih, Daiki! Di sini agak berisik, masa iya aku bicara dengan Akira harus menaikkan suara sampai satu oktav, hah?!"
"Heh! Kau bicara dengan Akira bisa berbisik manja begitu, tapi kenapa kalau bicara denganku urat lehermu sampai kelihatan, haahh?!" protes Daiki tidak terima.
"Sudah kubilang suara di sini berisik, Daiki!" balas Yukari makin ketus. Sementara itu, Akira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat perdebatan dua sahabat itu sembari terus mengunyah apel karamelnya.
Tiba-tiba, Daiki menghentikan omelannya dan melambaikan tangan tinggi-tinggi ke arah seseorang yang berjalan di belakang posisi duduk Akira dan Yukari. "Hai! Di sini!!!" Daiki kemudian menoleh pada kedua temannya. "Yukari, Akira... aku ingin mengenalkan seseorang pada kalian."
Tidak lama kemudian, seorang gadis berjalan menghampiri meja mereka. Yukari sedikit terkejut saat menyadari bahwa gadis itu adalah orang yang sama yang membagikan brosur di pintu masuk tadi.
"Ternyata kau di sini," ucap gadis itu santai sembari menyentuh pundak Daiki, lalu mengambil tempat duduk tepat di samping pria itu. Ia kemudian melirik Yukari dan Akira dengan binar jenaka. "Oh, hai! Kita ketemu lagi."
"Kau sudah bertemu dengan mereka?" tanya Daiki pada gadis di sebelahnya.
Gadis itu mengangguk ceria. "Ya, tadi tidak sengaja bertemu di pintu masuk." Ia lalu membungkukkan badannya dengan sopan ke arah seberang meja. "Selamat sore. Salam kenal, namaku Sakamoto Rin. Senang akhirnya bisa bertemu dengan kalian secara resmi."
Daiki segera mengambil alih untuk memperkenalkan mereka satu per satu. "Rin, ini Honami Yukari, gadis yang sering kuceritakan. Dan ini Takagi Akira, sahabat baruku."
"Salam kenal, Rin-san," balas Yukari ikut membungkuk hormat, penampilannya yang feminin dengan rok plisket bunga dan cardigan maron tampak kontras namun serasi dengan gaya kasual tomboi milik Rin.
Festival semakin malam justru semakin meriah. Mereka berjalan berdampingan membelah area festival. Lampion-lampion merah kini sudah menyala sempurna, menciptakan pendar keemasan yang cantik di sepanjang jalan.
Obrolan mereka berempat mengalir sangat seru. Mulai dari membahas hasil panen apel tahun ini, pameran pertanian desa, hingga pekerjaan Rin di kota sebelah. Sekitar lima belas menit berlalu, Daiki menepuk pelan pundak Akira.
"Akira-san."
"Hm?" sahut Akira menoleh.
"Antrean di stan makanan sebelah sana sepertinya mulai sepi. Ayo ikut aku sebentar membeli pai apel hangat dan jus madu untuk para gadis."
Akira mengangguk setuju. "Baiklah." Sebelum berdiri, Akira menoleh lembut pada Yukari yang duduk di sisinya. "Kami pergi sebentar, ya."
Yukari membalasnya dengan anggukan kecil yang manis. "Iya, Akira-san."
Begitu kedua pria bertubuh tegap itu berjalan menjauh menuju deretan stan makanan, Rin mendadak menopang dagunya dengan kedua tangan, memandang Yukari dengan tatapan intens yang cukup lama hingga membuat Yukari salah tingkah.
"Ada apa, Rin-san? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yukari heran.
Rin tersenyum sangat hangat. "Daiki memang sering sekali bercerita tentangmu, Yukari. Tapi ternyata... aslinya kau jauh lebih cantik dan anggun daripada yang kubayangkan."
Pipi Yukari seketika bersemu merah pekat mendengar pujian jujur itu. "Rin-san... kau membuatku malu."
"Aku serius, tahu!" Rin terkekeh pelan sembari menarik ujung jaket denimnya. Rin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah stan makanan jauh di depan mereka. Tatapannya berhenti tepat pada sosok Akira yang sedang mengantre bersama Daiki.
Rin kembali menoleh ke arah Yukari dengan senyuman yang berubah menjadi jahil. "Ngomong-ngomong... Akira-san itu... kekasihmu, ya?"
Mata bulat Yukari langsung membelalak sempurna. "Eh?! Bukan! Bukan sama sekali, Rin-san!"
"Benarkah?" tanya Rin dengan nada menggoda yang persis sekali dengan tabiat Daiki.
Yukari spontan melempar pandangannya ke arah Akira di kejauhan. Untuk beberapa detik, ia hanya bisa terdiam membisu. "Bukan seperti itu... kami hanya..." Kalimat Yukari terhenti di udara. Entah mengapa, hatinya mendadak terasa kelu karena ia sendiri bingung harus mendefinisikan hubungan rumit penuh luka di antara dirinya dan Akira sebagai apa.
Beruntung bagi Yukari, sebelum Rin sempat menggoda lebih jauh, Daiki sudah melambaikan tangan dari arah stan makanan dengan heboh. "Rin! Ayo ke sini sebentar!"
Rin langsung menoleh "Ah, aku ke sana dulu, ya." Sebelum melangkah pergi, ia mengedipkan sebelah matanya secara jahil kepada Yukari. "Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan seru kita, oke?"
Yukari hanya bisa mengembuskan napas panjang
selang menit kemudian, Akira kembali dengan membawa dua piring pai apel hangat yang masih mengepulkan uap manis. "Maaf membuatmu menunggu lama, Yukari-san." Pria itu memberikan satu piring untuk Yukari
"Terima kasih banyak, Akira-san," ucap Yukari tersenyum lembut.
Mereka berdua pun menikmati pai apel tersebut dalam keheningan yang menenangkan di tengah ramainya festival.
"Bagaimana rasanya?" tanya Akira penasaran.
Yukari mengunyah suapan pertamanya lalu tersenyum puas. "Enak sekali! Pai apelnya masih sangat hangat, dan buah apel di dalamnya manis pas."
Akira ikut mencicipi bagian miliknya lalu mengangguk setuju. "Benar. Kalau rasanya seenak ini, pantas saja antreannya tadi panjang."
Saat pai apel mereka habis, Daiki dan Rin kembali menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa. Daiki tanpa basa-basi langsung menepuk keras bahu Akira. "Hei! Kalian berdua kenapa masih asyik mojok di sini, sih?! Pertunjukan musik utamanya sudah mau dimulai di lapangan tengah! Ayo ikut kami ke depan panggung!"
Akira dan Yukari saling berpandangan sesaat.
"Tidak , kalian saja kami masih mau jajan lagi "
Sejujurnya, jauh lebih nyaman menikmati suasana festival yang tenang
Melihat keraguan itu, Rin langsung menimpali, "Kalau datang ke Festival Panen cuma duduk makan di pojokan, namanya bukan menikmati festival, tahu!" Rin kemudian meraih lembut pergelangan tangan Yukari. "Ayo, Yukari-san! Sekali-sekali kita harus ikut bersenang-senang dan melepaskan penat!"
Yukari tersenyum kikuk. "Tapi, Rin-san..."
Belum sempat Yukari menyelesaikan kalimat penolakannya, Daiki sudah menarik paksa lengan tegap Akira hingga pria itu terpaksa berdiri dari kursinya. "Ayo, Akira! Jangan bersikap seperti kakek-kakek!"
Akira hanya bisa mengulas senyuman pasrah yang geli. "Baik... baik... aku ikut."
Dari arah pengeras suara panggung utama, suara pembawa acara mulai menggema dengan lantang membelah langit malam. "Perhatian kepada seluruh warga Desa Oki-Niko! Pertunjukan musik utama akan segera dimulai dalam beberapa menit lagi!" Riuh tepuk tangan dan sorak-sorai ribuan pengunjung langsung memenuhi seluruh area festival.
"Ayo, jangan tertinggal di belakang!" seru Daiki sembari melambaikan tangan memimpin jalan di depan bersama Rin.
Mau tidak mau, Akira dan Yukari ikut melangkah menyusuri jalan menuju tengah lapangan. Semakin dekat dengan panggung, kerumunan manusia terasa semakin padat dan rapat. Orang-orang mulai saling berdesakan untuk mencari posisi berdiri terbaik.
Melihat situasi yang mulai tidak kondusif dan banyak orang yang saling menyenggol, Akira dengan sigap bergerak maju menyejajarkan langkahnya. Tanpa ragu, ia kembali meraih jemari Yukari.
"Pegang tanganku yang erat, Yukari-san," ucap Akira dengan nada pelan namun tegas di tengah kebisingan. "Kalau tidak, kita bisa dengan mudah terpisah di dalam kerumunan ini."
Yukari mengangguk patuh. Jemari mereka pun kembali saling bertaut dengan sangat erat, saling menyalurkan rasa aman.
Tak lama kemudian, seluruh lampu di area penonton mendadak meredup total. Sorot lampu panggung warna-warni yang megah mulai menyala bergantian menembus langit malam. Begitu lagu pertama dari band terkenal FLOW-GO mulai dimainkan, dentuman bass dan melodi musik yang enerjik langsung membakar semangat seluruh penonton yang hadir.
Sorak-sorai riuh menggema memekakkan telinga. Semua orang di depan panggung mulai melompat-lompat gembira mengikuti irama lagu yang cepat. Daiki dan Rin tampak tertawa lepas di barisan depan sembari ikut berjoget menikmati musik. Akira, yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi merasakan atmosfer kebebasan dan kebahagiaan seperti ini, tanpa sadar ikut larut dalam alunan musik yang meriah.
Namun petaka datang begitu cepat.
Tepat saat ketukan lagu memasuki bagian reff yang bertempo semakin cepat dan menghentak, kerumunan penonton di sekitar mereka mendadak bergerak bergelombang dengan hebat akibat dorongan massa dari arah belakang panggung.
Hentakan dan dorongan keras dari berbagai arah yang datang tiba-tiba itu menghantam tubuh Akira. Kuatnya arus desakan manusia malam itu membuat tautan erat jemari Akira dan Yukari... terlepas seketika.
Akira tersentak hebat. Rasa hangat di telapak tangannya mendadak hilang digantikan oleh dinginnya angin malam.
"Yukari-san?!" panggil Akira panik.
Ia dengan cepat menoleh ke arah kanan. Kosong. Hanya ada wajah-wajah orang asing yang sedang melompat kegirangan.
Ia berputar menoleh ke arah kiri. Kosong.
"Yukari-san!!!" teriak Akira dengan suara yang mulai meninggi, menyapu pandangannya ke segala penjuru arah. Namun sosok gadis bercardigan maron itu sama sekali tidak terlihat di antara ribuan kepala manusia.
Jantung Akira seketika berdegup kencang dengan sangat liar. Rasa panik yang luar biasa langsung mencengkeram dadanya, mengingatkan dirinya pada ketakutan malam sebelumnya. Tanpa pikir panjang lagi, Akira segera menyenggol keras bahu Daiki yang masih asyik mengikuti irama musik di depannya.
"Daiki-san!" panggil Akira setengah berteriak di dekat telinga sahabatnya.
Daiki menoleh dengan dahi berkerut. "Hah?! Apa?!"
"Yukari hilang! Genggaman tanganku terlepas karena dorongan tadi! Dia tidak ada lagi di sampingku!"
Mendengar kalimat itu, ekspresi santai di wajah Daiki langsung berubah drastis menjadi sangat serius dan tegang. Bayangan tentang ancaman Hiroshi yang masih berkeliaran seketika melintas di kepala kedua pria itu.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Daiki segera menarik tangan Rin, dan bersama Akira, mereka langsung memutar arah, menerobos keluar dengan paksa dari tengah kerumunan penonton yang padat demi mencari keberadaan Yukari yang hilang entah ke mana.