Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Satu Domain, Ratusan Prajurit Beku
Arjuna tidak berdiri dari tempatnya duduk yang berada di sudut ruangan.
Matanya merah membara memandang dinding yang masih bergetar akibat ledakan di luar kediaman klan Hydra dengan ketenangan yang tidak wajar.
Jari-jarinya bergerak sangat pelan di atas lutut, satu ketukan kecil yang tidak disadari oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.
“Bidak yang mudah diprediksi, menyedihkan, tapi ini sangat menyenangkan,” batin Arjuna tersenyum licik.
Harjasa berpaling ke arahnya dengan mata yang menyala. "Klan Wyvern menyerang di masa tahanan kota. Maharaja harus diberitahu sekarang!"
"Tunggu!” sergah Arjuna dengan nada yang tidak mengandung kepanikan sedikitpun.
Harjasa mengerutkan dahi. "Tunggu? Mereka sudah ada di halaman kediaman klan kita!"
"Tepat." Arjuna bangkit dengan gerakan yang sangat tenang, lalu berpaling ke arah ketiga tetua klan Hydra dengan sorot yang tidak memerlukan banyak kata untuk menyampaikan kalkulasinya, "Klan Wyvern menyerang kediaman klan Hydra di masa tahanan kota atas nama Alliance tanpa surat resmi, dan tanpa izin Maharaja.”
“Biarkan mereka masuk lebih jauh. Semakin banyak jejak yang mereka tinggalkan, maka semakin kuat bukti yang kita pegang."
Baswara memandang Arjuna dengan sorot yang sudah tidak lagi meragukan penilaiannya. "Kau ingin menggunakan serangan ini sebagai senjata balik."
"Serangan ini sudah menjadi senjata balik sejak detik pertama mereka melangkah ke halaman ini," jawab Arjuna dengan nada yang datar.
Harjasa menghela nafas panjang, lalu mengangguk satu kali. “Baiklah.”
Mereka melangkah keluar bersama.
***
Di halaman kediaman klan Hydra.
Ratusan prajurit klan Wyvern berdiri dalam formasi tempur yang menutup seluruh area. Panel senjata di lengan setiap prajurit memancarkan cahaya hijau tua. Kendaraan tempur melayang, dan mengepung seluruh kompleks dari ketinggian dengan sorotan cahaya yang membakar malam menjadi siang palsu.
Ghatama berdiri di garis paling depan dengan tangan terlipat di belakang punggung.
"Harjasa!" teriak Ghatama dengan nada yang mengandung ketenangan yang dipaksakan, "Serahkan buronan Alliance level SS bernama Arjuna Sasrabahu! Ini bukan permintaan klan Wyvern. Ini perintah Alliance!"
Harjasa tidak menjawab seketika.
Arjuna melangkah keluar, dan berdiri tepat di samping Harjasa. Imperial Magna Cyborg Armor yang sudah diperbaiki memancarkan kilau putih emas di bawah sorotan cahaya kendaraan tempur klan Wyvern.
Ghatama menatapnya dengan mata yang menyipit. "Arjuna Sasrabahu."
"Anda pemimpin klan Wyvern?," balas Arjuna dengan nada yang hangat, "Kau memimpin seorang diri untuk menangkap seorang manusia murni sepertiku. Aku merasa terhormat."
"Serahkan dirimu! Perlawanan hanya akan memperburuk status buronmu di hadapan Alliance."
Arjuna tidak menjawab seketika. Matanya memindai seluruh formasi klan Wyvern dengan cara seseorang yang sedang membaca manuskrip, bukan menghadapi ancaman.
"Satu pertanyaan sebelum aku mempertimbangkan permintaanmu," ujar Arjuna, "Apakah surat resmi Alliance sudah diserahkan kepada Maharaja Durgandha sebelum kau membawa ratusan prajurit ke kediaman klan Hydra malam ini?"
Ghatama membeku satu detik.
Kemudian ia berkata tegas, "Prosedur Alliance tidak memerlukannya dalam kondisi darurat—"
"Berarti tidak ada," potong Arjuna dengan nada yang tetap hangat, "Berarti yang terjadi malam ini bukan penegakan hukum Alliance.”
“Klan Wyvern yang masih berstatus tahanan kota menyerang kediaman klan Hydra tanpa surat resmi, tanpa izin Maharaja, dan tanpa prosedur Alliance yang sah."
Beberapa prajurit klan Wyvern di barisan belakang saling menatap dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya oleh helm visor mereka.
"Maharaja Durgandha akan sangat tertarik mendengar laporan malam ini," lanjut Arjuna dengan nada yang semakin rendah namun semakin berat di setiap katanya, "Klan Wyvern yang sedang dalam masa investigasi atas tuduhan bekerja sama dengan Phantom, malam ini menyerang kediaman klan Hydra tanpa prosedur yang sah. Kesimpulan apa yang akan ditarik Maharaja dari laporan itu?"
Ghatama mengepalkan tangannya, dan sudah tersulut amarah. "Tangkap dia!"
Ratusan prajurit klan Wyvern bergerak serentak. Sayap wyvern mengepak memenuhi langit malam dengan deru yang mengguncang seluruh kompleks kediaman klan Hydra.
Harjasa melangkah maju.
Arjuna mengangkat satu tangan ke arahnya. "Mundur! …. Devil Phantom Raijin!"
Domain radius seratus meter meledak dari tubuh Arjuna. Gelombang tak kasat mata menyapu seluruh halaman dalam satu detak jantung.
Ratusan prajurit yang sudah memasuki radius domain membeku setengah langkah, indera tempur mereka menangkap sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi namun sangat jelas mengancam.
Kemudian Arjuna melanjutkan dengan menyeru, "Phantom Arcana Trap!"
Seratus titik medan jebakan meledak serentak di seluruh area domain.
Wood Style. Akar-akar energi hijau tua meledak dari lantai dan mencengkeram dua pertiga prajurit di barisan depan. Kemudian merambat ke sepertiga tubuh para prajurit klan Wyvern dengan kecepatan yang tidak memberi waktu untuk reaksi apapun.
Ice Style. Kristal biru putih meledak dari udara, dan membekukan sepertiga prajurit di barisan tengah dalam lapisan dingin yang melampaui batas toleransi War Cyborg Armor Suit standar mereka.
Gale Style. Pusaran angin petir meledak dari titik-titik medan yang tersisa, dan melontarkan seluruh prajurit di barisan belakang ke segala arah seperti serpihan yang diterpa badai tanpa arah.
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, ratusan prajurit klan Wyvern tidak bergerak.
Ghatama berdiri sendirian di garis paling depan.
"Ini mustahil untuk ranah Qi Resonance Realm," desahnya dengan suara yang kehilangan seluruh komposurnya.
Arjuna menutup domain dengan satu gerakan tangan tanpa mengucapkan apapun.
Keheningan turun di seluruh kompleks kediaman klan Hydra.
Kemudian tekanan yang tidak berasal dari siapapun yang hadir malam itu turun dari langit.
Kendaraan udara berlapis panel baja hitam dengan lambang Maharaja Prefektur Draconis melayang turun dengan kecepatan yang mengabaikan seluruh protokol pendaratan normal.
Pintu kendaraan membuka, dan Kaisar Maharaja Durgandha melangkah keluar.
Ghatama berlutut seketika. "Yang Mulia, hamba—"
"Diam!” tegas Kaisar Mahara Durghanda.
Satu kata. Seluruh halaman membeku.
Harjasa dan ketiga tetua membungkuk dalam tanpa berani mengangkat kepala. “Hormat kepada Yang Mulia Kaisar!”
Arjuna tidak bergerak, dan tidak membungkuk. Matanya merah membara menatap Kaisar Maharaja Durgandha dengan sorot yang datar.
Namun ia membatin, “Ini diluar kalkulasi, dan prediksiku. Kenapa Kaisar tiba-tiba datang? Seharusnya prediksiku Kaisar saat ini akan tetap berada di singgasananya.”
Maharaja memandang ratusan prajurit klan Wyvern yang tergeletak, lalu ke arah Ghatama yang berlutut. Setelah itu ke arah Arjuna yang berdiri tegak di tengah semuanya.
"Manusia murni ini yang melakukan semua ini?" tanya Kaisar Maharaja Durgandha dengan suara yang bergema di seluruh halaman, bukan pertanyaan yang memerlukan jawaban, melainkan kalkulasi yang sudah selesai sebelum kata terakhirnya selesai diucapkan.
Tidak ada yang menjawab.
Maharaja Durgandha membuka mulutnya untuk kedua kalinya, dan tidak ada satupun dari mereka yang menjawab malam itu, tidak Harjasa, tidak Ghatama, dan tidak pula Arjuna, yang mampu memprediksi kata apa yang akan keluar berikutnya.