NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Angin yang Berhembus dari Arah Tak Terduga

Beberapa hari berikutnya, Dika terus bekerja dengan tekun. Rencana penataan lahan Tuan Suryo selesai disusun dengan rinci, lengkap dengan perhitungan biaya, waktu pengerjaan, dan perkiraan hasil panen yang bisa didapatkan. Saat diserahkan, Tuan Suryo membacanya dengan cermat, lalu mengangguk puas.

“Ini bukan sekadar rencana, tapi sebuah panduan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya sambil menatap Dika dengan pandangan makin menghargai. “Banyak orang yang menjanjikan keuntungan besar, tapi tidak pernah menjelaskan dari mana keuntungan itu datang. Kamu berbeda. Saya setuju untuk menjalankannya, dan saya ingin kamu tetap mengawasi jalannya pekerjaan ini sampai selesai.”

Dika merasa senang bukan karena pujiannya, tapi karena kepercayaan itu kembali tumbuh dari awal, tanpa membawa nama baik yang sudah ada sebelumnya. Ia pulang dengan hati yang ringan, namun belum tahu bahwa kesuksesan kecil ini justru mulai menarik perhatian pihak yang tidak menyukainya.

Sore itu, saat ia baru tiba di rumah, ia melihat ada seorang tamu yang sedang duduk di ruang tamu bersama Nyonya Wijaya dan Kirana. Pria itu berpakaian sangat rapi, terlihat percaya diri, dan membawa sikap yang seolah sudah menjadi bagian dari keluarga. Namanya adalah Rendra, putra dari mitra bisnis besar keluarga Wijaya yang sudah lama menjalin hubungan kerja sama.

Saat Dika melintas, Rendra menoleh dan menatapnya sekilas, dengan pandangan yang sekilas terlihat ramah namun menyimpan rasa meremehkan.

“Siapa pemuda itu?” tanyanya pada Nyonya Wijaya setelah Dika berlalu.

“Namanya Dika. Ia bekerja di sini, dan sekarang sudah sangat kami percayai untuk mengurus berbagai hal penting,” jawab Nyonya Wijaya dengan nada wajar.

Rendra tersenyum tipis, seolah mendengar hal yang tidak masuk akal. “Bekerja… dan dipercaya mengurus hal penting? Saya dengar kabar bahwa ia juga sering membantu Tuan Suryo. Benarkah?”

“Benar, dan hasil kerjanya memuaskan,” jawab Nyonya Wijaya singkat, tidak ingin membahas terlalu banyak.

Namun Rendra tidak berhenti di situ. Sepanjang obrolan, ia sering melontarkan kalimat yang secara halus mempertanyakan posisi Dika, menyebutkan bahwa lebih baik mempercayakan urusan penting kepada orang yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang sesuai, bukan orang yang datang dari keadaan sederhana.

Kirana yang mendengar itu mulai merasa tidak nyaman. Ia tahu maksud tersembunyi di balik kata-kata itu — Rendra selama ini sering datang dengan harapan lebih dari sekadar urusan bisnis, dan ia pasti merasa terganggu melihat ada orang lain yang mendapatkan tempat di hati keluarga, bahkan lebih dari itu.

Malam harinya, saat suasana sudah sepi, Kirana menemui Dika yang sedang memeriksa catatan di ruang kerjanya. Wajahnya terlihat sedikit gelisah.

“Dika, ada hal yang perlu kamu ketahui,” katanya langsung. “Tamu yang datang tadi adalah Rendra. Ayahnya adalah mitra bisnis keluarga kami, dan ia sendiri sering datang ke sini sejak lama. Tapi… belakangan ini sikapnya berubah, dan sepertinya ia tidak senang mendengar kabar tentang dirimu.”

Dika meletakkan pena, mendengarkan dengan tenang. “Saya mengerti. Bagi banyak orang, posisi dan kepercayaan yang saya dapatkan ini mungkin terasa tidak wajar, mengingat asal-usul saya. Itu hal yang biasa, bukan?”

“Tapi dia bukan hanya sekadar meragukan,” lanjut Kirana dengan nada khawatir. “Ia pandai berbicara, punya banyak kenalan, dan bisa memengaruhi pendapat orang lain. Kalau dia merasa terancam, bisa saja dia mencoba mencari celah untuk menjatuhkanmu, sama seperti yang pernah dilakukan Paman Arga dulu.”

Dika berdiri dan mendekat, menatap Kirana dengan pandangan yang menenangkan. “Terima kasih sudah memberitahu saya. Tapi ingat satu hal: jalan yang kita pilih ini memang selalu ada risikonya. Orang yang berjalan dengan jujur akan selalu terlihat mengganggu bagi mereka yang terbiasa berjalan dengan cara licik.”

Ia melanjutkan dengan suara yang lebih mantap: “Dia boleh saja berbicara apa pun, boleh saja memandang rendah, atau bahkan mencoba mencari kesalahan. Selama saya tidak melakukan hal yang salah, selama setiap langkah saya bisa dipertanggungjawabkan, maka tidak ada angin yang bisa memadamkan cahaya yang kita jaga. Kalau dia mencoba menjatuhkan saya dengan cara yang sama seperti dulu, maka ia hanya akan mengulangi kesalahan yang sama dan berakhir dengan nasib yang sama pula.”

Kata-kata itu membuat ketegangan di hati Kirana sedikit berkurang. Ia menatap Dika, dan kembali merasakan ketenangan yang selalu ia dapatkan di dekatnya.

“Kamu selalu punya cara untuk membuat saya merasa tenang,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Tapi tetaplah berhati-hati. Lawan kali ini mungkin lebih pandai menyembunyikan niatnya daripada Paman Arga dulu.”

“Saya akan tetap waspada, tapi tidak akan membiarkan rasa takut mengubah cara saya bekerja dan bersikap,” jawab Dika tegas.

Sementara itu, di ruang tamu yang sudah kosong, Rendra masih duduk sejenak sebelum pulang. Senyumnya hilang, digantikan oleh pandangan tajam dan penuh pertimbangan. Ia mendengar banyak hal tentang Dika — tentang kejujurannya, tentang kepercayaan yang didapatkannya, dan yang paling mengganggu: kedekatannya dengan Kirana.

“Orang miskin yang berani bermimpi terlalu tinggi,” gumamnya pelan dengan nada dingin. “Kepercayaan itu bisa hilang secepat ia datang, dan kedudukan yang didapatkan dengan cepat juga bisa runtuh dengan cepat pula. Kita lihat saja, apakah cahaya yang ia banggakan itu cukup kuat untuk bertahan saat tertiup angin kencang.”

Malam itu, angin berhembus lebih kencang dari biasanya, seolah membawa pertanda bahwa tantangan baru yang lebih halus namun lebih berbahaya sudah mulai mendekat. Namun Dika tetap tidur dengan hati yang tenang, karena ia tahu satu hal: ia tidak berjalan sendirian, dan ia berpegang pada prinsip yang tidak akan pernah mengecewakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!