Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gemetarnya Para Tirani Global
Keberhasilan peluncuran satelit komunikasi kuantum Asura-Alpha tidak hanya mengamankan seluruh aset digital Wijaya Group, melainkan juga mengirimkan gelombang kejut yang dahsyat ke pusat-pusat intelijen tertinggi di belahan bumi barat. Di Pentagon dan markas besar CIA di Virginia, Amerika Serikat, malam itu menjadi malam yang dipenuhi kepanikan. Kehilangan tiga jet tempur siluman tanpa jejak di atas langit Laut Natuna dalam waktu kurang dari satu detik adalah sebuah tamparan keras bagi supremasi militer global mereka. Lebih gila lagi, jaringan radar militer tercanggih mereka mendadak kehilangan kemampuan untuk melacak atau menyadap aliran data perbankan dari Asura Digital Bank.
Di saat dunia barat sedang sibuk meraba-raba kekuatan misterius yang baru bangkit ini, aku dan Kirana justru telah kembali ke Jakarta menggunakan jet pribadi, menginjakkan kaki kembali di ruang kerja Direktur Utama Wijaya Tower yang kini telah dilengkapi dengan teknologi proyeksi kuantum langsung dari Pulau Ranai.
Kirana duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak lagi menatap laporan keuangan lokal. Di hadapannya, sebuah layar hologram melayang menampilkan grafik ekspansi global Asura Digital Bank.
"Adrian..." suara Kirana bergetar, namun bukan karena takut, melainkan karena rasa takjub yang luar biasa. "Dalam waktu dua puluh empat jam sejak satelit kita aktif, pengguna bank digital kita di wilayah Eropa Barat dan Amerika Utara melonjak sebanyak lima belas juta pengguna baru. Kecepatan transaksi kita yang tanpa biaya dan terenkripsi mutlak membuat sistem perbankan konvensional di New York dan London mulai kehilangan likuiditas secara masif. Ini... ini adalah perang finansial terbuka dengan para bankir global."
Aku berdiri di dekat jendela besar, menatap kemacetan ibu kota Jakarta di bawah sana dengan tangan yang terselip di saku celana kain hitamku. "Biarkan mereka panik, Kirana. Para bankir barat itu telah menguasai aliran kekayaan dunia selama ratusan tahun dengan cara memeras negara-negara berkembang lewat regulasi sepihak. Sekarang, saatnya mereka merasakan bagaimana rasanya modal mereka dikuras habis oleh sistem perbankan milik kita."
[Ding! Misi Ekspansi Finansial Global Tahap Dua Diaktifkan...]
[Tugas: Tundukkan Konsorsium Bank 'Rockford Global' yang mencoba melakukan blokade modal terhadap Asura Bank di pasar saham New York dalam waktu 24 jam!]
[Hadiah Misi: Keterampilan 'Manipulasi Pasar Tingkat Dewa', Kartu Kendali Saham Mutlak Rockford Group, & Saldo Rekening senilai Rp 5 Triliun!]
Suara digital Sistem Penguasa Dewa kembali bergema di dalam benakku, membawa misi baru yang langsung mengincar salah satu pilar keuangan tertua di dunia. Rockford Global adalah konsorsium perbankan raksasa milik keluarga miliarder Yahudi di Amerika yang mengendalikan hampir tiga puluh persen perputaran uang di bursa saham Wall Street.
Tepat setelah notifikasi Sistem selesai, ponsel khusus di atas meja kerja Kirana berdering dengan nada dering khusus internasional. Kirana menekan tombol pengeras suara, dan seketika terdengar suara pria paruh baya dengan bahasa Inggris beraksen Amerika yang sangat kaku, angkuh, dan penuh dengan nada mengancam.
"Nyonya Kirana Wijaya," ucap suara di seberang telepon itu. Dia adalah Charles Rockford, kepala dinasti keuangan Rockford Global. "Saya yakin Anda tahu siapa saya. Keberhasilan bank kecil Anda di Asia Tenggara telah mengganggu stabilitas pasar yang kami kelola. Mulai jam sembilan pagi waktu New York, konsorsium kami bersama dengan otoritas bursa Wall Street akan merilis pembekuan aset total terhadap seluruh akun likuiditas luar negeri milik Wijaya Group atas tuduhan pendanaan terorisme teknologi."
Charles Rockford terkekeh dingin, sebuah tawa yang sarat akan arogansi penguasa dunia lama. "Uang tunai puluhan triliun milik Anda yang tersimpan di jaringan kliring internasional kami akan disita dalam waktu tiga puluh menit jika Anda tidak bersedia menyerahkan tujuh puluh persen saham kepemilikan Asura Digital Bank dan teknologi satelit kuantum Anda kepada konsorsium kami hari ini."
Kirana melirik ke arahku dengan wajah yang sedikit menegang. Gertakan dari seorang Rockford bukan main-main; mereka memiliki kekuatan hukum internasional yang bisa mengisolasi sebuah perusahaan dari sistem ekonomi dunia.
Namun, aku hanya berjalan mendekati meja, mengambil ponsel tersebut, lalu berbicara dengan nada datar yang teramat dingin melalui keterampilan Retorika Hipnotis Dewa tingkat maksimal.
"Charles Rockford," ujarku, dan seketika suara tawa di seberang telepon terhenti mendadak, digantikan oleh keheningan yang mencekam akibat tekanan aura dewa yang kukirimkan lewat sinyal satelit kuantum. "Anda mengancam akan membekukan likuiditas kami menggunakan sistem kliring lama Anda yang sudah usang? Bagaimana jika Anda melihat layar monitor bursa saham Wall Street di hadapan Anda sekarang juga?"
Aku menjentikkan jariku, mengaktifkan keterampilan baru dari Sistem yang langsung berintegrasi dengan superkomputer milik Asura Space: Manipulasi Pasar Tingkat Dewa.
Hanya dalam hitungan detik, di dalam ruang kerja utama Rockford Global di Manhattan, New York, seluruh layar pergerakan saham mendadak berubah menjadi lautan warna merah yang mengerikan. Kode saham milik Rockford Global (RFG) yang biasanya kokoh di angka ratusan dolar per lembar, mendadak terjun bebas seperti batu yang dijatuhkan dari tebing.
"T-Tuan Charles! Ada serangan siber finansial skala besar!" teriak suara asisten pribadi Charles yang terdengar panik dari latar belakang telepon. "Seseorang telah melepas seratus lima puluh juta lembar saham kita ke pasar secara serentak, dan sistem kecerdasan buatan dari Asura Bank memborong semua saham itu dengan harga sepersepuluh sen! Kita... kita kehilangan kendali atas kepemilikan perusahaan kita sendiri!"
"Apa?! Bagaimana mungkin?! Blokir akses mereka! Putuskan jaringan internet bursa!" teriak Charles Rockford, suaranya yang tadinya angkuh kini melengking tinggi penuh ketakutan yang amat sangat.
"Tidak ada yang bisa memblokir jaringan satelit kuantumku, Charles," sahutku tenang, suara mekanis dari ketukan jariku di atas meja terdengar seperti lonceng kematian di telinganya. "Dalam waktu sepuluh menit, proses akuisisi mutlak akan selesai. Rockford Global, institusi perbankan yang dibanggakan keluarga Anda selama satu abad, kini telah resmi menjadi anak perusahaan dari Wijaya Group."
Brak! Di seberang telepon, terdengar suara kursi yang terguling, menandakan bahwa Charles Rockford telah jatuh lemas ke lantai karena syok batin yang teramat hebat saat melihat kepemilikan dinasti keuangannya lenyap dalam sekejap mata di bawah kendali seorang pria misterius dari Indonesia.
[Ding! Misi Darurat Penundukan Rockford Global Sukses Mutlak!]
[Evaluasi: Penguasaan Wall Street Berhasil Dicapai dalam Waktu 15 Menit!]
[Hadiah Utama Diaktifkan: Kartu Kendali Saham Mutlak Rockford Group Berhasil Diterbitkan!]
[Saldo Tambahan Rp 5 Triliun Telah Berhasil Masuk ke Rekening Utama Anda!]
Aku menutup sambungan telepon tersebut dengan santai, lalu membalikkan tubuhku menatap Kirana yang kini menatapku dengan mata bulat yang berbinar penuh rasa cinta dan kekaguman yang tiada tara. Dia berdiri, lalu berjalan mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di leherku.
"Adrian... sekarang tidak ada lagi yang bisa menghentikan kita, kan?" bisik Kirana dengan senyuman termanisnya.
Aku mengecup keningnya dengan lembut, mempererat pelukanku pada pinggangnya saat menatap peta dunia digital yang kini seluruhnya mulai menyala dengan warna biru murni lambang kekuasaan Asura. "Benar, Kirana. Pintu gerbang dunia telah terbuka lebar. Sekarang, saatnya kita berangkat ke New York untuk menduduki takhta kekuasaan keuangan global yang sesungguhnya."