Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang di Ruang Bawah Tanah
Aroma khas minyak pelumas senjata api, besi berkarat, dan kain flanel basah menyambut kedatangan Eriza Tryanaz saat dia melangkah masuk ke dalam ruang bawah tanah rumahnya. Rumah mereka terletak di sebuah gang sempit pinggiran Jakarta, menyamar dengan sangat rapi sebagai sebuah toko barang antik yang sepi pengunjung. Di dalam ruangan bawah tanah yang pengap dan hanya diterangi sepasang lampu pijar kuning tebal, Arland dan Ryana sudah duduk menunggu di balik meja kayu panjang yang dipenuhi oleh lembaran peta taktis dan bagian-bagian senapan taktis yang terbongkar.
"Kau pulang terlambat dua belas jam dari jadwal latihan fisikmu, Eriza," ucap Arland datar, suaranya dingin tanpa riak emosi sedikit pun, sementara jemarinya yang kaku tetap fokus mengasah bilah pisau berburu dengan batu asah secara metodis.
Eriza meletakkan ransel usangnya di atas lantai marmer yang dingin dengan gerakan yang sangat senyap, tidak menimbulkan suara sekecil apa pun sebuah kebiasaan yang mendarah daging hasil didikan keras sejak usia balita. Dia berdiri tegak dengan sikap sempurna di depan kedua orang tuanya, kulit putih porselennya tampak semakin pucat di bawah siraman lampu darurat.
"Jalur evakuasi mandiri dari gerbang barat sekolah terhambat oleh intervensi faksi pihak ketiga, Ayah," jawab Eriza, suaranya jernih, datar, namun memiliki kedalaman yang tidak biasa untuk gadis seusianya. "Gue dan lima murid perempuan lainnya diculik oleh kelompok taktis yang mengaku sebagai bagian dari Kartel Utara." Eriza menggunakan kata ganti santai yang biasa dia pakai jika membahas situasi pertempuran lapangan dengan orang tuanya.
Ryana berdiri dari kursinya dengan keanggunan seorang predator malam, melangkah mendekati putrinya yang dipersiapkan untuk menjadi Ratu Kematian. Jemarinya yang sedingin es menyentuh kerah seragam Eriza, memeriksa noda darah kering yang menempel di sana. "Apakah cakarmu keluar di depan murid-murid lain, Eriza? Apakah ada yang melihat teknik pemotongan arteri yang kami ajarkan?"
"Hanya sebatas pertahanan diri dasar dan teknik manipulasi sendi tingkat rendah, Ibu," jelas Eriza tanpa mengedipkan mata hitam legamnya. "Mereka semua terlalu panik dan sibuk dengan ketakutan mereka sendiri untuk menyadari efisiensi gerakan yang gue gunakan di kegelapan palka. Penculik-penculik itu melakukan kecerobohan besar. Mereka bingung karena sistem enkripsi sekolah mengunci enam data murid baru sekaligus di kelas X-A. Mereka tidak tahu yang mana wajah asli dari anak pembunuh bayaran yang mereka incar, jadi mereka nekat mengangkut kami berenam sekaligus ke dalam van."
Arland menghentikan gerakan mengasahnya, menancapkan bilah pisau berburunya ke atas meja kayu dengan hantaman yang cukup kuat hingga kayunya retak tipis. "Kecerobohan yang sangat mahal dari pihak musuh. Namun, fakta bahwa ada lima murid perempuan lain yang proteksi datanya menggunakan protokol militer level sembilan di kelas yang sama... itu bukan sebuah kebetulan yang menyenangkan, Eriza. Seseorang di dunia atas sedang menyusun papan catur yang melibatkan kalian semua."
Ryana menarik tangannya kembali, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap tajam ke arah putrinya. "Mulai besok hari Selasa, kembalilah ke sekolah dengan topeng terbaikmu. Jadilah Eriza Tryanaz yang miskin, pendiam, kuper, dan membosankan di sudut kelas. Jangan pernah menarik perhatian murid borjuis lainnya, dan yang paling penting: awasi lima gadis itu dari jarak aman tanpa memicu kecurigaan mereka."
Sementara itu, di sudut kota Jakarta yang lain, di dalam sebuah rumah tua berarsitektur kolonial yang sunyi, Fyrline Zyornaland sedang duduk dengan anggun di hadapan Tante Maya wanita paruh baya yang di dunia bawah tanah dikenal dengan nama sandi "Senja". Kacamata baca berbingkai tipis milik Fyrline diletakkan di atas meja kaca, menampilkan sepasang mata dengan tatapan yang sangat tajam, sepenuhnya terbebas dari topeng kepalsuan siswi teladan yang dia pakai di sekolah tadi pagi.
"Jadi, gadis berwajah imut bernama Camellia itu berhasil meretas seluruh sistem navigasi kapal kargo bergerak milik penculik?" tanya Maya sembari menyilangkan kedua kakinya yang berbalut celana kargo kaku, tangannya bergerak perlahan menyesap kopi hitam tanpa gula yang pekat.
"Benar, Tante Maya," jawab Fyrline, nadanya mengalun lembut, merdu, namun sarat akan intrik psikologis yang dalam. "Kecepatan gerakan jemarinya di atas layar gawai modifikasi menunjukkan bahwa dia adalah bagian dari sindikat penyelundup tingkat internasional. Dia bukan peretas amatir yang belajar dari forum internet biasa. Lalu ada gadis jalanan bernama Aleyna yang punya ketahanan fisik luar biasa untuk ukuran anak jagoan distrik, dan si anak ekspatriat, Miya, yang paham taktik pertempuran jarak dekat khas militer Eropa Timur."
Maya menurunkan cangkir kopinya ke atas meja dengan dentingan pelan yang bergaung di dalam ruangan yang sepi. Tatapan matanya yang mulai berkerut mengunci pandangan Fyrline. "Sindikat kita baru saja menerima laporan dari intelijen pelabuhan bahwa Dion Breynerlanz menggerakkan tiga helikopter taktis dan ratusan pasukan inti semalam hanya untuk menjemput satu orang anak perempuan. Itu artinya, salah satu dari tawanan yang bersamamu di palka adalah pewaris tunggal dari jaringan mafia terbesar di negeri ini."
"Azrint Breynerlanz," sela Fyrline cepat, sebuah senyuman tipis yang sangat manis namun menipu terukir di sudut bibirnya yang kemerahan alami. "Gadi itu duduk di barisan depan kelas X-A. Penampilannya sangat manja, anggun, dan selalu dilindungi oleh harta orang tuanya. Tapi di dalam palka gelap semalam, darah mafianya tidak bisa berbohong. Dia berani mengambil sepotong besi tajam untuk menyerang penjaga saat listrik dipadamkan."
Maya bersandar pada sandaran kursi rotannya, menyipitkan matanya penuh kalkulasi intrik politik bawah tanah. "Ini situasi yang sangat berbahaya sekaligus menguntungkan, Fyrline. SMA Internasional Garuda Bangsa kini telah berubah menjadi labirin kaca yang dipenuhi oleh anak-anak macan dari berbagai faksi terbesar dunia bawah. Sembunyikan jarum beracun mikromu lebih dalam lagi di balik lipatan rok seragam spanmu. Jangan pernah membuat gerakan pertama yang mencolok."
"Aku mengerti konsepnya dengan sangat baik, Tante," sahut Fyrline lembut, jemarinya bergerak merapikan beberapa helai rambutnya yang sempat berantakan dari tataan sanggul rapinya. "Hari Selasa besok, aku akan kembali menjadi Fyrline yang manis, rajin membaca buku sastra tebal di pojok ruangan, dan selalu tersenyum ramah pada siapa pun. Aku akan membiarkan ular-ular lain di kelas itu memamerkan taring mereka terlebih dahulu, sementara aku mendengarkan rahasia tergelap mereka dari balik bayangan."
Maya tersenyum kering, suara tawa tanpa kehangatannya terdengar singkat. "Manipulasi psikologis adalah senjata terbaikmu, keponakanku. Tetaplah menjadi bayangan yang paling terakhir terlihat di bawah terang lampu kelas mereka." Di dalam keheningan rumah tua itu, Fyrline kembali memakai kacamata bacanya, mengunci rapat seluruh keliaran insting membunuhnya jauh di lubuk hati yang paling dalam.