Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 22
Eva menatap sekitar dengan waspada, dia mencoba mengikuti gerak para pelayan agar tidak terlihat mencurigakan. Entah sampai kapan dia akan menyamar agar bisa kabur secepatnya. Dia harus kembali ke Ilos apapun caranya untuk hari ini.
Eva sudah berkeliaran dengan baik sampai siang ini, dia ingat nanti bisa pergi ke kota untuk belanja sebagai alibi, dan pas sekali semua sibuk untuk mempersiapkan jamuan untuk perwakilan dari Utara.
"hey kamu, pergi ke kota. Kita kekurangan susu dan buah", kepala pelayan menunjuk Eva dan seorang.
Eva tersenyum kecil, dia bergegas bersiap untuk pergi. Dengan bantuan sihir, penyamaran nya sangatlah baik. Semoga dia bisa keluar dengan aman, di ingat kalau Odelions tempat terbantainya para penyihir.
Eva berjalan cepat di belakang rekannya, melewati para prajurit dengan mudah, tinggal Melawati gerbang dia akan memakai sihir untuk mengelabuhi rekannya.
Eva menaiki kereta menuju kota, dia melihat bayangan istana yang akan dia tinggal kan. Kalau bukan hal itu, dia tidak akan terburu-buru seperti sekarang.
kereta melewati gerbang dengan aman, pemandangan berubah menjadi hutan-hutan yang dalam masa pengguguran, daun berjatuhan dan angin hangat yang sangat nyaman bagi Eva.
"kau pelayan baru ya", Eva menoleh pada rekannya.
"iya, saya baru beberapa hari ini bekerja". Eva tersenyum mengingat kalau pelayan ini memang baru-baru ini bekerja.
Rekannya mengangguk paham, dia kembali melihat keluar kerata, melihat pemandangan hutan yang mulai berguguran.
Eva sedikit memainkan jarinya, tiba-tiba kereta berhenti mendadak. Sebuah dahan besar jatuh tepat di jalan mereka, Eva dan rekannya keluar untuk mengecek.
Eva melirik sekilas, berjalan mundur perlahan dan memakai sihir duplikat dan tidak terlihat. dia bergerak pelan menuju hutan agar langkahnya tidak terdengar kusir dan pelayan itu.
sekali masuk hutan, Eva bergegas lari menuju arah Ilos, dia ingat jalur menuju Ilos ketika dia mengendap masuk ke Odelions untuk pertama kalinya, jika dia bisa sihir teleportasi, dia akan mudah sampai di Ilos.
Dia berlari dengan cepat, sesekali menjauhi suatu benda yang bisa memperlihatkan lokasinya. Sebelum Felix sadar kalau dia kabur, dia harus sudah berada di Ilos.
Dia sampai di arus sungai, tinggal menyebrang sungai dia akan sampai di Ilos, dia ingat kalau sungai adalah jalur menuju air terjun yang biasa di kunjungi di Ilos. Dia tidak tau jarak dari mereka sedekat ini.
Eva berbalik, dia mendengar derap kuda yang mengarah padanya. Dia berlari ke arah bebatuan. Dia masih memakai sihir menghilang agar lebih aman, sempat juga menghilangkan jejak kaki yang mengarah ke arahnya yang bersembunyi.
Eva mengintip, mereka pasukan Alfa Odelions. eva ingat patroli tidak pernah sampai ke area ini, kenapa mereka sampai kesana.
"Kenapa kita menculik anak-anak dari Ilos sekarang, bukannya kita harus menculik mereka malam hari", jantung Eva serasa berhenti berdetak mendengar itu.
"entah lah, kita disuruh orang itu untuk melakukan sekarang", salah satu ajudan mengeluarkan sebuah jubah hitam.
"yah untuk tempat ini tidak menjadi tempat patroli, entah apa rencana orang itu selagi kita di beri uang tidak masalah menculik anak negeri Ilos, toh juga kalau berperang mereka akan mati". Eva mengeram tidak terima.
Eva memainkan jarinya, aliran air yang awalnya tenang berubah deras. Para prajurit itu menatap heran, belum cukup lagi. Eva menggerakkan jarinya membuat Golem batu untuk mengusir mereka.
Para prajurit itu kaget dan ketakutan, satu di antara mereka memilih kabur, sisanya mencoba melawan namun berakhir terluka parah dan ada yang pingsan.
Eva mendekati prajurit yang masih babak belur, dia menjentikkan jari membuat sihir ruang untuk dia dan prajurit itu berbicara.
"siapa yang memerintah kan mu untuk menculik anak-anak Ilos", eva mencengkeram kerah baju prajurit itu.
Prajurit itu terbatuk, wajahnya penuh luka tetap terlihat kaget melihat Eva yang entah sejak kapan ada disana.
"jawab aku, siapa yang memerintah kan mu", tanpa Eva ketahui bola mata Eva seakan berkilau menakutkan.
"ka_ kami ti_tidak menge_nalnya, di_dia selalu me_memakai tudung ke_kepala", prajurit itu gentar melihat tatapan Eva dan aura yang seakan menakutkan.
Eva berpikir sejenak, dia meletakkan tangannya ke kepala prajurit. Dan memakai sihir melihat memori agar lebih mudah.
Lima menit, dia mendengus. Benar kalau mereka tidak melihat wajah orang yang memerintah mereka menculik anak-anak Ilos, yang dia tau orang itu menemui mereka di istana Odelions. Yang memungkinkan salah satu orang di istana yang memerintah mereka.
Eva menatap ke seberang sungai, sebelum akhirnya lari kembali ke istana Odelions. Jika anak-anak sudah ada yang di culik, dia harus mencari mereka dan menangkap pelaku dari mereka.
Untuk kali ini dia batal menuju Ilos, hal yang ada di mimpinya akan di pendam sampai punya cara menuju Ilos secepatnya dengan anak-anak yang di culik.
Tiba-tiba Eva terpental, jatuh terduduk dengan kuat. Hidungnya berdenyut di sertai kepalanya yang terasa sakit, dia seakan menabrak dinding tebal.
Herannya di depannya tidak ada apapun, Eva mengulurkan tangannya. Sebuah dinding transparan berada di depannya, menghalangi jalan yang paling cepat menuju istana.
Eva menatap sejenak, dinding transparan itu terbuat dari sihir. dan itu bukan sihir yang sembarangan, dari pegangannya, Eva bisa merasakan sihir yang ada di dinding itu sangat gelap dan mengerikan. Kenapa ada sihir terlarang di Odelions, bukannya penyihir sudah banyak di bunuh oleh kaisar Odelions.
Semakin lama banyak hal yang membuatnya merasa aneh, alasan penyihir di bunuh kaisar Odelions dalam sejarah, penculikan anak-anak Ilos, dan sekarang adalah sihir terlarang.Eva merasa ada yang salah dengan sejarah, tapi dia tidak tau apa itu.
Eva menoleh, wajahnya pucat melihat Felix yang berada di dekatnya.
Felix tidak mungkin berburu dengan pakaian formal. kemungkinan dia sudah ketahuan kabur oleh Felix, masalahnya adalah apa sihirnya pudar ketika dia menjauh dari istana, atau_
"jika kau mau Ilos masih ada sampai besok pagi. Keluar sekarang Evanthe", tubuh Eva membeku di tempat.
Felix menatap ke arahnya, Eva takut bukan main. Dia masih memakai sihir tidak terlihat, jika Felix melihat ke arahnya cukup lama, dia akan kabur detik itu juga. Jika dia sampai di istana lebih dulu dan berada di kamar, membuat banyak alibi maka itu_
"aku tau kau disana Evanthe", Felix masih menatap ke arah nya.
Eva bersembunyi di balik pohon, agar saat dia memperlihatkan diri dia terkesan bersembunyi bukan memakai sihir menghilang. saat keluar dari balik pohon, Eva hampir menjerit ketika Felix ternyata tepat di samping pohon dekat dia bersembunyi.
Felix menatap Eva yang pucat melihatnya, wajahnya yang datar dan penuh amarah bukan hal baik untuk Eva. Terlebih Felix memilih hati tiran, apa dia akan dihukum kali ini.
"kau berani untuk kabur?, padahal kau yang berhutang dengan ku nona", Felix menatap tajam Eva.
Eva memalingkan wajahnya, "aku_ aku hanya rindu orang tuaku. saat aku tidak sadarkan diri, kau tidak mengabari mereka bukan".
Felix menarik wajah Eva, tatapan mereka bertemu. Sejenak Eva sempat melihat ada kilau lain di mata Felix, tapi hanya sebentar. tatapan Felix terkesan kejam dan dingin.
"kau tau jika berbohong denganku berakibat buruk nona, aku tau kau berniat kabur sejak awal berada di sini, sesuai dengan kesepakatan harunya kau akan ke Ilos waktu ke masa kedewasaan mu, dan keluarga mu sepakat bukan". eva menahan nafas tidak tenang.
Felix menatap kening Eva, ada luka memar di sana. Perlahan Felix mengulurkan tangan dan menyentuhnya pelan, sentuhan Felix sedikit mengejutkan nya tapi seketika dia meringis karena Felix menekan memar di keningnya.
"sakit", ringis Eva.
Felix menatap datar eva, gadis itu bergumam kesal. Tangan mungil mengelus kening yang di tekan Felix, itu pasti luka dia menabrak dinding sihir.
"sekali lagi kau kabur, bersiap untuk melihat Ilos mu terbakar", Felix menarik Eva menuju kudanya.
Eva mendengus, dalam hati gadis itu mengutuk Felix dengan kesal. Felix bukan tipe pria yang di impikan Eva, terlebih dia musuhnya.
Felix melirik Eva yang masih cemberut, gadis itu menolah di bantu naik ke kuda. Membiarkan gadis itu naik ke kuda kesayangan dan segera kembali ke istana.
"Tidak akan ku biarkan kamu pergi Eva, sarang ku sudah siap untuk mengurungmu selamanya", Felix tersenyum tipis.
...****************...