Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Sifat Dingin Sang Miliarder Italia
Kepergian Giovanni Alberto dari Kamar Utama Paviliun Timur menyisakan gelombang keheningan yang panjang dan kaku. Aroma parfum mahal oud dan ambergris yang pekat masih menggelayut di udara pagi, berpadu dengan kehangatan teh chamomile yang kian mendingin di dalam cangkir porselen bersulur emas murni. Alessa masih bersandar di kursi roda kulit Italianya, menatap lurus ke arah pintu mahoni hitam raksasa di ujung hamparan karpet Persia sewarna krem yang luasnya tetap konsisten menyerupai bentang lapangan sepak bola internasional mini.
Lelucon gagal tentang ayam menyeberang jalan yang dibawakan Giovanni beberapa menit lalu bener-bener meninggalkan distorsi psikologis yang aneh di kepala Alessa. Namun, begitu gema tawa ironisnya meredup, rasa penasaran yang kaku mulai mengetuk dinding logikanya. Sifat kaku, dingin, dan tanpa toleransi kesalahan yang dimiliki Il Miliardario itu bukan lagi sekadar fasad fasyun bisnis; itu adalah sebuah sistem pertahanan anomali tingkat tinggi yang pastinya dibangun di atas silsilah masa lalu yang sarat akan darah dan air mata.
"Mbak Titi..." panggil Alessa datar, nadanya sengaja dibuat seolah-olah dia hanya sedang memesan menu camilan sore, memecah kesunyian masif ruangan tersebut.
Pintu geser dari arah ruang pakaian terbuka perlahan. Titi melangkah keluar dengan kepala menunduk profesional, namun sisa ketegangan domestik akibat menyaksikan Tuan mudanya mencoba melucu tadi masih membekas tipis di sudut matanya. "Iya, Alessa? Ada yang bisa saya bantu? Apakah lambung Anda mengalami penolakan pasca mengonsumsi kaviar tiga puluh juta tadi?"
"Lambung gue aman, Mbak. Sudah berhasil melakukan adaptasi kasta finansial secara sepihak," sahut Alessa parau, sudut bibirnya memaksakan seulas senyuman kaku. "Gue cuma mau tanya... bos kanebo kering kita itu beneran lahir dari cetakan pabrik kulkas dua pintu ya? Kenapa kapasitas ekspresi mukanya bisa se-lempeng itu? Bahkan waktu dia berusaha ngelawak tadi, aura di dalam ruangan ini berasa kayak ruang interogasi badan intelijen internasional."
Titi mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di samping kursi roda Alessa. Wajahnya memutih pucat dalam hitungan satu detik linear. Pasokan oksigen di sekitarnya seolah mendadak menipis. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada CCTV internal atau mikrofon tersembunyi aliansi Alberto yang sedang aktif di sudut pilar marmer Carrara.
"Aduh, Alessa... tolong volumenya dikecilkan," bisik Titi sangat lirih, suaranya bergetar penuh kepanikan massal. "Di mansion ini, membahas silsilah kepribadian Tuan muda Giovanni adalah pelanggaran protokol tingkat satu. Bu Lastri bisa langsung memindahkan saya ke sektor logistik utara kalau sampai terdengar."
Alessa mendengus parau, tameng sarkasme radikalnya kembali terpasang di garda terdepan. "Aman, Mbak Titi. Kamar sewidang lapangan sepak bola ini kan kedap suara. Lagipula, gue cuma mau tahu sedikit tentang silsilah bos baru gue. Anggap saja ini bagian dari riset fungsional agar lidah sarkas gue gak salah pencet tombol sensitif seperti kloset otomatis jepang tadi pagi."
Titi menarik napas dalam-dalam, tampaknya menyerah pada sifat pemberontak Alessa yang dibalut komedi tragis. Dia berlutut dengan bertumpu pada kedua lututnya di atas karpet Persia, menyamakan tingginya dengan kursi roda Alessa—sebuah posisi aman untuk membisikkan rahasia kasta tertinggi.
"Sebenarnya..." Titi memulai, matanya bergerak gelisah. "Sifat dingin Tuan muda Giovanni bukan karena beliau tidak punya perasaan, Alessa. Itu adalah hasil dari doktrin militer aliansi Alberto di Italia utara sejak beliau masih berusia sepuluh tahun. Silsilah keluarga Alberto itu... sangat berdarah."
Kesedihan yang teramat mendalam mendadak merayap masuk ke dalam dada Alessa, bukan untuk dirinya sendiri kali ini, melainkan karena gambaran masa kecil seorang bocah yang dipaksa bertumbuh di dalam ekosistem monster. Sebagai anak yatim piatu yang biasa disiksa pakai balok kayu oleh Rian di rumah petak Surabaya, Alessa mengira penderitaan domestik adalah monopoli kelas menengah ke bawah. Namun, mendengar narasi Titi, dia mulai menyadari bahwa sangkar emas ini pun dibangun di atas fondasi trauma yang tidak kalah kriminil.
"Tuan muda Giovanni adalah putra tunggal dari mendiang Don kasta tertinggi aliansi," lanjut Titi, suaranya nyaris menyerupai desis angin malam. "Ketika beliau berumur dua belas tahun, beliau menyaksikan secara langsung bagaimana mobil limusin ibunya diledakkan oleh faksi lawan tepat di depan matanya di jalanan Milan. Sejak hari berdarah itu, Don tua mengunci Tuan muda di dalam sebuah bunker bawah tanah selama tiga tahun penuh bersama para instruktur taktis militer."
"Tiga tahun dikurung di bunker?" Alessa menyela, matanya membelalak kecil, memandangi pantulan cahaya dari lampu kristal Murano di atas kepala mereka. "Gila. Itu namanya bukan pengasuhan anak, Mbak. Itu simulasi penahanan kriminil internasional skala domestik. Pantesan selera fungsionalitas ruangannya masif banget begini. Dia kayaknya punya trauma sama ruangan sempit."
"Benar," Titi mengangguk kaku, ekspresinya sarat akan rasa ngeri yang mendalam. "Di dalam bunker itu, Tuan muda Giovanni diajarkan untuk menghapuskan seluruh silsilah ekspresi emosi kasar manusia. Beliau dilatih untuk membaca pergerakan musuh lewat grafik saham, menekan rasa takut menggunakan kalkulasi angka, dan mematikan rasa empati agar bisa bertahan hidup dari pengkhianatan internal. Di duniaku... memperlihatkan senyuman atau amarah adalah sebuah kelemahan fatal yang bisa mengundang peluru kendali musuh."
Prosedur pembentukan karakter yang begitu kaku, dingin, dan tanpa toleransi kesalahan itu bener-bener meruntuhkan sebagian silsilah kebencian Alessa terhadap sifat kanebo kering sang miliarder. Amarah yang pekat di dalam jiwanya kini bermutasi menjadi sebuah kesadaran kaku bahwa mereka berdua sebetulnya adalah produk dari dua mesin penyiksa yang berbeda: Alessa dihancurkan oleh kemiskinan dan keberingasan Rian, sementara Giovanni dibentuk oleh kekayaan melimpah dan kekejaman hukum talio internasional.
"Jadi..." Alessa membersihkan tenggorokannya yang kering, memaksakan nada bicaranya kembali ke frekuensi datar penuh ironi yang menyengat. "Lelucon ayam menyeberang jalan tadi pagi itu sebetulnya adalah pencapaian terapeutik terbesar dalam sejarah medis Tuan muda lu ya, Mbak Titi? Sebuah simulasi ekspresi keramahan domestik yang dipaksakan keluar dari sistem operasi bunker bawah tanah Milan?"
Titi tersenyum getir, mengangguk pelan. "Bisa dibilang begitu, Alessa. Selama lima tahun saya bekerja di bawah manajemen aliansi Alberto, saya belum pernah melihat Tuan muda repot-repot menyusun kosa kata humor di depan siapa pun. Bahkan di depan para menteri atau pemimpin kartel luar negeri, suara beliau selalu berupa dekrit pembersihan mutlak. Tindakan beliau tadi pagi... bener-bener sebuah anomali kasta tertinggi."
"Anomali dengkulnya melendung," gumam Alessa, meskipun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah getaran aneh yang hangat mulai merembes masuk.
Mengingat bagaimana tangan dingin Giovanni yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak triliunan rupiah kemarin malam mengusap puncak kepalanya dengan sangat pelan, Alessa menyadari bahwa di dalam sangkar emas ini, pria kaku itu sedang mencoba membangun sebuah jarak aman dengan caranya yang sangat manipulatif namun penuh proteksi mutlak. Perjanjian di atas kertas berlapis emas yang mengikat takdirnya kini tidak lagi terasa seperti sebuah dekrit kematian, melainkan sebuah paspor perlindungan yang luar biasa masif.
"Terima kasih atas silsilah informasinya, Mbak Titi," kata Alessa, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela kaca antipeluru, menyaksikan kabut pagi di atas danau buatan mansion yang perlahan-lahan mulai memudar disapu panas matahari. "Sekarang gue tahu kalau bos kita itu sebetulnya cuma sebuah robot finansial yang baterai emosinya sudah kedaluwarsa sejak zaman purba. Jadi gue gak perlu heran lagi kalau besok-besok dia mendadak membacakan dongeng sebelum tidur pakai intonasi pembacaan teks proklamasi."
Titi berdiri kembali, merapikan setelan seragam hitam-putihnya dengan keanggunan profesional yang kaku. "Sama-sama, Alessa. Tolong rahasiakan pembicaraan ini. Dan bersiaplah, karena sepuluh menit lagi, tim desainer fasyun dari Milan yang dipesan langsung oleh Tuan muda sudah tiba di koridor depan untuk mengukur tubuh penuh lebam Anda."
Pintu kayu mahoni hitam di ujung ruangan mendadak mengeluarkan bunyi klik halus yang familiar. Sosok Dion melangkah masuk dengan langkah kaki yang konstan, membawa sebuah map kulit buaya hitam baru di tangan kanannya—sebuah indikasi bahwa silsilah pembersihan massal memori lama Alessa di Surabaya telah mencapai babak finalnya.
Alessa menyandarkan punggungnya pada kursi roda, memejamkan matanya sejenak merasakan linu di belikat yang kian mereda. Rahasia di balik sifat dingin sang miliarder Italia telah resmi terbuka di dalam kepalanya pagi ini. Di antara pendaran lampu gantung kristal dan hamparan karpet seluas lapangan sepak bola tersebut, Alessa menyadari bahwa pelariannya tanpa alas kaki tidak hanya membawanya ke dalam pusat pusaran kemewahan Il Miliardario, melainkan ke dalam sebuah dimensi domestik baru di mana dua jiwa yang sama-sama rusak oleh silsilah masa lalu yang kriminil sedang mencoba bertahan hidup dengan cara mereka yang paling tidak konvensional.